🌶️ WARNING!!🌶️
Mengandungi ***** ****** yang mungkin tidak sesuai untuk semua pembaca.
.
.
.
Dalam dunia gelap yang dipenuhi darah, senjata, dan pengkhianatan, Seravina dikenal sebagai wanita sempurna yang tidak pernah gagal.
Cantik. Elegan. Mematikan.
Tidak ada yang tahu bahwa di balik wajah anggunnya, tersembunyi monster dingin yang tidak ragu membunuh siapa pun yang membuatnya jijik.
Hingga suatu malam, pencarian anjing baru membawanya ke arena pertarungan underground.
Dan di sanalah dia bertemu Viktor—pria yang bertarung bukan demi uang atau kemenangan, tetapi demi merasakan sesuatu yang bahkan tidak dia pahami.
Satu kehilangan diri karena trauma.
Satu lagi hidup tanpa pernah benar-benar memilikinya.
Ketika dua manusia yang sama-sama rusak dipertemukan, siapa yang akan hancur lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hrarou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Anjing Ini?
Mobil berhenti tepat di depan pintu masuk mansion pribadi Seravina. Keheningan malam itu terasa terlalu pekat, seolah udara di sekitar mereka membeku. Viktor, yang masih mengenakan kemeja hitam yang bercak darahnya mulai mengering, segera menegang. Instingnya sebagai predator menangkap sesuatu yang asing di wilayah kekuasaan majikannya.
Seravina baru saja hendak melangkah keluar dari mobil saat perasaannya mendadak tidak enak. Matanya menyipit, menatap bayangan di balkon lantai atas mansionnya.
BANG!
Satu tembakan presisi memecah kesunyian, menghantam tanah tepat satu inci di depan kaki Viktor yang baru saja menapak keluar. Tanah terlempar, meninggalkan lubang kecil yang berasap.
Seravina tidak melompat kaget. Ia hanya berdiri mematung dengan wajah tanpa ekspresi, matanya menatap lurus ke arah moncong senjata yang mengintip dari kegelapan balkon. Pola serangan itu, sudut tembakannya, dan kesunyian yang mengikuti... sangat familiar.
"Keluar, Sergei," desis Seravina, suaranya rendah namun tajam.
Seorang pria melompat turun dari balkon dengan gerakan yang sangat lincah, mendarat dengan suara yang hampir tak terdengar. Sergei Aleksandrovich Zharvok, abang tiri kedua Seravina, berdiri di sana sambil memutar-mutar pistol di jarinya. Wajahnya yang sadis dihiasi senyum miring yang memperlihatkan kegilaan seorang interogator ulung.
"Refleks yang lumayan untuk seekor binatang," ujar Sergei, matanya yang tajam menatap Viktor dengan penuh rasa ingin tahu yang mematikan. "Aku dengar kau memelihara monster."
Sergei kembali mengarahkan senjatanya, kali ini tepat ke dahi Viktor. Ada rasa haus akan darah yang terpancar dari tatapannya; sebagai eksekutor keluarga, dia tidak suka ada "aset" yang tidak berada di bawah kendalinya.
Viktor tidak bergerak, matanya yang kosong mulai menggelap. Ia siap menerjang meski moncong senjata ada di depan wajahnya.
"Turunkan senjatamu," suara Seravina memecah ketegangan. Nadanya sangat dingin, wajahnya tetap tenang.
"Kau membela anjing ini?" Sergei tidak menurunkan senjatanya.
"Aku tidak suka mengulang perintah," Seravina melangkah maju, berdiri tepat di antara Sergei dan Viktor, membiarkan punggungnya menghadap moncong senjata Sergei. "Sentuh dia, dan aku pastikan kau akan bangun di meja interogasimu sendiri dengan lidah yang sudah terpotong. Dia milikku. Kau tidak punya hak untuk menghancurkan barang milikku."
Sergei menatap punggung adiknya, lalu beralih ke Viktor yang berdiri kaku di belakang Seravina. Ada rasa tegang yang aneh di udara—seolah-olah Sergei tahu sesuatu yang tidak dikatakan, sebuah misteri yang membuat para saudara Zharvok sebenarnya merasa terancam oleh kehadiran Viktor.
Sergei menyambar lengan Seravina, menariknya mendekat hingga napasnya terasa di telinga adiknya.
"Melelahkan sekali," bisik Sergei dingin. "Kami sudah bersusah payah menjauhkan monster ini darimu, kau malah memungutnya."
Seravina menyentak lengannya hingga terlepas, lalu menatap Sergei dengan mata sekeras belati.
