NovelToon NovelToon
Anomali Rasa

Anomali Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Romantis
Popularitas:793
Nilai: 5
Nama Author: USR

Pertemuan kembali di koridor universitas seharusnya menjadi momen nostalgia yang manis, namun bagi Wahyu dan Riani, itu adalah awal dari sebuah interaksi yang panjang dan penuh tembok penghalang.
Namun, hubungan mereka tidak berjalan semudah bayangan. Ada penyangkalan yang kuat, kecanggungan yang berlarut-larut, hingga cara berkomunikasi yang sering kali menemui jalan buntu.

Nantikan Perjalanan Kedua nya.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34

POV: RIANI

Dua minggu setelah Wahyu pulang ke rumah, hari sidang putusan itu tiba.

Riani bangun pagi itu dengan perasaan yang tidak sepenuhnya bisa dia identifikasi—campuran antara harap, cemas, dan sesuatu yang lebih dalam dari keduanya. Seperti perasaan menjelang ujian besar, tapi bukan ujiannya sendiri.

Ujian Wahyu.

Ujian keluarganya.

Dan meskipun Riani tidak ada di sana—dia tidak diundang, ini urusan keluarga, dan Wahyu tidak meminta—dia merasakan beratnya hari ini dari jauh.

Pukul tujuh pagi, dia mengirim pesan singkat.

Riani: "Hari ini aku memikirkan kamu dan keluargamu. Semoga semuanya berjalan dengan baik."

Tidak ada balasan.

Wahyu pasti sudah dalam perjalanan ke pengadilan, atau sudah di sana, atau sedang fokus pada hal-hal yang jauh lebih besar dari membalas pesan.

Riani meletakkan ponselnya.

Pergi mandi, sarapan, bersiap untuk kelas—Manajemen Pemasaran jam delapan, Perilaku Organisasi jam sebelas. Hari yang padat, yang mungkin bagus—supaya pikirannya tidak terlalu terfokus pada hal-hal yang tidak bisa dia kontrol.

Tapi tentu saja tidak berhasil sepenuhnya.

Di kelas Manajemen Pemasaran, Riani mencatat dengan tangan tapi pikirannya di tempat lain. Dosen sedang membahas tentang brand positioning dan diferensiasi—topik yang biasanya cukup menarik minatnya—tapi hari ini kata-kata itu masuk telinga dan keluar lagi tanpa meninggalkan banyak jejak.

Dinda yang duduk di sebelahnya mencolek lengannya di tengah kelas.

"Ri," bisiknya. "Kamu baik-baik saja?"

Riani mengangguk. "Iya."

"Hari ini sidang Wahyu kan?"

Riani melirik Dinda. "Kamu ingat?"

"Kamu cerita minggu lalu." Dinda memiringkan kepalanya sedikit, ekspresinya lebih serius dari biasanya. "Tenang. Apapun hasilnya, kamu tidak bisa apa-apa sekarang selain menunggu."

Riani menghela napas pelan. "Aku tahu."

"Dan Wahyu tahu kamu ada."

"Aku tahu itu juga."

Dinda mengangguk dan kembali menatap papan tulis—tapi sesekali dia melirik Riani dengan ekspresi yang berkata: aku di sini.

Setelah kelas Perilaku Organisasi selesai pukul satu siang, Riani makan siang dengan Karin di kantin.

Karin tidak banyak bicara tentang sidang—dia sudah tahu, dan dia tahu bahwa Riani tidak butuh pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa dijawab sekarang. Jadi mereka makan sambil membicarakan hal-hal lain: tugas Karin yang menumpuk, rencana Amel yang tiba-tiba ingin ikut pertukaran mahasiswa, kabar dari Sari yang sedang liburan ke Bali.

Normal. Ringan.

Persis yang Riani butuhkan.

Tapi di belakang semua itu, ada bagian dari Riani yang terus menghitung waktu—sidang biasanya mulai jam sembilan, bisa berlangsung dua sampai tiga jam, berarti mungkin hasilnya sudah ada sekarang.

Atau mungkin belum.

Mungkin ditunda lagi.

Mungkin—

Ponselnya bergetar.

Riani hampir menjatuhkan garpu.

Dari Wahyu.

Satu pesan. Singkat.

Wahyu: "Putusan keluar."

Riani menatap layar dengan jantung berdegup tidak wajar.

