Jiang Rouxue merasakan sakit disekujur tubuhnya. Tangannya berusaha menggapai sesuatu yang bisa menahannya agar tidak tenggelam.
Nafasnya sesak, pandangannya mulai kabur. Akhirnya, dia melepaskan genggaman yang sejak tadi dia genggam.
Kejadian masa lalu langsung tergambar dalam pikirannya. Seperti bukan dia yang ada didalamnya.
Dia tidak mau lagi. Dia tidak lagi menginginkan semua kasih sayang keluarga Jiang. Dia hanya ingin pergi.
Tapi... Kenapa mereka tidak melepaskannya?
Perlahan mata Jiang Rouxue terpejam dan dia kehilangan kesadarannya.
Jiang Rouxue mati didalam danau yang tenang, ditangan Kakak laki-lakinya yang dulu sangat dia sayangi.
Saat Jiang Rouxue membuka matanya, dia terkejut.
Dia terlahir kembali!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BenGõngZhû __, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Jiang Lengxi mendengar bahwa Jiang Rouxue pingsan. Dia langsung meninggalkan Aula utama dan bergegas kehalaman belakang.
Sesampainya di halaman belakang, Biyao sudah memanggil tabib dan sekarang Jiang Rouxue sedang diperiksa oleh Tabib Sun.
Jiang Rouxue bertanya pada Biyao "Ada apa dengan Xue'er? Bagaimana dia bisa pingsan? "
Biyao menjawab dengan suara bergetar. "Nona baik-baik saja sebelumnya. Tapi beberapa saat kemudian, dia seperti kesulitan bernafas dan tiba-tiba pingsan. "
Jiang Lengxi menangkap kata kunci yang diberikan oleh Biyao. 'Sesak nafas' ! Sepertinya Jiang Rouxue mengingat bagaimana dia mati di kehidupan sebelumnya.
Tangan Jiang Lengxi tergenggam erat. Dia mencoba menahan diri untuk tidam menerobos masuk.
Untungnya Tabib Sun segera keluar. Jiang Lengxi segera menghampirinya dan bertanya "Tabib Sun, bagaimana keadaan Xue'er? "
Tabib Sun mengeluz jenggotnya dan berkata dengan riang. "Dia baik-baik saja. Hanya saja suasana hatinya tidak benar. Jadi kalian usahakan untuk menjaga suasana hatinya tetap stabil selama kurun waktu ini. Aku akan meresepkan obat, Gadis kecil, ayo ikut aku mengambilnya. "
Biyao mengangguk dan berkata pada Jiang Lengxi. "Tuan Muda Pertama, hamba akan mengambil obat dulu. Bixi sedang menjalankan tugas dari Nona dan tidak ada ditempat. Nona akan diserahkan kepada Tuan Muda pertama. "
Jiang Lengxi mengangguk. "Pergilah... "
Setelah itu Jiang Lengxi masuk untuk melihat bagaimana kondisi Jiang Rouxue. Awalnya dia berpikir Jiang Rouxue akan tertidur. Tapi saat dia masuk, dia melihat Jiang Rouxue sudah membuka matanya dan sedang melamun.
Jiang Lengxi tidak berani mendekat. Karena dia tahu bahwa Jiang Rouxue membawa kembali ingatan dari kehidupan masa lalunya. Dia takut Jiang Rouxue masih membencinya. Dia takut kehadirannya akan memicu ketidak stabilan emosi Jiang Rouxue dan membuatnya pingsan lagi.
Jadi Jiang Lengxi hanya berdiri dibalik layar tanpa menunjukkan kehadirannya.
Yang Jiang Lengxi tidak tahu adalah Jiang Rouxue sudah bangun dari tadi. Dia bisa mendengar Biyao meminta Jiang Lengxi untuk menjaganya.
Keduanya diam dengan pikiran masing-masing. Jiang Lengxi memperhatikan bahwa Jiang Rouxue sedang melamun, mungkin dia sedang memikirkan masa lalu. Jiang Lengxi benar-benar tidak tahan dengan keheningan ini. Tapi dia juga tidak ingin menakuti Jiang Rouxue. Jadi dia hanya memperhatikan dari jauh.
Tiba-tiba Jiang Rouxue berkata "Apakah kau tahu bagaimana rasanya berada didasar danau selama beberapa waktu? "
Seluruh tubuh Jiang Lengxi bergetar hebat. 'Xue'er tahu! Dia tahu bahwa aku juga terlahir kembali! Apa yang harus kulakukan? '
Jiang Lengxi perlahan berjalan mendekat. Dia menatap Jiang Rouxue dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Hanya satu kata yang bisa diucapkannya. "Maafkan aku... "
Jiang Rouxue tidak menjawab. Dia hanya terus berkata "Disana sangat dingin. Dingin yang menusuk tulang. Perlahan aku mulai kehabisan nafas. Saat kau menarik tanganku, yang pertama kali kupikirkan adalah naik bersamamu. Tapi kakiku tersangkut akar. Lalu aku berpikir bahwa aku tidak bisa menarikmu mati bersamaku. Aku terlalu menyayangimu! Maka aku mendorongmu menjauh. "
"Yang ku pikirkan saat itu, Kau akan kembali untuk menolongku. Jadi aku bertahan selama yang aku bisa. Tapi kau tidak pernah kembali, sampai paru-paruku sangat sakit dan perlahan aku kehilangan kesadaranku... "
"Tolong berhenti bicara. Jangan lanjutkan! Kumohon... Jangan lanjutkan. Ini salahku! Kau bisa membunuhku atau menyiksaku. Tapi kumohon lupakan semuanya. " Potong Jiang Lengxi.
