Adeeva Zamira Arjunka tidak pernah menyangka bahwa sifat pemberontaknya justru menjadi alasan ia terjebak dalam pernikahan militer. Seharusnya, Kak Adiba—kembarannya yang sholehah dan lembut—lah yang bersanding dengan Kapten Shaheer Ali. Namun, sang perwira pasukan khusus itu secara mengejutkan justru menjatuhkan pilihan pada Adeeva, si gadis keras kepala yang terang-terangan membenci dunia militer.
Terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Adeeva masuk ke kehidupan Shaheer dengan dendam dan penolakan. Baginya, lencana dan seragam hijau Shaheer adalah simbol pengekangan. Namun, perjalanan takdir adiba ke tanah Mesir dan kehadiran buah hati di balik pagar pinus perlahan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peringatan kakak dan gangguan sang kapten
Keesokan harinya, Shaheer tidak langsung menuju lapangan setelah apel pagi. Ia melangkah menuju gedung Rumah Sakit Bantuan (Rumkitban) yang berada di dalam kompleks militer. Wajahnya datar, namun langkah kakinya yang berat memberikan sinyal pada setiap prajurit yang berpapasan untuk tidak menyapanya jika tidak penting.
Ia berhenti di depan pintu ruang praktik Dokter Spesialis. Tanpa mengetuk, Shaheer membuka pintu itu.
Fathiyah yang sedang memeriksa beberapa berkas medis mendongak. Ia sedikit terkejut melihat kakaknya berdiri di sana dengan seragam lengkap dan tatapan yang sangat dingin.
"Bang Shaheer? Tumben ke sini jam segini. Ada yang sakit?" tanya Fathiyah mencoba bersikap normal.
Shaheer menutup pintu di belakangnya dengan suara klik yang tegas. Ia tidak duduk, melainkan berdiri di depan meja adiknya. "Jangan pernah lagi menjebak istriku di depan umum, Fathiyah."
Senyum di wajah Fathiyah memudar. Ia meletakkan pulpennya. "Oh, jadi dia sudah mengadu? Bang, aku cuma mau dia sadar posisi. Dia itu istri perwira, bukan anak muda yang bisa seenaknya di mal. Aku hanya membantunya untuk—"
"Membantunya?" potong Shaheer, suaranya rendah namun penuh penekanan. "Kamu mempermalukannya karena kamu merasa dia tidak pantas untuk keluarga kita. Kamu menggunakan agama untuk menyudutkannya. Apa itu yang diajarkan Papa padamu? Menjadi sombong karena merasa lebih suci?"
Fathiyah tersentak. "Aku cuma mau Abang tidak malu!"
"Aku tidak pernah malu karena Adeeva," sahut Shaheer tegas. "Aku justru malu karena punya adik seorang dokter dan perwira, tapi tidak punya empati pada saudara sendiri. Ini peringatan pertama dan terakhir, Fathiyah. Jangan ikut campur urusan rumah tanggaku. Jika kamu menyakitinya lagi, kamu bukan hanya berurusan dengan Abangmu, tapi dengan Kaptenmu. Paham?"
Fathiyah terdiam, matanya berkaca-kaca karena terkejut dibentak sekeras itu oleh kakak yang sangat ia hormati. Tanpa menunggu jawaban, Shaheer berbalik dan keluar dari ruangan, meninggalkan keheningan yang menyesakkan.
Sepeninggal Shaheer, Fathiyah merasa kepalanya berdenyut hebat. Ia menyandarkan punggungnya, mencoba mengatur napas. Rasa kesal, sedih, dan harga diri yang terluka bercampur menjadi satu.
Tok. Tok. Tok.
"Masuk! Aku tidak menerima pasien sekarang!" teriak Fathiyah ketus.
Pintu terbuka, namun yang muncul bukan suster, melainkan wajah cengengesan Kaysan Ashraf. Pria itu membawa dua cup kopi dan sebungkus roti goreng.
"Wah, singanya lagi ngamuk ya? Untung saya bawa 'pawangnya'," ujar Kaysan santai tanpa rasa takut sedikit pun pada aura gelap Fathiyah.
"Keluar, Kapten Kaysan. Saya sedang tidak ingin bercanda," desis Fathiyah.
Kaysan justru masuk dan duduk di kursi yang tadi ditinggalkan Shaheer. Ia meletakkan satu cup kopi di depan Fathiyah. "Tadi saya berpapasan sama Bang Shaheer di koridor. Mukanya kayak mau ngajak perang satu batalyon. Pasti Dokter habis kena semprot, ya?"
"Bukan urusan Anda!"
"Memang bukan. Tapi kalau Dokter pusing, nanti pasien Dokter bisa salah suntik. Mending minum ini dulu," Kaysan mendorong kopi itu lebih dekat. "Bang Shaheer itu memang begitu kalau soal Adeeva. Dia itu kayak macan yang lagi jaga anaknya. Dokter jangan terlalu keras kepala."
Fathiyah menatap Kaysan dengan tajam. "Kenapa kalian semua membela wanita itu? Dia itu tidak punya aturan! Dia merusak citra abangku!"
Kaysan menyesap kopinya, lalu menatap Fathiyah dengan sorot mata yang tiba-tiba berubah serius, meski senyum tipis masih ada di bibirnya. "Dokter tahu kenapa Bang Shaheer pilih dia? Karena di dunia yang penuh kepura-puraan ini, cuma Adeeva yang berani tampil apa adanya. Kita semua pakai topeng seragam ini setiap hari, Dok. Kadang kita butuh orang yang jujur buat ngingetin kalau kita ini cuma manusia biasa."
Fathiyah tertegun. Ia tidak menyangka kata-kata bijak seperti itu keluar dari mulut pria yang biasanya hanya tahu cara melawak.
"Sudahlah, jangan dipikirin terus. Nanti cantikmu hilang," lanjut Kaysan, kembali ke mode jenakanya. Ia mengambil pulpen di meja Fathiyah dan mulai menggambar kumis di atas foto profil medis yang sedang diperiksa Fathiyah.
"Kapten! Apa yang Anda lakukan?! Itu berkas penting!" pekik Fathiyah, mencoba merebut pulpennya.
Kaysan tertawa, ia sengaja menghindar dan membuat Fathiyah terpaksa berdiri dan mengejarnya di sekitar meja. Untuk sejenak, rasa sesak di dada Fathiyah menghilang, tergantikan oleh rasa kesal pada pria bermuka tembok di depannya ini.
"Kembalikan pulpennya, Kaysan!"
"Tangkap dulu kalau bisa, Dokter Galak!"
Di tengah kekacauan kecil itu, Fathiyah baru menyadari satu hal. Di saat semua orang menilainya sebagai dokter militer yang kaku dan sempurna, hanya Kaysan yang berani mengacaukan dunianya dan membuatnya kembali merasa seperti wanita biasa.
Sementara itu, di rumah dinas, Adeeva sedang duduk di depan meja gambar barunya. Ia menatap kertas kosong, lalu perlahan mulai menggoreskan pensil. Bukan gambar desain baju yang ia buat, melainkan sketsa siluet seorang pria yang sedang berdiri di bawah lampu taman.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...