NovelToon NovelToon
Penjelajah Malam (The Nightwalker: After 2012)

Penjelajah Malam (The Nightwalker: After 2012)

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Lain / Horor / Action / Fantasi
Popularitas:304
Nilai: 5
Nama Author: Origin-Reynvold

Ketika matahari terbenam, dunia gaib dan nyata melebur menjadi neraka yang dipenuhi makhluk mengerikan. Hanya para Esper—manusia yang mampu mengendalikan energi spiritualnya—yang menjadi benteng terakhir umat manusia melawan penguasa kegelapan.
Ryan memilih menarik diri dari dunia luar. Selain karena dikucilkan oleh lingkungan sekitar, ia sama sekali tidak tahu bahwa rasa malasnya adalah satu-satunya hal yang menahan kehancuran dunia—atau justru mempercepatnya?
Namun, takdir sialan tidak membiarkannya hidup dengan tenang. Sebuah tantangan besar yang dibalut tragedi mengerikan tiba-tiba mendobrak masuk, dan mengancam nyawa orang-orang di sekitarnya.
Di ambang keputusasaan dan di tengah emosi yang meluap, apakah Ryan akan menemukan alasan untuk mulai bekerja keras demi menjadi lebih kuat? Ataukah situasi ini justru akan memaksa kekuatan besar yang tertidur di dalam dirinya lepas kendali, bahkan sebelum ia sempat mempelajarinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Origin-Reynvold, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ritual Kekayaan I

Pak Dadang hanyalah seorang pria tua yang bisa ditemukan di mana saja. Setiap pagi ia menyapu halaman sekolah sambil tak pernah lupa menyapa siapa pun yang berpapasan dengannya.

Di tengah peradaban yang compang-camping dan lapangan pekerjaan yang semakin mustahil bagi orang biasa, dia sudah sangat bersyukur dengan kehidupannya saat ini.

Pendapatannya yang hanya sedikit di atas upah minimum regional terasa seperti mukjizat di tengah dunia yang tak lagi ramah.

Kini hanya dirinya dan putra semata wayangnya yang tersisa, upah itu seharusnya lebih dari cukup untuk sekadar menyambung napas, dan menyisihkannya untuk menabung.

Dunia luar memang keras, tetapi ego putranya, Dian, jauh lebih keras.

Pemuda itu telah menjelma menjadi pengangguran sejati—mengurung diri di dalam kamar yang pengap, menenggelamkan diri ke dalam dunia gim sepanjang hari.

“Dian, tetaplah semangat mencari pekerjaan, Nak. Ayah percaya kamu itu anak yang cerdas. Suatu saat nanti, pasti ada perusahaan besar yang melihat bakatmu dan merekrutmu.”

Hening.

Pak Dadang menghela napas berat.

Tidak ada sahutan, tidak ada gerutuan, hanya sunyi yang dingin. Dalam kepasrahan, ia hanya bisa melabuhkan doa-doa tak bersuara untuk masa depan putranya yang kian buram.

“Ayah berangkat kerja dulu, ya.”

Pak Dadang melangkah keluar rumah dengan dada yang terasa dihimpit sesuatu yang berat.

Sepanjang hari bekerja menyapu dedaunan kering dan membersihkan koridor sekolah, hatinya tidak pernah tenang.

Begitu kakinya melangkah kembali ke rumah, firasat buruknya terwujud. Daun pintu rumahnya tampak sedikit renggang.

Ia mendorong pintu dengan tergesa-gesa hingga menghantam dinding. Menyisir setiap sudut ruangan. Kamar mandi, dapur, hingga kamar Dian yang biasanya terkunci dari dalam.

Putranya telah lenyap tanpa jejak.

Keringat dingin mengucur deras.

Semakin ia mencoba mengingat, semakin banyak kejanggalan beberapa minggu terakhir bermunculan di benaknya.

Dian sering kali meminta sejumlah uang dengan raut wajah mendesak, berdalih bahwa itu adalah biaya administrasi untuk melamar pekerjaan.

Pak Dadang tidak memahami hal itu namun tetap berusaha memberikan yang terbaik untuk putranya meski harus menguras tabungannya.

Aih-alih pergi mengenakan kemeja rapi untuk wawancara kerja, Dian hanya terus mengurung diri di dalam kamar.

Pak Dadang ingat betul suatu malam, ketika ia terbangun untuk mengambil air minum, sebuah teriakan frustrasi memecah kesunyian dari balik pintu kamar Dian.

Kala itu, dengan cemas Pak Dadang mengetuk pintu dan bertanya dari luar, tetapi Dian hanya berteriak membentak dari dalam, dan bersikeras bahwa tidak ada apa-apa.

Apakah Dian terjerat judi? Apakah di era serba digital ini orang-orang bisa mempertaruhkan uang hanya lewat ponsel?

Pak Dadang buru-buru menepis prasangka itu. Ia memang pernah beberapa kali melihat layar ponsel Dian. Yang tampak hanyalah permainan perang dengan karakter-karakter berseragam militer—sesuatu yang sama sekali tidak ia pahami.

Di tengah tatapan kosongnya, selembar kertas panjang yang tergeletak di dekat meja televisi menarik perhatiannya.

Dengan tangan gemetar, ia memungut kertas itu. Lembaran itu adalah pernyataan rincian total utang yang diajukan atas nama anaknya.

