NovelToon NovelToon
Nyonya Kampung Di Rumah Megah Sang Perwira

Nyonya Kampung Di Rumah Megah Sang Perwira

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyelamat / Menikahi tentara
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: PqxxyZ

Vina, gadis desa sederhana, menyelamatkan Radit, perwira militer yang terjebak perangkap dan badai kabut di hutan perbatasan. Merasa berutang budi sekaligus kagum, Radit akhirnya membawa Vina ke kota untuk dinikahi dan tinggal bersama keluarganya yang kaya raya serta terpandang.

​Namun di rumah itu, Vina terus ditekan dan direndahkan sebagai "gadis kampung". Di tengah kejamnya intrik kasta kota dan perbedaan status sosial, sebuah rahasia masa lalu perlahan terkuak.

Akankah cinta mereka mampu bertahan diuji antara ketulusan, harga diri, dan kejamnya tatanan kasta kota?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 : Kedatangan Sang Tertua

​Uap hangat dan aroma gurih yang luar biasa pekat memenuhi ruang makan utama mansion Laksmana. Di bawah arahan Vina, area meja makan jati yang panjang kini telah disulap menjadi sangat megah, lengkap dengan piring porselen putih dan lilin aromaterapi yang menenangkan. Beberapa pelayan tampak sibuk lalu-lalang, ada yang memastikan tidak ada setitik debu pun di lantai, dan ada yang merapikan letak gorden.

​"Ica, tolong geser mangkuk Sup Jamur Matsutake ini ke bagian tengah, ya. Biar nanti Ayah lebih mudah mengambilnya," instruksi Vina sambil merapikan lipatan serbet kain di atas meja.

​"Siap, Nyonya! Wah, meja makannya jadi kelihatan seperti restoran bintang lima di Beijing! Ica sampai minder mau menyentuhnya," gurau Ica sambil meletakkan mangkuk dengan super hati-hati.

​Bi Asih yang baru saja meletakkan mangkuk nasi hangat ikut terkekeh. "Benar, Nyonya. Bi Asih yakin, Tuan Besar pasti langsung lapar begitu mencium aromanya. Rumah ini sudah lama tidak sehangat ini."

​Tin! Tin!

​Suara klakson mobil mewah terdengar bergema dari arah halaman depan, disusul suara deru mesin yang perlahan mati. Seketika itu juga, atmosfer di dalam rumah mendadak berubah tegang. Seluruh pelayan langsung berbaris rapi di dekat pintu masuk utama untuk memberikan sambutan.

​Vina meremas tangannya yang mendadak dingin. Ia menoleh ke arah Ica dengan tatapan cemas. "Ica, tolong lihat... Apa rambutku berantakan? Apa pakaianku sudah terlihat rapi?"

​Ica tersenyum lebar, mencoba menenangkan majikannya. "Tentu saja sudah sangat rapi, Nyonya. Anda sangat cantik hari ini."

​Vina menghela napas panjang, membenarkan letak roknya. "Aku tidak perlu kelihatan terlalu cantik, Ca. Cuma... aku gugup sekali memikirkan bagaimana tanggapan Tuan Besar padaku saat pertama kali melihatku nanti."

​Pintu besar mansion terbuka lebar. Nyonya Besar Laksmana melangkah masuk terlebih dahulu, dan di sampingnya, berjalan seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan rambut yang sebagian besar sudah memutih. Ayah Radit berjalan perlahan dengan bantuan sebuah tongkat kayu berukir perak di tangan kanannya. Meskipun baru sembuh dari pengobatan, aura wibawa dan ketegasannya sebagai mantan petinggi masih terasa begitu mengintimidasi.

​Langkah kaki Ayah Radit mendadak berhenti tepat di depan Vina. Suasana seketika menjadi sunyi senyap. Vina mencoba menarik sudut bibirnya, memaksakan senyuman terbaik dan paling sopan yang ia punya, meski lututnya terasa gemetar.

​Ayah Radit menatap Vina dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan mata yang sangat dingin dan tajam. "Kau... Siapa?"

​Nyonya Besar yang melihat ketegangan itu langsung melangkah mendekat dan menyentuh lengan suaminya. "Ayah, perkenalkan... ini Vina. Dia adalah istri Radit."

​Mendengar penjelasan itu, raut wajah Ayah Radit sama sekali tidak menunjukkan rasa terkejut. Pria tua itu hanya mengangguk pelan satu kali tanpa ekspresi, lalu kembali melangkah berjalan melewati Vina begitu saja, meninggalkan menantunya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

​Tatapan sedih dan kecewa tidak bisa disembunyikan oleh Vina. Bahunya seketika merosot lemas. Nyonya Besar yang menyadari perubahan raut wajah menantunya langsung berjalan mendekat dan menepuk pundak Vina dengan sangat pelan dan hangat.

