NovelToon NovelToon
Kisah Sang Anak Mafia

Kisah Sang Anak Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Misteri
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Reza Haris

Arda Valdarez baru berusia delapan tahun ketika dunianya runtuh dalam satu malam.

Sebagai pewaris tunggal keluarga Valdarez—organisasi mafia terbesar dan paling ditakuti di kota—Arda tumbuh di balik tembok mansion mewah, dijaga oleh orang-orang bersenjata, dan dibayangi rahasia yang tak pernah dijelaskan kepadanya. Namun semua berubah ketika ayahnya, Leon Valdarez, dibunuh dalam sebuah pengkhianatan berdarah.

Sebelum menghembuskan napas terakhir, Leon hanya meninggalkan satu benda kepada putranya: sebuah cincin hitam berlambang ular.

Sejak malam itu, Arda menjadi buruan.

Organisasi mafia saingan, pembunuh bayaran, geng kriminal, hingga para pengkhianat dalam keluarganya sendiri memburu anak kecil itu demi sebuah rahasia yang tersembunyi di dalam cincin tersebut.

Di tengah pelariannya, Arda ditemani oleh Ravian, tangan kanan ayahnya yang sangat loyal, Darius, veteran tua keluarga Valdarez, Kael, pembunuh legendaris yang telah lama dianggap mati,serta Elena, seorang gadis misterius

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Haris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27 Lelaki yang Kehilangan Hati

Hujan turun sejak dini hari.

Rintik-rintik kecil membasahi jalanan kota.

Lampu-lampu kendaraan memantulkan cahaya di aspal yang basah.

Kota terlihat tenang.

Namun Kael tahu.

Ketenangan sering kali hanyalah wajah lain dari badai.

Pukul lima pagi.

Ia sudah berada di ruang kerja.

Beberapa berkas terbuka di atas meja.

Laporan keuangan.

Pergerakan wilayah.

Informasi para informan.

Dan satu map hitam yang paling sering ia baca akhir-akhir ini.

Map bertuliskan satu nama.

**Victor.**

Namun semakin banyak informasi yang dikumpulkan...

Semakin sedikit jawaban yang ditemukan.

Seolah pria itu muncul begitu saja dari bayangan.

Dan sekarang sedang membangun sesuatu.

Sesuatu yang besar.

Sesuatu yang berbahaya.

Kael menutup map tersebut.

Tatapannya beralih ke jendela.

Kemudian kepada foto lama yang berada di rak.

Foto yang sudah bertahun-tahun berada di sana.

Leon.

Isabella.

Marcus.

Dirinya.

Foto yang diambil sebelum semuanya hancur.

Sebelum darah.

Sebelum pengkhianatan.

Sebelum kematian.

Kael menatap wajah Leon cukup lama.

Lalu berkata pelan.

"Anakmu mulai mirip denganmu."

Namun tidak ada yang menjawab.

Karena orang yang ingin ia ajak bicara telah lama pergi.

Sementara itu.

Di halaman belakang.

Arda sedang berlatih.

Seperti biasa.

Pukulan demi pukulan menghantam samsak.

BRAK!

BRAK!

BRAK!

Namun ada sesuatu yang berbeda.

Biasanya ia berlatih untuk memperkuat diri.

Hari ini ia berlatih untuk melampiaskan sesuatu.

Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.

Darius memperhatikan dari kejauhan.

Dan ia langsung menyadarinya.

Karena dirinya pernah berada di posisi yang sama.

Bertahun-tahun lalu.

Ketika kemarahan mulai tumbuh lebih cepat daripada akal sehat.

"Berhenti."ucap Darius.

Arda tidak berhenti.

Satu pukulan lagi.

Lalu satu lagi.

Dan satu lagi.

"Arda."

Kali ini suaranya lebih keras.

Barulah Arda berhenti.

Napasnya berat.

Tangan kanannya sedikit berdarah karena kulit yang mulai terkelupas.

"Ada masalah?"tanya Darius.

"Tidak."

"Kau kembali berbohong."

Arda menghela napas panjang.

Kemudian duduk di bangku kayu.

"Menurutmu."ucapnya.

"Leon pernah takut?"

Pertanyaan itu membuat Darius terdiam.

Karena itu bukan pertanyaan yang biasa ditanyakan Arda.

