NovelToon NovelToon
Ketika Rekor Bertemu Rindu

Ketika Rekor Bertemu Rindu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:151
Nilai: 5
Nama Author: Ella

Rindu Prameswari memiliki segalanya rekor nasional, popularitas, dan masa depan yang cerah. Setidaknya begitulah yang dilihat orang lain. Tidak ada yang tahu bahwa setiap kali berdiri di atas balok start, Rindu merasa seperti boneka yang hidup untuk memenuhi harapan keluarganya.

Saat konflik dengan ayah dan ibu tirinya semakin memburuk, performa Rindu mulai menurun. Demi menyelamatkan kariernya, ia dikirim ke program pelatihan khusus yang dipimpin oleh seorang pelatih muda bernama Kenzo Adhyaksa.

Kenzo berbeda dari semua orang yang pernah ditemui Rindu. Ia tidak peduli dengan medali, rekor, atau nama besar keluarga Prameswari.

"Kalau tidak ada lomba, tidak ada rekor, dan tidak ada tuntutan keluarga... apa yang sebenarnya Rindu inginkan?"

Pertanyaan sederhana itu justru menjadi awal perubahan terbesar dalam hidup Rindu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

dr. Januar melepas kacamatanya, lalu menatap Kenzo dan Rindu dengan tatapan yang sangat serius namun tetap meneduhkan.

"Langkah pertamanya, Rindu harus menjauh dulu dari apa pun yang menjadi sumber stres utamanya," ujar dr. Januar tegas. "Karena obat terbaik untuk psychogenic asthma bukan bahan kimia, melainkan ketenangan pikiran dan rasa aman. Kalau pemicunya adalah lingkungan rumah, maka Rindu butuh suasana baru yang lebih mendukung kesehatannya, terutama menjelang turnamen jika ada ya."

Mendengar hal itu, Kenzo langsung mengangguk pasti. Di dalam benaknya, ia sudah menyusun rencana untuk membawa Rindu keluar dari rumah Prameswari secepatnya.

"Lalu untuk penanganan medisnya, Om akan resepkan satu obat minum ringan dan satu inhaler baru yang dosisnya sudah Om sesuaikan khusus untuk atlet," lanjut dr. Januar sambil mulai menulis resep di kertas. "Tapi ingat, ini hanya dipakai sebagai emergency kalau serangan paniknya benar-benar datang lagi. Jangan dijadikan ketergantungan seperti inhaler lama yang tadi."

dr. Januar menyerahkan kertas resep itu kepada Kenzo, lalu menepuk bahu pemuda itu dengan pelan.

"Dan tugas paling besar ada di kamu, Kenzo. Sebagai pelatihnya, dan sebagai orang terdekatnya. Pastikan Rindu selalu merasa didengar, dilindungi, dan tidak merasa berjuang sendirian. Pendampingan emosional dari kamu adalah kunci kesembuhan total Rindu."

Kenzo menerima kertas resep itu, lalu menatap dr. Januar dengan tatapan mata yang dipenuhi tekad yang kuat. "Pasti, Om. Ken bakal jaga Rindu dengan nyawa Ken sendiri. Makasih banyak ya, Om."

Kenzo pamit kepada dokter Januar dan menuju a optik sambil mengenggam tangan Rindu. Setelah keluar dari apotek rumah sakit untuk menebus resep obat dan inhaler yang baru, Kenzo menuntun Rindu kembali ke dalam mobil. Suasana di dalam kabin SUV hitam itu terasa jauh lebih tenang sekarang.

Sebelum menyalakan mesin, Kenzo memutar tubuhnya menghadap Rindu. Ia meraih kedua tangan gadis itu, menggenggamnya dengan hangat, dan menatap langsung ke manik mata Rindu dengan tatapan yang begitu dalam dan tulus.

"Dengar, Sayang... kamu harus tetap tenang dan fokus ke turnamen kamu tiga minggu lagi ya," ucap Kenzo dengan suara rendah yang menenangkan, seolah setiap katanya adalah janji yang tak akan pernah diingkari. "Jangan pikirkan omongan Papa kamu, jangan pikirkan Diana. Mulai sekarang, Kakak yang akan urus semuanya."

Rindu menatap wajah tegas Kenzo, merasakan kehangatan yang menjalar dari telapak tangan pria itu ke dalam hatinya.

"Kakak akan selalu di samping kamu. Di dalam maupun di luar lintasan. Kamu gak sendirian lagi, Rin," lanjut Kenzo sembari mengulas senyum tipis, lalu membawa tangan Rindu ke bibirnya untuk dikecup lembut.