​"Ibu... apa Ayah tidak menyukaiku?" bisik Vina dengan suara yang bergetar lirih.

​Nyonya Besar menggelengkan kepala sambil tersenyum menenangkan. "Bukan seperti itu, Vina. Ayahmu itu baru saja tiba setelah perjalanan belasan jam dari Amerika, mungkin badannya masih sangat lelah dan kaku. Sudah, jangan dimasukkan ke dalam hati. Sekarang, Vina bantu Ibu menyiapkan meja makan, ya?"

​"Sudah Vina siapkan semua, Ibu. Tinggal makan saja lagi," jawab Vina, mencoba kembali bersemangat.

​"Bila begitu, baguslah. Ayo kita langsung ke ruang makan sebelum makanannya mendingin," ajak Nyonya Besar.

​Mereka bertiga kini telah duduk di meja makan utama. Suasana terasa agak kaku karena Ayah Radit hanya diam seribu bahasa dengan wajah datarnya. Atas kode kedipan mata dari Nyonya Besar, Ica dengan cekatan melangkah maju dan membuka tutup saji porselen yang menutupi hidangan utama "Ayam Pengemis" buatan Vina.

​Wusss!

​Kepulan asap putih yang tebal langsung membumbung ke udara. Uniknya, dari segi tampilan luar, ayam yang terbungkus lapisan tanah liat matang itu terlihat sangat biasa saja—bahkan cenderung tampak seperti sebongkah batu cokelat yang aneh di atas piring mewah.

Namun, begitu adonan tanah liat itu diketuk hingga pecah dan daun teratainya dibuka, aroma gurih rempah dan keharuman daun teratai yang sangat magis langsung meledak, memenuhi seluruh penjuru ruangan.

​Dahi Ayah Radit yang tadinya berkerut datar, tiba-tiba semakin berkerut dalam. Matanya menatap tajam ke arah hidangan tersebut.

​Nyonya Besar yang melihat perubahan ekspresi suaminya mendadak cemas. "Ada apa, Yah? Apa ada hal yang aneh dengan makanannya?"

​Ayah Radit tidak menjawab. Ia hanya menggelengkan kepalanya perlahan, namun matanya sama sekali tidak beralih dari potongan daging ayam yang terlihat sangat empuk dan berair itu.

​Melihat situasi tersebut, Nyonya Besar memberikan isyarat tangan kepada Ica. Dengan gerakan siaga, Ica segera mengambil piring kosong milik Tuan Besar, lalu menyendokkan sepotong besar bagian dada ayam yang lembut beserta siraman kuah sup Matsutake yang bening dan gurih ke atas piring tersebut.

​Ayah Radit memotong daging ayam itu menggunakan sendoknya—yang langsung terbelah dengan sangat mudah karena teksturnya yang begitu lembut dan matang sempurna. Pria tua itu menyuapkan potongan pertama ke dalam mulutnya. Ia mengunyahnya perlahan.

Suasana ruang makan mendadak mencekam, semua pelayan dan Vina menahan napas, menunggu kritik tajam yang biasanya selalu keluar dari mulut sang kepala keluarga.

​Namun, Ayah Radit hanya diam. Wajahnya tetap datar tanpa ekspresi, tidak memuji, tidak juga mencela. Ia melanjutkan suapan kedua, ketiga, hingga dalam waktu singkat, isi di piringnya bersih tak tersisa.

​Ehem!

​Ayah Radit berdehem berat setelah meletakkan sendoknya, membuat suasana ruang makan yang tadinya sunyi menjadi semakin hening dan menegangkan. Ica bahkan sampai memejamkan matanya ketakutan di sudut ruangan.

​Ayah Radit mendongak, menatap diringkas ke arah istri dan menantunya yang sedang memandangnya dengan tatapan cemas. "Kenapa semua orang menatapku seperti itu? Aku mau makanan itu lagi. Ambilkan."

​Mendengar ucapan blak-blakan yang tak terduga itu, Nyonya Besar dan Ica hampir saja mendengus geli karena menahan tawa. Ternyata di balik wajah dan sikap dinginnya, sang Tuan Besar sangat menyukai masakan Vina sampai ketagihan!

​"Ah, iya, Ayah! Biar Vina ambilkan lagi," ujar Vina dengan perasaan yang mendadak sangat lega dan senang. Ia segera berdiri, memajukan tubuhnya untuk mengambil piring mertuanya dan menyendokkan porsi tambahan dengan porsi yang lebih banyak.

​Bugh!! Prang!

