NovelToon NovelToon
Hasrat Terlarang Bos Suamiku

Hasrat Terlarang Bos Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:13.4k
Nilai: 5
Nama Author: FT.Zira

Thalia Amradita menikah dengan Rendra, pria ambisius yang bekerja di perusahaan besar milik Arkana Dirgantara, CEO muda yang dingin, berkuasa, dan sulit disentuh.

Di luar rumah, Rendra tampak sebagai suami sempurna. Ia memperlakukan Thalia seperti istri cantik yang patut dibanggakan. Namun di balik pintu tertutup, Thalia hanya menjadi alat: dipamerkan, diarahkan, dan perlahan kehilangan suaranya sendiri.

Namun, semua berubah ketika Rendra membawa Thalia terlalu dekat ke dunia Arkana. Awalnya demi karier, proyek, dan ambisi. Tapi Rendra tidak pernah menyangka bahwa Arkana justru melihat luka yang selama ini Thalia sembunyikan.

Dari perhatian yang seharusnya tidak ada, tumbuh hasrat yang semakin sulit ditahan.
Thalia tahu ia masih istri Rendra. Arkana tahu ia adalah bos suaminya. Tapi semakin mereka menjaga jarak, semakin kuat pula takdir menyeret mereka ke arah yang paling berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. Terungkap

Keesokan harinya, suasana pagi di rumah Rendra kembali normal. Thalia kembali menemaninya sarapan seolah tidak ada yang terjadi di antara mereka. Setidaknya, itulah yang Rendra rasakan. Bahkan, saat ia berangkat bekerja dengan diantar Thalia sampai di depan pintu, pria itu tidak menyadari tatapan Thalia padanya sudah berubah.

Sesaat setelah Rendra pergi, Thalia kembali ke kamarnya, membuka laptop miliknya dan mulai mengerjakan apa yang Miranda minta.

Jam berlalu, ringkasan tentang masalah bisnis yang Miranda bawa ke hadapannya kemarin mendekati final, tetapi ia menjedanya sebentar untuk memperbarui CV miliknya sebelum ia bawa ke Dirgantara Group. Dan ketika jam sudah menunjukkan waktu janji dengan Arkana, ia mengganti pakaiannya.

"Bu Ratmi," panggil Thalia saat ia sudah berada di luar kamar.

Sesaat kemudian, wanita paruh baya berjalan mendekati Thalia, kemudian membungkuk sopan.

"Nyonya mau pergi?" tanya Bu Ratmi saat melihat Thalia sudah berpenampilan rapi.

"Ya. Untuk makan siang nanti, Bu Ratmi tidak perlu menyiapkannya untukku. Mungkin aku akan pulang sore," ucap Thalia.

Bu Ratmi mengangguk. "Baik, Nyonya. Tapi, bukankah hari ini Nyonya besar akan datang?"

Thalia terdiam. Ia benar-benar lupa jika hari ini Anna-ibu mertuanya akan datang. Jika itu adalah dirinya yang dulu, ia akan membatalkan semua janji demi menyambut ibu mertuanya. Tetapi kali ini, ia tidak akan mengorbankan hidupnya lagi. Dalam benaknya, ia sudah memikirkan jika Renda pasti sengaja mengundang ibu kandung pria itu saat ia mulai melawan Rendra.

"Bu Ratmi layani saja kalau Mama datang," ucap Thalia setelah beberapa saat terdiam. "Dan jika Mama mencariku, katakan saja aku sedang mengurus pekerjaan."

"Saya mengerti, Nyonya." jawab Bu Ratmi menganggukkan kepala.

.

.

.

“Selamat siang, Ibu. Dengan siapa Anda membuat janji?”

Pertanyaan itu datang dari resepsionis yang duduk di balik meja begitu Thalia tiba di Dirgantara Group.

“Pak Arkana Dirgantara.”

Resepsionis itu segera memeriksa daftar tamu. Sesaat kemudian, wajahnya kembali terangkat dengan sikap jauh lebih sopan.

“Ibu Thalia Amradita?”

“Ya.”

“Pak Saka sudah menunggu. Silakan lewat sini." ucap resepsionis dengan satu tangan terulur ke satu arah.

