Dunia pernah berjalan normal, tanpa adanya sihir, tanpa kekuatan di luar nalar. Hingga suatu hari, sebuah fenomena misterius membawa Mana ke bumi dan memutarbalikkan tatanan realitas umat manusia selamanya.
Di tengah kekacauan era baru tersebut, Asosiasi hadir sebagai pilar keadilan. Mereka menertibkan dunia, melindungi yang lemah, dan dipuja sebagai pahlawan.
UNTUK: 13+
"MOHON DILAKUKAN"
-Like&Share
-Berkomentar
-Memberikan Bintang 5
-Favorit
-Follow Akun Pembuat Novel
-Memberikan Saran Untuk Mengembangkan Novel Atau Cerita Selanjutnya
~•KARYA: R14•~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R14, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 : SIHIR SANG KETUA ASOSIASI
THE ORIGIN : ZERO
ARC 1 : THE PARASITE PROJECT
BAB 22 : SIHIR SANG KETUA ASOSIASI
Bumi berguncang dengan ritme yang mengerikan. Di atas sana, permukaan Sektor 4 sedang diubah menjadi wujud nyata dari neraka oleh bentrokan dua manusia yang sudah tidak masuk diakal.
Namun, semakin jauh ke dalam perut bumi, gemuruh kehancuran itu semakin meredam, digantikan oleh keheningan buatan yang terasa mencekik.
Penjara Tartarus, fasilitas bawah tanah rahasia milik Asosiasi beroperasi dengan cahaya lampu darurat berwarna merah yang berkedip statis. Lorong-lorong berlapis baja anti-sihir membentang seperti labirin usus raksasa.
Udara di bawah sana terasa steril dan dingin, dipenuhi oleh aroma ozon dari sirkuit sihir pertahanan tingkat tinggi yang bersiaga penuh.
Di salah satu ventilasi utama yang terhubung langsung dengan permukaan kawah, jeruji bajanya tiba-tiba meleleh tanpa suara. Bukan karena panas, melainkan karena eksistensinya dihapus.
Dari celah gelap tersebut, segumpal kabut hitam pekat merembes masuk layaknya cairan kental. Kabut itu mengalir turun menempel di dinding lorong, melawan hukum gravitasi, lalu menggumpal di atas lantai logam.
Perlahan, kabut itu memadat, membentuk siluet remaja kurus berjubah compang-camping dengan topeng putih polos tanpa lubang mata maupun mulut.
Si anak malang menoleh pelan. Perjalanan ke dasar fasilitas ini rupanya tidak semudah yang ia bayangkan. Penjara Tartarus dirancang untuk membingungkan dan mematahkan mental penyusup. Lorong-lorongnya berkelindan tanpa ujung, turun menukik sedalam ratusan meter ke inti bumi.
Anak itu melangkah dalam diam. Waktu merangkak sangat lambat. Sepanjang labirin baja itu, puluhan pos penjagaan lapis bawah telah ia singkirkan. Mayat-mayat Guardian elit bergelimpangan di setiap lorong yang ia lewati, tumbang dengan mulut berbusa akibat sihirnya.
Setelah perjalanan panjang yang terasa menguras waktu, radar di dalam darahnya akhirnya menuntun anak itu tiba di ujung labirin Blok Isolasi.
Langkahnya terhenti. Di ujung lorong, terdapat pintu sel raksasa tempat jejak Mana Elara berpusat. Namun, ada yang salah.
Pintu sel itu dilapisi oleh sebuah sihir penghalang yang sangat aneh. Itu jelas bukan sirkuit sihir milik Asosiasi. Penghalang tak kasat mata itu begitu sunyi, menelan seluruh suara dan keberadaan dari dalam sel.
Bahkan kabut milik si anak malang secara insting menolak untuk menyentuh penghalang tersebut, seolah mengakui.
Anak itu berdiri mematung. Siapa yang memasang penghalang ini? Apa yang sedang terjadi di dalam sana?
