Menikah dengan seseorang yang dicintainya.
Itu adalah mimpi dari Medisya Laluna. Namun sayangnya Medisya harus mengubur mimpinya dalam-dalam setelah seseorang merenggut kesuciannya secara paksa.
Namanya Alvian Sagara. Pria itu merupakan atasannya di perusahaan tempat Medisya bekerja.
Medisya tidak tau harus bersyukur atau menyalahkan takdir ketika Alvian mau menikahinya. Akankah ia bahagia dengan pernikahannya nanti? Apakah mereka bisa menjalani pernikahan itu layaknya orang yang saling mencintai?
###
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dilara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Kemarahan Alvian
Pipi Medisya bersemu merah karena sejak tadi ia terus mengingat bagaimana Alvian memeluknya semalam. Medisya juga ingat jelas bagaimana senyum Alvian ketika ia meminta untuk dipeluk. Tanpa penolakan Alvian memeluk Medisya. Membuat sisa malam Medisya dipenuhi dengan kehangatan.
Saat ini ia tengah menyiapkan sarapan untuk Alvian. Suaminya itu masih tidur nyenyak. Sebenarnya Medisya ingin membangunkan Alvian dan menanyakan apakah pria itu berangkat kerja atau tidak. Namun ia malu jika harus bertatap muka dengan suaminya itu. Jadi ia memutuskan untuk membiarkan Alvian bangun sendiri. Lagi pula Alvian bukan tipe orang yang suka tidur sampai siang.
Suara decitan kursi makan yang ditarik berhasil mengalihkan perhatian Medisya. Ia berbalik, lalu berdiri kaku melihat Lily sedang duduk di sana dan menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
Medisya tersenyum canggung. Ia mematikan kompor kemudian menyajikan nasi goreng buatanya menjadi tiga bagian.
"Sarapan, Ly. Aku cuma buat nasi goreng. Nggak seenak buatan mamah sih, tapi seenggaknya bisa mengganjal perut kamu," ucap Medisya berusaha terlihat biasa saja. Ia menyodorkan sepiring nasi goreng dan segelas air putih untuk Lily. Namun gadis itu hanya menatapnya tanpa mau menyentuh makanan itu.
"Kenapa kamu mau menikah dengan kakakku?" Tanya Lily tiba-tiba.
Sontak pertanyaan itu membuat Medisya bergeming di hadapan Lily. Pikirannya terhenti dan lidahnya juga kelu. Ia tidak bisa berkata apapun.
"Karena Kak Alvian itu pewaris utama dari Sagara Companya? Karena Kak Alvian punya banyak uang dan mampu membelikanmu apapun? Atau karena kamu ingin menjatuhkan citra Kak Alvian di depan seluruh karyawannya? Katakan! Apa kamu nggak bisa bicara?!" Salak Lily. Netra itu menatap Medisya nyalang. Persis sekali seperti ekspresi Alvian ketika marah.
Medisya menghela nafasnya lalu menarik kursi untuknya duduk. "Karena kakak kamu yang memintaku untuk menikah dengannya," balas Medisya pelan.
"Lily, aku tidak pernah berfikir untuk memeras harta kakakmu. Mas Alvian yang memaksaku untuk menikah dengannya karena aku hamil darah dagingnya," lanjut Medisya mencoba membuat Lily mengerti bahwa semua tuduhan gadis itu tidak benar.
"Kamu bisa menolaknya!"
"Kalau aku bisa, mungkin sekarang ini aku nggak bakal ada di hadapan kamu sebagai istri Mas Alvian."
Lily mendengus kesal melihat sikap Medisya yang mulai berani. Ia bersedekap, menunjukan sikap angkuhnya di hadapan kakak iparnya itu.
"Bodoh! Aku nggak sudi Kak Alvian menikah sama kamu. Ingat, Kak Alvian menikahi kamu hanya karena kasihan sebab masa depan kamu sudah hancur! Kamu itu cuma pelampiasan karena Kak Alvian sedang patah hati saat menyentuhmu waktu itu," ucap Lily tajam membuat Medisya membeku di sana.
Sesaat mungkin Medisya terpengaruh dengan perkataan Lily. Namun ia mencoba berpikir tenang. Alvian sudah berulangkali menjelaskan alasannya menikahinya. Dan ia tidak akan meragukan pria itu lagi.
"Aku juga berpikir begitu. Tapi melihat Mas Alvian begitu menyayangi anaknya membuatku merasa bahwa Mas Alvian sangat bertanggung jawab."
Medisya bangkit, hendak menyeduh susu untuknya. Namun saat ia ingin melangkah, Lily menghalangi kakinya hingga Medisya hampir terjatuh. Dan ternyata kejadian itu tidak luput dari penglihatan Alvian yang baru saja keluar dari kamar.
Rahang pria itu mengeras dan matanya juga memerah menahan emosi. Apalagi sekarang ia sedang melihat Lily mendekati Medisya dan mendorong istrinya itu.
"LILY!!!" Bentak Alvian sembari menarik Medisya ke belakang tubuhnya.
Melihat kakaknya melindungi Medisya berhasil menarik dengusan kesal dari Lily. Ia memutar matanya malas. Mencoba tetap tegak meski dalam hati ia sangat takut melihat kemarahan Alvian.
