Laluna Roselyn memiliki karier yang sempurna sebagai aktris terkenal, sampai sebuah pengkhianatan menghancurkan hidupnya. Ia memergoki kekasihnya berselingkuh dengan asistennya sendiri. Dalam amarah yang tak terkendali, Laluna menyerang keduanya hingga kejadian itu terekam dan tersebar luas.
Dalam sekejap, citranya hancur. Dunia hiburan berbalik meninggalkannya, dan karier yang ia bangun bertahun-tahun berada di ujung kehancuran karena skandal tersebut.
Saat tidak memiliki pilihan lain, Laluna menerima perjodohan dari ibunya dengan Nathan Adikara, seorang pengusaha kaya yang terkenal dingin, kejam, dan sulit didekati.
Pernikahan mereka seharusnya hanya menjadi kesepakatan untuk menyelamatkan nama Laluna. Namun, hidup bersama Nathan membuatnya menemukan sisi lain dari pria itu. Di balik sikap dinginnya, Nathan ternyata adalah satu-satunya orang yang berdiri di sisinya ketika seluruh dunia menentangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadinachomilk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Meremehkan
Nathan yang sedang mengambil minum berhenti sejenak. Ia menatap Kevin dengan ekspresi datar, seolah tidak tertarik dengan kedatangan pria itu.
"Kenapa saya tidak boleh ada di sini?Apa ini tempat milikmu? " tanya Nathan tenang.
Kevin mengeraskan rahangnya. Tatapannya berpindah dari Nathan ke Laluna yang duduk di sampingnya.
"Aku bertanya, kenapa kau bersama Laluna?"
Laluna yang sejak tadi diam akhirnya mengangkat wajahnya. Ia bisa merasakan nada permusuhan dalam suara Kevin. Ia segera bangkit dan menggebrak meja dengan kasarnya.
"Diam kau Kevin, sudah aku katakan kemarin menjauh dariku!" tegasnya.
Selena menatap ke arah Nathan dari atas sampai bawah. Hingga pandangannya beralih ke arah Laluna yang masih menatap dirinya dan Kevin dengan tatapan tidak suka.
"Aku tahu kamu tidak suka Hubunganku dengan Kevin, tetapi jangan sampai kamu mencari cowo sembarangan dan hanya memikirkan ketampanannya saja," ujarnya, sambil meraih tangan Laluna.
Laluna segera menarik tangannya dengan kasar, ia segera berdiri di depan Selena dan Kevin.
" Sudah aku katakan, jauhi aku! Kenapa kalian tidak dengar? Apa kalian sangat bodoh?" Laluna melipas tangannya di depan dada.
"Luna, aku tidak mau membuatmu kesal, hanya saja aku mengatakan hal yang benar. Aku tidak mau kamu di tipu oleh pria apalagi hanya karena ketampanannya."
Nathan yang muak mendengar ocehan dari gadis itu, segera menarik tangan Laluna ke arahnya. Ia berdiri di hadapan Laluna untuk melindungi istri kontraknya itu dari dua manusia menjijikan baginya.
"Lebih baik kalian menjauh dari saya dan Luna, atau kalian tidak akan sanggup menanggung akibatnya," ancamnya.
Namun bukannya takut Selena dan Kevin hanya tertawa, Selena segera menunjuk ke arah wajah pria itu.
"Memangnya kau siapa? Walau wajahmu tampan, memangnya kamu orang terkaya di kota ini. Sehingga aku harus takut." Selena tertawa remeh.
Nathan menatap Selena tanpa ekspresi. Tatapan pria itu begitu dingin hingga membuat suasana di sekitar mereka perlahan berubah. Namun Selena yang sudah terbiasa meremehkan orang lain tidak menyadari perubahan itu. Ia masih tersenyum mengejek sambil berdiri di samping Kevin.
"Jangan berpura-pura hebat," lanjut Selena. "Hanya karena kamu bisa duduk makan bersama Laluna, bukan berarti kamu bisa melindunginya."
Kevin ikut menatap Nathan dengan tatapan merendahkan. "Aku tidak tahu dari mana kamu mengenal Laluna, tapi sebaiknya kamu berhati-hati. Dia bukan wanita yang mudah untuk dihadapi."
Laluna mengepalkan tangannya. "Cukup, Kevin dan kau Selena! Aku sudah cukup sabar menghadapi jalang seperti kalian berdua!"
Namun Kevin tidak berhenti. Ia hanya mengangkat bahunya. "Aku hanya mengatakan kenyataan."
Nathan yang sejak tadi diam akhirnya menghela nafas pelan. Ia merasa percuma berbicara dengan orang-orang yang bahkan tidak mau mendengar. Tangannya masih menggenggam tangan Laluna. Bukan untuk menunjukkan kepemilikan, tetapi memastikan wanita itu tidak perlu menghadapi mereka sendirian.
"Baik, jika itu pilihan kalian." Nathan segera mengambil ponselnya, ia menekan nomor Jordi untuk segera kembali kepadanya.
Selena dan Kevin hanya tertawa seolah ia meremehkan Nathan, mereka hanya mengira bahwa Nathan adalah pria sewaan dari Laluna untuk memanas manasi Kevin. Selang beberapa menit, Jordi akhirnya tiba bersama Rina. Dua orang itu segera menghampiri Nathan dan Laluna yang tengah berhadapan dengan Kevin dan Selena.
"Ada apa Luna?" tanya Rina.
Laluna tidak menjawab, ia hanya menunjuk ke pasangan selingkuh itu. Sedangkan Nathan yang melihat kedatangan Jordi segera membuka suaranya.
"Jordi, urusi dua orang itu. Saya tidak suka dengan orang yang sudah berani mengangguku makanku!" tegasnya.
