NovelToon NovelToon
Ketika Sang Penindas Jadi Bucin

Ketika Sang Penindas Jadi Bucin

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Vina Melani Sekar Asih

Bagi Hani, diterima wawancara di perusahaan besar adalah impian. Namun, impian itu berubah jadi ketegangan saat ia tahu sang pewawancara adalah Reza, cowok nakal yang sering membully-nya saat SMA, yang ternyata adalah anak pemilik perusahaan.

Reza awalnya pangling melihat Hani yang kini bertransformasi menjadi sangat cantik dan memikat. Namun, begitu membaca nama lengkap Hani di CV, Reza langsung ingat bahwa mereka dulu sekelas. Terpesona oleh kecantikan Hani sekarang sekaligus dihantui rasa bersalah masa lalu, Reza langsung meloloskan Hani dan bertekad menebus dosanya.

Reza melakukan segala cara untuk meminta maaf dan mengambil hati Hani. Sayangnya, Hani bukan perempuan lemah yang mudah luluh. Akankah sikap dingin Hani runtuh oleh perjuangan Reza, ataukah Reza harus menerima kenyataan bahwa beberapa luka masa lalu memang mustahil disembuhkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Pernyataan tulus yang keluar dari bibir Reza di bawah temaram lampu kamar VIP 901 itu seperti menghentikan waktu seketika. Hani terpaku di kursinya, merasakan kehangatan jemari pria itu yang masih menggenggam erat tangannya.

Di luar jendela kaca besar, langit Jakarta telah sepenuhnya berubah menjadi kanvas hitam keunguan dengan kerlip lampu kota yang menyerupai taburan permata.

Hani menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakan gemuruh di dalam dadanya. Sepasang matanya yang masih sedikit basah menatap lurus ke dalam manik mata Reza, mencari celah keraguan di sana, namun yang ia temukan hanyalah kesungguhan mutlak yang tak tergoyahkan.

"Pak Reza," ucap Hani, suaranya terdengar lembut namun bergetar oleh emosi.

"Sejak pertama kali saya melangkah kaki ke dalam divisi administrasi Baskara Group, saya selalu menganggap Anda sebagai dinding tinggi yang tidak akan pernah bisa saya jangkau. Seorang direktur muda yang jenius, penuh kalkulasi, dan berjarak. Namun, setelah semua malam-malam mencekam yang kita lalui... setelah melihat Anda rela terluka demi memastikan saya tetap bernapas..."

Hani berhenti sejenak, meremas pelan jemari Reza. "Saya rasa, saya tidak lagi ingin melihat Anda dari kejauhan. Jika Anda bersedia melepas sejenak jubah direktur itu, maka saya pun dengan senang hati akan berjalan di samping Anda. Bukan lagi sebagai staf yang patuh, melainkan sebagai seseorang yang menghargai ketulusan Anda."

Sebuah senyum lega dan begitu lepas mengembang di wajah pucat Reza. Beban berat yang selama ini menghimpit pundaknya, persaingan korporasi, ancaman faksi Surya Adiguna, dan tanggung jawab menjaga rahasia besar seolah luruh begitu saja mendengar jawaban Hani. Ia mengencangkan genggaman tangannya, seakan enggan membiarkan wanita itu menjauh meski hanya satu jengkal.

"Terima kasih, Hani," bisik Reza, suaranya yang serak kini terdengar jauh lebih hangat. "Itu adalah jawaban terbaik yang pernah kudengar sepanjang hidupku."

Tok Tok Tok.

Ketukan pelan di pintu kaca memecah momen magis di antara mereka. Hani dengan sedikit canggung perlahan menarik tangannya dari genggaman Reza saat pintu terbuka. Narendra Baskara melangkah masuk terlebih dahulu, diikuti oleh Pak Gibran dan Sarah yang membawa beberapa folder dokumen medis.

"Maaf jika kedatangan kami mengganggu obrolan serius kalian," ujar Narendra dengan nada menggoda yang sangat jarang ia tunjukkan di lingkungan kantor.

Sepasang mata sang Direktur Utama melirik ke arah posisi duduk Hani yang sangat dekat dengan ranjang putranya, lalu tersenyum penuh arti.

"Sama sekali tidak, Ayah," jawab Reza cepat, mencoba bersikap seprofesional mungkin meski semburat merah di pipinya tidak bisa disembunyikan sepenuhnya. "Bagaimana hasil pemeriksaan Pak Gibran?"

Sarah maju selangkah, meletakkan dokumen ke atas meja nakas. "Dokter spesialis ortopedi sudah memeriksa kondisi bahu Pak Gibran, Pak Reza. Untungnya, cedera akibat pengejaran di perbukitan kemarin tidak merobek ligamen utama."

"Itu kabar yang sangat baik," sahut Reza, menatap Pak Gibran dengan pandangan penuh rasa hormat. "Terima kasih sudah menjaga Hani dan dokumen-dokumen itu hingga sampai ke Jakarta Selatan, Pak."