Thalia mengikuti arahan resepsionis menuju lift khusus tamu. Tidak lama kemudian, Saka muncul dari sisi koridor dengan wajah tenang.

"Nyonya, Thalia.” sapa Saka menunduk sopan.

Thalia mengangguk singkat. “Pak Saka.”

“Pak Arkana menunggu di ruangannya," ucap Saka memberitahu. "Mari."

Thalia kembali mengangguk, tidak bertanya apa pun, dan mengikuti langkah Saka memasuki lift.

Pintu lift tertutup, angka lantai bergerak naik perlahan.

“Boleh aku tahu kedatanganku tercatat sebagai apa?” tanya Thalia memecah keheningan.

“Tamu untuk penyerahan dokumen kerjasama awal,” jawab Saka.

Thalia menoleh dengan gerakan cepat. “Bukan pelamar?”

Saka menggeleng singkat. “Bukan. Pak Arkana mengatakan, Anda datang bukan untuk meminta pekerjaan.”

Thalia terdiam, sedikitpun tidak menyangka Arkana akan memberinya jalan serapi itu.

Ting!

Denting lift terdengar, pintu lift perlahan terbuka.

Saka mengantar Thalia melewati koridor panjang dan berhenti di depan salah satu pintu ruangan dan mengetuk pintunya pelan

"Masuk!"

Suara rendah terdengar dari dalam, dan entah mengapa suara itu membuat Thalia berdebar.

Begitu pintu ruangan dibuka, Thalia melihat sosok penuh Arkana duduk di balik meja kerja dengan pandangan tertuju pada layar komputer.

“Silakan, Nyonya," ucap Saka mempersilakan Thalia masuk, lalu berpamitan pergi.

"Kau membawanya?" tanya Arkana masih fokus pada komputer di depannya.

"Ya." jawab Thalia meangkah mendekat, lalu meletakkan map berisi CV miliknya di meja.

Pandangan Arkana beralih ke map itu sebentar, lalu menatap wajah Thalia. "Bagus. Duduklah, jangan hanya berdiri saja."

“Jadi... apa yang perlu kulihat,” tanya Thalia setelah mendudukkan tubuhnya di kursi.

Arkana membuka laci mejanya, mengeluarkan sebuah folder hitam, dan meletakkannya di meja sebelum mendorongnya ke depan Thalia.

“Bacalah di halaman ketiga.”

Dahi Thalia berkerut tipis, tetapi tangannya segera menerima folder itu dan membukanya dengan hati-hati. Netranya menelisik tiap baris kata yang tertulis, membacanya dengan seksama, dan berhenti membaca saat menemukan namanya tertulis di sana yang ditempatkan sebagai nilai pendukung dalam simulasi proyek Rendra.

Thalia membalik halaman berikutnya, menemukan satu nama lagi yang membuat amarahnya siap meledak saat itu juga.

Disusun ulang oleh: Clara W.

Thalia membaca sekali lagi. “Ini belum dokumen final?”

“Belum. Tapi arahnya jelas," jawab Arkana

Thalia menutup folder itu perlahan. “Kalau ini naik ke tahap berikutnya, nama keluargaku bisa digunakan sebagai penguat proyek?”

“Benar.”

"Jika proyek ini berhasil?" tanya Thalia.

"Rendra memiliki kesempatan naik jabatan dan mendapatkan bonus besar," jawab Arkana.

Thalia menghembuskan napas kasar. "Dan jika gagal?"

"Namamu tercatat buruk, dan Rendra tetap bersih dari tuduhan apapun," jawab Arkana.

Kedua tangan Thalia terkepal. "Bukankah ini pelanggaran?"

"Hanya jika pihak terkait memberikan bukti bahwa nama yang tertulis digunakan tanpa dasar sukarela. Permasalahannya adalah..." Arkana menyandarkan punggungnya. "Orang seperti Rendra bisa saja memalsukan tandatanganmu."

Deg!

Hembusan napas Thalia berubah kasar. Ia tidak pernah menyangka, suaminya sendiri akan memanfaatkan namanya sampai sejauh itu.

“Kenapa kau tidak langsung menghentikannya?”

