Seorang kurir yang lelah oleh hiruk-pikuk jalanan menemukan jeda tak sengaja di sebuah perpustakaan kota.
Di tempat yang sunyi itu, ia bertemu dengan seorang gadis pemalu. Dia yang berbicara sedikit, namun berpikir terlalu banyak.
Pertemuan mereka dipenuhi salah paham kecil, kecanggungan, dan dialog yang tak pernah diucapkan.
Di balik sikap luar yang tampak biasa, kepala mereka dipenuhi suara-suara lain. Kadang pikiran yang berdebat, menyesal, dan ingin dipahami.
Dan saat kata-kata gagal terucap, perasaan justru tumbuh diam-diam.
Dan di antara rak buku, senyum canggung, serta keheningan yang terlalu panjang, dua insan belajar bahwa terkadang, cinta dimulai bukan dari apa yang diucapkan, melainkan dari apa yang disimpan.
Note: novel slow burn. visual karakter sering di beberapa bab. bikin pembaca gak lupa siapa aja yang sedang berbicara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon See You Soon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecewa
Yuda mengatupkan bibirnya erat. Rahangnya menegang.
Tatapannya tidak lagi tertuju pada wajah Nazwa, melainkan turun ke bawah—ke paving halaman rumah itu. Garis-garis batu yang tersusun rapi terasa jauh lebih mudah ditatap daripada situasi di depannya.
Di atas permukaan paving itu, bayangan seseorang memanjang.
Bayangan tinggi. Dan bayangan itu semakin mendekat.
Yuda tidak perlu mengangkat kepala untuk tahu siapa pemiliknya.
Sementara itu Nazwa mulai menyadari sesuatu yang lain.
Cara Kevan memanggilnya barusan. Tanpa sebutan “Kak.”
Alisnya langsung berkerut.
"Bisa gak sih—"
Ia hendak menegur adik tingkatnya itu.
Namun sebelum kalimatnya selesai, Yuda tiba-tiba berbicara lebih dulu.
"Cuma kurir, Bro."
Kalimat itu keluar pendek.
Datar.
Tanpa emosi.
Alis Kevan langsung terangkat.
Sementara mata Nazwa membulat. Seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
Nazwa refleks menoleh ke arah Yuda.
Kepalanya menggeleng pelan. Isyarat halus bahwa itu bukan jawaban yang baik.
Namun Yuda tidak melihatnya.
Atau lebih tepatnya…
Ia memilih tidak melihatnya.
Kevan berjalan mendekat. Langkahnya masih tetap santai. Lalu berhenti hanya beberapa inci dari Nazwa. Posturnya yang tinggi membuat mereka berdiri sejajar dengan jarak yang sangat dekat.
Dari posisi Yuda... pemandangan itu terlihat jelas.
Mereka tampak serasi.
Dan entah kenapa… menyakitkan untuk dilihat.
"Oh iya, Mas," ujar Kevan dengan nada yang tiba-tiba lebih sopan.
Ia menutup dompetnya kembali.
"Ada masalah apa ya kok agak lama di sini?"
Senyumnya ringan. Namun di telinga Yuda, suara itu terasa semakin menjengkelkan.
"Gak ada apa-apa, Bro."
Jawaban Yuda tetap singkat. Ia kembali ke nada profesionalnya sebagai kurir. Jantungnya memang masih berdetak cepat, tapi tubuhnya bergerak seperti otomatis.
Seperti ketika bekerja setiap hari. Seolah-olah Nazwa bukan orang yang membuatnya gugup selama ini.
Seolah-olah tatapan gadis itu tidak pernah membuatnya kehilangan kata-kata.
"Siap, Mas," lanjut Kevan sambil melirik sekilas ke arah Nazwa.
"Kami sebenarnya sedikit sibuk sih."
Tatapan itu seperti kode. Bahwa mereka masih punya pekerjaan yang belum selesai.
Namun justru suasana di halaman itu membuat Nazwa terpaku.
Ia tidak langsung menanggapi. Tangannya masih memegang paket kecil itu.
Matanya hanya berpindah antara Yuda dan Kevan. Seakan mencoba memahami sesuatu yang terasa janggal.