Tiga titik muncul. Wahyu sedang mengetik lagi.

Riani tidak bernapas.

Wahyu: "Ayahku bebas. Terbukti tidak bersalah."

Riani membaca itu.

Membacanya lagi.

Membacanya sekali lagi, memastikan matanya tidak salah baca, memastikan kata-kata itu benar-benar ada di layar dan bukan hasil pikirannya yang terlalu ingin membacanya.

Ayahku bebas. Terbukti tidak bersalah.

"Ri?" Karin memanggil. "Kamu kenapa?"

Riani mengangkat kepala. Matanya sudah berkaca-kaca.

"Wahyu," ujarnya, suaranya sedikit bergetar. "Ayahnya bebas. Putusan sudah keluar. Terbukti tidak bersalah."

Karin diam sebentar.

Lalu ekspresinya berubah—dari netral menjadi sesuatu yang hangat dan berat sekaligus—dan matanya juga berkaca-kaca.

"Alhamdulillah," bisik Karin.

Riani menundukkan kepala sebentar, menarik napas.

Delapan tahun.

Delapan tahun keluarga itu menanggung sesuatu yang bukan kesalahan mereka. Delapan tahun Wahyu tumbuh di bawah bayangan kasus yang membentuk setiap keputusan yang dia buat, setiap tembok yang dia bangun, setiap langkah yang dia ambil.

Dan hari ini, akhirnya, ada putusan resmi yang mengatakan apa yang selama ini sudah benar tapi tidak pernah diakui secara hukum:

Ayah Wahyu tidak bersalah.

Riani mengetik balasan dengan tangan yang tidak sepenuhnya stabil.

Riani: "Wahyu... aku sangat senang. Untuk kamu. Untuk ayahmu. Untuk seluruh keluargamu."

Wahyu: "Iya."

Satu kata. Tapi Riani bisa membayangkan Wahyu di sana—mungkin di luar ruang sidang, mungkin sedang berdiri di samping ayah dan ibunya, mungkin dengan ekspresi yang tidak akan terlihat dramatis dari luar tapi di dalamnya mengandung delapan tahun yang akhirnya terangkat.

Riani: "Kamu di sana dengan keluarga?"

Wahyu: "Iya. Ayah... menangis."

Riani menutup matanya sebentar.

Ayah yang tidak pernah menangis di depan keluarganya selama delapan tahun. Ayah yang menyimpan semuanya, menanggung semuanya, berusaha terlihat kuat di depan istri dan anak-anaknya.

Menangis sekarang.

Riani: "Itu baik. Biarkan dia."

Wahyu: "Iya. Aku tahu."

Riani menunggu, tidak mengirim apa-apa lagi. Memberi Wahyu ruang untuk ada sepenuhnya di momen itu—dengan keluarganya, bukan dengan layar ponsel.

Lima menit berlalu.

Lalu pesan terakhir dari Wahyu datang.

Wahyu: "Kamu adalah orang kedua yang aku beritahu. Setelah ibu."

Riani menatap kalimat itu.

Orang kedua.

Setelah ibu.

Karin yang duduk di seberangnya, yang sudah membaca ekspresi Riani dengan tepat, berkata pelan: "Dia memberitahumu sebelum siapa pun lainnya?"

"Kedua. Setelah ibunya."

Karin tersenyum—senyum yang hangat dan sedikit basah di pinggirnya.

"Ri, itu berarti banyak dari seseorang seperti Wahyu."

Riani tahu itu.

Dia membalas pesan Wahyu dengan satu kalimat yang dia harap cukup menyampaikan segalanya tanpa perlu terlalu banyak kata.

Riani: "Aku di sini. Nikmati hari ini bersama keluargamu."

Sore harinya, Riani pulang ke kost dengan langkah yang lebih ringan dari pagi.

Bukan karena bebannya berkurang—tugasnya masih ada, jadwalnya masih padat, hidupnya tidak berubah secara dramatis.

Tapi karena seseorang yang sudah lama dia pedulikan akhirnya mendapatkan sesuatu yang dia butuhkan.

Keadilan.

Tidak sempurna, tidak bisa mengembalikan delapan tahun yang sudah berlalu, tidak bisa menghapus semua luka yang sudah terbentuk selama itu. Tapi nyata. Resmi. Tidak bisa dibantah.