Namun, sebelum ia sempat mencari cara untuk menembusnya, udara di lorong steril itu mendadak terasa begitu berat hingga menyesakkan dada.
"Sistem keamanan berlapis dan yang berhasil sampai ke dasar hanyalah seekor tikus kecil kurang gizi."
Suara langkah kaki pantofel yang elegan menggema di lorong. Dari balik bayang-bayang di arah berlawanan, sesosok pria dewasa melangkah maju dengan santai. Pria itu mengenakan setelan jas mewah yang disetrika rapi, seolah ia sedang menghadiri jamuan makan malam, bukan berada di tengah fasilitas yang sedang diserang.
Itu adalah Ketua Asosiasi.
Anak malang itu langsung membalikkan badannya. Insting membunuhnya meledak. Tanpa peringatan, ia mengulurkan tangannya. Kabut hitam pekat yang telah melumpuhkan puluhan Guardian elit melesat ganas, menerjang layaknya badai kematian ke arah Ketua Asosiasi.
Namun, sang Ketua bahkan tidak menghindar atau memasang kuda-kuda pertahanan. Ia hanya mendengus geli dan menatap kabut itu dengan sebelah mata.
"Menyedihkan."
Sang Ketua hanya mengibaskan jarinya dengan gerakan sangat remeh.
Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan terjadi, tidak ada benturan elemen, tidak ada distorsi ruang atau tarikan gravitasi. Kabut yang menelan segalanya itu mendadak buyar dan lenyap total di udara, seolah eksistensinya baru saja dilarang untuk ada di lorong tersebut.
Di balik topeng putihnya, anak itu terbelalak syok.
Sebelum ia bisa bereaksi, kekuatan misterius yang tak kasat mata itu menghantamnya telak dari segala arah.
BAM!
Tulang rusuk anak itu berderak patah. Tubuh kurusnya terhempas dengan kecepatan peluru, menghantam dinding baja Tartarus begitu keras hingga menciptakan lekukan yang dalam. Darah menyembur membasahi bagian bawah topeng putihnya. Ia jatuh berlutut ke lantai, lumpuh total hanya dengan satu serangan tak kasat mata.
"Sihir yang cukup unik. Sayangnya, di hadapanku, kau bahkan tidak punya hak untuk menggunakannya," kekeh Ketua Asosiasi, melangkah santai mendekati tubuh si anak yang kini tak berdaya. Ia bersiap mengangkat tangannya lagi untuk memberikan pukulan penyelesaian.
Namun, tepat pada detik itu, sihir penghalang di ujung lorong tiba-tiba memudar dan lenyap ke udara.
Klang... Sreekkk...
Pintu baja sel raksasa itu terbuka perlahan.
Langkah Ketua Asosiasi terhenti. Ia menoleh ke arah sel, matanya memicing curiga.
Dari balik kegelapan sel, melangkah keluar seorang wanita. Itu adalah Elara, sang Wakil Ketua Black Cross. Namun, penampilannya sama sekali tidak mencerminkan seorang tahanan yang baru saja disiksa berminggu-minggu.
Rantai-rantai pengekangnya telah terputus rapi. Wajahnya berseri-seri. Kedua matanya berlinang air mata kebahagiaan, memancarkan ekspresi pemujaan dan fanatisme yang begitu gila, seolah ia baru saja melihat idolanya.
Senyum di bibirnya begitu tulus, masih mengingat sisa-sisa percakapan rahasianya dengan sosok yang baru saja terjadi.
Namun, momen itu langsung terputus saat pandangan Elara jatuh ke ujung lorong.
Matanya bertemu dengan tatapan Ketua Asosiasi.
Dalam sepersekian detik, senyum di wajah cantik Elara luntur tanpa sisa. Otot-otot di wajahnya menegang, mengubah ekspresi surgawinya menjadi tatapan sinis yang dipenuhi oleh rasa jijik dan kebencian yang sedingin es.
"Cihhhh....," Desis Elara, meludah ke lantai baja dengan raut merendahkan.
