Novel ini menceritakan seorang gadis bernama BIANCA yang masih kebingungan antara BARRA cinta lamanya yang berakhir karena kesalapahaman yang di buat oleh AZA teman kecil dari BARRA , atau LEO orang baru yang membuat DIA bangkit kembali menjalani hari hari dengan ceria. namun bukan kisah cinta mereka saja yang rumit , Bianca juga menjalani hidup yang tidak mudah di mana dia seorang anak yatim piatu .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yolanda Fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Terungkapnya Kebenaran
Pagi-pagi sekali Bianca menghubungi Leo untuk mengabarkan kalau Leo tidak perlu menjemputnya, dia akan ke kampus berangkat bersama Dinda karena semalam Dinda menginap di rumahnya.
Bianca juga mengatakan kalau kondisinya sudah jauh lebih membaik dan Leo tak perlu cemas, dia baik-baik saja karena ini hanya luka kecil baginya.
Dinda dan Bianca bersiap-siap untuk berangkat ke kampus dengan mobil milik Dinda yang dipinjam Dinda dari orang tuanya beserta sopirnya karena Dinda tidak bisa menyetir mobil. Di perjalanan menuju kampus, Dinda menanyakan apakah Bianca sudah siap untuk bicara dengan Barra.
Bianca mengatakan kalau dia merasa gugup dan cemas memikirkan apa yang akan terjadi nanti.
Dinda memegang tangan Bianca dan berkata, "Gue akan selalu ada buat Lo,apa pun yang terjadi."
Bianca tersenyum bahagia mendengar ucapan Dinda, dia bersyukur masih memiliki orang-orang baik di sekelilingnya.
Sesampainya di kampus, Bianca dan Dinda bertemu dengan Aza. Aza berpura-pura kaget melihat tubuh Bianca yang penuh luka, "Astaga, Bianca! Lo kenapa tubuh Lo penuh luka begini?"
Bianca menceritakan kalau dia terlibat kecelakaan sepulang kerja dan sekarang kondisinya sudah sehat kembali. Aza berpura-pura tersenyum bahagia mendengar kalau Bianca sudah baik-baik saja. Bianca juga memperkenalkan Aza kepada Dinda, lalu Dinda dan Aza saling berkenalan.
Dari kejauhan terlihat Leo yang hendak menghampiri dan bergabung bersama mereka. Aza yang malas bertemu Leo buru-buru pamit dan meninggalkan mereka. Bianca merasa aneh dengan perilaku Aza dan juga Leo yang seakan-akan mereka tidak saling mengenal, padahal mereka saling kenal karena hubungan orang tua mereka.
Tak lama kemudian Dinda juga pergi meninggalkan Leo dan Bianca karena ada urusan yang harus diselesaikannya.
Dinda pergi mencari keberadaan Barra namun tidak menemukannya. Dia juga menelepon Barra namun tidak diangkat. Tak berselang lama Barra menelepon balik Dinda dan menanyakan ada keperluan apa Dinda mencarinya lagi. Karena setelah kejadian semalam, Barra merasa sangat sulit untuk bisa mendekati dan menjangkau Bianca lagi.
Dinda tertawa terbahak-bahak mendengar nada bicara Barra yang tampak seperti orang putus asa. Barra jadi bingung, kenapa Dinda malah bisa tertawa bukannya merasa sedih karena sahabatnya sedang marah padanya.
"Lo di mana? Gue ada kabar baik buat Lo. Bianca mau bertemu dan bicara empat mata sama Lo," kata Dinda.
Barra yang mendengar kabar itu langsung melompat kegirangan seperti anak kecil. Barra meminta Dinda untuk mengantar Bianca ke tempat yang akan ditentukannya sepulang kuliah nanti, nanti dia akan mengirimkan lokasinya kepada Dinda. Dinda dengan senang hati menyetujuinya dan mengingatkan Barra untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan yang sudah ada ini.
Setelah jam pelajaran usai, Leo mendatangi kelas Bianca untuk mengajak Bianca pulang bersamanya. Namun Dinda menghalangi niat Leo, "Maaf ya Leo, Bianca hari ini milik gue sepenuhnya. Jadi Lo harus mundur dulu ya."
Leo tertawa sambil mengejek Dinda karena setelah berbaikan dengan Bianca, sepertinya dia sudah tidak dibutuhkan lagi. Mereka bertiga pun tertawa bersama.
Di sisi lain Leo sama sekali tidak curiga, bahkan dia tidak bertanya mau ke mana Dinda dan Bianca pergi hari ini. Menurut Leo, mungkin mereka hanya ingin bersenang-senang bersama untuk melepas penat setelah kejadian kemarin.
