Vandra dan Mia saling menyukai diam diam. Vandra cowo gaul yang tampan yang sukanya clubbing, brantem tapi atlet karate yang berprestasi. Sedangkan Mia cewe rumahan yang pintar dan manis.
cerita ini hanya perjalanan cinta anak sma yang dipenuhi intrik intrik kecil, persaingan,
rada setia kawan dan pengungkapan cinta yang manis.
Walaupun tetap ada konflik keluarga yang mengharukan. Tentang pengorbanan ibu dan anak, dan pertentangan keluarga yang sangat kaya raya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesta Relasi Papi
Terpaksa Vandra ngga bisa ikut kumpul dengan teman temannya. Sekarang sudah jam sebelas malam. Pikirannya pun mumet karena kata kata papinya. Bahkan sebelum masuk kamar abangnya sempat memberikan peringatan.
"Besok aku akan nge cek kerjasama papi. Sepertinya serius."
"Maksud Bang Valen?"
"Papi lagi nyari jodoh buat Lo sama si kembar," bisik Valen yakin membuat Vandra terpaku.
"Jaga sikap Lo besok," lanjutnya lagi kemudian pergi
Ada apa ya dengan papi, batin Vandra bertanya heran.
Hp di sakunya kembali bergetat. Setelah menutup pintu Vandra melihat siapa yang menelpon.
"Lo kenapa ngga datang?" suara Eri terdengar kesal.
"Mami sama Papi pulang. Aku ngga bisa keluar."
"Kenapa? Ada masalah?"
Vandra terdiam. Suara Eri terdengar kuatir.
"Lo besok malam ikut ke pesta nggak?" Eri bertanya ragu.
"Iya," jawab Vandra pelan.
"Berarti Lo, gue sama Fino. Kita mau dijodohkan apa ya. Padahal aku belum mau serius sama cewe," suara Eri kembali terdengar kesal.
"Lo tau sama siapa kita dijodohkan?"
"Papi nggak mau cerita. Lihat aja besok katanya. Gimana aku nggak kesal."
"Besok siapa yang ulang tahun?" tanya Vandra penasaran, siapa tau Eri punya informasi penting.
"Katanya anak relasi baru Papi. Anaknya baru pindah ke sini dari Inggris."
Vandra kembali diam. Pikirannya mulai bercabang. Teringat apa yang dikatakan abangnya barusan.
"Lo tau kabar angin tentang Mia?" suara Eri terdengar ragu membuat Vandra kaget.
"Apa? Jangan buat gue penasaran," bentak Vandra dengan jantung berdebar keras.
"Papanya koma, sekarang di bawa ke Amerika."
"Lo dengar dari siapa?"
"Nesa. Tadi aku dengar obrolannya dengan Clara."
Vandra terdiam. Hatinya mencelos, kenapa dia ngga tau.
"Keliatannya Nesa gak suka sama Mia."
Vandra masih diam, memikirkan apa yang Eri katakan.
"Ya udah... aku juga udah di rumah. Papi Mami juga baru pulang." Eri menutup telponnya.
Vandra masih diam. Vandra berusaha memejamkan matanya., menjauhkan pikiran pikiran yang ga bisa diberikan jawaban.
****
Dengan jantung berdebar, Vandra mengikuti langkah keluarganya memasuki ballroom hotel JW Marriot yang sudah di design sangat amat mewah.
Ternyata sudah banyak yang datang. Matanya mencari cari kedua temannya. Saat ini papi dan maminya sudah mengobrol dengan relasi bisnis mereka, begitu juga dengan keluarga abangnya. Kakak kembarnya dam Vandra hanya berdiam diri saja di dekat orang tuanya.
"Van, ngga ada yang kamu kenal?" Elka bertanya pelan.
"Katanya Eri sama Fino datang, Kak. Belum keliatan," jawab Vandra sambil mengamati para tamu yang ber jas mahal seperti dirinya dan bergaun mewah seperti kakaknya.
Akhirnya dua orang mc memulai acara, sebuah kereta dorong berisi kue empat tingkat yang sepertinya dihiasi dengan batu batu kristal telah berada di tengah ruangan. Kini perhatian semua orang tertuju pada empat orang yang berjalan ke arah kue tersebut. Sepasang suami istri dengan dua orang anaknya dengan dandanan super mewah. Seorang laki laki muda yang sangat tampan yang berusia kira kira hanpir tiga puluhan, menurut taksiran Vandra dan cewe cantik yang seusia dengannya. Vandra sama sekali belum pernah mengenal mereka.
"Papa ikit kerjasama mengelola tambang minyak dan pembangunan dua puluh hotel mewah di Dubai," Valen memberitahunya tadi siang.
Jadi yang datang hari ini adalah para kolega yang saling melakukan kerjasama itu. Dan yang berulang tahun adalah putri dari investor terbesar mereka.
