Warning!! bijaklah dalam memilih bacaan.
Anggara hanya ingin terbebas dari belenggu keluarganya. Dia ingin menjalani hidupnya sesuka hati, tanpa aturan apalagi kekangan dari sang ayah yang sangat di bencinya.
Persahabatan dengan Andra membuatnya terjun pada pekerjaan yang yang tak pernah dia bayangkan.
Hingga suatu hari mereka bertemu dengan Maharani, dalam sebuah insiden yang membuat Angga terluka, yang tanpa sadar membuat mereka semakin dekat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fitTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Be Mine!
*
*
"Minum?" Angga menyodorkan sebotol air mineral ke hadapan Maharani. Lalu diterima oleh gadis itu yang masih terisak.
"Udah, jangan nangis lagi. Malu dilihatin orang. Tar dikiranya gue jahatin lu lagi." Angga melirik kekanan dan ke kiri. Melihat sekeliling taman kampus itu yang dilewati beberapa orang.
Maharani menyeka kedua matanya yang masih sembab. Lalu membasuhkan air dari botol mineral tersebut ke wajahnya. Selembar tisu diserahkan Angga untuk mengeringkan wajah gadis itu.
"Makasih, ..." ucap Maharani setelah dia mampu menguasai diri.
Angga duduk disampingnya, melihat layar ponsel yang sudah menunjukkan pukul 11 siang.
"Kita ngelewatin mata kuliahnya Bu Tiwi." Angga merebahkan punggungnya pada sandaran kursi taman.
"Maaf, gara-gara aku, kamu jadi bolos." Maharani bergumam.
"CK! biasa bolos gue mah. Udah nggak aneh lagi. Lagian tanggung juga, bentar lagi bubaran." jawab Angga dengan santai nya.
Mereka terdiam beberapa saat.
"Mau pergi?" Angga bangkit.
"Kemana?" Maharani mendongak.
"Kemana aja. Yang penting pergi dari sini."
Maharani terdiam lagi.
"Ayo! sebelum lu masuk kerja."
Maharani seperti berpikir.
"CK! kelamaan mikir!" Angga meraih lengan gadis itu hingga dia pun bangkit dan mengikuti langkah lebarnya dengan agak tersaruk-saruk menuju motor besarnya di parkiran.
Tanpa banyak bicara pemuda itu memasangkan helm di kepala kecil Maharani, menguncinya dengan benar agar kepala gadis itu tetap aman. Hal yang sama juga dia lakukan pada dirinya. Lalu mereka menaiki motor yang kemudian melaju membawa keduanya keluar dari area kampus sebelum jam pulang tiba.
*****
Mereka tiba disebuah tempat dipinggiran kota Bandung. Sebuah tempat berbukit yang masih dipenuhi pepohonan hijau sejauh mata memandang.
"Lu tahu, orang akan dengan gampang ngerendahin orang lain yang terlihat lemah." Angga memulai percakapan saat mereka kini duduk di sebuah kursi kayu di pinggir tebing sebuah bukit. Mata mereka menatap hamparan hutan dibawah sana yang tampak rapat tanpa celah.
"Aku hanya berpikir, jika kita nggak berbuat jahat kepada orang lain, maka orang lain pun nggak akan berbuat jahat sama kita." Maharani memejamkan matanya, menikmati angin yang berhembus lembut menerpa wajahnya.
"Jaman sekarang teori itu nggak berlaku. Siapa yang kuat mereka yang berkuasa. Dan yang lemah pasti ditindas." Angga dengan sanggahannya. Menoleh ke arah gadis disamping yang masih memejamkan matanya.
Lagi-lagi, jantungnya berdebar dengan tidak tahu malu. Berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya. Menatap pemandangan indah disampingnya.
"Lalu aku harus bagaimana, Ga?" Maharani membuka matanya, melirik ke arah pemuda disamping yang masih asyik menatapnya dengan ekspresi yang tak biasa.
Angga gelagapan, merasa tertangkap basah tengah memperhatikan gadis itu. Wajahnya kini memerah.
"Katakan aku harus gimana agar tidak ada yang memperlakukan aku dengan buruk lagi?" kini Maharani menghadapkan tubuhnya pada Angga, semakin membuat pemuda itu salah tingkah.
"Lawan!" ucap Angga, "Jangan mengalah atau diam aja. Se nggaknya lu udah berusaha nggak membiarkan orang lain berbuat buruk." katanya, yang terus menatap wajah lugu didepannya.
Desiran-desiran halus itu terus datang beruntun, sambung-menyambung menjadi suatu perasaan indah yang memenuhi rongga hati mereka. Mengisi banyak bagian yang kosong yang selama ini tak tersentuh oleh siapapun.
Maharani menatap dengan mata bulatnya yang bening. Hatinya kini berharap sesuatu yang lebih dari pemuda ini.
"Bisa?" Angga setelah terdiam beberapa saat.
"Akan aku coba." jawab Maharani.
"Lu pasti bisa." Angga menyemangati.
"Kalau aku nggak bisa?"
Angga mengulum bibirnya kuat-kuat.
"Ada gue." kata itu tiba-tiba meluncur begitu saja dari mulutnya.