Mendengar untaian kata penenang dari Kenzo, beban berat yang selama ini bergelayut di pundak Rindu rasanya benar-benar runtuh. Udara di sekitarnya terasa begitu lega untuk dihirup. Rindu tersenyum tulus, setitik air mata haru hampir menetes di sudut matanya, namun ia buru-buru mengangguk pasti.

"Iya, Kak Ken. Rin percaya sama Kakak. Rin bakal fokus buat turnamen nanti," jawab Rindu dengan nada suara yang kini dipenuhi keyakinan baru. Rasa takutnya pada Baskoro dan Diana mendadak sirna, karena ia tahu, pelindungnya tidak akan pernah membiarkan siapa pun menyakitinya lagi.

“Anggap saja kamu kost di rumah itu gimana?” Ucap Kenzo sengaja membuat jenaka kepada Rindu.

Kenzo menatap Rindu dengan alis bertaut, bingung sekaligus cemas melihat reaksi gadis itu yang justru tertawa di saat situasi mereka sedang sekritis ini. Ia mengusap ibu jarinya di punggung tangan Rindu, berusaha mencari tahu apa yang ada di dalam pikiran Sang Ratu.

"Kok tertawanya gitu, Sayang? Ada yang lucu?" tanya Kenzo lembut, suaranya dipenuhi rasa penasaran yang tulus.

Rindu menggeleng pelan, sisa-sisa tawa mirisnya perlahan memudar, digantikan oleh tatapan sendu yang menatap lurus ke depan.

"Gak ada yang lucu, Kak. Rin cuma ngerasa ironis aja," ucap Rindu, suaranya terdengar bergetar namun ada nada getir di sana. "Kost? Di rumah kandung Rin sendiri? Kak Ken tahu gak... jangankan bayar kost, untuk napas dengan tenang di dalam rumah itu aja Rin harus bayar pakai harga diri Rin setiap hari."

Rindu menoleh, menatap Kenzo dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Kalau Rin tetep tinggal di sana dan pura-pura menganggap tempat itu cuma 'kost-kosan', papa gak akan pernah lepasin Rin, Kak. Dia bakal tetep nuntut Rin jadi anak yang sempurna, piala yang sempurna, dan Diana... wanita itu gak akan pernah berhenti cari celah buat bikin Rin menderita. Rumah itu racun buat Rin."

Kenzo terdiam. Genggaman tangannya pada Rindu semakin mengerat. Kalimat Rindu barusan menyadarkannya bahwa luka yang dialami gadis ini sudah terlalu dalam. Menganggap rumah itu sebagai tempat kost biasa jelas bukan solusi, karena dinding-dinding rumah Prameswari itu sendiri adalah penjara mental bagi Rindu.

"Maaf... maafin Kakak ya, Rin," bisik Kenzo menyesal, lalu menarik Rindu ke dalam pelukannya. Ia mendekap kepala Rindu ke dadanya, membiarkan gadis itu mendengarkan detak jantungnya yang berdegup konstan. "Kakak salah bicara. Kamu bener, tempat itu gak sehat buat kamu. Kita cari jalan keluar yang lain, oke? Kakak gak akan biarkan kamu balik ke penjara itu lagi."

Di dalam kehangatan dekapan Kenzo, Rindu terdiam. Detak jantung Kenzo yang berdegup konstan di dadanya sempat memberikan rasa nyaman, namun tiba-tiba sebuah pikiran buruk melintas di benaknya, membuat tubuhnya mendadak menegang.

Rindu melepaskan pelukannya perlahan, lalu menatap Kenzo dengan tatapan mata yang dipenuhi kecemasan baru. Rindu berpikir sejenak. Ia sangat tahu tabiat papanya. Baskoro adalah pria yang angkuh dan menghalalkan segala cara jika egonya terusik. Jika Rindu nekat pergi dan kabur dari rumah itu sekarang, papanya tidak akan tinggal diam.

Baskoro pasti akan mengerahkan segala kuasanya untuk mencari tahu siapa yang menyembunyikannya. Dan jika papanya tahu bahwa orang itu adalah Kenzo pelatihnya sendiri maka hubungan mereka yang baru saja dimulai ini akan menjadi taruhannya. Baskoro bisa saja menghancurkan karier Kenzo di dunia renang, menuntutnya atas tuduhan membawa lari anak di bawah umur, atau yang lebih buruk, menjauhkan Kenzo paksa dari kehidupan Rindu selamanya.