"Setiap hari."jawab Darius.

Arda mengangkat kepala.

Jelas tidak menyangka jawaban itu.

"Orang seperti Leon bukan tidak takut."lanjut Darius.

"Mereka hanya tidak menunjukkannya."

Keheningan muncul.

Darius duduk di sampingnya.

Kemudian melanjutkan.

"Ada banyak malam ketika dia tidak tidur."

"Banyak keputusan yang menghancurkannya."

"Banyak kematian yang dia sesali."

Tatapan Arda berubah.

Karena selama ini Leon selalu terlihat seperti sosok yang tidak tergoyahkan.

Seolah tahu jawaban untuk semuanya.

"Kalau begitu kenapa dia tetap melakukannya?"

Darius tersenyum tipis.

Karena ia sudah tahu pertanyaan itu akan muncul.

"Karena tidak ada orang lain yang bisa."

Kalimat sederhana.

Namun menghantam jauh lebih keras daripada yang diperkirakan Arda.

Siang hari.

Valdarez menerima kabar baru.

Dan kabar itu tidak baik.

Salah satu gudang mereka dibakar.

Tidak ada korban jiwa.

Namun kerugiannya besar.

Sangat besar.

Rapat darurat langsung diadakan.

Kael berdiri di depan peta kota.

Wajahnya dingin.

Ravian tampak kesal.

Sementara Darius hanya diam.

"Victor."

ucap Ravian.

"Ini pasti ulahnya."

Kael mengangguk.

Namun ada sesuatu yang mengganggunya.

Victor tidak pernah menyerang secara acak.

Tidak pernah.

Semua tindakannya memiliki tujuan.

Semua serangannya adalah bagian dari rencana yang lebih besar.

Dan itulah yang membuat Kael khawatir.

Karena mereka belum mengetahui tujuan tersebut.

"Kita harus menyerang balik."

ucap salah satu anggota senior.

"Kalau tidak, kita terlihat lemah."

Beberapa orang setuju.

Suasana mulai memanas.

Namun sebelum perdebatan berkembang lebih jauh...

Arda berbicara.

"Kalau kita menyerang sekarang..."

Semua orang menoleh.

"...kita bermain sesuai keinginannya."

Ruangan langsung hening.

Kael memperhatikan Arda.

Diam.

Mendengarkan.

"Victor ingin kita marah."lanjut Arda.

"Dia ingin kita bertindak terburu-buru."

"Kalau kita kehilangan kendali..."

"...dia menang."

Ravian menyandarkan tubuh ke kursinya.

Kemudian tersenyum tipis.

Karena itu terdengar sangat mirip dengan sesuatu yang pernah dikatakan Leon.

Kael akhirnya mengangguk.

"Arda benar."

Dan keputusan pun dibuat.

Tidak ada serangan balasan.

Belum.

Namun setelah rapat selesai.

Kael memanggil Arda secara pribadi.

Mereka berbicara di ruang kerja.

Hanya berdua.

"Kau membuat keputusan yang tepat."ucap Kael.

Arda tidak terlihat puas.

Justru sebaliknya.

"Kalau begitu kenapa aku merasa marah?"

Kael terdiam.

Kemudian tersenyum tipis.

Karena ia memahami perasaan itu.

Terlalu memahami.

"Karena kau manusia."

"Itu bukan jawaban."

"Justru itu jawabannya."

Kael berjalan menuju jendela.

Memandang kota.

Lalu berkata pelan.

"Aku pernah seperti ini."

"Leon juga."

"Semua pemimpin yang pernah kau hormati juga."

Arda menunggu.

"Kemarahan memberi tenaga."lanjut Kael.

"Tapi kalau kau membiarkannya memimpin..."

"...suatu hari kau akan menghancurkan sesuatu yang penting."

Tatapan Arda berubah.

Karena ia tahu.

Kael tidak sedang berbicara tentang wilayah.

Atau bisnis.

Atau perang.

Ia sedang berbicara tentang manusia.

Tentang orang-orang yang dicintai.

Malam hari.

Elena sedang membereskan ruang medis.

Hari cukup panjang.

Dan ia terlihat lelah.

Saat hendak menutup lemari obat.

Pintu terbuka.

Arda masuk.

"Kau masih bekerja?"

tanyanya.

Elena tertawa kecil.

