Novel ini aku tulis berdasarkan kisah nyata dari seseorang, tapi disini aku menambahkan sedikit ceritanya..
Namaku Melati, aku memiliki seorang sahabat , Lani namanya, yang sudah ku anggap seperti saudara sendiri.
Tapi Lani dengan teganya mengkhianati aku. Ia menikah dengan suamiku secara diam diam.
Marah... benci dan kecewa... itu yang aku rasakan ketika aku mengetahui pengkhianatan suami dan sahabatku.
Aku mencoba bertahan dengan menerima Lani sebagai maduku karena ia lagi mengandung anak dari suamiku.
Akankah aku sanggup bertahan selamanya atau aku pergi meninggalkan suami dan sahabatku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua puluh Empat
Pagi pagi sekali Willy sudah bangun dan membuat sarapan buat Melati. Setelah selesai masak Willy membersihkan rumah.
Willy masuk ke kamar dan berlutut disamping tempat tidur melihat wajah Melati yang masih tertidur. Tampak jelas matanya yang bengkak.
"Maafkan aku sayang... aku masih saja terus membuat air mata kamu mengalir. Aku ingin kamu bisa menerima semuanya dan menjalankan hidup ini seperti dulu lagi... "
Dikecupnya mata Melati dan bibirnya. Melati yang merasakan sentuhan itu membuka matanya.
"Selamat pagi sayang... aku sudah buatkan sarapan nasi goreng seafood kesukaanmu. Mandi dulu ya.. setelah itu kita sarapan. Habis sarapan kamu ikut aku ke Batam ya.. mau melihat usaha aku yang disana"
Melati memandangi wajah Willy tanpa kedip.
"Bukankah mas Willy berjanji mau ke tempat Lani... mengapa ia mengajak aku ke Batam... apa supaya aku tak marah lagi"
"Mengapa memandangi ayah seperti itu.. bunda baru sadar ya ayah ini ganteng"ujar Willy merayu Melati
"Mas... aku lagi nggak pengin kemana mana. Aku capek.. "
"Kalau begitu bagaimana kalau kita pergi menginap di salah satu hotel saja.. biar kamu bisa istirahat.. hanya untuk tiduran saja.. mau ya.. Sekarang bunda mandi.. biar Nabila ayah yang mandiin nanti"ucap Willy kembali mengecup bibir Melati.
Melati kembali meneteskan air matanya. Ketika Willy menyentuhnya, ia makin teringat dengan Lani.Willy pasti menyentuh seluruh tubuh Lani dengan bibirnya itu juga.
"Sayang... jangan menangis lagi. Cukup sudah air matanya. Jangan membuat aku bertambah merasa bersalah. Aku tahu kamu masih belum memaafkan aku, tapi aku mohon... jangan pernah menangis lagi.. aku sedih melihat air matamu"
"Mas... aku mau mandi "ucap Melati
"Mandilah... jangan lama lama. Nanti bunda masuk angin"
Melati masuk ke kamar mandi langsung membasuh semua wajahnya yang disentuh Willy.
"Aku nggak mau kamu sentuh aku untuk saat ini mas. Aku masih tak mau...karena aku tahu.. mulutmu itu juga lah yang telah menyentuh Lani. Beri aku waktu untuk dapat menerimanya... Tuhan.. aku tahu aku salah karena tidak mau melayani suamiku... tapi aku masih belum bisa ikhlas atas apa yang terjadi... Dalam usia ku yang masih dua puluh tahun ini aku harus menerima pahitnya hidup. Aku tak pernah membayangkan rumah tangga aku yang baru seumur jagung akan diguncang prahara sebesar ini... Tuhan.. berilah aku kekuatan untuk dapat tegar menghadapi semua cobaan hidup yang aku terima.. buatlah hatiku ikhlas menjalani takdir hidupku ini... "
Melati menghidupkan shower. Ia duduk dilantai dengan shower yang tetap terus menyala. Tak dihiraukan tubuhnya yang mulai menggigil kedinginan. Melati berharap dengan air yang membasahi seluruh tubuhnya dapat membuat ia melupakan segala kepahitan hidupnya.
Willy yang menunggu Melati selesai mandi mulai merasa kuatir. Sudah hampir satu jam Melati di dalam kamar mandi. Nabila anak mereka sudah bangun.
Willy akhirnya mengetuk pintu kamar mandi.
"Melati.. kamu masih mandi sayang. Mengapa lama sekali. Nanti kamu masuk angin. Sudah mandinya sayang... "teriak Willy
Tak terdengar sahutan dari kamar mandi, Willy makin cemas. Ia mengedor pintu kamar mandi tapi tetap tak ada jawaban.
"Melati.. buka pintunya. Jangan buat aku cemas begini.. Melati... Kalau kamu masih tak mau membukanya.. akan aku dobrak pintu ini. "ucap Willy dengan teriakan
Willy yang tak sabar akhirnya mendobrak pintu kamar mandi. Ia melihat Melati yang terkapar dilantai kamar mandi dalam keadaan pingsan.
"Melati.... "teriak Willy dan langsung menggendong Melati dan meletakan dikasur.
Willy membuka seluruh pakaian Melati. Nabila yang seakan merasakan kesedihan bundanya ikut menangis.
"Nabila.. tenang ya nak. Jangan menangis... ayah mau membantu bunda dulu.. "
Willy mengganti pakaian Melati setelah membalurkan minyak kayu putih ke seluruh tubuh Melati agar tubuhnya hangat.
Setelah itu ia menyelimuti tubuh Melati. Barulah ia menggendong Nabila dan membuatkan susu formula buat Nabila. Untung Nabila tak hanya bergantung dengan ASI saja.