"Kak..." panggil Rindu lirih, matanya menatap Kenzo dengan pancaran ketakutan yang nyata. "Kalau Rin pergi dari rumah sekarang... Papa gak akan tinggal diam. Rin takut... Rin takut Papa bakal cari tahu tentang Kakak dan ngerusak semua yang Kakak punya. Hubungan kita... karier Kakak... Rin gak mau Kakak ikut hancur cuma karena ego Papa."

Kenzo menangkap guratan kecemasan itu di wajah Rindu. Ia meraih kedua pipi Rindu dengan tangannya, memaksa gadis itu untuk menatap langsung ke dalam matanya yang tenang namun sarat akan kekuatan.

"Sayang, lihat Kakak," ujar Kenzo, suaranya terdengar sangat tegas tanpa ada keraguan sedikit pun. "Kamu pikir Kakakmu ini selemah itu sampai bisa dihancurkan oleh Papa kamu? Kamu gak perlu mencemaskan hal yang belum tentu terjadi. Fokus kamu cuma satu: sehat dan menang di turnamen. Biar Kakak yang hadapi Papa kamu kalau waktunya sudah tiba. Paham?"

“Rin paham kak, kakak punya segalanya, tapi Rin gak mau kehilangan kakak untuk saat ini”

Mendengar ucapan Rindu, sudut bibir Kenzo perlahan terangkat, membentuk sebuah senyuman yang teramat manis dan penuh arti. Kecemasan yang sempat membayangi mata Rindu perlahan mencair begitu melihat ketenangan yang mutlak di wajah pria di depannya ini.

Kenzo memajukan wajahnya sedikit, lalu mengecup kening Rindu dengan lembut dan lama, seolah sedang menyalurkan seluruh keyakinan yang ia miliki ke dalam jiwa gadis itu.

"Kamu gak akan kehilangan Kakak, Rin. Nggak akan pernah," bisik Kenzo tepat di depan wajah Rindu setelah melepaskan kecupannya. Jemarinya merapikan anak rambut yang menghalangi mata indah Sang Ratu.

"Kakak tahu kamu trauma dengan orang-orang yang pergi meninggalkan kamu. Tapi Kakak bukan mereka. Kakak di sini karena pilihan Kakak sendiri, dan gak ada satu orang pun di dunia ini termasuk Papa kamu yang bisa maksa Kakak menjauh dari kamu," lanjut Kenzo dengan nada suara yang begitu protektif, namun terdengar sangat menenangkan.

Kenzo kembali menggenggam tangan Rindu, lalu mulai memindahkan transmisi mobilnya ke posisi Drive.

"Sekarang, kita ke tempat latihan. Kita fokus ke tujuan utama kita dulu, oke? Anggap perjalanan tiga minggu ini sebagai persiapan kamu untuk merebut kembali kebebasan kamu di lintasan. Dan selama tiga minggu itu juga, Kakak yang akan jadi perisai kamu."

SUV hitam itu pun kembali melaju, membelah jalanan kota menuju kolam renang tempat latihan. Di dalam mobil itu, ketakutan Rindu benar-benar telah sirna, digantikan oleh rasa percaya yang begitu besar pada pria yang kini memegang kemudi di sampingnya.

“Ngomong-ngomong kamu sudah sarapan belum sayang?” Tanya Kenzo dan dijawab oleh Rindu dengan menggeleng pelan

Kenzo langsung mendecitkan lidahnya pelan, menatap Rindu dengan tatapan mengomeli namun penuh perhatian. Ia sengaja memperlambat laju mobilnya begitu melihat deretan kafe dan tempat makan di pinggir jalan.

"Astaga, Ratu Lintasan Kakak belum sarapan? Pantas saja tadi energinya gampang habis," ujar Kenzo sambil mengacak rambut Rindu dengan gemas menggunakan tangan kirinya. "Gak ada latihan dengan perut kosong, Sayang. Itu hukum nomor satu dari Pelatih Kenzo."

Kenzo memutar setir, membelokkan SUV hitamnya ke arah sebuah drive-thru restoran cepat saji yang menyediakan menu sarapan sehat dan hangat.

"Kita beli sarapan dulu ya. Kamu harus makan yang banyak supaya obat dari Dokter Januar tadi bisa langsung diminum, dan biar kamu punya tenaga buat menghadapi air kolam hari ini," kata Kenzo sambil menurunkan kaca jendela mobil begitu sampai di depan mesin pemesan.

Setelah memesan bubur ayam hangat, roti tangkup gandum, dan jus jeruk segar, Kenzo kembali menoleh ke arah Rindu yang sejak tadi memperhatikannya. "Nah, sekarang tugas kamu cuma satu: habisin semua makanannya begitu sampai di tempat latihan nanti. Gak boleh ada sisa, paham?"