"Kukira udara di sini mendadak menjadi busuk karena bangkai tikus. Ternyata, itu hanya bau dari Anjing Pemerintah yang malang."
Ketua Asosiasi tidak terpancing emosi. Ia justru tertawa renyah, merapikan kerah jasnya dengan santai.
"Mulutmu masih setajam biasanya, Elara. Bahkan setelah menghabiskan waktu seminggu dirantai seperti binatang peliharaan di ruang interogasi," Balas Ketua Asosiasi. Matanya melirik sekilas ke arah tubuh si anak malang yang terkapar di lantai.
"Dan kulihat, kau juga memungut hama jalanan baru."
Mata Elara menyipit tajam. Suhu di dalam lorong Blok Isolasi itu mendadak anjlok hingga ke titik beku. Uap napas mulai terlihat setiap kali mereka menghembuskan udara.
Meskipun elemen dasarnya adalah Air, Elara memanifestasikannya ke dalam wujud yang paling padat dan mematikan.
"Jangan pernah berani menatapnya dengan mata kotormu itu," Desis Elara sedingin gletser.
Elara bahkan tidak mengambil kuda-kuda bertarung. Ia hanya berdiri tegak dengan anggun, lalu mengangkat tangan kanannya perlahan.
Udara kosong di belakang punggung Elara mendadak terdistorsi. Kelembapan di lorong itu membeku seketika, menciptakan puluhan riak melingkar yang berpendar kebiruan, melayang di udara bagai gerbang-gerbang dimensi kecil.
Dari dalam puluhan riak embun beku tersebut, ujung-ujung tombak es yang sangat runcing dan padat perlahan mencuat keluar, membidik lurus ke arah Ketua Asosiasi. Jumlahnya terus bertambah, dari puluhan menjadi ratusan dalam hitungan detik, menutupi seluruh ruang di belakang Elara.
Elara menjentikkan jarinya.
SWUUUSHH! SWUUUSHH! SWUUUSHH!
Ratusan tombak es itu meluncur deras bagai badai peluru. Rentetan proyektil mematikan itu melesat membelah lorong dengan kecepatan tinggi, siap menancap dan merobek tubuh pria berjas rapi itu menjadi daging cincang.
Namun, pemandangan yang di pikirkan Elara pun tidak terjadi.
TRANG! KRAAAK! PRANGG!
Tombak-tombak es yang runcing dan sekeras baja itu hancur berkeping-keping tepat setengah jengkal di depan Ketua Asosiasi. Senjata-senjata mematikan itu tidak menabrak perisai Mana yang berpendar, tidak juga dihalau oleh pusaran angin atau dilelehkan oleh api.
Tombak-tombak itu menabrak sesuatu yang sama sekali tidak terlihat. Sebuah penghalang? Ucap Elara dengan kebingungan.
Elara menyipitkan matanya tajam. Otaknya berputar sangat cepat.
Suhu di sekitar sang Ketua tidak berubah, artinya itu bukan sihir elemen dasar api. Tidak ada distorsi ruang seperti milik Arlandi. Tidak ada perubahan gravitasi. Tombak-tombaknya hanya... berhenti dan hancur.
"Sejak pria bajingan ini menduduki kursi tertinggi Asosiasi..." Batin Elara
"...tidak ada satu pun informasi yang bocor ke dunia mengenai klasifikasi sihirnya. Apakah dia pengguna Elemen Dasar ? Atau Elemen Langka yang belum pernah tercatat? Semuanya murni misteri."
Satu-satunya cara untuk membongkar rahasia sihir adalah dengan memaksanya bereaksi.
Elara kembali mengangkat tangannya yang lentik. Udara dingin di lorong itu semakin menggila. Kali ini, bukan hanya di belakangnya, riak-riak dimensi beku itu muncul menutupi seluruh dinding, langit-langit, dan lantai di sekitar Ketua Asosiasi.
Ribuan tombak es baru terbentuk, membidik sang Ketua dari sudut tiga ratus enam puluh derajat. Titik buta dihilangkan.
Elara mengepalkan tangannya.