"Aku bisa menanyakan hal yang sama."

Arda membantu membereskan beberapa kotak.

Dan untuk beberapa menit mereka bekerja tanpa banyak bicara.

Anehnya.

Keheningan itu terasa nyaman.

Sangat nyaman.

"Ada sesuatu yang mengganggumu."

ucap Elena tiba-tiba.

Arda tersenyum hambar.

"Semudah itu dibaca?"

"Sangat."

Elena duduk di kursi.

Kemudian menatapnya.

"Bicaralah."

Arda biasanya tidak suka membicarakan perasaannya.

Namun bersama Elena...

Entah kenapa terasa lebih mudah.

"Aku takut berubah."

ucapnya pelan.

Elena tidak langsung menjawab.

"Aku melihat banyak hal akhir-akhir ini."

lanjut Arda.

"Semakin banyak kematian."

"Semakin banyak kekerasan."

"Dan terkadang..."

Ia berhenti.

Seolah kesulitan melanjutkan.

"Terkadang aku takut mulai terbiasa."

Ruangan menjadi sunyi.

Sangat sunyi.

Elena memandangnya cukup lama.

Lalu berdiri.

Dan berjalan mendekat.

"Kau tahu kenapa aku tidak khawatir?"

tanyanya.

Arda menggeleng.

Karena Elena tersenyum.

Senyum kecil yang selalu berhasil menenangkan dirinya.

"Karena orang yang benar-benar kehilangan hatinya..."

"...tidak akan pernah takut kehilangan hati."

Arda membeku.

Kalimat itu sederhana.

Namun terasa sangat kuat.

Sangat tepat.

Karena Elena benar.

Jika ia masih takut berubah.

Jika ia masih peduli.

Jika ia masih merasa bersalah.

Maka sebagian dirinya masih tetap ada.

Masih hidup.

Masih bertahan.

Namun di tempat lain.

Jauh dari rumah persembunyian.

Victor sedang menerima laporan.

Seorang anak buah menyerahkan beberapa foto.

Foto Arda.

Foto Elena.

Dan beberapa foto yang diambil diam-diam selama beberapa hari terakhir.

Victor memperhatikannya satu per satu.

Kemudian tersenyum.

"Menarik."

Anak buahnya menunduk.

"Tuan?"

Victor mengetuk foto Elena dengan jarinya.

Pelan.

Sangat pelan.

Dan justru itulah yang membuat suasana semakin mengerikan.

"Dia mulai menjadi penting."

ucap Victor.

Senyumnya perlahan menghilang.

Digantikan tatapan dingin.

Tatapan seorang pemburu yang akhirnya menemukan titik lemah mangsanya.

"Dan semua orang yang penting..."

Ia mengambil foto Elena.

Lalu memasukkannya ke dalam map hitam.

"...akan menjadi target."

Malam itu.

Tanpa diketahui siapa pun.

Jam mulai berdetak menuju sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Sesuatu yang akan mengubah hidup Arda dan Elena selamanya.

1
kiya kiya
Bintang 5 buat author nya 😍
kiya kiya
keren ceritanya 👍
farazky: makasih kakak🥰🥰
total 1 replies
fahmi
semangat kakak author
KZ2
mantap lanjut thor
farazky: siap kak 🥰
total 1 replies
Afan Bagus
mantap cerita nya
Al Faris
bagus ceritanya banyak misteri saya suka cerita begini
semangat kak dalam berkarya nya 💪💪💪
Al Faris
agak seru ceritanya 👍
Al Faris
nah gini kan bagus kak
Al Faris
untuk kakak bab ini terlalu banyak kata yg berjarak terlalu jauh sebagai pembaca kurang nyaman tolong diperbaiki lagi yaa kakak author 😍. tetap semangat kakak dalam berkarya 💪💪
farazky: terimakasih kakak atas saran dan kritikannya🥰
total 1 replies
fahmi
ini bagus 👍 gak kayak bab 6 tadi
fahmi
untuk bab ini banyak kali jarang antar kata nya. sudah enak sih bacanya dari 1 sampe 5. semangat terus author nya 💪💪💪
farazky: baik terimakasih kakak atas koreksinya 😍
total 1 replies
fahmi
semangat kakak author 💪
fahmi
👍
Al Faris
semangat
Al Faris
semangat kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!