Demi uang sepuluh milyar, Sean Yuritama rela bekerja sama dengan Christaly Jane untuk menemukan anak dari seorang miliarder yang telah lama menghilang. Jika bukan demi melunasi hutang-hutangnya, detektif swasta berparas tampan itu tidak akan sudi bekerja sama dengan gadis cerewet dengan segudang masalah. Sehingga mereka terlibat perdebatan hampir setiap waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azura Cimory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membuka Diri
“Sekarang aku tahu kenapa Vera maksa aku buat mau jadi pemuas nafsu berahimu, Sean. Ternyata, libidomu memang seluar biasa itu,” kata Cristaly saat mereka selesai bercinta dan dia terengah-engah kehabisan napas di tempat tidur. “Nggak heran, sih, Vera cinta mati sama kamu. Jarang-jarang soalnya ada pria sekuat dirimu.”
“Aku juga sekarang tahu kenapa Vera milih kamu,” sahut Sean. “Kamu memang seorang wanita penghibur yang profesional. Meskipun hargamu bisa dibilang terlalu mahal.”
“Sialan!” Christaly mendengus, tapi dia tidak sungguh-sungguh kesal dengan Sean. “Padahal aku kan memuji kamu, tahu?!”
Sean yang berbaring telanjang bulat di samping Christaly menatapnya sambil mengerutkan dahi. “Oh, ya?” katanya sangsi.
“Huh! Tentu saja begitu. Ah, sudahlah. Nggak usah dibahas lagi. Percuma. Kamu juga nggak bakalan ngerti,” sergah Christaly.
Sean membelai pipi Christaly. “Aku tahu, kok. Aku cuma senang saja menggoda kamu,” kata Sean. “Awalnya aku pikir kamu cuma gadis cerewet yang sangat menyebalkan. Memang benar begitu, tapi, ya, setidaknya kamu sedikit berguna karena kamu bisa memuaskan aku di mana saja.”
“Apa kamu bilang?!” potong Christaly.
“Hei, kenapa kamu marah? Aku kan juga sedang memujimu,” balas Sean.
Christaly mengerutkan dahinya dalam-dalam. “Huh! Dasar keterlaluan. Kamu ikut-ikutan saja.”
Sean terkikik. “Kamu ini ceroboh dan suka mengacau,” ujar Sean. “Selain di atas tempat tidur, kamu nyaris nggak bisa ngapa-ngapain.”
Christaly menarik napas dalam-dalam lalu mengerang. “Uh! Yang kamu katakan itu memang ada benarnya juga,” katanya.
“Kadang aku juga mikir kalau aku ini orang gagal yang nggak berguna. Tapi, meskipun begitu, aku punya dua orang teman baik yang selalu ada untukku baik dalam suka maupun duka. Kedua temanku ini adalah alasan aku buat tidak menyerah. Kadang, ada kalanya aku juga capek. Aku muak dengan hidupku yang dipenuhi ketidakadilan. Tapi, aku harus tetap hidup. Karena cuma itu yang bisa aku lakukan.”
Obrolan yang tiba-tiba menjadi serius itu sedikit mengganggu Sean. Tapi, dari sini dia menjadi tahu sedikit tentang asisten pribadinya. Dia tahu jika hidup gadis itu cukup sulit. Dia terlilit hutang sama seperti dirinya, bekerja sebagai wanita penghibur untuk menyambung hidup serta untuk membayar hutang.
Sebenarnya, sudah jauh-jauh hari Sean memperhatikan Christaly. Saat gadis itu bersama dengan gadis bernama Celine, anak dari salah satu kliennya. Sejak pertama Sean sudah menargetkan Christaly untuk setidaknya dia bisa tidur sekali dua kali dengan gadis malam itu.
Sampai pada akhirnya justru gadis itu yang datang sendiri kepadanya malam itu. Ini merupakan kejutan yang besar untuk Sean. Satu kebetulan yang sulit dipercaya, karena ternyata dia juga terjerat lintah darat yang sama dengannya dan juga diancam untuk segera melunasi hutang dengan ancaman yang mengerikan.
“Kamu kenapa diam saja? Uh! Aku terlalu banyak bicara ya? Tapi, aku cuma pengen kamu tahu kalau di luar sana ada dua orang yang berarti buatku, yang sangat aku sayangi dan sangat menyayangiku.” Christaly kembali bicara.
“Ya, memang, sih. Meraka nggak bisa berbuat banyak buat bantuin aku keluar dari jerat hutang. Tapi, dukungan dan solidaritas yang mereka berikan sudah lebih dari cukup buatku. Karena kondisi ekonomi kami yang nggak memungkinkan.”