Sementara Yuda sudah mengambil satu langkah mundur.
"Kalo gitu…"
Ia menundukkan kepala sedikit.
"Aku pamit dulu, Mas, Kak."
Tangannya menunjuk paket itu sebentar.
"Semoga paketnya sesuai ya?"
Ia berbalik menuju motornya.
Nazwa tersentak.
"Yud—"
Suaranya terhenti di tengah.
Kevan langsung menyela dari belakangnya.
"Ayo, Kak."
Ia terkekeh kecil.
"Udah hampir sore."
Nada suaranya santai.
"Gak baik cowo terus-terusan mampir di rumah cewe, hehe. Yahh walaupun dirimu itu kakak tingkatku sih."
Tawa kecil itu keluar lagi.
Namun bagi Yuda, suara itu terasa seperti sesuatu yang mengiris pelan.
Mereka nampak akrab. Dan di mata Yuda… mereka terlihat seperti orang yang memang seharusnya berdiri berdampingan.
Yuda tidak menoleh lagi.
Ia naik ke motornya. Mesin langsung dinyalakan.
Brrrmmm.
Tanpa menunggu lebih lama, tangannya langsung menarik gas.
Motor itu melaju keluar dari depan rumah nomor 17. Bahkan lebih cepat, saat ia datang.
Nazwa masih berdiri di depan gerbang.
Motor Yuda sudah jauh meninggalkan ujung gang, namun matanya masih tertuju ke arah jalan yang tadi dilalui.
Suara mesin motor itu menghilang perlahan. Menyisakan keheningan sore yang terasa aneh. Angin bergerak pelan melewati halaman, membuat daun tanaman hias di sudut pagar bergoyang pelan.
Namun Nazwa tetap tidak bergerak.
Pandangannya kosong.
Baru beberapa menit lalu mereka saling berbicara. Tapi entah kenapa… rasanya seperti ada sesuatu yang tidak sempat ia pahami: cara Yuda menjawab, nada suaranya, kalimat singkatnya, dan terutama… cara dia pergi.
Cepat sekali. Seolah ingin segera menjauh dari tempat itu.
Nazwa menunduk sedikit melihat paket di tangannya.
"Hadiah dari seseorang..."
Kalimat itu kembali terlintas di kepalanya.
Namun sebelum ia sempat memikirkan lebih jauh—
"Kak?"
Suara Kevan memanggil dari belakang.
Nazwa sedikit tersentak.
Ia menoleh.
Kevan sudah berdiri di ambang pintu rumah, satu tangan memegang kertas catatan mereka tadi.
"Ini gak bakalan bisa ngerjain sendiri loh."
Nada suaranya santai seperti biasa.
"Kita masih harus revisi bagian ini."
Beberapa detik Nazwa hanya menatapnya. Seolah butuh waktu untuk kembali ke kenyataan.
"Oh… iya."
Jawabannya pelan.
Ia menutup kembali gerbang rumah.
Grett.
Langkahnya mengikuti Kevan menuju pintu rumah. Namun langkah itu terasa lebih lambat dari biasanya.
Kevan sudah berjalan lebih dulu masuk ke ruang tamu.
Sementara Nazwa berjalan di belakangnya.
Paket kecil itu masih berada di tangannya. Pikirannya masih sibuk mencoba merangkai potongan-potongan kecil dari kejadian barusan. Namun semuanya terasa kabur.
Ia tidak benar-benar tahu apa yang salah.
Yang ia rasakan hanya satu hal yang samar. Seperti ada sesuatu yang baru saja lewat… lalu pergi terlalu cepat untuk sempat ia pahami. Dan dengan perasaan kosong itu, Nazwa kembali duduk di sofa ruang tamu bersama Kevan.
Namun pikirannya… masih tertinggal sebentar di depan gerbang rumah nomor 17.
****************
Langit di luar sudah mulai berubah warna.
Cahaya sore yang tadi hangat kini perlahan memudar, digantikan bayangan panjang dari pepohonan di halaman. Dari kejauhan terdengar suara azan Maghrib mulai berkumandang dari masjid di ujung komplek.