SWUUUSHH! SWUUUSHH! SWUUUSHH!
Badai tombak es itu menghantam dari segala arah secara bersamaan. Suara pecahan kristal es yang bertabrakan menggema memekakkan telinga di dalam lorong baja Tartarus. Serpihan salju dan kabut beku menutupi pandangan.
Elara menatap lekat-lekat ke tengah badai tombak es tersebut, mencari satu saja celah atau kelemahan dari pertahanan tak kasat mata itu.
Namun, dari balik kepulan kabut es, terdengar suara langkah sepatu pantofel yang teratur.
Ketua Asosiasi berjalan keluar dari badai es itu tanpa sehelai benang pun dari jasnya yang tergores. Ia bahkan menyempatkan diri membersihkan serpihan salju kecil di pundaknya dengan ekspresi bosan.
Pertahanan tak kasat mata itu tidak memiliki titik buta. Atas, bawah, belakang semuanya terlindungi oleh kekuatan yang tidak memancarkan Mana sedikit pun.
"Teruslah mencoba, Elara," suara Ketua Asosiasi terdengar tenang, langkahnya perlahan memperpendek jarak di antara mereka.
"Kau sedang mencoba menganalisis sirkuit sihirku, bukan? Mencari tahu elemen apa yang kumiliki? Sungguh usaha yang gigih."
Sang Ketua tersenyum tipis, sebuah senyuman yang memancarkan dominasi mutlak.
"Sayangnya, kau mencari jawaban di tempat yang salah," lanjut sang Ketua. Pria itu menghentikan langkahnya, menatap lurus ke mata Elara.
"Sihirku bukanlah sesuatu yang bisa diklasifikasikan oleh logika rendahan kalian."
Elara menggertakkan giginya. Tangannya kembali bercahaya biru, bersiap melepaskan gelombang ketiga yang jauh lebih padat.
Namun, sebelum riak es Elara sempat terbentuk, Ketua Asosiasi hanya menghela napas pelan dan melangkah satu langkah ke depan.
Seketika itu juga, tekanan yang menghancurkan tubuh si anak malang sebelumnya kini menghantam seluruh lorong. Ratusan riak es Elara di udara mendadak retak dan pecah menjadi uap air dalam sekejap mata, eksistensi mereka dihancurkan paksa sebelum sempat berwujud.
Lorong itu kembali sunyi. Hanya menyisakan serpihan es dan genangan air yang menutupi lantai baja.
Ketua Asosiasi berdiri dengan postur sempurna, satu tangannya tersimpan rapi di saku celana.
"Sudah menyerah, Elara?" Tanyanya dengan senyum meremehkan.
"Es milikmu bahkan tidak bisa menyentuh sehelai rambutku."
Namun, Elara tidak membalas ejekan itu. Mata tajam wanita itu menatap lekat-lekat ke arah serpihan tombak es yang berserakan di atas lantai logam. Otak sang Wakil Ketua Black Cross itu bekerja dengan kecepatan maksimal, mengurai misteri dari rentetan serangannya tadi.
"Tombak-tombak itu..." gumam Elara pelan, matanya sedikit membesar saat menyadari satu kejanggalan yang sangat fatal.
"...mereka tidak menabrak apa pun. Mereka tidak ditahan oleh perisai."
Ketua Asosiasi sedikit mengangkat alisnya, tampak terhibur.
"Oh? Teruskan."
"Saat es bertabrakan dengan perisai pelindung, akan ada benturan elemen yang menghasilkan gelombang kejut. Tapi tadi...., tidak ada benturan Mana sama sekali," desis Elara, perlahan mengangkat wajahnya menatap pria di hadapannya.
"Tepat sebelum tombakku mengenai wajahmu, maka sihir mu akan Lenyap begitu saja."
Senyum angkuh di bibir Ketua Asosiasi menipis, digantikan oleh raut wajah datar yang memancarkan aura mendominasi.
"Kau tidak menangkis atau membelokkan seranganku," lanjut Elara, suaranya terdengar sangat tajam, menelanjangi rahasia sang Anjing Pemerintah.
