Kirana selalu dianggap istri yang "biasa saja" — tak pintar, tak berguna, hanya pantas mengurus rumah. Saat suaminya, Rangga, menceraikannya demi wanita lain di depan keluarga besar, semua orang mengira hidupnya akan hancur.
Mereka salah.
Di balik status "istri biasa" itu, Kirana menyimpan warisan yang selama ini tak pernah ia buka — dan kejeniusan bisnis yang selama ini ia pendam demi keluarga yang tak pernah menghargainya.
Kini, saat Rangga dan selingkuhannya mulai kehilangan segalanya, Kirana justru bangkit sebagai sosok yang tak seorang pun kenali. Pertanyaannya bukan lagi apakah ia akan kembali — tapi apakah Rangga pantas mendapatkan kesempatan kedua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fahmishodiq Abdullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
presentase penentu
Pagi itu, kantor klien besar Alinea—sebuah perusahaan e-commerce fesyen bernama Ruang Gaya, yang selama setahun terakhir mempercayakan seluruh kebutuhan visual brand mereka ke studio Alya—dipenuhi ketegangan yang tidak biasa. Dimas dan Alya tiba lebih pagi dari jadwal pertemuan, memastikan semua persiapan presentasi berjalan sempurna.
"Kamu inget kan, jangan langsung nyerang balik soal Vertex Capital," kata Dimas, mengingatkan Alya sekali lagi sebelum mereka masuk ke ruang rapat. "Kita fokus ke nilai yang udah kita bangun, bukan menjelekkan kompetitor."
"Aku inget," jawab Alya, menarik napas dalam untuk menenangkan diri. "Fokus ke hubungan, bukan ke angka."
Mereka disambut oleh Ibu Sinta, pemilik sekaligus CEO Ruang Gaya, seorang perempuan berusia awal empat puluhan dengan gaya bicara yang tegas dan efisien.
"Saya jujur aja ya," kata Bu Sinta begitu semua duduk. "Tawaran dari Vertex Capital itu menggiurkan. Diskon besar, tim desain yang katanya lebih besar, plus mereka janji bisa tangani ekspansi kami ke tiga negara sekaligus."
Dimas dan Alya saling pandang sekilas sebelum Alya mulai bicara, suaranya mantap meski di dalam hati ia masih menyimpan kecemasan. "Bu Sinta, saya nggak akan coba nyaingin tawaran finansial mereka. Yang bisa saya tawarkan adalah apa yang udah kita bangun bersama selama setahun terakhir—pemahaman mendalam soal identitas brand Ruang Gaya, yang nggak bisa langsung dipahami tim baru dalam waktu singkat."
Alya melanjutkan presentasinya, menunjukkan perbandingan visual kampanye-kampanye sebelumnya yang berhasil meningkatkan penjualan Ruang Gaya secara signifikan, lengkap dengan testimoni internal dari tim marketing mereka sendiri yang selalu puas dengan revisi cepat dan komunikasi personal langsung dengan Alya.
"Kalau Ibu pindah ke Vertex Capital," lanjut Alya, "Ibu akan jadi satu dari puluhan klien mereka yang ditangani sistem terstandarisasi. Revisi butuh waktu lebih lama karena harus melalui birokrasi internal mereka. Di sini, Ibu bisa telepon saya langsung kapan pun ada kebutuhan mendadak."
Dimas menambahkan dari sisi bisnis, menunjukkan data pertumbuhan yang dicapai bersama selama kerja sama berjalan. "Dari sisi investasi juga, skema fleksibel yang kami tawarkan memungkinkan penyesuaian sesuai kebutuhan riil Ruang Gaya, bukan skema kaku yang mengikat Ibu pada komitmen jangka panjang yang sulit diubah."
Bu Sinta mendengarkan dengan saksama, sesekali mengangguk, meski ekspresinya masih sulit ditebak.
"Boleh saya jujur?" kata Bu Sinta setelah presentasi selesai. "Saya sebenarnya udah hampir tanda tangan kontrak dengan Vertex Capital minggu lalu. Tapi ada satu hal yang bikin saya ragu—mereka terlalu banyak janji tanpa bukti konkret, sementara kalian selalu tunjukkan hasil nyata setiap bulan."
