NovelToon NovelToon
Om Duda Come To Me!

Om Duda Come To Me!

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Duda
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: neyrfly

Apa jadinya kalau Zyan, Direktur dingin yang dunianya cuma berisi angka dan rapat bosan, harus menikah dengan Alexa, mahasiswi bar-bar yang lebih sayang motor ZX-nya daripada sisir rambut?

​Zyan baru saja menduda dan bersumpah nggak mau berurusan sama drama cinta lagi. Tapi, takdir (dan paksaan orang tua) membawanya ke pelaminan bersama gadis rambut wolfcut yang hobinya nantangin maut.

​Bagi Alexa, nikah muda itu bencana. Tapi melihat wajah kaku Zyan yang kayak manekin, jiwa jahilnya meronta-ronta. Misi Alexa cuma satu: Bikin si Om kaku ini darah tinggi tiap hari sampai minta ampun! Tapi, siapa sangka, di balik tembok es Zyan, ada kehangatan yang bikin Alexa perlahan lupa cara nge-gas motornya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Penangkapan Wijaya di lobi Arsalan Group seharusnya menjadi puncak kemenangan bagi Zyan dan Alexa. Namun, seperti mesin yang dipaksa bekerja di atas redline, selalu ada komponen yang bakal pecah. Sorot kamera wartawan yang menyambar-nyambar saat polisi menggiring Wijaya justru menjadi bumerang. Berita utama keesokan harinya bukan soal "Zyan sang Penyelamat," melainkan "Skandal Berdarah Arsalan Group: Korupsi, Sabotase, dan Pengkhianatan."

Saham Arsalan Group merosot tujuh persen dalam hitungan jam. Dan di tengah kekacauan itu, Clarissa Mahendras sedang duduk manis di ruang keluarga kediaman utama Bu Ratna, menyesap teh melati dengan wajah yang disetel sesedih mungkin.

"Tante... aku benar-benar tidak menyangka Zyan jadi sekejam itu," ujar Clarissa sambil menyeka air mata palsunya. "Pak Wijaya itu sudah seperti paman bagi Zyan, kan? Kenapa harus dipermalukan di depan umum seperti itu? Sekarang lihat, saham perusahaan hancur. Nama baik keluarga Arsalan yang Tante bangun puluhan tahun jadi bahan gunjingan di pasar."

Bu Ratna menghela napas panjang, wajahnya yang penuh kerutan tampak sangat tegang. "Zyan bilang itu demi keadilan untuk ayahnya Alexa."

Clarissa tersenyum tipis di balik cangkir tehnya. "Itulah masalahnya, Tante. Sejak gadis teknik itu masuk ke hidup Zyan, Zyan jadi berubah. Dia jadi impulsif, emosional, dan lebih mementingkan masa lalu orang lain daripada masa depan perusahaannya sendiri. Tante lihat sendiri kan? Sejak ada Alexa, Zyan jatuh sakit, proyek rumah sakit disabotase, dan sekarang skandal Wijaya. Seolah-olah... Alexa itu membawa sial untuk keluarga ini."

Kata 'sial' itu bergema di telinga Bu Ratna yang memang sedikit kolot dan percaya pada hal-hal berbau keberuntungan.

Sore itu, Alexa pulang ke rumah dengan keadaan lelah luar biasa. Ia baru saja selesai membantu tim IT Zyan melakukan recovery data cadangan. Begitu masuk ke ruang tamu, ia dikejutkan dengan kehadiran Bu Ratna yang sudah duduk tegak dengan wajah dingin, ditemani Clarissa yang memberikan tatapan kemenangan.

"Duduk, Alexa," perintah Bu Ratna singkat.

Alexa mengernyit, tapi ia tetap duduk. "Ada apa, Ma? Zyan belum pulang, dia masih di kantor urus masalah saham."

"Justru karena dia di kantor, Mama mau bicara sama kamu," Bu Ratna menatap Alexa tajam. "Kamu tahu berapa kerugian Arsalan Group hari ini? Ratusan miliar. Dan itu semua dimulai sejak kamu membawa urusan masa lalu ayahmu ke dalam rumah ini."

Alexa tertegun, mertua-nya tiba-tiba berperilaku berbeda. "Ma, tapi Pak Wijaya itu emang penjahatnya. Dia yang bikin Ayah cacat dan hampir hancurin proyek Zyan—"

"Cukup!" Bu Ratna menggebrak meja. "Dunia bisnis tidak sesederhana benar dan salah di mata anak kuliahan sepertimu! Wijaya punya pengaruh besar. Menangkapnya dengan cara yang vulgar seperti itu hanya menghancurkan kepercayaan investor. Clarissa benar, sejak kamu ada, ketenangan hidup Zyan hilang."