Bukan tanpa alasan ia ingin melukai Medisya. Kehadiran perempuan itu di samping Alvian pasti akan membuat kakaknya itu berpaling darinya. Lily tidak mau kasih sayang kakaknya terbagi. Alvian hanya miliknya dan Medisya tidak berhak bersanding dengan kakaknya.
"Jaga sikap kamu! Medisya sedang mengandung anak kakak! Bagaimana jika mereka berdua terluka? Kamu mau bertanggung jawab?!" Seru Alvian.
Kedua tangan Alvian mengepal erat. Sepertinya Alvian lupa bahwa lengan Medisya masih dalam genggamannya. Alhasil Medisya meringis kecil karena kesakitan.
"Bagus! Kakak menikahi dia hanya karena anaknya 'kan? Kalau dia keguguran kakak bisa menceraikannya. Dia hanya menjadi beban buat kakak!"
Plak...
Tamparan keras itu membuat Lily tersungkur di lantai. Sedangkan Medisya memejamkan matanya erat melihat tubuh Alvian menegang penuh emosi.
"Maas," panggil Medisya lirih. Ia menahan lengan Alvian yang ingin mendekati Lily. "Udah ya? Aku nggak papa, kok."
"Masuk kamar!" Titah Alvian dingin. Jelas sekali bahwa ia sedang tidak ingin dibantah.
"Tapi--"
"Aku tidak suka mengulang perkataanku," ucap Alvian datar dan penuh penekanan.
Netra Medisya melirik Lily yang sedang menangis sembari memegang pipinya. Dari suara tamparannya saja Medisya tau bahwa itu sangat menyakitkan.
Ia tidak marah atas sikap Lily tadi. Menurutnya itu wajar karena yang ia tau Lily dan Alvian sangat dekat.
Alvian yang melihat Medisya diam di tempat nemutuskan untuk mengabaikannya. Ia menarik lengan Lily dan memaksa gadis itu mengikutinya ke dalam kamar.
Alvian mengunci pintu kamarnya. Tidak peduli bahwa sekarang Medisya tengah berteriak di depan kamarnya. Memohon pada Alvian untuk tidak menyakiti Lily.
Jiwa kasarnya saat ini sedang memberontak ingin dikeluarkan. Namun Alvian masih bisa menahan tangannya untuk tidak melayang lagi pada tubuh Lily. Sikap adiknya itu sangat keterlaluan dan ia tidak bisa mentoleransinya.
"Kamu mau jadi pembunuh, hm? Kamu ingin mempermainkan hidup kakak?" Tanya Alvian nyalang.
"Sikap kamu ini sangat kelewatan, Lily. Sepertinya kamu harus dibawa ke psikiater," lanjunya sembari mendekati Lily.
"Aku nggak gila!" Sentak Lily sembari menghindar.
Sedangkan Alvian terkekeh menyeramkan. "Kamu gila! Tidak ada adik yang melarang kakaknya untuk menikah! Jangan menggunakan alasan sayang untuk sikap kamu ini. Karena jelas sekali itu hanya obsesi! Kamu terobsesi dengan kakak, Lily!"
"Enggak, kak! Lily cuma nggak mau kakak lebih sayang sama istri kakak. Jangan seperti ini. Lily takut," ucap Lily memohon.
Plak...
Alvian kembali menampar Lily. Tidak sekeras tadi tapi mampu membuat adiknya itu menjerit kesakitan.
"Itu untuk kamu yang sudah mendorong istri kakak!"
Plak...
"Dan ini untuk niat buruk kamu terhadap anak kakak!"
"Sejak kemarin kakak masih cukup sabar untuk menghadapi sikap kekanakan kamu. Tapi hari ini kamu membuat kakak melewati batas, Lily."
Alvian maju satu langkah. Membuat tubuh kecil Lily tidak bisa bergerak karena terhimpit ke dinding.
"Kakaaak,,,"
"Kakak?" Alvian mendengus kecil. "Kamu masih cukup sadar untuk memanggilku dengan sebutan kakak. Tapi kamu tidak sadar bahwa tidak ada adik yang sikapnya sangat egois seperti kamu! Kenapa harus kakak? Kamu bisa mencari pria lain yang bisa mencintai kamu lebih dari kakak! Ada mamah dan papah juga yang sangat menyayangi kamu!"
"Tapi kakak berbeda," cicit Lily sembari menunduk dalam.
"Kakak tidak mengerti dengan jalan pikiran kamu!"
"Maka dari itu cobalah untuk mengerti, kak! Lagian kenapa kakak membela perempuan jalang--"
Plak...
Lagi, Alvian menatap Lily marah. "Jaga ucapan kamu!"
Alvian memundurkan langkahnya. Lalu terkekeh kecil sembari menatap tubuh Lily intens. "Kamu cemburu dengan Medisya, bukan? Ingin berada di posisinya?" Tawar Alvian dengan nada rendahnya.
Nafas Lily tercekat saat Alvian kembali menghimpitnya. Tangan pria itu mengusap wajah Lily yang sembab sembari mendekatkan wajahnya ke telinga gadis itu.
"Kaaaak,,, Lily takut," rengek Lily dengan mata terpejam erat.
"Jika kamu menginginkan posisi Medisya di hidup kakak, akan kakak bantu kamu mendapatkannya." Netra Alvian melirik Lily yang jaraknya hanya beberapa senti dari wajahnya. "Ayo, kakak akan memperkosa kamu, membuat kamu hamil, lalu menikahi kamu. Menyenangkan bukan?"
###