Demi nafas Nonik, Santi OB miskin rela jual harga diri.
Demi warisan triliunan Opa Darwis, Dody CEO dingin butuh istri kontrak.
Satu tanda tangan di UGD, satu cap jempol Nonik yg sekarat.
Kontrak nikah 250 juta resmi dibuat.
Dia istri di atas kertas. Dia suami yg membeku.
Di antara mereka ada Nonik, bocah 5 tahun yang nyawanya jadi taruhan.
Bisakah hati sedingin es Dody luluh oleh tangis Santi?
Sementara Wati sang HRD dan Wandy sang tunangan siap menikam dari belakang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alya Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PESAN MISTERIUS
Ita berlari panik. Nafasnya tersengal-sengal, dadanya naik turun tak beraturan.Lengan kanan bajunya robek, Dia berhasil lolos dari pak Sukma si buaya buntung yang berniat tidak baik pada dirinya. Keringat dingin membasahi pelipisnya, bercampur debu yang menempel di kulitnya.
Dia lalu bersembunyi dibalik tembok bangunan tua peninggalan negara B yang pernah berkuasa di negara I. Bangunan itu sudah lama kosong, tidak ada yang bisa dia mintai tolong. Di luar, suara langkah kaki pak Sukma masih terdengar, berat dan penuh nada ancaman.
“Cantik, dimana kau.”
Suara itu terus terdengar membuat jantung Ita mau berhenti berdegub. Bulu kuduk Ita merinding. Teriakan pak Sukma terus mencari dirinya. Nada suaranya terdengar seperti oramg yang tak akan menyerah sampai menemukan mangsanya.
Ita hampir saja menjerit. Jantungnya berdebar kencang, seolah ingin keluar dari dadanya. Dia tutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangannya, menahan nafas agar tidak terdengar. Di sudut matanya, dia melihat seekor tikus kecil melewati kakinya dengan cepat. Ita nervous terhadap tikus sejak kecil. Tubuhnya menegang, tapi dia tahu sekarang bukan waktunya untuk takut pada hewan kecil itu.
Di luar sana, pak Sukma masih memanggil-manggilnya. Setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar mengancam. Ita tahu, kalau dia ketahuan, semua akan berakhir. Maka dia harus bertahan. Dia harus diam. Jangan sampai ketahuan
****
“It, sini!”
Suara itu memecah keheningan.
Seru Ani ketika melihat Ita melintas di meja kerjanya. Wajah Ani terlihat lega bercampur heran. Dia sudah mencari Ita sejak pagi, tapi gadis itu seperti menghilang ditelan bumi.
Ita mendekat dengan langkah cepat. Namun hati-hati. Ditangannya masih menggenggam erat map biru basah di bagian sudutnya karena keringat. Map itu penting. Di dalamnya ada laporan yang harus segera diserahkan ke Bu Wati untuk diceklist hari ini. Kalau telat, bisa-bisa seluruh tim kena marah..
“Ada apa? Nih aku mau ke bu Wati.”
Ita berkata sambil memperlihatkan map yang dipegangnya.
“Eh ngomong-ngomong kemarin bagaimana?”
Selidik Ani ingin tahu.
“Apanya nih!”
Kata Ita tidak tahu maksud Ani.
“Anu, pas kau ke mas Bas!”
Kata Ani lebih jelas, suaranya diturunkan agar tidak terdengar orang lain.
Matanya menyipit penuh rasa ingin tahu.
“Sama Aris itu lho.”
Sambung Ani sambil mengusap belahan tengah diantara dua matanya yang berkacamata.
Dia merasa gatal.
“Oh, itu.”
Ita meletakkan mapnya di meja kerjanya Ani dengan hati-hati. Tangannya sedikit gemetar. Dia takut kalau map itu jatuh, semua kertas di dalamnya akan berantakan dan Bu Wati akan marah besar.
“Tahulah kau. Aku hampir kemakan lagi.”
“Haaah!”
Seru Ani tertahan.
Dia langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, takut kedengaran bu Wati yang ruangannya tidak jauh dari tempatnya. Wajah Ani memerah menahan tawa sekaligus kaget.
“Beneran?”
Ani berbisik, matanya berbinar penuh penasaran.
Dia menarik kursi di sebelahnya dan memberi isyarat pada Ita untuk duduk. Suasana kantor yang biasanya sibuk dengan suara ketikan keyboard, kini terasa hening.
“Aris malahan meninggalkan aku sendirian sama pak Sukma.”
Kata Ita sedih teringat kejadian waktu itu.
“Terus!”
Kata Ani semakin penasaran.
Dia maju sedikit, bersandar di meja, tidak mau melewatkan satu kata pun. Bagi Ani, gosip seperti ini lebih menarik daripada laporan keuangan yang menumpuk di mejanya.
