NovelToon NovelToon
SINFUL HEARTS SOCIETY

SINFUL HEARTS SOCIETY

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Teen
Popularitas:623
Nilai: 5
Nama Author: Yuan La

Seraphine merupakan anak adopsi dari keluarga besar Vane. Sera mendapatkan perlindungan total dan kemewahan, tetapi ia mungkin kehilangan kebebasannya. Sang kakak, Alaric Vane telah merencanakan segalanya agar Sera tidak pernah lepas darinya, protective yang mengubahnya menjadi obsesi. Perasaanya bukan hanya sebatas kakak pada ‘adik’ namun lebih dari itu. Demi keluar dari sangkar emas keluarga Vane, Sera memilih bersekolah di imperial royal, Veridion Academy. Tidak main-main, ia enggan merepotkan keluarga Vane. Sera membuktikan mampu mengambil jalur beasiswa penuhnya. Tanpa disadari ini menjadi hal pembullyan disekolahnya. Demi dapat sekolah dengan nyaman hingga kelulusan, Seraphine bertemu dengan Yunkai Shenzar. Bangsawan berdarah biru murni, seorang Pangeran yang sedang bertaruh akan tahtanya setelah kelulusan sekolah. Dari musuh menjadi kekasih. Mereka menjalin aliansi, kerja sama saling memanfaatkan. Seraphine enggan bernaung pada keluarga Vane memilih memanfaatkan kekuatan mutlak sang Pangeran. Yunkai sendiri tahu siapa jati diri Sera sebelum diadopsi, dan memanfaat Sera untuk membuat tuan besar Vane menyokong dirinya menaiki tahta kerajaan. Sera tidak tahu siasat itu justru membawanya terjerumus terlalu dalam membentuk hubungan yang lebih serius dan kekacauan besar antara Tuan besar Vane dengan anaknya, Alaric Vane. Kini, Sera terjebak di antara dua kekuatan besar: obsesi Alaric yang menyesakkan atau cinta sang pangeran yang menawarkan kebebasan namun penuh risiko politik. Di antara bayang-bayang masa lalu keluarga Vane dan kemilau mahkota kerajaan, siapakah yang akhirnya akan dipilih oleh Sera?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gangguan kecil

Sera menatap deretan peralatan dapur yang berkilau bersih, lalu beralih menatap Yunkai dengan pandangan meremehkan. "Memasak? Kau bercanda, ya? Seorang Pangeran yang biasanya dilayani puluhan pelayan, sekarang mau menyentuh wajan?"

Yunkai melepas jam tangan mewahnya, meletakkannya di atas meja konter dapur dengan gerakan santai, lalu mulai menarik lengan sweater hitamnya hingga sebatas siku. Otot-otot lengannya yang tegas terekspos, membuat Sera refleks menelan ludah.

"Jangan meremehkan pria yang punya akses ke dapur militer, Seraphine," sahut Yunkai dengan kedipan mata yang menyebalkan. Ia membuka lemari es besar di sudut ruangan dan mengeluarkan beberapa bahan: telur, daging asap, roti gandum, dan mentega. "Lagipula, aku tidak bilang aku yang akan memasak semuanya. Kita bagi tugas."

Yunkai meletakkan pisau dan papan talenan di depan Sera, lalu menyodorkan sebungkus daging asap. "Kau potong ini. Aku yang akan mengurus telur dan rotinya."

Sera menatap pisau di hadapannya dengan ragu. Memotong daging? Di kediaman keluarga Kane, ia bahkan tidak pernah diizinkan membawa piringnya sendiri ke wastafel. Saat kedua orang tuanya masih ada, bahkan ibunya sendiri tidak pernah ke dapur bersamanya. Namun, harga dirinya menolak untuk terlihat lemah di depan Yunkai.

Sera menarik mantel Yunkai yang masih bertengger di bahunya, meletakkannya di sandaran kursi, lalu mengambil pisau itu. Ia mulai memotong daging asap dengan gerakan yang kaku dan terlalu berhati-hati.

Yunkai yang sedang mengocok telur di mangkuk mangkuk kaca diam-diam memperhatikan. Sudut bibirnya berkedut geli. "Kau memotong daging seperti sedang menjinakkan bom, Sera. Santai saja. Apa kau tidak pernah memegang pisau? Berhati-hatilah.”

"Diamlah. Fokus saja pada telurmu," ketus Sera tanpa menoleh, menekan pisau itu dengan sedikit lebih keras.

Aww!

Sera meringis pelan, refleks menjatuhkan pisau ke atas talenan. Ujung ibu jari kirinya tergores tipis, mengeluarkan goresan darah segar karena ia kehilangan fokus akibat godaan Yunkai tadi.

Sebelum Sera sempat memeriksa lukanya sendiri, pergelangan tangannya sudah ditangkap oleh tangan besar Yunkai. Pria itu meletakkan mangkuk telurnya dengan kasar, wajahnya mendadak berubah tegang, kehilangan semua kesan main-main yang sejak tadi ia tunjukkan.

"Kan sudah kubilang hati-hati," ucap Yunkai, nadanya mendadak berat dan penuh tuntutan.

Yunkai langsung menarik tangan Sera menuju wastafel, menghidupkan kran, dan membasuh luka kecil itu di bawah aliran air dingin. Jarak mereka kembali mengikis habis. Punggung Sera menempel pada konter dapur, sementara tubuh tegap Yunkai mengungkungnya dari depan, fokus sepenuhnya pada jari kecil Sera yang terluka.

Sera terpaku. Rasa perih di jarinya mendadak hilang, digantikan oleh debaran hebat di dalam dadanya. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Yunkai yang begitu dekat, mencium aroma tubuh pria itu yang kini bercampur samar dengan bau mentega hangat.