"Kau bicara apa?" tanya Seravina datar namun menusuk. "Pergi dari sini sebelum aku kehilangan kesabaran."
Tanpa menoleh lagi, Seravina melangkah masuk ke dalam mansion.
"Ayo, Viktor."
Viktor memberikan tatapan kosong yang mengancam pada Sergei sejenak, sebelum berbalik mengikuti Seravina masuk ke dalam kegelapan rumah.
......................
Di dalam mansion, suasana kembali sunyi, sisa-sisa kata Sergei tadi masih menggantung di udara. Seravina duduk di sofa kulit hitamnya, menyilangkan kaki dengan anggun sementara tangannya menopang dagu.
Matanya yang tajam dan tak terbaca menatap lurus ke arah Viktor yang berdiri mematung di tengah ruangan. Viktor masih tampak berantakan; kemeja hitam yang sobek di beberapa bagian dan noda darah kering yang mulai mengerak di kulitnya membuatnya terlihat lebih seperti monster daripada manusia.
Viktor hanya diam, membalas tatapan Seravina dengan pandangan kosongnya yang khas, menunggu perintah atau sekadar pengakuan.
"Viktor," suara Seravina memecah keheningan, sangat rendah dan penuh selidik. "Apa yang mereka sembunyikan dariku tentangmu?"
Ia memperhatikan setiap inci reaksi di wajah Viktor. Sergei, Nikolai, bahkan Mikhail—semuanya menunjukkan penolakan yang tidak wajar terhadap kehadiran pria ini.
Viktor tidak menjawab. Ia hanya sedikit memiringkan kepalanya, memproses pertanyaan itu dengan wajah datarnya yang menyebalkan.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Seravina lagi, kali ini dengan nada yang lebih menuntut.
"Aku... anjingmu," jawab Viktor singkat. Suaranya berat, tanpa ada keraguan sedikit pun, seolah itu adalah satu-satunya identitas yang ia miliki sekarang.
Seravina terdiam sejenak, lalu mendengus pelan. Ia bangkit dari duduknya, berjalan perlahan mengitari Viktor seperti predator yang memeriksa mangsanya.
"Anjingku tidak punya rahasia dariku," desis Seravina saat ia berdiri tepat di depan dada Viktor yang bidang. Ia bisa mencium bau besi dan keringat yang masih menguar dari tubuh pria itu. "Tapi kau... kau penuh dengan bau rahasia yang busuk."
Viktor terdiam, matanya tidak menunjukkan secercah kebohongan atau keraguan. Ia menatap Seravina dengan tatapan yang sepenuhnya tulus dalam kekosongan yang ia miliki.
"Aku tidak tahu apa maksud pria itu," suara Viktor terdengar parau dan jujur. "Sejauh yang aku ingat... aku hanya bertarung. Lalu kau datang."
Seravina mengunci pandangan mereka, mencari tanda-tanda manipulasi di manik mata gelap itu, namun ia tidak menemukan apa pun. Viktor benar-benar tidak tahu.
"Jadi mereka mempermainkanku," gumam Seravina, lebih kepada dirinya sendiri. Amarahnya kini beralih kepada saudara-saudaranya yang seolah menyimpan kunci atas masa lalu pria yang sekarang menjadi miliknya ini.
Viktor maju selangkah, mengabaikan jarak yang baru saja Seravina buat. Rahasia keluarga Zharvok atau siapa dirinya di masa lalu tidaklah penting. Yang ia rasakan hanyalah sisa adrenalin dari gudang tadi dan bau parfum Seravina yang mulai memabukkannya.
"Aku sudah kotor," ucap Viktor tiba-tiba, merujuk pada alasan Seravina menolaknya di gudang tadi. "Sekarang, aku mandi. Lalu... bibir?"
Wajahnya tetap datar, tapi ada tuntutan yang sangat jelas di sana. Dia tidak lupa, dan dia tidak akan membiarkan Seravina lupa pada janjinya.
Seravina menatap Viktor dari atas ke bawah, melihat darah yang sudah mengering di leher dan dadanya. Ia memberikan senyum tipis yang sulit diartikan.
"Sana mandi. Bersihkan setiap tetes darah sampah itu dari tubuhmu," perintah Seravina sambil membalikkan badan, berjalan menuju kamarnya.
......................
Di dalam laboratorium pribadinya yang steril dan diterangi cahaya neon putih yang dingin, Seravina duduk dengan postur tegak di depan meja kerja logam. Di depannya tersebar berbagai jurnal penelitian, hasil pemindaian otak, dan rumus kimia kompleks yang ia susun sendiri.
