Jordan Carlton mengira Vanessa adalah wanita lemah yang tak akan pernah berani meninggalkannya.
Yessika mengira ia berhasil merebut segalanya dari Vanessa, termasuk calon suaminya.
Namun Vanessa memegang kunci takhta sejati keluarga Carlton dan ia memilih untuk menyerahkannya pada pria yang paling dibenci Jordan.
Alessio Carlton mungkin terlihat menakutkan, dingin, dan licik. Namun saat Vanessa menawarkan pernikahan sebagai senjata balas dendam, Alessio tersenyum gelap. Sebab, jauh sebelum Vanessa memasuki kamarnya malam itu, Alessio sudah menyiapkan panggung untuk menjadikannya sang Ratu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Pagi hari menyingsing membawa ketenangan semu di area paviliun pribadi, tempat rahasia Alessio.
Di dalam ruang kerja serba kayu jati yang megah, aroma biji kopi pilihan menyeruak. Alessio duduk di kursi kebesarannya, menyandarkan punggung sambil menikmati secangkir kopi di tangannya.
Pak Ben, orang kepercayaan keluarga yang sudah mengabdi puluhan tahun, melangkah mendekat sambil meletakkan beberapa berkas.
Senyum tipis yang jarang terlihat kini terhias di wajah tua yang berwibawa itu.
"Saya hampir tidak percaya mendengar cerita Anda, Tuan Muda," ujar Pak Ben, terkekeh rendah.
"Seorang Alessio Carlton yang terkenal dingin dan penuh perhitungan... akhirnya harus bertekuk lutut semalam?"
Alessio menghentikan usapannya pada cangkir kopi. Mengingat kembali bagaimana mata tajam Vanessa menatapnya tanpa kedip saat menekan mata pisau ke leher sendiri, sudut bibirnya terangkat.
Ia terkekeh kecil, tawa samar yang sarat akan kekalahan sekaligus kekaguman yang mendalam.
"Paman Ben tega tertawa di atas penderitaan ku?" sahut Alessio santai. "Bagaimana lagi? Dia mempertaruhkan nyawanya sendiri tanpa ragu. Tentu saja, sebagai pria yang sangat mencintainya, aku rela mengalah."
"Padahal, setahu saya, sejak awal Anda yang berniat untuk mengendalikan Nona Vanessa," goda Pak Ben lagi, menggeleng-gelengkan kepala. "Tapi, kenyataannya..."
"Tak mengapa jika aku yang harus dikendalikan olehnya," balas Alessio dengan nada suara yang perlahan berubah dalam dan penuh kepemilikan.
Matanya menatap, menerobos jendela kaca besar yang mengarah ke taman.
"Aku tidak keberatan sama sekali, Paman Ben. Asalkan Vanessa tetap menjadi milikku. Lagipula, ratu yang tangguh memang pantas mengendalikan raja, bukan?"
Kemudian, Alessio mulai memeriksa berkas yang tadi dibawa oleh Pak Ben satu-persatu.
"Jadi, semua ini adalah aset Ibuku yang sengaja disembunyikan Ayahku dariku?" tanya Alessio dengan nada dingin.
"Benar, Tuan muda," angguk Pak Ben. "Seharusnya, semua aset ini akan berpindah ke tangan Anda begitu Anda resmi menikah nanti. Tapi, Ayah Anda malah berencana untuk memberikan semua aset itu pada Tuan Muda Jordan."
Alessio menggeram kesal. "Ayahku memang Ayah sangat baik, Paman Ben."
****
Sementara itu, di kamar utama Alessio di gedung induk Kediaman Carlton, suasana yang jauh berbeda sedang memuncak.
Yessika masih terbaring telentang di atas tempat tidur berselimut sutra. Tidurnya sangat lelap akibat efek obat penenang dosis ringan yang diam-diam dicampurkan Alessio ke dupa aromaterapi yang menyala sebelum ia meninggalkan Yessika begitu saja demi menemui Vanessa di dapur.
Brak!
Pintu kamar terdorong kasar hingga menghantam dinding. Jordan Carlton melangkah masuk dengan napas memburu.
Niat awalnya adalah mencari Alessio untuk menyelesaikan urusan bisnis keluarga atas permintaan Ayahnya, namun langkah kaki Jordan membeku seketika di tengah ruangan.
Matanya membelalak lebar. Tangannya mengepal hingga buku-buku jarinya memutih saat melihat sosok wanita yang sangat ia kenal sedang terbaring di atas tempat tidur saudaranya sendiri.
Lebih parah lagi, Yessika hanya mengenakan lingerie merah menyala yang sangat minim dan transparan.
"Yessika?!" raung Jordan murka.
Pria itu menerjang maju, mencengkeram bahu Yessika dan mengguncang tubuh wanita itu dengan kasar. "Bangun! Yessika, bangun kau!"
Yessika tersentak bangun, kepalanya terasa amat berat dan pening. Matanya yang kabur perlahan menajam, menangkap raut wajah Jordan yang merah padam dengan urat-urat leher yang menegang tajam karena murka.
"J-Jordan?" bisik Yessika yang seketika pucat pasi. Kesadarannya terkumpul secara paksa. Ia menunduk melihat penampilannya sendiri dan langsung menjerit tertahan, dengan gemetar menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Apa-apaan ini?!" bentak Jordan, suaranya menggelegar dipenuhi emosi yang membakar.