Akhirnya Dinda dan Bianca sampai di tempat yang dikirimkan oleh Barra, yaitu di sebuah taman di pinggir kolam. Bianca mengenal tempat itu, tempat di mana dulu Barra dan Bianca menyatakan cinta dan berjanji untuk saling setia.
Bianca berjalan terus ke arah sana dan menemukan sebuah papan besar bertuliskan: "I am sorry, Bianca." Dinda yang melihat hal itu langsung pergi meninggalkan mereka berdua.
Dari balik papan itu keluarlah seorang pria, yaitu Barra. Bianca yang melihat keberadaan Barra berusaha untuk pergi dari sana, namun Barra menahannya dan secara tiba-tiba Barra langsung memeluknya erat. Bianca yang kaget dipeluk oleh Barra segera melepaskan pelukan itu lalu menampar pipi Barra dengan keras.
Bianca langsung meluapkan segala emosinya dan terjadilah perdebatan yang cukup panjang di antara mereka.
"Apa mau Lo, hah? Lo pergi meninggalkan Gue tanpa pamit, dan hanya dengan sepucuk surat Lo mengakhiri hubungan kita. Belum puas Lo menyakiti Gue, dan sekarang Lo kembali seolah-olah hal itu tidak pernah terjadi sama sekali!" ucap Bianca dengan nada penuh amarah.
"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti. Kapan aku mengakhiri hubungan kita?" ucap Barra dengan nada bingung.
Bianca mengeluarkan surat yang dulu pernah diterimanya lalu melemparkannya tepat ke wajah Barra.
Barra mengambil surat itu lalu membacanya dengan teliti. Barra terkejut dan berkata kalau dia tidak pernah menulis surat seperti ini. Dia memang pernah mengirimkan surat, tapi bukan seperti ini isinya. Barra mempertanyakan dari mana Bianca mendapatkan surat ini.
Dengan menangis terisak Bianca berkata: "Jangan berbohong ya! Gue mendapatkan surat itu dari Aza. Aza bilang Lo lah yang menitipkan surat itu untuk diberikan kepadanya. Kenapa? Kenapa harus seperti ini? Apakah menurut Lo hubungan kita hanya sebuah lelucon? Atau Lo menganggap Gue hanya sebagai mainan belaka, ya?"
Barra menjelaskan kalau dia memang pernah menitipkan surat kepada Aza, tapi isinya sama sekali tidak seperti itu. Barra pun menceritakan kejadian yang sebenarnya terjadi.
(Kilas Balik 1 Tahun Lalu)
Pagi-pagi sekali saat hendak berangkat ke acara perpisahan sekolah, Barra mendengar kabar kalau ibunya masuk ke rumah sakit karena mengalami gagal ginjal. Barra langsung memutar arah mobilnya untuk segera pergi ke rumah sakit. Sesampainya di sana, dokter mengatakan bahwa ibunya harus segera melakukan pencangkokan ginjal dan prosedur itu harus dilakukan di luar negeri.
Saat itu ayahnya tidak bisa ikut serta menemani ibunya karena ada urusan bisnis yang sangat penting dan tidak bisa ditinggalkan. Oleh karena itu, ayah Barra memerintahkan Barra untuk menemani ibunya berobat dan sekaligus melanjutkan pendidikannya di sana.
Barra berangkat hari itu juga bersama ibunya ke luar negeri, bahkan dia tidak sempat mengabari Bianca karena waktu yang tersedia sangat singkat.
Sesampainya di bandara, Barra menyempatkan diri untuk menulis surat untuk Bianca dan dia meminta sopirnya untuk mengantarkan surat itu ke rumah Aza karena sopirnya mengenal Aza. Kepada sopirnya, Barra berpesan agar Aza segera memberikan surat itu kepada Bianca. Setelah itu, Barra pun berangkat.
(Kilas Balik Selesai)
Barra juga berkata kalau di dalam surat itu dia mencantumkan nomor ponselnya di luar negeri dengan harapan Bianca akan meneleponnya. Namun tak sekalipun Bianca menghubunginya. Karena dia sangat merindukan Bianca, dia akhirnya memutuskan untuk kembali ke Indonesia dan menentang keputusan ayahnya yang menyuruhnya menyelesaikan kuliah di luar negeri.
Bianca menangis sejadi-jadinya karena kenyataan yang diungkapkan Barra sungguh berbeda jauh dengan apa yang selama ini dia ketahui. Akhirnya Barra menelepon ibunya dan ibunya menjelaskan kepada Bianca bahwa apa yang dikatakan Barra semuanya benar adanya. Ibu Barra juga mengatakan kalau saat ini kondisinya masih dalam masa pemulihan dan dia berjanji akan segera menemui Bianca.
Akhirnya Bianca pun mengerti segalanya dan memeluk Barra erat sambil memohon maaf karena selama ini dia bersikap tidak sopan pada Barra, bahkan dia pernah menamparnya.