“100 Juta Rupiah. Harap dibayar besok.”

Ia segera merogoh ponsel usangnya, menekan nomor Dian dengan jemari yang terus gemetar.

Berkali-kali ia menelepon.

Yang terdengar hanya nada sambung tanpa jawaban.

Keesokan paginya, sebelum sempat melangkahkan kaki untuk pergi bekerja, jalan keluar dari gang rumahnya sudah ditutup.

Sekelompok pria berbadan tegap dengan raut wajah bengis telah berdiri mencegatnya.

Pak Dadang mencoba memberanikan diri, melangkah maju dengan suara bergetar menanyakan keberadaan putranya. Namun, alih-alih jawaban hangat, sebuah hantaman keras mendarat di rahangnya, membuatnya tersungkur.

“Hah! Di mana anakmu? Mana kami tahu! Kalau tahu dia di mana, sudah kami seret ke sini!” salah satu dari mereka meludah ke samping, menatap Pak Dadang dengan pandangan jijik.

Di balik rasa sakit yang berdenyut di pipinya, ada sebersit kelegaan yang aneh di sudut hati Pak Dadang. Setidaknya, jika Dian melarikan diri, artinya anaknya tidak diculik atau berakhir sebagai mayat di tempat yang tidak ia ketahui.

“Kami tidak peduli dari mana kamu mendapatkan uangnya,” pria itu mencengkeram kerah baju Pak Dadang, memaksanya mendongak. “Kami akan kembali minggu depan. Pastikan uang itu sudah lunas sekaligus.”

Badai pikiran berkecamuk di dalam kepalanya. Kakinya tak lagi sanggup menopang bobot tubuhnya, membuatnya meluncur jatuh dan bersandar rapuh pada daun pintu rumahnya.

Matanya menatap kosong. Bulir-bulir air mata perlahan mengalir. Ia tidak pernah mengerti cobaan mengerikan apa yang sedang mempermainkannya. Padahal, ia merasa sudah berusaha hidup sebaik mungkin di tengah dunia yang semakin di luar akal sehat ini.

Entah berapa lama Pak Dadang membatu dalam posisi itu.

Pikirannya benar-benar kosong.

Ketika kesadarannya perlahan kembali, ia memaksa tubuhnya yang memar untuk berdiri. Ia harus tetap bekerja jika tidak ingin kehilangan satu-satunya sumber penghidupan yang tersisa.

Namun, begitu ia mengangkat wajahnya.

Seorang pria berpakaian serba hitam sudah berdiri tepat di hadapannya. Sebagian besar wajahnya tersembunyi di bawah bayangan topi bertepi lebar yang ia kenakan.

Pak Dadang terkejut, refleks melangkah mundur hingga punggungnya menghantam pintu kayu. “K-kamu siapa?! Ada urusan apa di sini?!”

Bukannya menjawab, bibir pria itu merenggang, membentuk sebuah senyuman aneh yang membuat bulu kuduk Pak Dadang berdiri seketika.

“Bapak sedang ada masalah keuangan, bukan? Silakan datang ke tempat ini.”

Ia menyodorkan sepucuk kertas lusuh bermotif rumit.

Secara naluriah, tangan Pak Dadang bergerak maju dan menerimanya.

Seketika rasa dingin menjulur dari kertas yang dipegangnya.

“Ini... apa?”

Pak Dadang mendongak untuk meminta penjelasan.

Pria itu telah lenyap.

Ia menoleh cepat ke kiri dan ke kanan, menyapu pandangan ke gang sempit di depan rumahnya sambil mengusap matanya dengan kasar, bertanya-tanya apakah kepalanya yang terbentur tadi telah menciptakan ilusi.

Namun, benda di genggamannya bukan sekadar bayangan. Kertas tebal bertekstur kasar yang tadi disodorkan masih tergenggam erat di tangannya.

Didorong oleh rasa penasaran, Pak Dadang merentangkan lipatan kertas tersebut. Di bagian paling atas, tertulis kalimat bertinta merah pekat:

“Ritual Kekayaan…”

Sementara itu jauh di bawah tanah, terisolasi dari riuk-pikuk dunia atas. Sebuah ruangan batu yang luas, ditemani bau dupa, melati dan anyir darah kering.

Beberapa bola api berwarna jingga kemerahan melayang tanpa tumpuan, menerangi ruangan yang remang.

Di tengah ruangan, berdiri sesosok tubuh yang dibungkus rapat oleh jubah hitam tebal.

Tuk… tuk… tuk…

Dari balik kegelapan lorong bawah tanah, melangkah keluar seorang pria berpakaian serba hitam. Jas necis yang dikenakannya tampak sangat rapi dan berkelas, sangat kontras dengan kekumuhan ruangan tersebut. Separuh wajah bagian atasnya tersembunyi di bawah bayangan topi bertepi lebar yang ia kenakan.

“Bagaimana progresmu saat ini?”

Sosok berjubah hitam itu membungkuk samar.

“Berkat tuan Raga, saya bisa segera menyelesaikannya.”

Di balik tudung kain yang pekat, bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman dingin yang mengerikan.

"Tinggal sedikit lagi..." gumam sosok berjubah hitam itu pelan, menatap lurus ke arah kegelapan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!