Lima mahasiswa KKN terjebak di Desa Larangan, desa gaib yang tidak ada di Google Maps.
Hari ketiga, Rani hilang dari kamar terkunci. Di kasurnya hanya ada selendang merah dan tanah kuburan. Kepala desa cuma bilang: "Tumbal pertama sudah diambil."
Setiap jam 01.00, gamelan dari hutan memanggil nama mereka. Sosok wanita berkebaya merah menatap dari sumur tua belakang balai desa.
Ternyata 7 tahun lalu ada mahasiswi KKN dibunuh dan dibuang ke sumur itu. Arwahnya menuntut 5 nyawa.
Mereka harus temukan tulang mahasiswi itu sebelum purnama, atau jadi penghuni tetap desa. Masalahnya, satu orang harus jadi tumbal sukarela untuk turun ke sumur.
Akankah mereka pulang selamat? Atau pulang tinggal nama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahrani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33 Dongeng Sebelum Tidur
26 MEI 1997. RUMAH DINA. MALAM.
Gue kira udah pulang. Ternyata Dina WA: _"Balik sini, Min. Bocah-bocah rewel minta diceritain KKN."_
Jam 7 malem gue balik lagi ke rumah Dina. Di ruang tamu udah ngumpul:
*1. Kiran* \= Anak Dina, 22 tahun, pelukis
*2. Laras* \= Anak gue, 19 tahun, kuliah
*3. Ardi* \= Anak gue juga, 17 tahun, SMA
*4. Alya* \= Anaknya Bayu, yg nikah di Bab 31, 23 tahun
"Om Min!" Laras langsung nyamperin. "Ceritain dong. Katanya dulu Bapak sama Om Fajar pernah berantem sama demit?"
Fajar yg lagi nyuapin cilok ke mulutnya keselek. "Eh... siapa yg cerita?"
"Mama," jawab Kiran sambil nunjuk Dina. "Mama bilang dulu ada demit namanya Asu Kober. Sekarang jadi logo bengkel Om Rendi."
Rendi ngakak dari pojok. "Promosi gratis, Din. Makasih."
Bayu tepuk tangan. "Wes. Audensi lengkap. Min, panggungmu."
Gue diem. Gimana ceritainnya? Masa iya cerita "Rani kesurupan, muntah tanah kuburan" ke bocah-bocah ini. Nanti trauma.
Akhirnya gue dapet ide.
"Gini ya, bocah-bocah," gue mulai. "Tahun 1988, Om sama temen-temen KKN di desa... tertinggal banget. Namanya Desa Larangan."
"Kenapa dilarang, Om?" tanya Ardi.
"Karena... sinyalnya jelek," jawab gue ngasal. Semua ketawa.
"Terus di sana ada... aturan," lanjut gue. "Aturan pertama: Jangan nyebut nama 'Larasati' jam 1 malem."
Laras yg namanya Laras langsung melotot. "LHO KOK NAMA AKU?"
"Nah kan," Sari nyubit gue. "Makanya anakmu namanya Laras. Ben dijogo."
Gue lanjutin versi dongeng: "Terus ada Pak Kuncen namanya Pak Ardi. Orangnya baik. Pelihara... asu item gede. Namanya Asu Kober."
"Asu Kober itu sebenernya... satpam desa," Rendi nimbrung. "Tugasnya ngusir maling. Tapi karena desa jaman dulu belum ada satpam, jadi pake... asu."
Anak-anak manggut-manggut. Percaya aja.
"Terus suatu malem," Dina ikut nimbrung, "Om Fajar lagi ronda. Dia liat... copet. Eh bukan, maling. Om Fajar teriak 'Berhenti!' Malingnya lari ke sumur. Kecemplung. Terus... ditolongin Asu Kober."
Fajar melongo. "Lah, kok gue jadi hero?"
"Terus Om Bayu," Bayu nunjuk diri sendiri, "Ngasih duit ke Pak Kuncen buat benerin sumur. Karena... duit itu nyawa kedua. Jadi harus ati-ati."
"Terus Om Min," gue nunjuk diri sendiri, "Disuruh nulis laporan KKN. 30 ribu kata. Kurang 3 ribu kata lagi."
Semua ngakak. Alya tepuk jidat. "Pantes Papa tiap malem nyuruh aku nikah cepet. Biar Om Min ada bahan tulisan."
"Terus endingnya gimana, Om?" Kiran udah siapin buku sketsa.
"Endingnya," Sari ngambil alih, "Desa Larangan sekarang udah maju. Ada Polsek. Ada Bank. Ada Bengkel. Sumurnya udah ditutup, diganti tower. Asu Kober pensiun, sekarang jadi logo. Pak Kuncen... udah tenang."
"Dan kita," Dina ngerangkul Kiran sama Laras, "Bisa kumpul begini. Bakar jagung. Cerita-cerita. Ga ada lonceng. Ga ada gamelan. Adanya... kalian."
Hening sebentar. Terus Ardi nyeletuk: "Jadi... demitnya beneran ada ga, Om?"
Kami berlima tukeran pandang. Fajar nyengir. Bayu ngedip. Rendi ngangkat bahu. Dina sama Sari senyum.
Gue jongkok depan Ardi. "Ada, Di. Tapi demit yg paling serem itu... utang. Utang nyawa udah lunas. Utang BRI... masih dicicil Bayu."
"ASU!" Bayu nimpuk gue pake bantal. Semua ngakak pecah.
Jam 10 malem, bocah-bocah pada ngantuk. Satu-satu salim terus masuk kamar.
Tinggal kami berlima lagi di teras. Sama kayak 18 tahun lalu di posko KKN. Bedanya, sekarang ada teh anget, bukan kopi pahit. Ada suara TV tetangga, bukan suara gamelan.
"Min," bisik Fajar. "Beneran mau lu tulis versi dongeng?"
Gue ngangguk. "Iya. Biar mereka tidur nyenyak. Biar horornya... berhenti di kita."
"Utang kata lunas?" tanya Bayu.
Gue cek HP. Noveltoon.
"Kurang 2.137 kata lagi," jawab gue. "Dua bab lagi. Tamat beneran."
Rendi nepuk pundak gue. "Tulis, Min. Tulis kalo dulu kita pernah... pulang tinggal nama. Tapi sekarang... kita pulang bawa nama."
Purnama nongol lagi dari balik genteng. Bulet. Bersih.
Ga ada yg takut. Ga ada yg nyebut "su..."
Cuma ada Fajar yg udah ngorok lagi.
Dan kami... tinggal hidup.