Alexa menoleh ke arah Clarissa yang sedang berpura-pura sibuk dengan ponselnya. "Oh, jadi ini kerjaan lo, Tante Lili? Belum puas juga lo udah mau dipolisikan?"

"Jaga bicaramu, Alexa!" bentak Bu Ratna. "Clarissa di sini karena dia peduli pada keluarga ini. Dia menawarkan bantuan modal dari ayahnya untuk menstabilkan saham kita. Tapi syaratnya... Zyan harus memperbaiki citranya. Dan citra Zyan tidak akan bisa diperbaiki selama dia masih beristrikan seorang gadis yang latar belakangnya hanya menimbulkan kontroversi dan keributan."

Alexa merasa dadanya sesak. "Maksud Mama... aku harus pergi?"

"Mama tidak bilang begitu. Tapi Mama minta kamu sadar diri. Kalau kamu memang cinta sama Zyan, kamu tidak akan membiarkan dia hancur demi ego kamu. Pergilah sementara. Selesaikan kuliahmu, atau pergilah ke luar negeri seperti tawaran Clarissa dulu. Biar Zyan fokus menyelamatkan warisan ayahnya."

Alexa tertawa getir. Air matanya mulai menggenang, tapi ia menolaknya untuk jatuh. "Lucu ya. Pas Zyan lagi butuh dukungan, Mama malah minta aku pergi. Mama pikir Zyan itu robot yang cuma butuh duit saham? Dia itu manusia, Ma! Dia butuh orang yang dia sayang di sampingnya!"

"Kamu hanya akan jadi beban, Alexa!" Clarissa ikut menyambar. "Lihat dirimu. Apa yang bisa kamu lakukan buat bantu saham Arsalan naik? Nggak ada! Kamu cuma bisa pegang obeng dan bikin kekacauan!"

Alexa berdiri dengan kaki gemetar. Ia merasa seperti dikeroyok di rumahnya sendiri. Tanpa kata lagi, ia berbalik dan berlari menuju kamarnya. Ia mengemas beberapa potong baju dan jaket tekniknya ke dalam tas ransel besar.

Ia tidak mau jadi beban. Kalimat itu menusuk jantungnya. Apakah benar dia membawa sial? Apakah benar Zyan akan lebih baik tanpa dirinya?

Saat Alexa hendak keluar lewat pintu belakang, ia berpapasan dengan Pak Bambang.

"Non? Mau ke mana bawa tas gede gitu?" tanya Pak Bambang khawatir.

"Pak... jagain Om Duda ya. Bilang sama dia, gue mau nenangin hati gue dulu bentar. Jangan cari gue," bisik Alexa sambil memakai helmnya.

Alexa melesat pergi dengan motornya tepat saat mobil Zyan memasuki gerbang. Zyan melihat motor Alexa melaju kencang ke arah berlawanan.

"Alexa?!" Zyan langsung menyuruh sopirnya berhenti. Ia turun dan melihat motor istrinya sudah hilang di telan kegelapan malam.

Zyan masuk ke rumah dengan amarah yang tertahan. Ia menemukan ibunya dan Clarissa di ruang tamu. "Apa yang kalian lakukan pada istri saya?!"

"Zyan, tenang dulu. Mama cuma bicara baik-baik—"

"HENTIKAN, MA!" teriak Zyan, suaranya menggelegar sampai porselen di atas meja bergetar. "Aku sudah cukup pusing dengan urusan kantor! Dan sekarang Mama mengusir satu-satunya alasan aku tetap bertahan di kantor itu?!"

Zyan menatap Clarissa dengan pandangan yang membuat Clarissa gemetar. "Dan kamu... jika dalam sepuluh detik kamu tidak keluar dari rumah ini, aku pastikan besok pagi perusahaan ayahmu akan menyusul Wijaya ke dasar jurang. Aku tidak main-main."

Clarissa langsung menyambar tasnya dan lari keluar dengan ketakutan.

Zyan berlutut di depan ibunya, suaranya bergetar karena lelah dan sedih. "Ma... Alexa itu bukan pembawa sial. Dia itu mesin penggerak hidupku. Tanpa dia, aku cuma tumpukan besi tua yang nggak punya arah. Kalau Mama nggak bisa terima dia, berarti Mama juga nggak bisa terima Zyan sebagai anak Mama."

Zyan langsung berdiri dan kembali ke mobilnya. "Cari Alexa ke seluruh sudut kota! Sekarang!" perintahnya pada tim keamanannya melalui telepon.

Sementara itu, Alexa tidak pulang ke rumah ayahnya. Ia tahu Zyan pasti akan mencarinya ke sana. Ia memarkir motornya di sebuah warung kopi pinggir jalan yang sepi di daerah Puncak. Ia duduk sendirian, menatap lampu-lampu kota dari kejauhan.