Ia terdiam sesaat, mempertimbangkan sesuatu, sebelum melanjutkan. "Saya akan kasih kalian kesempatan mempertahankan kerja sama ini, dengan satu syarat: saya mau lihat rencana konkret ekspansi ke pasar luar negeri yang Vertex Capital janjikan itu, apakah kalian juga bisa penuhi, meski dengan skala lebih kecil."
Dimas dan Alya saling pandang, merasakan kelegaan sekaligus tantangan baru yang harus segera mereka susun.
"Kami akan siapkan proposal detailnya minggu ini, Bu," jawab Dimas cepat, sudah mulai memikirkan strategi di kepalanya.
Sepulang dari pertemuan itu, Dimas segera menghubungi Kirana untuk melaporkan hasil sekaligus tantangan baru yang muncul—kebutuhan mengembangkan rencana ekspansi internasional untuk klien kreatif seperti Alinea, sesuatu yang belum pernah mereka tangani sebelumnya dalam skema investasi mereka.
"Ini kesempatan bagus buat kita, sebenarnya," kata Kirana setelah mendengar laporan lengkap Dimas. "Kalau kita berhasil bantu Alinea ekspansi internasional dengan skema kita sendiri, itu bisa jadi portofolio kuat buat menarik klien-klien kreatif lain yang punya ambisi serupa, tanpa harus 'jual jiwa' ke investor besar kayak Vertex Capital."
"Saya juga mikir gitu, Bu," jawab Dimas. "Tapi kita butuh keahlian tambahan soal ekspansi pasar internasional. Tim kita belum pernah nangani ini sebelumnya."
Kirana terdiam sejenak, mempertimbangkan sesuatu. "Saya kenal beberapa konsultan ekspansi bisnis internasional dari jaringan lama saya. Biar saya hubungkan kamu dengan mereka minggu ini."
Malam itu, di apartemen kecil Alya, Dimas datang membawa makan malam sederhana, merayakan hasil pertemuan siang tadi meski masih diselimuti tantangan besar yang harus mereka hadapi ke depan.
"Aku masih nggak percaya kita berhasil pertahankan Bu Sinta," kata Alya, tersenyum lega sambil membuka kotak makanan yang dibawa Dimas.
"Kita belum menang sepenuhnya," jawab Dimas mengingatkan. "Kita masih harus buktikan bisa kasih rencana ekspansi yang konkret. Tapi ini langkah bagus."
Alya menatap Dimas, ekspresinya berubah lebih lembut. "Kamu tahu, dari semua hal yang terjadi minggu ini, yang paling aku syukuri bukan cuma soal berhasil pertahankan klien. Tapi soal punya orang yang bener-bener berjuang bareng aku, bukan cuma buat kepentingan bisnis semata."
Dimas tersenyum, meraih tangan Alya lembut. "Aku juga bersyukur, Alya. Ini pertama kalinya aku ngerasa kerjaan dan perasaan aku bisa jalan bareng tanpa harus mengorbankan salah satunya."
Namun, di tengah momen hangat itu, ponsel Dimas bergetar—pesan dari Rani, yang biasanya jarang menghubunginya di luar jam kerja kecuali ada hal penting.
"Bang Dimas, maaf ganggu malam-malam. Tapi saya baru dapat info, Vertex Capital ternyata juga lagi coba dekati dua klien besar kita yang lain, di luar Ruang Gaya. Saya rasa ini bukan serangan sekali doang, tapi strategi jangka panjang mereka buat rebut klien-klien kreatif kita satu-satu."
Dimas menatap pesan itu lama, ekspresinya berubah serius. Alya, yang memperhatikan perubahan raut wajahnya, langsung bertanya cemas.
"Ada apa, Dimas?"
"Sepertinya," jawab Dimas pelan, "perang ini belum selesai. Vertex Capital nggak cuma nyerang Alinea. Mereka lagi coba rebut klien-klien kreatif kita yang lain juga."