Tangannya yang mengenakan sarung tangan lateks tipis memegang sebuah tabung reaksi berisi cairan bening, namun fokusnya tertuju pada data di layar monitor. Ia sedang meneliti senyawa neurotoxin baru yang mampu melumpuhkan kesadaran manusia tanpa merusak sistem saraf motorik—sebuah obat yang bisa mengubah seseorang menjadi boneka tanpa kehendak.
Namun, pikirannya terus teralihkan oleh kata-kata Sergei tadi. Monster yang dijauhkan.
Seravina meletakkan tabung reaksi itu ke raknya dengan dentingan pelan.
Tiba-tiba, sensor pintu laboratorium berdenting.
Viktor berdiri di sana. Ia sudah mandi; rambutnya masih basah. Ia hanya mengenakan celana kain hitam longgar, membiarkan dada bidang dan perutnya yang penuh dengan bekas luka lama terpampang jelas. Bau darah sudah hilang, digantikan oleh aroma sabun yang netral dan segar.
Viktor tidak masuk lebih jauh, ia tahu laboratorium adalah tempat suci Seravina yang tidak boleh dikotori. Ia hanya berdiri di ambang pintu, menatap Seravina dengan pandangan datar yang menuntut.
"Sudah bersih," ucap Viktor singkat. Suaranya bergema di ruangan yang kedap suara itu.
Seravina memutar kursi kerjanya, menatap Viktor dengan pandangan dingin yang tajam. Di bawah cahaya lampu lab yang terang, bekas-bekas luka di tubuh Viktor terlihat lebih jelas.
"Kemari," perintah Seravina pelan, mengabaikan dokumen penelitiannya sejenak. "Duduk di kursi pemeriksaan itu. Aku ingin memeriksa sesuatu di tubuhmu sebelum kau menagih ganjaranmu."
Viktor menurut tanpa bertanya. Ia melangkah masuk, lalu duduk di kursi kulit di hadapan Seravina.
Seravina mengenakan sarung tangan lateks barunya. Ia mulai memeriksa Viktor.
"Buka matamu lebar-lebar," perintah Seravina sambil menyalakan lampu senter kecil ke arah pupil Viktor. Viktor hanya diam, mengikuti cahaya itu dengan pasrah.
"Buka mulutmu," lanjutnya lagi. Viktor patuh, membuka mulutnya dengan wajah temboknya. Seravina menekan lidahnya dengan spatula kayu, memeriksa setiap sudut kerongkongan Viktor.
Pemeriksaan berlanjut ke area leher dan bahu. Seravina mengetuk-ngetuk tulang selangka Viktor dengan ujung jarinya.
"Buka celanamu," perintah Seravina tiba-tiba, suaranya sedatar saat ia membaca jurnal kimia.
Viktor membeku. Matanya yang kosong itu mengerjap cepat. Ia menarik napas pendek dan mencengkeram pinggiran kursi pemeriksaan.
"Tidak boleh," jawab Viktor dengan nada yang sangat serius.
Seravina mengerutkan dahi, merasa otoritasnya ditantang di wilayah kekuasaannya sendiri. "Kenapa? Aku perlu memeriksa sirkulasi darah di area bawah tubuhmu setelah pertarungan tadi."
Viktor menatap Seravina dengan pandangan yang sangat intens, rahangnya mengeras. "Kau pernah bilang tidak suka anjing mesum yang menyentuh semua wanita."
Seravina menyilangkan tangan di depan dada, menanti kelanjutannya. "Lalu?"
"Kalau kita melakukan... itu sekarang," Viktor menjeda, wajah datarnya berubah sedikit kaku karena terlihat sangat serius. "Berarti aku anjing mesum. Aku tidak mau jadi anjing mesum."
Seravina terdiam. Ia menatap Viktor yang tampak sangat bangga dengan "prinsip" barunya itu. Viktor sepertinya benar-benar mengira bahwa perintah "buka celana" di laboratorium medis adalah ajakan untuk melakukan hubungan intim.
"Viktor," suara Seravina terdengar sangat lelah. "Aku sedang melakukan pemeriksaan medis, bukan mengajakmu kawin."
Viktor tetap menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Tetap saja. Nanti... kalau aku telanjang, kau tidak bisa menahan diri. Aku harus menjaga harga diriku sebagai anjing setia."
Seravina memijat pelipisnya, merasa IQ-nya menurun drastis dalam satu menit. "Siapa juga yang tidak bisa menahan diri? Bodoh!"
semoga novel ini bisa di up dan banyak orang yang tau ttg novel ini