"Kau membalut dirimu dengan sebuah mana? Yang bertindak layaknya pelindung yang memakan semua sihir layaknya lubang hitam tak kasat mata. Setiap partikel Mana yang mendekatimu akan langsung ditelan dan dihapus eksistensinya sebelum sempat menyentuh kulitmu."
Lorong itu menjadi hening. Niat membunuh yang sangat pekat mengudara, membuat genangan air di bawah kaki Elara kembali membeku.
Namun, berbeda dengan para petarung rendahan yang akan dengan bangga membeberkan cara kerja kekuatan mereka setelah ditebak, sang Ketua sama sekali tidak membuka mulutnya.
Tidak ada tepuk tangan pujian. Tidak ada pembenaran. Tidak ada pula penyangkalan.
Ia memandang Elara dengan sorot mata yang luar biasa kosong, seolah wanita cerdas di hadapannya itu bahkan tidak memiliki hak istimewa untuk menerima sebuah jawaban. Merahasiakan kekuatannya adalah otoritas mutlaknya.
Ketua Asosiasi hanya mengangkat satu tangannya dengan gerakan perlahan yang mematikan.
"Analisis yang membuang-buang waktu," ucap sang Ketua singkat, suaranya sedingin baja yang memotong udara.
Pria itu memiringkan kepalanya sedikit, menatap Elara layaknya menatap seekor serangga yang sudah mati.
"Mengetahui bentuk pisau guillotine tidak akan menghentikan bilahnya memenggal lehermu, Elara."
Tanpa peringatan apa pun, sang Ketua hanya mengangkat jari telunjuk kanannya dengan santai, membidik lurus ke arah Elara layaknya pistol.
Seketika itu juga, insting bertarung Elara menjeritkan peringatan bahaya yang luar biasa fatal.
Namun, matanya tidak menangkap apa-apa. Tidak ada kilatan cahaya. Tidak ada hawa panas atau dingin. Bahkan sensor mana di dalam tubuh Elara sama sekali tidak mendeteksi adanya fluktuasi Mana di udara. Semua terasa kosong.
Lalu, Ketua Asosiasi menjentikkan jarinya pelan.
CRASSSHHH!
Darah mendadak menyembur deras membasahi udara.
Mata Elara terbelalak lebar. Rasa sakit yang teramat sangat menyengat sistem sarafnya bahkan sebelum otaknya bisa mencerna apa yang terjadi.
Bahu kanannya berlubang parah, terkoyak oleh sebuah pedang atau proyektil berkecepatan tinggi yang murni tak kasat mata.
Daya dorong dari serangan ketiadaan itu begitu brutal hingga membuat tubuh Elara terhempas melayang ke belakang, menghantam dinding baja Tartarus dengan sangat keras.
KRAAAAK!
Dinding padat anti-sihir di belakang Elara ikut berlubang dan penyok ke dalam, ditembus oleh sisa proyektil ketiadaan yang baru saja menembus dagingnya.
Elara jatuh berlutut, terbatuk memuntahkan darah ke lantai logam. Tangan kirinya gemetar mencengkeram bahu kanannya yang hancur. Napasnya tersengal, matanya menatap tajam ke arah sang Ketua.
Pertahanannya adalah lubang hitam yang menelan sihir. Dan serangannya adalah peluru pembunuh yang tidak memiliki wujud, suara, maupun jejak Mana untuk dideteksi. Sebuah senjata mutlak yang tidak bisa dihindari maupun ditangkis.
Ketua Asosiasi menurunkan tangannya perlahan. Bayangannya menutupi tubuh Elara yang kini tersudut dan tak berdaya.
Bagi sang Wakil Ketua Black Cross, jatuh kedalam lubang kematian seperti sudah terbiasa untuk dirinya.
BAB 22 SELESAI
~•TERIMAKASIH YANG SUDAH BACA •~
~•DITUNGGGU BAB SELANJUTNYA •~
~•KARYA : R14•