Di kamar kost, Riani duduk di meja belajarnya dan mencoba mengerjakan tugas. Berhasil cukup baik sampai pukul tujuh malam, ketika ponselnya bergetar lagi.

Dari Wahyu.

Wahyu: "Aku sudah di kost. Baru sampai."

Riani: "Sudah makan?"

Wahyu: "Makan bersama keluarga tadi sebelum pulang."

Riani: "Bagus. Bagaimana kondisi ayahmu sekarang?"

Wahyu: "Lebih baik. Pak Hendra bilang perusahaan harus membayar kompensasi dan pemulihan nama baik. Prosesnya masih beberapa bulan lagi tapi yang terpenting putusan bebasnya sudah ada."

Riani: "Ini akhirnya, Wahyu. Benar-benar akhirnya."

Tiga titik muncul. Menghilang. Muncul lagi. Menghilang.

Lama sekali tidak ada balasan.

Riani menunggu.

Lalu akhirnya:

Wahyu: "Iya. Aku masih belum sepenuhnya memproses ini. Terasa... aneh. Terlalu besar untuk langsung dirasakan sepenuhnya."

Riani tersenyum pada layarnya.

Riani: "Wajar. Delapan tahun tidak bisa dicerna dalam satu hari."

Wahyu: "Aku tidak tahu harus merasakan apa. Senang—iya. Tapi juga... kosong? Seperti selama ini aku berlari ke satu titik dan sekarang sudah sampai tapi tidak tahu harus berlari ke mana lagi."

Riani membaca itu dengan seksama.

Wahyu yang selama delapan tahun hidupnya digerakkan oleh satu tujuan besar—membantu ayahnya, membuktikan kebenaran, menjadi assisten keadilan yang tidak bisa dibeli keluarganya—sekarang berdiri di titik itu.

Dan setelah garis finis, tidak selalu ada peta berikutnya.

Riani: "Itu juga wajar, Wahyu. Tujuan besar yang sudah kamu pegang lama sekali itu selesai. Butuh waktu untuk orientasi ulang. Tapi bukan berarti tidak ada yang worth untuk dilari lagi."

Wahyu: "Apa yang kamu maksud?"

Riani berpikir sebentar.

Lalu mengetik dengan jujur.

Riani: "Kamu masih punya tujuan lain. Lulus dengan baik. Jadi pengacara yang membantu orang seperti ayahmu. Membangun hidup yang kamu pilih sendiri—bukan yang dipaksakan oleh situasi. Dan..." Riani berhenti sebentar, lalu melanjutkan. "Dan mungkin juga belajar menikmati hal-hal yang selama ini kamu tidak punya waktu untuk nikmati."

Hening beberapa menit.

Wahyu: "Seperti menonton film."

Riani tertawa kecil sendirian di kamarnya.

Riani: "Seperti menonton film. Tawaran itu masih berlaku."

Wahyu: "Aku ingat."

Riani: "Kapan kamu mau?"

Wahyu tidak langsung menjawab.

Tapi ketika jawabannya datang, Riani membacanya dengan perasaan yang tidak mudah dia deskripsikan.

Wahyu: "Minggu depan. Sabtu. Kamu pilih filmnya."

Riani tersenyum—senyum yang lebar dan tidak dia coba tahan.

Riani: "Deal."

Wahyu: "Selamat malam, Riani."

Riani: "Selamat malam, Wahyu. Dan selamat—untuk kamu dan keluargamu. Kalian berhak atas hari ini."

Pesan terakhir tidak dibalas.

Tapi centang dua biru muncul dalam hitungan detik.

Wahyu membacanya.

Dan itu cukup.

Riani meletakkan ponsel, merebahkan punggung ke sandaran kursi, menatap langit-langit kamarnya.

Di luar, malam Jakarta berjalan seperti biasa—suara kendaraan, suara tetangga, sesekali suara hujan ringan yang mulai turun.

Tapi di dalam kamar kost yang kecil itu, Riani merasakan sesuatu yang sederhana dan nyata.

Bahwa hari ini adalah hari baik.

Bukan hari sempurna—tidak ada hari yang benar-benar sempurna.

Tapi hari yang, untuk orang-orang yang memerlukannya, sudah lebih dari cukup baik.

Bersambung.....

1
YoMi
Lanjut kan kak
DemSat
Nice Story /Kiss/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!