ADULT STORY!
Allferd Xander Maverick, seorang direktur perusahaan IT sekaligus chef ternama, siapa sangka jika sebenarnya Allferd adalah sosok yang berbahaya. Allferd adalah seorang psikopat.
Kemudian jiwa obsesi muncul dari psikopat tampan itu ketika melihat sosok aktris yang mirip dengan mendiang kekasihnya 8 tahun lalu.
"Presetan dengan cinta! Aku hanya ingin memilikimu saja. Apakah itu harus mengatas namakan cinta?"
"Keparat. Kau memang tak punya hati,"
Bagaimanapun caranya, Allferd harus membuat Stella menjadi miliknya karena Allferd tidak akan membiarkan dirinya sendiri untuk merasakan kahilangan lagi.
Apapun yang sudah berada di genggaman Allferd, tak akan semudah itu untuk Allferd lepaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon haniyahhputri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Psychopath Obsession - 24
"Allferd, kau masih ingin di sini? Hari sudah menjelang sore dan aku harus kembali ke lokasi syuting. Tinggalah di sini, aku akan pergi menaiki angkutan umum."
Begitulah yang Stella katakan ketika Allferd keluar dari ruangan bersama Aiden. Mendengar Stella mengatakan jika ia akan menaiki angkutan umum, membuat —Victoria, Aiden, Allferd dan Samuel— saling melemparkan pandangan. Tentu saja mereka tak akan membiarkan hal itu terjadi, Stella menaiki angkutan umum seorang diri di negara asing adalah pilihan paling buruk karena nyawa Stella sedang terancam kapanpun dan di manapun
"Aku akan menemanimu ke lokasi syuting, Caryn kau juga harus mempersiapkan untuk membuka kelabmu bukan? Kalau begitu aku akan pergi," Allferd mengeluarkan sebuah kalung berlian yang terlihat begitu sederhana dari saku jasnya, memberikan kalung berlian cantik itu kepada Caryn.

"Untukmu, karena aku tidak tahu kapan kita bisa bertemu lagi." Ucap Allferd, Caryn berusaha tersenyum manis, perasaan Caryn kini antara senang dan sedih. Senang karena Allferd memberikan hadiah spesial, sedih karena akan berpisah dengan kakaknya lagi.
"Kau memberikan hadiah kepada adikku, kau selalu tak mau kalah." Gerutu Aiden, pria itu mengeluarkan selembar foto dari saku hoodie lalu memberikannya kepada Caryn.
"Dia juga adikku!" Sahut Allferd tak mau kalah.
Victoria membulatkan matanya melihat foto itu, tentu saja ia terkejut karena selembar foto itu adalah foto Aiden dan Victora saat berada di Roma lebih tepatnya tiga bulan setelah Aiden dan Victoria berkenalan. Hari itu, Victoria memaksa Aiden untuk berfoto dengannya.
Aiden membuka telapak tangan Caryn lalu meletakkan selembar foto itu di atas tangannya. "Agar kau tak melupakan wajahku," ucapnya singkat.
"Aku kira kau tidak pernah menyimpan foto itu," sahut Victoria, Aiden tidak menjawabnya.
Victoria melihat jarum jam yang berada di tangannya. "Maafkan aku Caryn jika mengganggu, tapi aku juga harus pergi sebelum tempat ini di kunjungi oleh orang lain." Ucapnya tak enak hati.
"Kita kembali pada kesibukan masing-masing. Kalian tahu, aku selalu mendambakan keluarga kita yang dulu. Tapi tak apa, aku mengerti dan aku akan selalu merindukan kalian." Caryn tersenyum, memberi tahu jika ia baik-baik saja dengan semua ini.
Aiden memeluk Caryn, bingung ingin mengatakan apa karena tak mudah bagi Aiden untuk melepaskan pekerjaannya dan tak mudah juga untuknya kembali. "Aku akan merindukanmu juga, jadi jangan bersedih."
"Allferd kemarilah!" Pinta Caryn manja, mau tak mau Allferd memeluk Aiden dan Caryn dalam rengkuhannya, posisi seperti itu semakin menegaskan jika Allferd adalah orang yang paling bertanggung jawab untuk adik-adiknya.
"Baiklah, aku akan pergi. Samuel tolong jaga adikku, dan kau Allferd jangan melupakan pesanku. Stella, ini untukmu." Aiden memberikan sebuah pisau lipat kepada Stella, tapi dengan bungkus pisau berwarna pink seperti ini semakin tidak terlalu mencolok jika benda itu adalah benda tajam.
"Ini apa?" Stella menerima pemberian Aiden, menyusuri setiap inci benda itu.
"Allferd akan menjelaskannya kepadamu tentang benda itu, aku harus pergi sekarang." Aiden tak bisa berlama-lama lagi di sini meskipun sebenarnya ia sangat ingin.
Stella memeluk Aiden, sebagai tanda perpisahan dan ucapan terima kasih. "Thank you Aiden, may god bless you."
Aiden mengangguk, melepaskan pelukan mereka karena kini saatnya Victoria yang memeluk Stella. "Aku akan merindukanmu, jagalah dirimu baik-baik."
"Aku juga, senang bertemu lagi denganmu." Stella melepaskan pelukan mereka.
"Caryn, aku pergi ya bersama kakakmu yang menyebalkan ini. Aku harap kita bisa bertemu lagi nanti," Victoria memeluk Caryn singkat.