Tiba-tiba, sebuah mobil van hitam berhenti tak jauh dari motornya. Tiga orang pria berbadan besar dengan jaket tertutup turun dan berjalan mendekat. Alexa yang punya insting tajam langsung waspada. Ia meraba kunci inggris yang selalu ada di saku jaketnya.

"Siapa kalian?" tanya Alexa dingin.

"Bos Wijaya titip salam, Nona. Katanya, kalau dia harus dipenjara, maka kesayangan Pak Zyan juga harus 'istirahat' selamanya," ujar salah satu pria itu sambil mengeluarkan sebilah pisau lipat.

Alexa berdiri, ia tidak lari. Darah mahasiswi tekniknya mendidih. "Oh, jadi kalian anjing-anjingnya Wijaya? Pas banget. Gue lagi emosi tingkat dewa, butuh samsak buat pelampiasan!"

Alexa melakukan gerakan pembuka yang pernah diajarkan komunitas motornya untuk bela diri jalanan. Saat pria pertama menerjang, Alexa menghindar dengan lincah dan menghantamkan kunci inggrisnya ke pergelangan tangan lawan.

KREK!

"ARGH!" pria itu terjatuh.

Namun, dua pria lainnya maju bersamaan. Alexa terdesak ke arah tebing pembatas jalan. Di saat genting itu, terdengar suara deru mesin mobil yang sangat kencang. Sebuah SUV hitam meluncur dengan kecepatan gila dan langsung menabrak mobil van para preman itu sampai ringsek.

Zyan keluar dari mobil bahkan sebelum mobilnya benar-benar berhenti. Wajahnya yang biasanya rapi kini berantakan, matanya merah karena amarah dan kekhawatiran.

"JANGAN SENTUH ISTRI SAYA!" teriak Zyan.

Zyan yang ternyata diam-diam menguasai beladiri Krav Maga langsung menghajar dua preman tersisa dengan membabi buta. Pukulan dan tendangannya sangat presisi, menunjukkan sisi lain dari sang Direktur yang selama ini tersembunyi. Hanya dalam dua menit, ketiga preman itu terkapar di aspal.

Zyan langsung berbalik dan memeluk Alexa dengan sangat erat sampai Alexa sulit bernapas. "Jangan pernah pergi lagi... tolong... jangan pernah pergi lagi..." bisik Zyan, suaranya pecah menjadi tangisan.

Alexa yang tadinya mau berlagak tangguh, akhirnya runtuh juga. Ia menangis di pelukan Zyan. "Om... nyokap lo benci sama gue... gue bawa sial..."

"Nggak, Alexa. Kamu itu keberuntungan terbesar dalam hidupku. Soal Mama, biar itu jadi urusanku. Aku nggak butuh harta Arsalan kalau harganya harus kehilangan kamu," Zyan mencium puncak kepala Alexa berulang kali.

"Tapi perusahaan lo..."

"Bisa dibangun lagi. Tapi istri kayak kamu? Nggak ada duplikatnya di dunia ini, bahkan di pabrik mesin mana pun," Zyan tersenyum tipis di tengah air matanya.

Zyan kemudian melepaskan pelukannya dan menatap Alexa serius. "Mulai besok, kamu nggak akan kuliah sendirian. Kamu akan dikawal. Dan kita akan pindah ke rumah baru kita sendiri. Hanya ada aku, kamu, dan motor-motor kamu. Tanpa Mama, tanpa Clarissa."

"Beneran, Om?"

"Beneran. Dan sebagai hukuman karena kamu sudah bikin jantung aku mau copot, malam ini kamu harus nemenin aku makan nasi goreng di pinggir jalan ini. Dan kamu yang bayar!"

Alexa tertawa kecil sambil menyeka air matanya. "Dih, Direktur Arsalan minta bayarin mahasiswi miskin? Malu-maluin!"

"Biarin. Yang penting kenyang sama cinta," gombal Zyan.

Namun, saat mereka sedang duduk di warung kopi itu, ponsel salah satu preman yang tergeletak di aspal bergetar. Alexa mengambilnya dan melihat sebuah pesan masuk dari nomor yang tersimpan dengan nama "Klien Utama".

Isi pesannya: "Sudah dibereskan? Jika sudah, segera jemput sisa bayarannya di dermaga lama. Pastikan tidak ada jejak."

Alexa melihat foto profil pengirimnya. Ia membeku. Itu bukan foto Clarissa. Bukan juga foto Wijaya. Itu adalah foto seseorang yang sangat mereka kenal di dalam Arsalan Group, seseorang yang selama ini dianggap paling setia oleh Zyan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!