Di ruang tamu rumah nomor 17, laptop masih menyala di atas meja. Beberapa lembar kertas sudah dipenuhi coretan.
Kevan menyandarkan punggungnya di sofa sambil menghela napas panjang.
"Kak…"
Ia menutup pulpen yang tadi dipakainya.
"Keknya kita lanjutin besok aja deh."
Nazwa yang duduk di seberangnya mengangkat wajah dari layar laptop.
"Hmm?"
Kevan menunjuk kertas-kertas di meja.
"Ini tinggal bagian analisis sama kesimpulan kan ya?"
Nazwa mengangguk pelan.
"Iya."
"Yaudah kita bagi aja."
Kevan berdiri dari sofanya sambil merapikan beberapa kertas.
"Aku kerjain analisis di rumah. Kakak lanjutin kesimpulannya."
Ia melirik suasana diluar yang sudah gelap.
"Udah Maghrib juga."
Nazwa terdiam sebentar, lalu mengangguk lagi.
"Iya deh."
Mereka mulai merapikan meja.
Laptop ditutup.
Kertas disusun menjadi satu.
Beberapa menit kemudian Kevan sudah berdiri di dekat pintu depan sambil mengeluarkan kunci motornya.
"Besok aku kirim draftnya ya, Kak."
"Oke."
Nazwa membuka pintu rumah untuknya. Angin sore yang lebih sejuk langsung masuk ke dalam. Kevan mengambil helmnya yang tadi ditaruh dekat pintu.
"Maaf ya ganggu hari ini," ujarnya sambil tersenyum ringan.
"Gak ganggu kok."
Kevan mengangguk.
"Yaudah aku pamit dulu."
Ia berjalan menuju motor trailnya di halaman.
Mesin dinyalakan.
Brrraaaam.
Suaranya cukup keras memecah kesunyian sore. Nazwa berdiri di depan pintu sampai motor itu keluar dari halaman rumah. Lalu perlahan menghilang di ujung gang.
Halaman kembali sunyi.
Beberapa detik Nazwa masih berdiri di sana. Lalu ia masuk kembali ke dalam rumah.
Namun langkahnya terasa… aneh.
Tidak seperti biasanya. Seolah tubuhnya bergerak sendiri sementara pikirannya masih tertinggal di tempat lain.
Ia berjalan melewati ruang tamu.
Tatapannya kosong.
Di kepalanya, bayangan seseorang kembali muncul: cara Yuda berdiri tadi, cara dia menjawab, kalimat-kalimatnya yang pendek dan tidak canggung.
Namun juga tidak menunjukkan ekspresi senang seperti saat mereka bertemu di perpustakaan.
Tidak ada senyum kikuk yang biasanya muncul.
Tidak ada obrolan ringan yang dulu terasa hangat.
Seperti ada sesuatu yang… berubah.
Nazwa berhenti sebentar di tengah ruang tamu. Ia menatap paket kecil yang ia letakkan diujung sofa.
Namun lamunannya tiba-tiba pecah.
Suara ricuh terdengar dari arah dalam rumah.
"Woi woi! Itu curang, Azka!"
"Mana ada curang? Kamu yang duluan ngelakuin kek gitu!" sanggah Asna.
Dua suara yang hampir bersamaan. Kedua adik kembarnya. Langkah kaki ribut terdengar berlari di dalam rumah.
Refleks Nazwa langsung menoleh ke arah suara itu.
"Eh—"
Namun sebelum mereka sempat muncul ke ruang tamu, Nazwa buru-buru menutup pintu rumah.
Jleg.
Ia mengambil dan memeluk paket itu sedikit lebih erat.
Lalu tanpa berkata apa-apa, ia berjalan cepat menyusuri lorong menuju kamarnya.
Pintu kamar dibuka.
Dan ditutup kembali.
Krek.
Di dalam kamar yang lebih tenang itu, Nazwa akhirnya bisa menarik napas panjang.
Paket kecil itu masih berada di tangannya.
Dan untuk pertama kalinya sejak Yuda pergi… ia benar-benar memandangnya dengan penuh perhatian.