Maharani menahan napasnya untuk beberapa detik. Untuk pertama kalinya dia merasa dipedulikan orang lain. Dan dia merasa bahagia.
Tapi apa artinya ini, Ga? batinnya berbisik.
"Gue yang akan melindungi lu." ucap pemuda itu lagi, semakin tak mengerti dengan apa yang dia ucapkan sendiri. Tapi sudah terlanjur, kata-kata itu tak mungkin dia tarik lagi.
Maharani menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Baru kali ini ada seseorang yang mengucapkan hal seperti itu dengan nyata.
"Jangan mewek lagi, gue nggak tega." Angga sedikit terkekeh melihat ekspresi gadis didepannya.
Maharani menarik napasnya pelan, pemuda ini sungguh aneh. Baru saja dia mengucapkan kata-kata manis, tapi kemudian dia merusaknya dengan kata-kata konyol lainnya.
Maharani pun terkekeh. Sebelah tangannya terulur memukul dada pemuda didepannya beberapa kali, hingga Angga menghentikannya.
Pemuda itu menggenggam pergelangan tangannya dengan lembut, rasa hangat seketika menyebar diantara keduanya.
"Apa aku bisa memiliki kamu, Rani?" kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Angga, bahkan sapaannya pun kini berubah.
Maharani menahan napasnya lagi, matanya membulat dengan sempurna.
"Apa aku lancang karena merasa ingin memiliki kamu?" tanya pemuda itu lagi.
Maharani membisu.
"Jawab!" Angga dengan dahinya yang mengernyit.
"Aku, ... Ng ... aku ..." gadis itu terbata, tak tahu apa yang harus dia ucapkan. Dia tak berpengalaman soal ini.
"Mana hape kamu?" Angga menengadahkan tangannya.
"Hah?"
"Hape? mana?" pemuda itu mengulang kata-katanya.
Maharani merogoh ponsel di saku tas, lalu menyerahkannya kepada Angga.
Dia membuka aplikasi, menuliskan nomor-nomor pada tombol, kemudian mengetikkan huruf pada kolom kontak.
"Angga." pemuda itu memperlihatkan layar ponsel pada Maharani, terlihat nomor yang dia tulis tadi ternyata adalah nomor ponselnya.
"Kamu bisa panggil kapan aja kamu mau. Aku pasti datang." ucap pemuda itu lagi. Lalu melakukan panggilan telfon ke nomernya sendiri. Dan melakukan hal yang sama pada ponselnya, menyimpan nomor ponsel Maharani.
Angga tersenyum, lalu menyerahkan ponsel itu kembali kepada pemiliknya.
"Aku akan melindungi kamu mulai sekarang." dia berucap lagi sebelum merebahkan tubuh tingginya pada sandaran kursi.
*
*
*
*
Andra berkali-kali melakukan panggilan ke nomor sahabatnya, namun tak satupun yang dia jawab. Angga menghilang bak ditelan bumi setelah mereka berdebat se usai mata kuliah dari dosen Irwan.
[Ga lu dimana sih?] sebuah pesan dikirim Andra. Ceklis dua tapi tak dibaca oleh sahabatnya itu.
[Ga?] Andra mengirim pesan lagi.
[Lu berisik!] akhirnya ada balasan dari Angga.
[Dimana lu?]
[Emang kenapa?]
[Lu bolos lagi, Ga.]
[Lu kayak yang baru tahu aja gue bolos?]
[Pak Abdul nyariin lu.]
[Mau apa tuh orang?]
[Lu dipanggil gara-gara bolos mapel Bu Tiwi. Tadi dia ngomel.]
Angga tak membalas lagi. Tapi sesaat kemudian sahabatnya itu malah mengirimkan sebuah gambar hamparan hutan dibawah kakinya.
[Lu dimana pea!] Andra kini merasa kesal.
Sebuah gambar masuk lagi. Gambar sepasang tangan yang sedang saling menggenggam.
[Bareng siapa lu?] Andra penasaran.
[Gue lagi kabur sama Rani.] diikuti emot malu-malu.
[Sialan lu anjim! Gue keliling nyariin, eh, .. elu nya malah pacaran!] Andra bersungut-sungut.
Angga mengirim emot tertawa.
[Pamer lu?]
[Lu tega padahal gue masih patah hati.] Andra kini mengeluh.
[Salah lu sendiri diemin nih cewe sampai bertahun-tahun.]
[Tega lu sama temen, Ga!] diikuti emot marah.
Kemudian dibalas dengan emot tertawa oleh Angga. Dan begitulah kedua sahabat ini saling berbalas pesan yang tak jelas. Andra bahkan sampai menggelengkan kepalanya mengingat kelakuan konyol mereka saat itu.
Walau sesuatu didalam dadanya terasa agak sedikit ngilu, tapi dia tetap tersenyum, merasa senang dengan kebahagian sahabatnya yang kini menemukan tambatan hati. Setidaknya, salah satu dari mereka mungkin ada yang akan segera berubah menjadi lebih baik.
*
*
*
*
Bersambung ...
uhhh ... so sweet sih de, ah .. emak berasa muda lagi nih cerita beginian... ups, ...😂😂😂
like koment sama vote nya masih ditunggu ya gaess😘😘😘