Dia sudah duduk bersujud ditepi ranjang. Saat Jiang Rouxue menceritakan bagaimana dia mati, hati Jiang Lengxi terasa sangat sakit seperti ditusuk ribuan pisau. Rasa penyesalan dan kesakitan terus menguat didalam hatinya.
"Tapi Kakak, Xue'er tidak menyalahkanmu! " Ucap Jiang Rouxue dengan tenang.
Tidak ada lagi kebencian dalam matanya. Jiang Rouxue melanjutkan "Aku tidak menyalahkanmu. Aku tahu, aku bukanlah putri keluarga Jiang dan aku juga menempati tempat Jiang Wuyan selama bertahun-tahun. Wajar saja jika dia membenciku dan semua orang membenciku. Aku tahu, kau masih sangat menyayangiku ketika Jiang Wuyan kembali. Jika tidak, semua pakaianku dan makananku tidak akan menjadi yang terbaik. Uang saku-ku juga tidak akan bertambah saat itu. "
Jiang Rouxue melanjutkan. "Aku benar-benar sudah tidak menyalahkanmu. Jiang Lengxi, aku sudah memaafkanmu. Jadi kau bisa melepaskannya juga. "
Jiang Lengxi terpaku mendengar perkataan Jiang Rouxue. Dia sudah siap dibenci oleh Jiang Rouxue selama sisa hidupnya. Tapi bagaimana mungkin Jiang Rouxue memaafkannya begitu saja.
Jiang Lengxi yang sudah menangis menggelengkan kepalanya. "Xue'er, tidak boleh. Kau tidak boleh memaafkanku begitu saja. Kau harus membenciku! Benci aku sampai ketulang! "
Jiang Rouxue mencoba duduk dan bersandar di kepala ranjang. "Aku tahu, setiap aku terluka oleh Jiang Wuyan. Kakak akan mengirimkan obat terbaik untukki. Bahkan Jiang Wuyan tidak pernah mendapatkan obat seperti itu. "
Jiang Lengxi sedikit bingung. Kenapa Jiang Rouxue bisa tahu bahwa obat itu diberikan olehnya? Padahal Jiang Lengxi sudah melakukannya secara diam-diam selama beberapa tahun itu. Terkadang, jika luka Jiang Rouxue terlalu parah, Jiang Lengxi akan datang sendiri ditengah malam untuk mengobati Jiang Rouxue.
Apalagi setelah kematian Biyao dan Bixi. Jiang Rouxue benar-benar sendirian saat itu. Tidak ada yang menjaganya. Jiang Lengxi akan datang ditengah malam.
Mencubit titik tidur Jiang Rouxue dan membawa tabib yang dipercayanya untuk mengobati Jiang Rouxue.
"Kak, aku memaafkanmu. Tapi aku tidak bisa memaafkan Jiang Wuyan begitu saja. Dia adalah orang yang menyebabkan aku kehilangan orang-orang terdekatku. Aku ingin membalas Jiang Wuyan. Aku ingin dia merasakan semua penderitaan yang aku rasakan dikehidupan sebelumnya! " Ucap Jiang Rouxue marah.
Jiang Lengxi takut Jiang Rouxue terlalu emosional. Jadi dia buru-buru memeluk Jiang Rouxue dengan erat dan berusaha menenangkannya.
"Aku akan membantumu. Kakak akan membantu balas dendam! Tapi kau tidak boleh menyakiti dirimu sendiri seperti ini! " Jiang Lengxi berusaha menenangkannya.
Akhirnya Jiang Rouxue tenang, meskipun masih menangis. "Apakah itu benar? Apakah kakak akan membantuku membalas dendam? "
Jiang Lengxi melepas pelukannya. Dia menatap wajah Jiang Rouxue yang pucat dan penuh air mata. "Kakak akan melakukan apapun yang Xue'er mau. "
Jiang Rouxue bertanya lagi. "Bahkan jika aku meminta Kakak untuk membunuh orang yang Kakak cintai? "
"Ya.. " Jiang Lengxi menjawab tegas.
"Bahkan jika aku meminta Kakak untuk membunuh semua orang? "
"Ya... "
"Bahkan jika.... "
"Bahkan jika aku meminta Kakak untuk memberikan nyawanya padaku. Apakah itu baik-baik saja? "
Jiang Lengxi tidak langsung menjawab. Tapi dia mengeluarkan belati dari dadanya dan membuka tutup belati itu.
Dengan gerakan cepat, Jiang Lengxi sudah menaruh belati itu ditangan Jiang Rouxue dengan ujung belati menghadap tepat dijantungnya.
Dengan satu hentakan, Belati itu sudah menusuk dada Jiang Lengxi cukup dalam. "Ya! Bahkan jika aku harus mati ditangan Xue'er! Aku akan menurutinya. "
Jiang Rouxue gemetar. Dia tidak menyangka bahwa Jiang Lengxi akan begitu nekad hingga melukai dirinya sendiri.
Jiang Rouxue segera membuang belati itu dan memanggil An Yi.
"An Yi, bawa Kakak ke halaman Tabin Sun. Jangan sampai lukanya menjadi semakin parah! "