🌶️ WARNING!!🌶️
Mengandungi ***** ****** yang mungkin tidak sesuai untuk semua pembaca.
.
.
.
Dalam dunia gelap yang dipenuhi darah, senjata, dan pengkhianatan, Seravina dikenal sebagai wanita sempurna yang tidak pernah gagal.
Cantik. Elegan. Mematikan.
Tidak ada yang tahu bahwa di balik wajah anggunnya, tersembunyi monster dingin yang tidak ragu membunuh siapa pun yang membuatnya jijik.
Hingga suatu malam, pencarian anjing baru membawanya ke arena pertarungan underground.
Dan di sanalah dia bertemu Viktor—pria yang bertarung bukan demi uang atau kemenangan, tetapi demi merasakan sesuatu yang bahkan tidak dia pahami.
Satu kehilangan diri karena trauma.
Satu lagi hidup tanpa pernah benar-benar memilikinya.
Ketika dua manusia yang sama-sama rusak dipertemukan, siapa yang akan hancur lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hrarou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhirnya Dapat Ganjaran
Pintu mansion pribadi Seravina tertutup dengan dentuman pelan. Suasana di sini jauh lebih tenang, hanya ada keheningan mewah yang menyelimuti lorong-lorong modern milik sang nona muda.
Begitu Seravina meletakkan kunci dan tas kecilnya di atas meja marmer di ruang depan, ia merasakan hembusan napas hangat tepat di belakang tengkuknya.
Viktor tidak membuang waktu. Tas besar yang tadi ia bawa dijatuhkan begitu saja ke lantai tanpa dipedulikan. Ia segera memutar tubuh Seravina agar menghadapnya, mengunci wanita itu di antara tubuh raksasanya dan pinggiran meja.
Wajahnya masih sedatar biasanya.
"Mau bibir."
Dua kata itu diucapkan Viktor dengan nada yang lebih rendah dari sebelumnya, kali ini bukan lagi sekadar pertanyaan, melainkan tuntutan mutlak yang sudah ia tahan sejak dari mansion keluarga tadi.
Seravina mendongak, menatap "anjingnya" yang sedang kelaparan ini. "Viktor, aku sudah bilang kau masih dihukum—"
"Sudah sampai di sini," potong Viktor cepat, suaranya parau. "Cuma aku. Cuma kau."
Ia menundukkan kepalanya perlahan, hidungnya hampir bersentuhan dengan hidung Seravina. "Satu kali. Lalu aku akan diam."
Seravina bisa merasakan detak jantung Viktor yang berpacu kuat di balik jas mahalnya. Seravina sebenarnya ingin menolak tapi tatapan pria itu saat ini benar-benar sulit untuk diabaikan.
"Kau benar-benar anjing yang keras kepala," bisik Seravina, jemarinya naik untuk mencengkeram kerah kemeja Viktor, menarik pria itu sedikit lebih rendah.
"Ingat, Viktor. Hanya satu kali. Dan jangan berani-berani menyentuh bagian lain tanpa izinku."
Viktor tidak menjawab. Ia tidak butuh izin kedua. Tanpa menunggu sedetik pun, ia langsung menunduk dan menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang kasar dan penuh rasa lapar, seolah-olah dia baru saja menemukan air setelah berhari-hari berada di padang pasir.
Di tengah ciuman Viktor yang kasar dan serampangan, Seravina tiba-tiba melepaskan tautan bibir mereka. Bukannya mendorong, ia justru meraih telinga Viktor dan menariknya dengan cukup kuat hingga pria raksasa itu terpaksa meringis pelan dan semakin menunduk.
"Ow..." gumam Viktor rendah, matanya yang kaku mengerjap bingung.
"Viktor," desis Seravina, suaranya tajam namun ada nada menggoda yang berbahaya di sana. "Sudah berapa kali aku bilang? Kau ini mau menciumku atau mau memangsaku, hah?"
Seravina tidak melepaskan tarikannya di telinga Viktor, memaksa pria itu untuk tetap mengunci pandangan padanya.
"Ingat apa yang aku ajarkan waktu itu? Gunakan perasaanmu, bukan hanya ototmu," ucap Seravina sambil mengusap bibir bawah Viktor yang sedikit basah dengan ibu jarinya. "Lembut, Viktor. Perlahan. Jangan seperti binatang yang baru pertama kali melihat daging."
Viktor terdiam, memproses teguran itu dengan wajah datarnya yang menyebalkan. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam adrenalin yang meledak-ledak di dalam dadanya. Ia kembali mendekatkan wajahnya, namun kali ini gerakannya jauh lebih lambat, hampir ragu-ragu.
"Ulangi. Dan kalau kau kasar lagi, aku akan menyuruhmu tidur di luar malam ini," ancam Seravina pelan, meskipun tangannya sekarang berpindah ke belakang leher Viktor, menariknya masuk kembali.
Viktor menutup matanya. Kali ini, saat bibirnya menyentuh milik Seravina, ia melakukannya dengan sangat hati-hati. Ia mulai menyesap bibir wanita itu dengan gerakan lembut dan ritme yang lebih teratur, persis seperti yang pernah diajarkan Seravina dalam sesi "pelatihan" mereka sebelumnya.
Seravina mengeluarkan suara lenguhan halus, tanda bahwa ia puas dengan perubahan sikap anjingnya yang satu ini.
Seravina menarik bagian belakang leher Viktor, memaksa pria raksasa itu menunduk lebih dalam. Jemarinya mencengkeram kuat helaian rambut pendek di tengkuk Viktor, memberikan kontrol penuh padanya.
"Lebih lembut, Viktor," bisik Seravina di depan bibirnya.
Viktor menggeram rendah, mematuhi perintah itu dengan ciuman yang kini lebih tenang namun jauh lebih mendalam, membiarkan Seravina menuntun setiap gerakannya di dalam keheningan mansion yang dingin.
Seravina tiba-tiba memutuskan tautan bibir mereka secara sepihak. Ia menjauhkan wajahnya, membiarkan jemarinya perlahan terlepas dari tengkuk Viktor. Napasnya sedikit memburu, namun ekspresi wajahnya kembali berubah menjadi topeng dingin yang angkuh dalam hitungan detik.
"Sudah," ucap Seravina pendek.
Suaranya tenang, seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya, seolah ia tidak baru saja membiarkan pria raksasa itu mencicipi bibirnya.
Viktor masih mematung di posisi yang sama, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari Seravina. Matanya yang gelap tampak berkabut, masih berusaha mencerna kenyataan bahwa kenikmatan itu baru saja dihentikan secara paksa. Ia menatap bibir Seravina yang kini sedikit membengkak dan memerah, lalu beralih ke mata zamrud wanita itu yang menatapnya tanpa emosi.
"Satu kali," gumam Viktor dengan suara serak, mengulangi perjanjian mereka tadi.
"Tepat. Dan kau sudah mendapatkannya," sahut Seravina sambil mendorong dada Viktor agar memberikan jalan baginya. Ia merapikan sedikit tatanan rambutnya yang agak berantakan. "Sekarang, bawa barang-barangku ke laboratorium di lantai bawah. Aku harus segera mulai bekerja."
Viktor menarik napas dalam-dalam, dadanya naik turun saat ia mencoba menetralkan sisa gairah yang masih membakar tubuhnya. Meskipun wajahnya tetap datar, ada gurat kekecewaan yang samar di matanya karena durasi yang sangat singkat itu.
"Ya," jawab Viktor patuh.
Ia membungkuk untuk mengambil kembali tas berat yang tadi ia jatuhkan.