Barra juga meminta maaf karena tidak sempat berpamitan dengan Bianca dulu. Tak lama kemudian suara ponsel Barra berdering, ternyata Aza yang menelepon.
Aza berkata, "Bar, sekarang Gue tahu kenapa Bianca marah besar sama Lo. Ternyata surat lo ditukar oleh orang lain dan gue sudah menemukan pelakunya. Sekarang Lo ke sini, ke tempat kita dulu sering nongkrong." Aza langsung mematikan sambungan teleponnya sebelum Barra sempat menjawab.
Barra berkata kalau sekarang semua masalah sudah jelas dan Barra berharap Bianca mau menerimanya kembali. Bianca hanya diam saja karena masih merasa bingung. Bianca mengalihkan pembicaraan dengan mengajak Barra menemui orang yang telah menukar surat mereka dulu. Barra menuruti keinginan Bianca dan menggenggam tangan Bianca untuk menuju ke mobilnya.
Di perjalanan, Dinda menelepon Bianca dan Barra menyuruh Bianca menyalakan pengeras suara karena Barra juga ingin mendengarkan suara Dinda.
"Biiiiiii! Lo ya, mentang-mentang sudah berbaikan, Guze malah ditinggalkan begini saja. Lo melupakan Gue ya?" kata Dinda sambil merengek dengan nada lucu.
Bianca meminta maaf karena pergi dengan tergesa-gesa, ada hal penting yang ingin diselesaikannya terlebih dahulu. Bianca menyuruh Dinda pulang duluan, nanti dia bisa pulang sendiri.
Barra langsung menjawab kalau dialah yang akan mengantar Bianca sampai ke rumah dengan selamat, jadi Dinda tidak perlu cemas. Setelah memastikan keadaan Bianca baik-baik saja, Dinda mematikan sambungan teleponnya.
Mereka akhirnya sampai di tempat yang disebutkan oleh Aza dan langsung masuk menemuinya. Setelah bertemu dengan Aza, Barra bertanya, inikah orang yang telah menukar suratnya dulu? Aza mengiyakan dan menceritakan asal-usul gadis itu.
Namanya Ica, dia adalah anak dari pembantu di rumah Aza. Ternyata selama ini Ica menyimpan rasa suka dan kagum kepada Barra dan dia sangat membenci Bianca karena menurutnya Bianca tidak pantas bersanding dengan Barra yang tampan dan kaya raya.
Bianca bertanya kenapa Aza bisa tahu kalau Ica adalah pelakunya. Aza menjawab kalau dia baru saja menemukan foto-foto Barra tersimpan rapi di kamar Ica dan Ica sendiri juga mengaku telah menukar surat itu lalu membakar surat aslinya karena dia sangat membenci Bianca.
Barra berterima kasih kepada Aza karena sudah berhasil menemukan pelakunya dan hal itu membuat Bianca semakin percaya dengan penjelasannya.
Aza meminta maaf kepada Bianca karena seharusnya dia meyakinkan Bianca agar tidak percaya kalau Barra lah yang menulis surat jahat itu. Bianca memeluk Aza dan meyakinkannya kalau ini sama sekali bukan salah Aza, melainkan salah orang yang memang berniat jahat.
Aza tersenyum licik, dan di dalam hatinya dia berkata: "Dasar bodoh."
(Kilas Balik Aza)
Di kampus, Aza melihat Bianca dan Dinda pergi berdua tanpa ditemani oleh Leo. Aza merasa curiga dan segera menyuruh orang suruhannya untuk mengikuti mereka berdua. Dan benar saja seperti dugaan Aza, orang suruhannya melaporkan kalau mereka bertemu dengan Barra. Aza sangat marah dan geram sampai-sampai dia mengacak-acak barang-barang di kamarnya sendiri.
Setelah perasaannya mulai tenang, Aza berpikir keras mencari cara untuk mencari kambing hitam. Karena kalau sampai Barra tahu kalau dialah pelakunya, Barra pasti akan membencinya dan dia tidak akan pernah mendapatkan Barra sepenuhnya. Tiba-tiba Aza teringat pada anak pembantunya yang bisa dijadikan kambing hitam dan memberinya uang tutup mulut agar mau mengaku bersalah.
(Kilas Balik Selesai)
Ica berlutut di depan kaki Bianca sambil menampar pipinya sendiri dan meminta maaf. Bianca boleh menghukumnya asal jangan sampai memasukkannya ke dalam penjara.
Bianca kaget dan segera menghentikan perbuatan Ica yang menyakiti dirinya sendiri dan memaafkan Ica dengan tulus. Barra tersenyum melihat hal itu, inilah alasannya dia sangat mencintai Bianca karena Bianca memiliki hati yang sangat baik dan lembut.