"Kau benar, aku tidak pernah turun ke dapur. Sejak kecil hingga keluarga Kane mengasuh ku, semua kebutuhan ku mulai dari sarapan sudah tersaji. Terakhir aku memegang pisau hanya untuk tugas sekolah, membuat prakarya.” Ujar Sera tenang.

Yunkai mematikan kran. Bukannya mencari kotak P3K, pria itu justru membawa jari tangan Sera yang terluka ke depan bibirnya. Matanya mengunci manik mata Sera dengan intensitas yang membakar, lalu dengan perlahan, Yunkai mengecup ujung ibu jari Sera yang tergores—mengulumnya sekilas untuk menghentikan sisa darah yang keluar.

Sentuhan basah dan hangat dari bibir Yunkai di jarinya mengirimkan sengatan listrik yang luar biasa dahsyat langsung ke pusat saraf Sera. Tubuh Sera bergetar hebat. Napasnya tercekat di tenggorokan.

Tatapan mereka bertemu. Di dalam ruangan dapur yang sepi itu, atmosfer mendadak berubah menjadi sangat pekat dan panas. Yunkai menurunkan tangan Sera perlahan, namun ia tidak melepaskannya. Ibu jarinya berganti mengusap pergelangan tangan Sera yang nadinya berdenyut dengan sangat cepat.

Yunkai memajukan wajahnya. Matanya turun, menatap lurus pada bibir ranum Sera yang berjarak begitu dekat darinya. Udara di antara mereka seolah habis. Yunkai bisa mendengar napas Sera yang memburu, sama seperti napasnya sendiri yang mulai tidak beraturan.

“Jadi kau ingin mengatakan, selama ini mereka memanjakan mu?” Lembutnya Yunkai mengapit tubuh sera diantara kedua lengannya, “Kau kira aku tidak bisa memanjakan mu?”

Sera bisa merasakan kehangatan mutlak dari bibir Yunkai yang tinggal sedikit lagi menyentuh miliknya. Logikanya mati total. Kali ini, Sera tidak memalingkan wajahnya. Dorongan egois di dalam dadanya menuntutnya untuk menyerah. Jemari tangan Sera yang bebas perlahan bergerak naik, menyentuh lengan tegap Yunkai, meremas kain sweater hitam pria itu, seolah memberi sinyal tak bersuara bahwa ia mengijinkan pria itu melanggar batas malam kemarin.

Yunkai memejamkan matanya, merasakan persetujuan tersirat dari remasan tangan Sera di lengannya. Sebuah geraman rendah lolos dari tenggorokannya. Ia memiringkan kepala, bersiap untuk mengklaim bibir itu dalam sebuah ciuman yang dalam dan penuh kerinduan yang tertahan.

Bzzz... Bzzz...

Suara getaran ponsel yang keras di atas meja konter tiba-tiba memecah keheningan di antara mereka.

Sera tersentak hebat, seolah baru saja dibangunkan paksa dari mimpi buruk yang indah. Kesadarannya kembali menghantam dalam sekejap. Dengan panik, ia mendorong dada Yunkai dengan kuat, menciptakan jarak di antara mereka.

Yunkai membuka matanya, menatap ponsel di atas meja dengan kilatan amarah yang tidak bisa disembunyikan. Napasnya memburu frustrasi. Tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya, menahan diri agar tidak melempar benda sialan itu keluar jendela.

Sera berpaling menjauh dari Yunkai, memegangi dadanya yang naik-turun drastis, mencoba meredakan debaran jantungnya yang menggila. Pipinya terasa sangat panas.

"Angkat teleponmu," ucap Sera tanpa menatap Yunkai, suaranya bergetar hebat namun ia berusaha keras mengembalikannya ke nada sedingin es. "Mungkin itu urusan penting dari 'istanamu'."

Yunkai menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan sisa-sisa gairah yang membakar dadanya. Ia melirik layar ponselnya menampilkan nama kontak asisten pribadinya, Xan, lalu beralih menatap Sera yang kini menolak menatap matanya.

Yunkai terkekeh tipis—sebuah kekehan yang penuh rasa frustrasi sekaligus geli melihat bagaimana takdir baru saja mempermainkan mereka.

"Kau selamat hari ini, Seraphine," bisik Yunkai parau, “Ini kotak obat mu,” Yunkai membuka laci didekat Sera berdiri dan menyerahkannya. Ia meraih ponselnya, lalu menatap Sera lekat-lekat sebelum berbalik. "Tunggu di sini. Jangan menyentuh pisau itu lagi kalau kau tidak mau aku melakukan hal yang lebih jauh dari sekadar mengecup jarimu.”

Yunkai melangkah lebar menuju teras luar untuk mengangkat telepon, meninggalkan Sera yang langsung bersandar lemas pada wastafel, meraba bibirnya sendiri yang bergetar. Batasan di antara mereka sudah retak, dan Sera tahu, setelah telepon itu selesai, segalanya tidak akan pernah sama lagi.

Melalui dinding kaca besar, Sera bisa melihat siluet Yunkai di teras luar. Pria itu berdiri memunggungi dapur, satu tangannya berkacak pinggang sementara tangan lainnya menempelkan ponsel di telinga. Dari tegangnya garis bahu Yunkai, Sera tahu pembicaraan di telepon itu cukup serius.

“Bodoh, Sera. Kau hampir saja kalah,” umpat Sera pada dirinya sendiri dalam hati. Ia meremas jemarinya yang gemetar.

Sera segera mematikan kompor yang sudah mulai memanaskan mentega, lalu berjalan menjauh dari dapur. Berada di sana hanya akan membuatnya terus mengingat bagaimana tubuh tegap Yunkai mengungkungnya tadi. Ia memilih duduk di sofa ruang tengah, meluruskan kakinya dan mencoba bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!