Pak Gibran mengangguk pelan, menyandarkan tubuhnya yang tampak lelah namun rileks pada dinding ruangan.

"Itu sudah menjadi kewajiban saya, Reza. Selama delapan tahun ini, saya hidup dalam bayang-bayang ketakutan bahwa kebenaran ini akan mati bersama saya. Melihat Surya Adiguna digiring keluar dengan borgol sore tadi... itu adalah obat terbaik untuk semua rasa sakit ini."

Narendra kemudian berjalan mendekati sisi ranjang Reza, menatap putranya dengan raut wajah yang kembali serius namun sarat akan kebanggaan.

"Tim hukum kita telah bekerja lembur sejak dua jam lalu, Reza. Konferensi pers resmi akan digelar besok pagi pukul sembilan tepat di lobi utama Baskara Tower. Perwakilan dari Otoritas Jasa Keuangan dan penyidik Markas Besar Kepolisian juga akan hadir untuk memberikan pernyataan pers bersama."

Narendra menoleh ke arah Hani. "Hani, besok namamu dan nama mendiang ayahmu akan dibersihkan secara total di hadapan seluruh media nasional.

Seluruh aset dan hak finansial yang sempat dibekukan atau disalahgunakan oleh Surya atas namamu akan dikembalikan secara utuh melalui mekanisme hukum."

Hani mendengarkan penjelasan Narendra dengan perasaan yang campur aduk. Ada rasa haru yang luar biasa, namun juga ada sedikit rasa gentar membayangkan dirinya harus berhadapan dengan jepretan kamera wartawan esok hari.

Melihat keraguan di wajah Hani, Reza kembali bersuara dari atas ranjangnya. "Kamu tidak perlu mengkhawatirkan apa pun besok, Hani. Sarah akan mendampingimu secara langsung selama proses konferensi pers berlangsung. Dan aku... meskipun tidak bisa berada di sana secara fisik, aku akan memastikan seluruh pergerakan media tetap berada di bawah pengawasan tim siber kita."

Sarah mengangguk pasti, menepuk pundak Hani dengan lembut. "Benar, Hani. Aku sudah menyiapkan draf pernyataan tertulis yang singkat dan padat untukmu. Kamu hanya perlu membaca apa yang perlu disampaikan tanpa harus menjawab pertanyaan-pertanyaan spekulatif dari para jurnalis. Biarkan tim hukum Pak Narendra yang menangani bagian yang rumit."

"Terima kasih banyak, semuanya," ucap Hani tulus. Ia merasa sangat beruntung karena di tengah badai besar yang menimpa hidupnya, ia dikelilingi oleh orang-orang yang begitu tulus melindunginya.

Malam kian larut di Rumah Sakit Pusat Medika. Setelah berdiskusi mengenai detail teknis untuk agenda esok hari, Narendra, Pak Gibran, dan Sarah pamit untuk meninggalkan ruangan agar Reza bisa beristirahat total.

Sarah juga meminta Hani untuk ikut pulang ke apartemen fasilitas perusahaan yang sudah disiapkan demi keamanan dan kenyamanannya sebelum menghadapi hari esok.

Sebelum melangkah keluar dari kamar, Hani sempat berbalik di ambang pintu, menatap Reza yang sedang memandangnya dengan senyum hangat.

"Istirahatlah yang cukup, Pak Reza. Jangan menyentuh laptop itu lagi seperti kata Sarah," ujar Hani mengingatkan setengah berbisik.

"Aku berjanji, Hani. Sampai jumpa besok pagi," balas Reza lembut.

Pintu kaca tebal itu pun tertutup rapat. Di koridor yang sunyi, Hani berjalan berdampingan dengan Sarah menuju lift privat. Langkah kakinya kini tidak lagi terasa berat dan penuh keraguan seperti beberapa hari lalu. Beban sejarah kelam keluarganya telah terangkat sepenuhnya sore ini.

Sambil menunggu pintu lift terbuka, Hani menatap pantulan dirinya pada dinding lift yang mengilat. Gadis administrasi yang dulu kerap merasa tidak aman dan selalu dihantui oleh ketakutan akan masa lalu, kini telah bertransformasi menjadi sosok yang jauh lebih kuat.

Dengan dukungan dari orang-orang yang ia cintai terutama Reza Baskara. Ia tahu bahwa ia siap melangkah memasuki lembaran baru yang bersih, meninggalkan seluruh intrik catur korporasi yang telah menguji batas ketahanannya.

Permainan besar ini telah mendekati babak akhir, dan sang pion kini telah bersiap untuk dinobatkan di atas papannya sendiri.

1
Indah Callysta Annabel
ceritanya bagus banget, alurnya rapi, bahasanya menarik, semangat kak
Vimel: Terima kasih, kak 😊
total 1 replies
Indah Callysta Annabel
bagus banget ceritanya
Bu Dewi
up lagi kak😍😍😍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!