“Hampir saja.”
Kata Ita pelan.
“Maksudmu?”
Tanya Ani semakin menambah penasarannya.
“Kau. Pura-pura nanya lagi!”
Mata Ita melotot ke Ani. Dia kesal dengan ulah teman sekerjanya itu.
“Aku kan nngak tahu persisnya, It!”
Jawab Ani pura-pura lemas. Dia mengangkat bahu, berusaha terlihat tidak bersalah. Padahal tadi dialah yang paling semangat nanya-nanya.
“Ita!!!”
Bu Wati berteriak dari pintu masuk ruangnya.
Suaranya tajam dan lantang, membuat beberapa karyawan di luar ruangan menoleh. Dia tidak senang melihat Ita gosip sama Ani di jam kerja.
Iya bu!”
Kata Ita gugup.
Dia tertangkap basah sedang gosip sama Ani. Wajahnya langsung memerah. Dia buru-buru merapikan map biru di tangannya, takut jatuh dan berantakan.
“Tuh, kau kan. Jadinya aku pasti kena marah!”
Keluh Ita sambil mendatangi bu Wati dengan langkah kecil.
Lututnya sedikit lemas. Dia tahu bu Wati paling benci kalau karyawannya membuang waktu untuk ngobrol tidak penting.
“Masuk!”
Kata bu Wati memandang tajam Ita.
Tatapannya seperti ingin menembus pikiran Ita. Tidak ada senyum, tidak ada basa-basi.
“Iya bu Wati!”
Bu Wati duduk di kursi kerjanya yang empuk, bersandar dengan ekspresi serius. Dihadapannya Ita duduk menunduk. Tangannya memegang map biru erat-erat, seolah itu satu-satunya hal yang bisa menyelamatkan sekarang.
“Berapa kali aku bicara jangan suka gosip pas KERJA!!!”
Teriak bu Wati lantang.
“Iya bu.”
Kata Ita masih menunduk.
Dia merasa seperti terdakwa yang bersalah di meja pesakitan.
Suasana hening selama beberapa detik. Hanya terdengar suara AC yang mendengung pelan. Ita menelan ludah, menunggu amarah bu Wati mereda.
“Gimana laporannya!”
Bu Wati meneruskan bicaranya.
Kali ini dengan nada lebih lembut, meski masih tegas.
“Ini bu!”
Kata Ita menyodorkan map birunya.
Bu Wati menerima map itu, membukanya perlahan. Matanya menelusuri setiap halaman dengan teliti. Ita menahan nafas. Setiap detik terasa lama.
Dia membolak-balik kertas itu pelan, matanya menajam dibeberapa bagian yang menurutnya kurang rapi. Lalu dia menandai beberapa bagian dari laporan itu dengan stabilo kuning.
“Oke It. Kali ini kerja kau lumayan BAGUS!”
Ita menerima mapnya kembali dari bu Wati.
“Kau ketik ulang bagian yang aku tandai. NGERTI!!!”
Teriak bu Wati keras membuat jantung Ita mau copot.
Suaranya yang tadinya lembut langsung berubah tajam. Ita langsung menegak, takut kalau dia terlihat kurang serius.
“Ba … baik bu!”
Kata Ita yang kaget.
Dia tadi seperti dipuji ujung-ujungnya kena marah lagi. Dia mengangguk cepat, takut kalau bu Wati berubah pikiran.
Ita pergi meninggalkan ruang bu Wati. Dia melihat Ani yang diam saja pura-pura sibuk mengetik di laptopnya. Ita menghela nafas lalu pergi keluar kantor HRD. Dia bermaksud beli camilan untuk menemaninya kerja. Baru saja mau melangkah ke lift ada notif HP.
Dia mengeluarkan HP dari saku.
“Segera temui aku. Bas dalam kuasaku. Kalau Bas mau selamat, kau temui aku.”
Ita kaget terima pesan HP itu. Dari nomor tidak dikenal.
“Datang ke bangunan kereta api lama LS.”
Pesan itu datang lagi.
“Ingat datang sendiri.”
Ita meletakkan map birunya ke meja kerjanya.
“Hei It.”
Sapa Yuyun tersenyum melihatnya.
Yuyun baru datang dari pantry membawa segelas susu hangat.
“Aku mau pergi dulu, Yun!”
Kata Ita cepat-cepat. Dia tahu Yuyun pasti mau mengajaknya gosip lagi.
“Yaaa.”
Kata Yuyun kecewa. Dia menatap punggung Ita yang buru-buru menghilang di ujung koridor
“Nngak seru deh.”
Sambung Yuyun penuh kecewa sambil meletakkan segelas susu hangat di meja kerjanya.
“Aku ada perlu.”