"Kenapa kau ada di kamar Alessio?! Kenapa kau memakai pakaian seperti ini di tempat tidur saudaraku, hah?!"
"J-Jordan, dengarkan aku dulu! Ini tak seperti yang kau lihat!" Yessika mengarang alasan dengan gugup, air matanya mulai menetes ketakutan.
"Aku... aku bisa jelaskan! Semalam tidak terjadi apa-apa, Jordan! Demi Tuhan, tidak terjadi apa-apa!"
"Kau pikir aku bodoh?!" potong Jordan dengan tawa histeris yang penuh kepahitan.
"Melihat pakaian murahan yang kau kenakan ini, mustahil semalam tidak ada apa-apa! Berani-beraninya kau tidur dengan saudaraku sendiri di rumah ini?!"
Panik karena posisinya terdesak dan takut dibuang oleh Jordan, otak licik Yessika bekerja cepat.
Wanita itu langsung menangis sejadi-jadinya, meremas selimut seolah-olah dirinya adalah korban paling malang.
"Aku dipaksa, Jordan!" jerit Yessika histeris. Ia memasang wajah penuh trauma.
"Alessio yang menjebakku! Dia memaksaku datang ke kamarnya semalam dan... dan dia mengancam akan membunuhku jika aku menolak! Aku tidak berdaya, Jordan! Aku dipaksa!"
Kebohongan Yessika menjadi minyak tanah yang disiramkan ke dalam kobaran api amarah Jordan. Akalnya sehatnya tertutup sepenuhnya oleh rasa terhina dan cemburu.
"Keparat kau, Alessio!" geram Jordan dengan mata memerah bak iblis.
Tanpa memedulikan Yessika yang masih menangis di ranjang, Jordan berbalik dan melangkah lebar keluar dari kamar.
Ia berjalan cepat menyusuri koridor, menuruni tangga utama dengan aura membunuh yang sangat pekat.
Begitu sampai di ruang tengah yang luas, mata Jordan menangkap sosok Alessio yang baru saja berjalan masuk dari arah paviliun, tampak tenang dan rapi dalam balutan kemeja hitam.
Tanpa peringatan, Jordan menerjang maju.
Bugh!
Satu pukulan keras mendarat telak di rahang kiri Alessio. Kepala Alessio terdorong ke samping. Darah segar menetes tipis dari sudut bibirnya.
Alessio menyapu darah di bibirnya dengan ibu jari. Bukannya marah, ia justru mengukir senyum kesal yang terkesan sangat meremehkan.
"Cuma segini tenagamu, Jordan?" bisik Alessio dingin.
Sebelum Jordan sempat mengayunkan tinjunya untuk kedua kali, Alessio bergerak cepat seperti kilat. Ia mengelak ke samping, menangkap lengan Jordan, lalu melayangkan pukulan balasan yang amat keras tepat di perut dan rahang Jordan.
Bugh! Bugh!
Jordan tersungkur ke lantai marmer sambil memegangi perutnya yang mual. Pria itu tampak merintih kesakitan.
Alessio tidak memberi celah sedikit pun. Ia berdiri mengintimidasi di atas tubuh saudara tirinya, siap mematahkan pergelangan tangan Jordan jika pria itu mencoba bangkit lagi.
"Ada keributan apa ini?!"
Suara berat dan berwibawa menggelegar dari arah tangga. Arthur Carlton, ayah mereka sekaligus kepala keluarga saat ini, berjalan turun dengan wajah mengeras penuh amarah.
Arthur menatap kedua putranya yang saling pukul dengan tatapan tajam.
"Kalian berdua sudah gila, hah?! Kenapa berkelahi seperti binatang di rumah sendiri!? Jordan, Alessio, apa yang terjadi?!"
Jordan yang masih tergeletak di lantai menunjuk wajah Alessio dengan jari gemetar penuh dendam.
"Tanya pada anak kesayanganmu ini, Ayah! Dia... dia sudah memperkosa Yessika di kamarnya sendiri semalam!"
Napas Arthur tertahan seketika. Matanya membelalak tajam. Pria tua itu berbalik menatap Alessio dengan raut murka yang amat pekat.
"Alessio!" bentak Arthur keras. "Apa yang dikatakan saudaramu itu benar?!"
Alessio berdiri tegap. Ia merapikan kerah kemejanya yang sedikit kusut, menatap ayahnya tanpa ada sedikit pun raut panik atau bersalah di wajah tampannya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman sinis.
"Ayah percaya pada ucapan Jordan?" tanya Alessio balik, suaranya tenang namun sarat akan nada tantangan.
Arthur menghentakkan kakinya keras. "Jordan tidak mungkin berbohong soal hal menjijikkan seperti ini!"
Alessio terkekeh rendah, menyilangkan kedua tangan di dada sambil menatap lurus ke dalam iris mata ayahnya.
"Jadi," sahut Alessio datar, "maksud Ayah... aku yang berbohong?"
makin kesini makin seruuuuuuu ,,
penasaran kak ,,
lanjuut kak ,,
pgen liat si Jordan Dan yessika keluar dr keluarga Carlton dg kaos oblong Dan daster ,,
😏😏😏