Jordi segera mengangguk, ia segera menjentikkan tangannya yang membuat beberapa orang berpakaian hitam segera berlari ke arah mereka.
"Urusi dua orang itu," tegas Jordi.
Beberapa orang berpakaian hitam segera bergerak mendekati Kevin dan Selena. Suasana taman yang sebelumnya sepi berubah menjadi tegang. Selena yang awalnya masih tersenyum mengejek perlahan kehilangan ekspresinya. Ia menatap orang-orang berpakaian hitam itu dengan bingung.
"Apa... apa maksudnya ini?" tanyanya.
Kevin juga mulai terlihat tidak nyaman. Ia menatap Jordi dari atas sampai bawah, mencoba mencari tahu siapa sebenarnya pria itu.
"Kalian pikir kalian bisa menakutiku?" Kevin berusaha tetap terlihat tenang. "Kalian hanya anak buah bayaran, bukan?"
Jordi menatapnya datar. "Anak buah bayaran?Berani sekali kau mengatakan itu." Jordi tersenyum tipis. "Sepertinya Anda benar-benar tidak tahu siapa yang sedang Anda ganggu."
Kevin mengerutkan kening. Sementara itu, Laluna masih berdiri di samping Nathan. Ia sendiri masih terkejut melihat perubahan suasana yang begitu cepat.
"Nathan..." panggilnya pelan.
Nathan menoleh kepadanya. "Tenang saja, saya tidak akan berlaku kejam."
Laluna hanya mengangguk, ia membiarkan Nathan. Pengawal berpakaian hitam itu segera menarik tangan Selena dan Kevin yang membuat dua orang itu berontak.
"Lepas! Siapa kau sebenarnya," teriak Selena, tidak terima.
"Lepas sialan! Aku tidak bersalah," teriak Kevin.
Namun, pria berbadan besar dan berpakaian hitam itu tidak peduli ia segera menarik tangan Kevin dan Selena untuk pergi meninggalkan Laluna dan Nathan. Setelah dua orang pengkhianat itu pergi, Laluna segera menatap ke arah Nathan.
" Maaf, karena ulahku aku membuat makanmu terganggu," ujarnya.
Nathan segera menoleh, ia menarik tangan Laluna untuk kembali duduk.
"Tidak apa apa, cepat makan," ujarnya.
Laluna hanya bisa menghela napas kecil. Ia masih merasa tidak enak hati karena makan siang yang seharusnya tenang berubah menjadi kejadian yang cukup menegangkan. Namun, ketika melihat Nathan yang tetap bersikap tenang seolah tidak terjadi apa-apa, ia sedikit merasa lega.
"Kamu benar-benar tidak masalah?" tanya Laluna memastikan.
Nathan mengambil gelasnya, lalu menatap wanita di hadapannya.
"Kenapa saya harus masalah?" jawabnya datar. "Mereka yang datang mengganggu, bukan kamu."
Sedangkan Rina dan Nathan ikut duduk di kursi mereka, mereka menatap ke arah pasangan kontrak itu. Walau kedua orang itu terlihat sangat gengsi, tetapi mereka tahu bahwa kedua orang itu saling peduli.
"Laluna, sebentar lagi kita take. Oh ya, untuk Kevin dan Selena, jika kamu tidak nyaman. Pak Rangga akan mengganti pemerannya."
Laluna segera menoleh, ia buru buru menggeleng. "Tidak perlu, lagi pula karakter mereka di drama bisa sering aku pukul dan maki maki. Itu bisa membuatku meluapkan kekesalan ku kepadanya," jelasnya.
Rina hanya mengangguk, sedangkan Nathan hanya menatap sekilas. Ia mencoba tidak peduli dengan obrolan itu.
" Tuan, sebentar lagi kita akan meeting," ujarnya.
Nathan melirik jam tangannya ketika Jordi mengingatkannya. Ia mengangguk kecil, lalu kembali menatap Laluna yang masih menikmati makanannya.
"Habiskan makananmu," ucap Nathan kearah Laluna, sedangkan ia segera bangkit.
Laluna menatapnya bingung. "Kamu mau pergi begitu saja? Ini makananmu baru kamu makan sedikit?"
"Saya masih ada urusan."
Jawaban singkat itu membuat Laluna sedikit terdiam. Ia tahu Nathan adalah pria yang sibuk, tetapi tetap saja ia merasa sedikit aneh melihat pria itu harus pergi meninggalkannya setelah kejadian tadi. Apalagi ia sedikit merasa bersalah karena membuat Nathan makan sedikit.
Laluna segera merapikan makanan Nathan, dan segera menyodorkan ya kepada pria itu.
"Bawa ini, aku tidak mau nanti kamu kelaparan," ujarnya, cepat.
Nathan segera menerimanya, ia menatap sekilas ke arah Laluna. Melihat gadis itu peduli kepadanya ia merasa cukup senang. Nathan tidak menjawab, ia segera membalikkan badannya dan kembali berjalan ke arah mobilnya. Namun, baru saja ia ingin masuk ke dalam mobil, suara lembut dari istri kontraknya kembali terdengar.
"Nanti malam kamu pulang jam berapa?" tanya Laluna tiba-tiba.
Nathan berhenti sejenak. Ia menatap wanita itu. "Kenapa bertanya seperti itu?"
Laluna mengangkat bahu. "Tidak apa-apa. Hanya penasaran saja."
"Saya akan segera pulang, jika pulang kemalaman kamu bisa tidur dulu," jelasnya.
Nathan segera melangkah masuk, namun baru saja ia duduk. Laluna sudah berdiri di depan pintu mobil.
"Tunggu dulu."