Begitu mereka sampai di area parkir tempat latihan yang masih sepi, Kenzo langsung mematikan mesin mobil. Ia membuka bungkusan makanan yang masih hangat, lalu menyerahkannya kepada Rindu dengan sangat telaten, lengkap dengan sendok dan air mineral yang sudah dibuka tutupnya.

"Ayo dimakan, Sayang. Mumpung masih hangat," ucap Kenzo lembut.

Rindu menerima mangkuk bubur itu. Saat ia mulai menyuapkan sendok pertama ke dalam mulutnya dan mengunyah makanan itu pelan, dadanya mendadak bergemuruh hebat. Rasa hangat dari makanan itu seolah menjalar ke hatinya yang sudah lama beku dan kesepian.

Di rumah megah Prameswari, sarapan selalu penuh dengan ketegangan, tuntutan, atau sindiran tajam dari Diana. Rindu hampir tidak pernah tahu rasanya diperhatikan secara tulus seperti ini ditanya apakah sudah makan, ditemani berobat, dan dilindungi dari segala arah. Di depan Kenzo, ia tidak perlu berpura-pura menjadi robot pencetak medali; ia hanya perlu menjadi Rindu yang sedang lapar.

Perasaan sangat dihargai dan disayangi itu menyeruak begitu kuat, hingga tanpa bisa ditahan, setitik air mata Rindu menetes jatuh tepat ke atas pangkuannya.

Kenzo yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Rindu langsung terenyak. Senyum di wajahnya memudar, digantikan oleh rasa cemas yang teramat sangat. Dengan sigap, Kenzo mengulurkan tangan, menangkup pipi Rindu dan menggunakan ibu jarinya untuk menghapus air mata yang membasahi pipi mulus gadis itu.

"Hey... kenapa menangis, Sayang? Buburnya gak enak, ya? Atau dadanya sesak lagi?" tanya Kenzo bertubi-tubi, suaranya dipenuhi nada khawatir yang sangat kentara. Ia bahkan bersiap mengambil inhaler baru di dasbor jika tebakannya benar.

Rindu dengan cepat menggelengkan kepalanya. Tangan kirinya bergerak menahan lengan kekar Kenzo yang sudah bersiap membuka laci dasbor untuk mengambil inhaler.

"Nggak, Kak... Rin gak apa-apa. Dada Rin gak sesak sama sekali," bisik Rindu dengan suara yang parau, mencoba tersenyum di sela tangisnya yang mulai mereda.

Kenzo menghentikan gerakannya. Ia menurunkan kembali tangannya, namun matanya tetap menatap Rindu dalam-dalam, mencari kebenaran di balik manik mata gadis itu. "Terus kenapa nangis, hm? Bikin Kakak jantungan aja."

Rindu menunduk, menatap mangkuk bubur di pangkuannya sebelum kembali menatap Kenzo dengan tatapan penuh rasa syukur.

"Rin cuma... Rin udah lama banget gak ngerasa sepeduli ini sama seseorang, Kak," aku Rindu jujur, air matanya kembali menggenang namun kali ini karena rasa haru yang membuncah. "Di rumah, meja makan itu rasanya kayak medan perang. Rin selalu dipaksa buru-buru, dituntut ini-itu, atau dengerin sindiran Tante Diana. Baru kali ini ada yang nanya Rin udah makan atau belum, dan mastiin Rin makan dengan tenang tanpa nuntut apa-apa."

Mendengar pengakuan jujur itu, hati Kenzo rasanya seperti diremas. Rasa bersalah karena sempat salah paham tadi berganti dengan rasa iba dan amarah yang tertuju pada keluarga Rindu. Bagaimana bisa seorang ayah membiarkan putrinya merasa seasing dan sekesepian itu di rumahnya sendiri?

Kenzo menghela napas panjang, lalu memajukan tubuhnya untuk membawa Rindu ke dalam pelukan hangatnya sekali lagi. Ia mengusap punggung Rindu dengan lembut, membiarkan gadis itu menumpahkan sisa emosinya di pundaknya.

"Maaf ya, karena Kakak baru ada di samping kamu sekarang," bisik Kenzo dengan suara berat yang sarat akan penyesalan sekaligus janji. "Mulai hari ini, setiap jam makan kamu, setiap sarapan kamu, Kakak yang akan pastiin semuanya tenang. Kamu gak usah ngerasa asing lagi dengan perhatian, Rin. Karena buat Kakak, kamu berharga lebih dari apa pun."

—bersambung—

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!