Kata Ita cepat-cepat pergi dari tempat itu.
Ita sudah masuk ke dalam lift. Pintu tertutup pelan, menyembunyikan wajahnya yang pucat dan penuh kecemasan. Didalam lift yang sempit itu, dia membaca lagi pesan itu untuk kesekian kalinya.
Bas dalam kuasaku.
Kalimat itu terus berputar di kepalanya. Dia tidak tahu siapa orang dibalik nomor itu. Tapi satu hal pasti, kalau dia tidak datang, mas Bas bisa celaka.
***
“Pak, bisa antarin ke LS!”
Kata Ita pada bang ojol yang mangkal dekat gedung perusahaan Gumilang Perkasa. Suaranya sedikit tergesa-gesa, tapi dia berusaha tetap terdengar tenang.
“Bisa neng!’
Kata bang ojol.
Dia biasa jadi langganan Ita. Bang ojol langsung menyalakan motornya tanpa banyak tanya. Dia sudah hafal, kalau Ita buru-buru pasti ada urusan penting.
Ita segera menggonceng sepeda motor bang ojol. Sepeda motor segera melaju.
“Udah berhenti disini, bang!”
Kata Ita menghentikan.
Bang ojol menghentikan sepeda motornya. Dia melirik Ita dengan pandangan khawatir.
“Mau aku tunggu neng? Tempatnya sepi banget nih.”
Ita menggeleng cepat.
“Tidak usah bang, makasih. Nanti aja kalau udah selesai.”
Kemudian Ita melanjutkan kalimatnya.
Seperti biasa bang, itungannya masuk awal bulan ya!”
Kata Ita mengingatkan bang ojol.
Dia biasa memasukkan tarif ojol keawal bulan pas dia terima gaji. Bang ojol sudah langganan, jadi mereka punya sistem bayar diawal bulan.
“Beres, neng!”
Kata bang ojol mengacungkan jempolnya.
Dia tersenyum ramah sebelum melajukan motornya pergi, meninggalkan Ita sendirian didepan bangunan tua itu.
Setelah bang ojol berlalu, Ita segera menyelusuri bangunan kereta api lama LS. Bangunan yang sudah lama ada sejak dibangun tahun 1904.
Ita berhenti didepan bangunan lama itu. Dadanya naik turun. Dia menarik nafas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Lalu dia melihat dua orang muka seram mendekat dari pintu masuk bangunan lama itu.
Mereka tinggi besar, wajahnya penuh tato dan matanya menatap Ita tajam seperti menilai mangsa.
“Boss sudah menunggu.”
Kata salah satu dari mereka dengan suara berat.
Tidak ada basa-basi, tidak ada senyum. Hanya perintah dingin yang membuat bulu kuduk Ita berdiri.
Ita menelan ludah. Kakinya rasanya ingin mundur, tapi dia ingat pesan terakhir, kalau Bas mau selamat, kau temui aku.
“A … apa mas Bas ada bang.”
Kata Ita agak grogi.
Suaranya bergetar, tidak berani menatap mata dua pria itu terlalu lama.
Dua orang itu berpandangan sejenak. Seolah berkomunikasi tanpa kata. Lalu salah satu dari mereka mengangguk kecil.
“Udahan ikut. Kau nanti tahu.”
Kata orang muka seram satunya.
Dia mendorong pelan bahu Ita, memaksanya berjalan kearah lorong gelap diujung ruangan.
Mau tidak mau Ita terpaksa mengikuti dua orang itu. Dia khawatir nasib mas Bas. Sejak pagi dia telpon beberapa kali tidak dijawab. Biasanya mas Bas langsung menjawab sesibuk apapun orangnya. Sekarang HP-nya tidak aktif. Itu yang membuat Ita semakin panik.
Ita sampai ke sebuah lorong panjang menuju bawah tanah. Dindingnya lembap, pudar. Bau apek menyengat hidungnya. Dua orang itu mendorong tubuh Ita masuk ketika melihat Ita ragu-ragu untuk masuk.
“Jalan!”
Bentak salah satu dari mereka.
Ita menuruni tangga sampai bawah ruangan. Setiap langkahnya terasa berat. Udara lembab dan pengap menerpa hidung Ita. Ita bersin beberapa kali tidak tahan. Debu dan jamur di udara membuat tenggorokannya gatal.
Dia melihat sosok tubuh yang terbaring sendirian disudut ruangan. Ruangan itu gelap, hanya ada satu lampu bohlam redup yang bergoyang-goyang. Dia hanya bisa melihatnya samar-samar karena memang gelap. Dua orang itu menunjuk sosok yang terbaring diam.
*
*
*
Orang satunya tersenyum menyeramkan.
“Boss, kau beruntung!”
Gumannya pelan.
Bersambung