“Karena kalau kuhentikan sekarang, dia hanya kehilangan satu langkah.” jawab Arkana kembali menegakkan punggungnya. "Yang bisa kulakukan sebagai pencegahan adalah audit ulang, dan ini yang kutemukan."

“Dan kalau dibiarkan?”

“Kita bisa melihat siapa saja yang terlibat,” jawab Arkana tanpa ragu.

Thalia menatap manik Arkana lekat. "Apakah kamu memintaku datang kemari untuk memberikan ini padaku?

Arkana menggeleng. "Tidak. Kalaupun aku ingin, kamu tidak bisa membawa salinan ini."

"Kenapa tidak?" tanya Thalia.

“Kamu harus mendapatkan salinanya sendiri. Dari jalur yang tidak menyentuh ruanganku,” jawab Arkana.

Thalia diam. Ia mulai mengerti. Jika Rendra tahu ia mendapatkan salinan bukti dari Arkana, pria itu akan kembali memutarbalikkan fakta yang sudah ia dapatkan, termasuk menyudutkannya lagi. Yang artinya, salinan atau bukti asli itu ada di tangan Rendra sendiri, dan ia harus mendapatkannya.

"Kamu melakukan ini semua sampai serapi ini?" tanya Thalia.

“Karena aku tidak suka bekerja setengah-setengah,” jawab Arkana.

“Termasuk saat membantuku?” tanya Thalia.

Arkana tidak segera memberikan jawaban. Ia beranjak dari kursinya, membawa langkahnya mendekat pada Thalia. Tangannya terulur memutar kursi yang Thalia duduki, lalu meletakkan kedua tangannya di sisi kursi, mengurung Thalia di antara tangannya seraya mendekatkan wajahnya pada Thalia.

"Terutama jika itu menyangkut dirimu."

.

.

.

Drtt...

Untuk kesekian kalinya, getar ponsel Rendra kembali terdengar. Ia menyandarkan pungungnya setelah pekerjaan terakhir selesai, lalu mengeluarkan ponsel dari saku jasnya dan segera menggeser layar untuk menerima panggilan.

"Di mana istrimu, Ren?!"

. .. .

. . ..

To be continued...

1
Patrick Khan
deg deg kan bacanya..😄
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
aq deg2an loh, kirain mau hiatus ini novel. trauma aq tuh
mery harwati
Tuan? Arkana kah itu? Atw Saka? Karena Arkana tipe orang yang bergerak di belakang layar 🤔
Dewi Payang
Blencek si Rendra......
Dewi Payang
Rwndra selingkih sama Clara?
W I 2 K
makin keren Thor ceritanya....., puas mataku dimanjakan karyamu... 😍😍😍
Zhu Yun💫
Padahal emaknya Thalia memberikan dukungan penuh, mungkin Thalianya saja yang tidak pernah mau terbuka. Dalam kasus yang lebih berat, sudah banyak tuntutan dari pihak suami dan keluarga suami, ditambah keluarga sendiri tidak memberikan dukungan... disini kewarasan benar-benar sangat diuji, belum lagi cemoohan dari lingkungan sekitar.... 🤧🤧🤧 eh malah curhat ini /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Zhu Yun💫
Lebih tepatnya tekanan batin ya, Thal...
MamDeyh
Lanjuuuutttt😁
MamDeyh
Lanjutt kak
Endah Puji Lestari
😍
Zhu Yun💫
Lanjut yuk lanjut /Determined//Determined//Determined/
Zhu Yun💫
Nanti kalau sudah cerai dari Rendra, jangan langsung mau sama Arkana ya, Thal 🤭🤭🤭 Biar si Ar punya gebrakan dulu 🤧🤧🤧
Zhu Yun💫
Semakin kesini aku malah lebih kepincut dengan sosok Rendra... meskipun dia licik, jahat dan endingnya sudah pasti tidak enak buat Rendra... tapi dia lebih banyak gebrakannya 🤭🤭💃💃💃
Dewi Payang
Berkilah mulu, binimu lebih pintar Ren....
Dewi Payang
Jangan ngelak...
Dewi Payang
Gue yang oanas hati dah jadinya😄😄😄
Dewi Payang
Ayo Thalia.... bertindaklah......
Dewi Payang
Blencekkk memang si cuami ini.....
Zenun
bisa jadi ini sudah dipalsukan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!