​Sebuah suara benturan keras dan bunyi benda terjatuh tiba-tiba terdengar dari arah pintu depan mansion, memecah kehangatan di ruang makan.

​Nyonya Besar terkejut dan menoleh ke arah koridor. "Suara apa itu? Kasar sekali."

​Vina segera meletakkan kembali sendok sayurnya. "Sebentar, Ibu, Ayah... biar saya jalan ke depan untuk melihatnya terlebih dahulu."

​Vina melangkah cepat keluar dari ruang makan dan berjalan menuju aula depan mansion. Sesampainya di dekat pintu utama yang terbuka, matanya mendapati seorang lelaki bertubuh jangkung baru saja terjatuh dan tersungkur tepat di depan pintu masuk. Sebuah koper besar berbahan kulit mewah tampak tergeletak mengenaskan di samping tubuhnya, akibat tersandung undakan tangga luar.

​Lelaki itu mengenakan setelan jas formal hitam yang sangat rapi dan tampak mahal, meskipun sekarang penampilannya sedikit berantakan karena jatuh.

​Vina berjalan mendekat dengan dahi berkerut bingung. "Permisi... Cari siapa, ya?"

​Mendengar suara Vina, lelaki itu perlahan menegakkan tubuhnya dan mengangkat pandangan matanya. Ia merapikan sedikit kerah jasnya yang agak miring sebelum menatap langsung ke arah Vina.

​Deg!

​Seluruh dunia Vina seolah berhenti berputar pada detik itu juga. Jantungnya berdegup dengan sangat kencang hingga menimbulkan rasa sesak di dadanya. Saat lelaki itu mengangkat wajahnya dengan diringkas, temaram cahaya lampu gantung mansion menyinari lehernya dengan sangat jelas.

Di sana... melingkar sebuah kalung perak dengan liontin berbentuk sayap elang yang sangat unik. Kalung yang sama persis dan identik dengan milik Vina yang disembunyikannya di dalam laci kamar.

​Lelaki itu mematung, menatap Vina dengan pandangan mata yang mendadak berubah menjadi sangat dalam, tajam, dan dipenuhi rasa syok yang luar biasa. Mereka berdua saling menatap dalam keheningan yang mencekam, seolah waktu dan ruang di sekitar mereka telah lenyap.

1
Nalara amora
aduh pengen ruqyah milaa😭🙏🤣
Nalara amora: yu kaa, tapi udah ga ada ustadz Danu 😭
total 2 replies
Ris Ris.25
jahat banget sumpah🙏
Putri Ayu/PqxxyZ: iya sudah kebiasaan dia😄
total 1 replies
Mustafa
Jangan Mila
Putri Ayu/PqxxyZ: bener tuh🙏
total 1 replies
Mustafa
Nah Sudah Ketahuan Kan
Cilia
Nyebelin bangeet kepala pelayannya!!!😡🤬
Nalara amora
itu jangan sampe Mila jadi ngincer mas dimas 😭
walaupun nyebelin tapi janganlah 😭🤣
Nalara amora: sebel ajaa ka sok nya itu loh 😭
total 2 replies
Ris Ris.25
Mila.. Tuh banyak kaca..😊
Putri Ayu/PqxxyZ: waduuhhh🤣
total 1 replies
Nalara amora
semoga Nerima baik keluarga mas raditt😭😭🙏
takut mlh di usirr😭😭🙏
Nalara amora: aduhh takot nih ka😭
total 2 replies
Nalara amora
curiga bgt nih sana Mila 😭
Nalara amora: hahahah iya nih kaa😭🤣🙏
total 2 replies
Ris Ris.25
Ada niat jahat
Putri Ayu/PqxxyZ: iya nih.. mencurigakan sekali kan?🤣
total 1 replies
Nalara amora
aduhh salting nya mas raditt 🤭🤭
Nalara amora
jadi kalung yg di mba vina itu kalung mas Radit kah😭🤭
Nalara amora
cintaa segi tiga kah mereka kaa😭
Nalara amora: aduhh semoga aja milih mas radittt😭🤭
total 2 replies
Nalara amora
aduhh ngakak sama mas Radit nih 🤭
itu mas dimas mau buat skenario sendiri kah😭
Mustafa
anaknya tomboy sekali ya😭
Putri Ayu/PqxxyZ: nah betul sekali..
total 1 replies
Ris Ris.25
waduhh susah ya
Putri Ayu/PqxxyZ
iya nih refresing otak dulu
Putri Ayu/PqxxyZ
waduuhh
Nalara amora
aduh makin ga suka nih sama mas dimas 😭🙏
Nalara amora
aduhh teka teki nih😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!