Alya Gabrielsen terpaksa menikah dengan pria asing demi menyelamatkan status keluarganya. ayahnya, Tyo, bangkrut dan terlilit hutang yang membuatnya hampir masuk penjara. Dengan paksaan sang ibu, Alya mau tak mau rela menikah di usia muda dengan pria yang sama sekali tak ia kenali. Bagaimana kisah Alya? saksikan hanya disini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DinaSafitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CDK. 24
Di sebuah kafe yang sederhana namun terasa begitu estetik, seorang wanita duduk dengan wajah yang mulai dipenuhi kekesalan. Sudah hampir satu jam ia menunggu. Bahkan, dua gelas minuman di mejanya nyaris habis tanpa tersisa.
“Ke mana sih anak itu?” gerutunya kesal sambil berkali-kali melirik jam tangan di pergelangan tangannya.
“Maaf, Mah... Alya terlambat. Tadi jalanan macet.”
Alya akhirnya datang beberapa menit kemudian. Napasnya masih sedikit memburu, sementara penampilannya tampak jauh dari rapi. Beberapa helai rambutnya bahkan menempel di wajah karena keringat.
Helena mendengus pelan. Jika bukan karena uang, ia tidak akan sudi menunggu selama ini. Bahkan, melihat wajah anak yang tak pernah benar-benar ia anggap pun sudah cukup membuatnya enggan.
“Kenapa lama sekali? Lihat, Mama sampai hampir menghabiskan dua gelas minuman di sini,” ucap Helena dengan nada meninggi.
“Tadi di jalan macet, Mah. Karena takut Mama menunggu terlalu lama, Alya akhirnya cari ojek online,” jawab Alya jujur.
Namun, Helena sama sekali tidak peduli. Ia bahkan tak memperhatikan bagaimana penampilan putrinya itu. Jangankan menyuruh Alya duduk, menatapnya dengan layak saja tidak.
“Nggak usah kebanyakan alasan. Cepat, mana uangnya?” katanya sambil menadahkan tangan.
Alya segera membuka tasnya. Ia mengambil sebuah kartu tipis berwarna hitam yang langsung membuat mata Helena membelalak.
Belum sempat Alya menjelaskan apa pun, Helena sudah merebut kartu itu dari tangannya. Dalam hitungan detik, kartu tersebut berpindah tangan.
“Hebat juga kamu, ya. Belum sampai 24 jam jadi istri, sudah berhasil ngerayu suamimu,” puji Helena tanpa sedikit pun menatap wajah putrinya.
Terkadang Alya bingung sendiri. Padahal ia juga anak kandung wanita di hadapannya ini. Namun entah kenapa, perbedaan perlakuan antara dirinya dan sang kakak terasa begitu jelas.
Sebenarnya, berkali-kali ia ingin bertanya. Sayangnya, Alya memilih memendam semuanya sendiri. Ia tahu sifat Helena tidak akan pernah memberinya jawaban yang ia harapkan.
“Mah... uang di dalam kartu itu cuma ada delapan ratus juta. Mama minta lima ratus juta, jadi... bisakah sisanya ditransfer ke rekening Alya?” pinta gadis itu hati-hati.
Seketika senyum di wajah Helena lenyap.
“Nggak bisa. Kartu ini sudah di tangan Mama. Apa yang sudah kamu kasih nggak boleh diminta lagi.”
Wanita itu langsung bangkit dari duduknya, bersiap pergi begitu saja.
“Tapi, Mah—”
Ucapan Alya terpotong.
“Nggak ada tapi-tapi. Terima kasih untuk uangnya. Ingat, bulan depan kamu harus kasih Mama uang lagi. Kalau bisa, lebih banyak dari ini.”
Setelah mengatakan itu dengan nada lantang, Helena pergi begitu saja, meninggalkan Alya sendirian.
Gadis itu hanya bisa terpaku menatap punggung ibunya yang semakin menjauh. Bibir bawahnya tergigit pelan, menahan gelisah yang perlahan memenuhi dada.
Bagaimana nanti ia harus menjelaskan semuanya kepada Max? Haruskah ia jujur? Atau lebih baik diam dan mengganti uang itu dari hasil kerjanya nanti?
Namun... sampai kapan?
Bukankah mencari dan mengumpulkan uang sebanyak itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar?
Alya benar-benar dilanda kebingungan.
Sementara itu, di sebuah gedung tinggi yang menjulang megah, Max menatap datar layar ponselnya.
Jayden yang duduk di sampingnya ikut memperhatikan ekspresi sang bos sekaligus sahabatnya itu.
“Apa kau sengaja melakukan ini?” tanya Jayden.
Max mengangguk tanpa ragu.
“Tentu saja. Aku sudah melangkah sejauh ini. Tidak mungkin berhenti di tengah jalan, bukan?” jawabnya tenang.
Jayden menghela napas pelan. Ia sebenarnya membenarkan ucapan Max, tetapi tetap saja ada sesuatu yang terasa mengganjal.
“Tapi mau sampai kapan? Kau nggak takut kalau nanti istrimu curiga? Belum genap 24 jam kalian menikah, tapi kau sudah memberikan uang sebanyak itu.” Jayden menatap Max tajam sebelum melanjutkan, “Bukan... lebih tepatnya, kau memang sengaja memberikannya.”
Pada kenyataannya, kartu itu memang sudah diretas oleh Max. Apa pun transaksi yang dilakukan Helena melalui kartu tersebut akan langsung diketahui olehnya. Bahkan, uang yang keluar diam-diam akan kembali lagi ke rekening Max tanpa sepengetahuan pengguna kartu itu.
“Alya tidak akan tahu,” jawab Max santai. “Gadis itu terlalu polos. Terlalu lugu dan gampang dimanfaatkan.” Ia tersenyum tipis sebelum melanjutkan, “Buktinya, dia bahkan nggak sadar kalau ibu kandungnya sendiri sedang memanfaatkannya.”
Dan sayangnya, semua itu adalah kenyataan.
Max kemudian berdiri dari duduknya. Ia merapikan jasnya sebentar sebelum berkata,
“Antar aku ke suatu tempat.”
Jayden mengernyit bingung. “Ke mana?”
Max tersenyum samar.
“Tentu saja untuk mempersiapkan hadiah besar... untuk dua hari mendatang.”
Setelah mengatakan itu, ia langsung melangkah pergi.