Akhirnya acara pun dimulai. Ternyata yang berulang tahun cewe cantik dengan gaun berkilauan akibat taburan permata yang sangat mahal.
Janji papa benar karena tidak ada suapan kue ke tamu, hanya untuk keluarganya saja. Satu persatu kolega papa mengucapkan selamat ulang tahun pada cewe tersebut bersama keluarganya. Sampai sekarang, Vandra belum melihat Eri dan Fino. Akhirnya tibalah keluarga Vandra yang mengucapkan selamat.
"Putri kembar anda sungguh cantk," puji sang nyonya.
"Terimakasih Bu Clarisa. Yang kembar ini putri kedua saya, Elka dan Rasya. Yang pertama ini Valen bersama istri dan anaknya. Ini anak bungsu saya Vandra," kata Mama mengenalkan.
Bu Clarisa tersenyum ramah. "Keluarga yang tanpan dan cantik cantik. Ini anak tertua saya Emir dan ini anak bungsu saya Lika."
"Siapa nama kamu anak tampan?" tanya Bu Clarisa pada Abhi yang ?digendong dadynya. Dalam hati Vandra berdo'a agar si bocah tau bersikap sopan.
"Abhirama," jawabnya singkat. Dia menatap dadynya yang memganggukkan kepalanya dan tersenyum bersama dadynya.
"Anak anda mirip sekali dengan anda, Valen," Kata Prananta tertawa kecil melihat reaksi keduanya. Membuat yang lain tertawa.
Ternyata bocil ini pintar, puji Vandra dalam hati.
"Jadi Valen akan membantu kita nanti ya Pak Dewantara?" tanya Pak Prananta memastikan.
"Tentu," jawab Papa dengan wajah temangmya.
Karema ini ya Pi, aku dipanggil pulang.
"Saya sudah banyak mendengar tentang anda dan keluarga. Jika anda berkenan, kami mengundang anda dan keluarga untuk makan malam di rumah kami besok malam. Kita bisa berkenalan lebih lama," ucap Pak Prananta dengan wajah ramahnya yang tulus.
Ini yang Valen sama kakak kembarnya takutkan. Tapi saat Valen melihat Rasya, Valen jadi kesal, kakaknya selalu mengumbar senyum pada Emir. Memang dia sangat tampan dan berkelas seperti Valen. Berarti Elka beruntung, karena dia akan sangat senang hati mengalah.
"Tentu bisa Pak Prananta," jawabl papi dengan wajah sumringah.
Papi kelihatan senang.
"Lika daftar di SMA mana?" tanya mami pada cewe cantik yang tanpa Valen sadari menatap ke arahnya.
"SMA Pamungkas, Tante," jawabnya sopan, walaupun sempat sedkit gugup karena perhatiannya yang teralihkan dari mahluk tampan yang cool di depannya.
SMA Vero, batin Vandra kembali berayukur.
"Sepupumya ada di sana. Mungkin anak Bu Marina mengenal, namanya Vero. Soalnya Vero senang katanya ada beberapa teman maen beda SMA nya diundang," Kata Bu Clarisa dengan senyum cantiknya.
"Kenal tante," jawab Vandra ikut tersenyum kecil membuat Lika terpesona melihatnya.
"Silakan mencicipi hidangan Bu Marina dan keluarga," ucap Bu Clarisa lagi.
Lega rasanya Vandra sudah terbebas dari sopan santun formalitas.
"Dady, tadi aku sudah bersikap baikkan?" tanya Abhi saat mereka sudah beranjak meninggalkan tempat itu.
"Iya, kamu anak dady yang pintar," puji dadynya sambil mencium putra nakalnya.
Vandra pun ikut tersenyum.
"Van, ketemu juga," ucap Fino dan Eri berbarengan. Keduanya pun sangat tampan dalam balutan jas mahalnya.
"Orang tua kalian dimana?" tanya Papi sambil melihat sekeliling, tapi belum ketemu.
"Nanti mau ke sini Om. Om, kita bawa Vandra dulu ya?" Eri meminta ijin.
"Oke," sahut papinya mengijinkan membuat Vandra kembali merasa terbebas dan bisa bergabung dengan teman temannya.
"Dady, tante Lika dari tadi perhatiin Om Vandra terus," celutuk Abhi begitu omnya sudah pergi.
"Ohya?" goda dadynya walau dalam hati membenarkan.
"Kamu perhatian banget sama Om mu," goda Elka gantian.
"Iya dong. kalo udah gede aku mau seperti dady dan om Vandra, banyak disukai perempuan." Mereka pun tertawa mendengarnya.
"Iya sayang," kata Sarah sambil membelai rambut jagoan kecilnya.
"Tapi perempuan yang aku suka seperti mami," jawabnya membuat Sarah dan Valen saling berpandangan dan tertawa.
"Cucu eyang memang pintar," kekeh papi.