"Melati... apa yang kamu lakukan. Mengapa kamu menyiksa dirimu seperti ini. "gumam Willy.
Willy menelepon dokter yang ia kenal, untuk dapat datang kerumah. Dokter yang memeriksa Melati mengatakan tidak ada penyakit yang sedang diderita Melati. Ia cuma lagi banyak pikiran.
Willy menidurkan Nabila setelah memandikannya. Ia memeluk tubuh Melati yang masih belum sadarkan diri. Dokter mengatakan tak ada yang perlu ditakutkan.
"Sayang.. sadarlah.. jangan membuat aku makin cemas begini.. "ucap Willy sambil mengecup seluruh wajah pucat Melati. Tubuhnya tampak makin kurus.
Setelah hampir tiga jam barulah Melati sadarkan diri. Ia melihat kesamping, tampak Willy yang tidur dengan memeluk tubuhnya dan ia juga melihat tangannya yang dipasang selang infus.
Willy yang merasakan pergerakan Melati, membuka matanya..
"Sayang... kamu sudah sadar. Sayang... jangan pernah lakukan ini lagi.. Kamu nggak boleh mandi lama lama. Besok kalau kamu mandi pintu nggak boleh dikunci"
Melati hanya diam tanpa menjawab perkataan Willy. Hanya air matanya yang terus mengalir.
"Sayang... apa yang sakit.. apa yang kamu rasakan "ucap Willy cemas melihat Melati menangis
"Atau kamu lapar ya.. aku ambil bubur buat kamu ya.. tadi aku ada pesan bubur"ucap Willy Dan berjalan kedapur mengambil bubur.
Melati bangun dan duduk bersandar ditempat tidur. Ia melihat Nabila yang tertidur.
"Sayang.. maafkan bunda.. bunda seharusnya tidak boleh melakukan ini.. pasti kamu haus ya.. dan pengin mimik bunda.. "
Willy masuk dan membawa semangkok bubur. Dan menyuapinya. Sampai sore Willy hanya bermain dengan Nabila diatas tempat tidur sambil menemani Melati.
Dari tadi ponsel Willy berdering. Ia tahu itu pasti dari Lani. Setelah banyak kali berdering akhirnya Willy keluar dari kamar dan menerima panggilan ponselnya.
"Mengapa kamu belum sampai... jam berapa kamu berangkat "
"Aku tak bisa berangkat,saat ini Melati sakit"
"Jangan buat alasan.. jika kamu tak juga sampai besok pagi,aku pastikan mama kamu yang akan datang kerumahmu.. untuk meminta kamu berangkat... "
"Kamu pikir aku bohong... apa aku perlu mengirim foto Melati yang lagi sakit.. "
"Aku tak mau tahu... pokoknya kamu harus sudah ada malam ini dirumahku.Willy aku juga istrimu.. kamu tidak boleh pilih kasih. Seharusnya kamu bersikap adil. Aku hanya meminta tiga hari dalam sebulan untuk kamu berada disampingku.. itupun tak kamu kabulkan"
"Jika kamu masih memaksa... lebih baik kita pisah.. jika kamu sampai meminta mama datang kerumahku.. aku pastikan aku tak akan pernah pulang kerumahmu... "
"Mengapa kamu lakukan ini Willy.... kamu jahat... aku hanya minta sedikit waktumu. .. itupun tak bisa.. "
"Kamu harus tahu... jika kamu hanyalah kedua didalam hidupku... dan aku sudah bilangkan.. kalau Melati sakit.. aku tak bisa meninggalkan Melati.. nanti Nabila sama siapa.. aku tutup dulu.. Nabila menangis.. Melati lagi tak bisa menggendong nya "
Willy mematikan sambungan ponselnya. Lani membanting ponselnya ke kasur setelah Willy mematikan sambungan ponsel itu. Ia mencoba menghubungi lagi, tapi ponsel Willy sudah tak aktif lagi.
******************
Terima kasih banyak karena sudah membaca novel ini.
ternyata ada ya, kisah nyata yg mirip kisah halu di dunia pernovelan..
ternyata main ku kurang jauh, hehehe..
semua memang telah ditakdirkan dan kita hanya tinggal menjalankan..
tetapi dalam menjalani kehidupan, kita jg diberi kesempatan untuk memilih mana jalan yg akan kita tempuh..
jadi walau semua telah ditakdirkan, tetapi kita jg tetap punya andil dalam memilih jalan yg akan dilalui..
rasanya bener2 gak habis pikir, sekeluarga dipenuhi dg laki2 yg suka mendua bahkan lebih..
semua perbuatan pasti ada balasannya..
dan semua tokoh telah mendapatkan balasannya sesuai dg perbuatan masing2..
semoga kita bisa menjadi pribadi yg selalu bersyukur dg apa yg kita punya dan terhindar dari penyakit hati, salah satunya iri dengki..
manusia memang tempatnya salah dan lupa..
tapi dengan belajar ilmu agama, kita bisa memilih jalan benar untuk ditempuh..
keren banget ceritanya mam..
kadang ikut kesel jg sama mama Elly terutama..
kok ada orang sesombong dan se-egois itu..
maunya menang sendiri dan gak mau disalahkan..
selalu berprasangka buruk dan keinginannya harus selalu dituruti..
oke deh mama, semoga sehat terus yaa..
tetap semangat berkarya dan semoga sukses selalu..
💪🏻🙏🏻😘🥰😍🤩💕💕💕
cuss lanjut novel berikutnya.. 🏃🏻♀️🏃🏻♀️🏃🏻♀️