“Kamu beruntung sekali, ya. Karena punya teman yang setiakawan dan peduli. Nggak seperti aku yang ....”
“Kamu kan punya Vera yang sayang dan sangat perhatian padamu,” sergah Christaly. “Dari segi manapun kamu lebih beruntung dariku, tahu!”
“Maksudku bukan begitu. Aku tahu Vera sayang padaku dan sangat perhatian. Tapi, apa kamu pikir aku ini pria yang cocok buat dia? Di lihat dari sudut mana pun, aku nggak cocok buat Vera. Aku ini siapa? Bukan siapa-siapa. Sedangkan Vera punya segalanya. Jadi, ya, aku nggak banyak berharap juga dari hubunganku dengan Vera. Karena aku sudah tahu akan ke mana pada akhirnya,” ujar Sean yang mulai mau membuka dirinya.
“Karena itulah, kita harus berjuang sekarang. Kita harus bisa menyelesaikan kasus Alex ini segera bagaimanapun caranya,” kata Christaly memberi semangat pada Sean sekaligus dirinya sendiri.
Christaly menggenggam tangan Sean yang berada di pipinya kuat-kuat. “Aku memang sama sekali nggak punya pengalaman buat mencari orang hilang. Tapi, kamu kan detektif. Meskipun aku nggak begitu yakin kamu bisa diandalkan, aku tetap percaya padamu, Sean.”
Perkataan dari Christaly benar-benar berhasil menyentuh bagian terdalam dari hati Sean yang selama ini gelap dan dingin. Memberinya secercah cahaya harapan. Perasaannya memang menjadi sangat aneh setelah itu. Dia tidak tahu kenapa, tapi, hatinya terasa hangat.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama dia tidak merasakan lagi kehangatan itu. Sean menatap dalam-dalam mata Christaly, mencoba membaca apa yang ada di dalam pikirannya.
Tampak sangat jelas sekali kalau dia sebenarnya sudah sangat lelah dan putus asa dengan hidupnya. Ada ketakutan serta kecemasan di sana. Tapi, di atas segalanya semangatnya untuk tetap hidup jauh lebih besar dari apa pun. Hal itu membuat Sean tanpa sadar tersenyum.
“Kamu kenapa senyum-senyum?” sontak Christaly bertanya melihat tingkah Sean. “Jangan begitu, ah! Aku jadi takut tahu lihat kamu senyum-senyum sendiri begitu. Kayak orang gila.”
Sean bergumam, “Kalau dilihat-lihat, kamu ini cantik juga, ya. Hemm ....”
Christaly seketika menyahut, “Apa kamu bilang? Coba kamu ulangi, aku nggak dengar kamu bilang apa.”
“Kalau dilihat-lihat kamu itu sebenarnya cantik, Chrsitaly. Sayang saja kamu cerewet, ceroboh, dan menyebalkan,” kata Sean dengan nada mengejek. “Tapi, ya, lumayanlah. Setidaknya kamu bisa sedikit berguna kalau di atas ranjang.”
“Sialan! Padahal kamu sendiri sama menyebalkannya denganku,” balas Christaly tak terima. “Kamu nggak ceroboh karena kamu udah terbiasa dengan pekerjaanmu, itu saja. Kamu juga cerwet untuk ukuran pria. Tapi, kayaknya kamu nggak menyadarinya karena terlalu percaya diri. Huh!”
Sean tertawa mendengar kekesalan Christaly. “Aku punya satu pertanyaan buat kamu. Kamu pernah nggak kalah saat berdebat?”
“Huh! Sialan kamu, Sean. Udah, ah. Aku mau mandi kalau kamu nggak mau bercinta denganku lagi. Badanku lengket semua,” sahut Christaly sambil dia bangkit duduk di atas tempat tidur. “Kamu mau ikut mandi bareng sama aku, nggak?”
“Hemm ... sepertinya itu ide yang bagus,” kata Sean. “Kita bisa bercinta sekali atau dua kali lagi di kamar mandi sebelum benar-benar mandi.”
“Astaga, Sean. Yang benar saja, kamu. Kalau mau lanjut bercinta di ranjang saja. Dingin tahu di kamar mandi.” Christaly pura-pura protes meski sebenarnya hatinya bertepuk tangan bahagia. Karena memang itulah yang dia inginkan dengan mengundang Sean untuk mandi bersamanya.
“Justru karena itu, kita akan jadi hangat kalau kita bercinta,” jawab Sean. Dia lalu merosot turun dari atas tempat tidur. “Ayo cepat, Christaly. Kita mesti bergegas biar punya sedikit waktu buat tidur. Karena besok siang kita harus melanjutkan perjalanan.”