Caryn menganggukan kepala. "Tolong jaga kakakku, aku harap kalian bahagia." Pesannya.
Victoria tersenyum begitu manis, lalu mereka—Aiden dan Victoria—pergi meninggalkan kelab Caryn, mereka berdua terlihat begitu terburu-buru.
Kini saatnya Stella berpamitan dengan Allferd, meskipun pekerjaan Stella belum selesai di sini tapi mendengar perkataan Allferd tadi membuatnya sedikit tak yakin jika mereka akan bertemu kembali setelah pertemuan hari ini. "Aku juga pergi Caryn, terima kasih banyak sudah menjagaku. Aku harap kau akan baik-baik saja,"
"Aku akan merindukanmu," gumam Caryn.
"Aku juga," Stella melepaskan pelukan mereka, kini menatap Samuel dengan tulus, menyampaikan beribu terima kasih untuk Samuel dari tatapan matanya.
Tentu saja Samuel sangat tahu apa yang ingin Stella sampaikan meskipun wanita itu belum berbicara kepadanya. "Tidak usah khwatir, kau tidak merepotkanku sama sekali. Bukan aku dan Caryn yang kau harus khawatirkan melainkan kau harus mengkhawatirkan dirimu sendiri,"
Stella tercenung karena Samuel berhasil membalas apa yang ingin di sampaikannya begitu tepat, sejak awal Stella sudah sadar jika Samuel bukanlah pria biasa. "Terima kasih," ucapnya begitu tulus.
"Kalau begitu aku dan Stella harus pergi. Sampai jumpa!"
Allferd menggandeng tangan Stella lalu pergi meninggalkan Caryn dan Samuel.
***
Stella begitu heran melihat sikap Allferd sore ini, tumben sekali pria itu membukakan pintu mobil untuknya dan selalu menggandeng tangannya, seakan pria itu ingin menutupi dan melindungi Stella.
"Allferd, kata Aiden kau akan menjelaskan kepadaku benda apa ini." Stella mengeluarkan benda pemberian Aiden, masih tidak mengerti benda apakah ini.
Seraya mengemudikan mobilnya, Allferd menjawab pertanyaan Stella dengan tenang. "Itu adalah pisau lipat, aku akan mengajarimu menggunakan pisau lipat dan pistol dengan baik. Kapan kau memiliki waktu luang?"
Stella bergumam, memikirkan jawaban dari pertanyaan Allferd "aku tidak tahu kapan aku memiliki waktu luang, sepertinya malam ini aku habiskan untuk syuting."
Allferd menadahkan tangannya, memberi kode agar Stella memberikan pisau itu kepadanya.
"Aku akan mengembalikan pisau itu padamu setelah kau sudah bisa menggunakannya,"
Mau tak mau Stella harus memberikan hadiah Aiden kepada Allferd. "Up to you,"
"Katakan kepada Jade jika kau akan sedikit terlambat datang ke lokasi syuting,"
"Kenapa?"
"Kau harus makan terlebih dahulu."
***
Sampai saat ini proses syuting berjalan sangat lancar, Allferd menggunakan kacamata hitam, berdiri di belakang para crew yang sedang bekerja untuk merekam adegan. Allferd akui jika kemampuan Stella berakting patut harus di banggakan, Stella begitu menakjubkan ketika berusaha memerankan sosok orang lain, apa lagi saat adegan Stella menangis histeris membuat Allferd tanpa sadar ikut menghayati peran mereka jika saja anggota crew tidak berteriak dan meminta para pemain untuk mengulangi adegan tersebut.
Mata tajam Allferd tak hanya terus memperhatikan gerak-gerik Stella, matanya terus menyapu dari ujung hingga ke ujung sekitar lokasi syuting, mencari gerak-gerik yang terlihat mencurigakan.
"Damian, apakah ada hal yang mencurigakan?" Tanya Allferd pelan kepada orang yang entah sedang dimana keberadaannya melalui benda kecil yang menempel di telinga Allferd.
"Sejak tadi aku sedang memperhatikan titik jam dua dari posisimu,"
"Terus awasi, aku sudah menyadari ada yang mencurigakan di sana. Aku akan mencari titik lainnya,"
Allferd kembali terdiam dengan ekspresi tenang, bahkan sejak tadi Allferd selalu terlihat tenang karena pria itu seperti lautan.
Laut itu tenang, sekalinya terusik ia akan memakan korban jiwa, sama halnya seperti seorang Allferd.
Selama posisi Allferd menyilangkan kedua tangannya, tangan kanan Allferd sudah menggenggam pistol sejak tadi.
"CUT!" Teriak sang sutradara mengakhiri adegan yang menguras emosi. Stella menghela napas lega, akhirnya ia bisa beristirahat meskipun waktunya tak lama.
DOR!
Musuh menarik pelatuk dan meluncurkan peluru ke arah Stella. Peluru itu bergerak secepat kilat, untung saja peluru itu meleset dan hanya menggores sedikit bahu Stella meskipun wanita itu menggunakan pakaian yang menutupi bahunya. Detik selanjutnya, suara tembakan kembali terdengar. Bukan di arahkan kepada Stella melainkan orang yang berniat menembak Stella tadi.
DOR! DOR!
Allferd terus meluncurkan peluru ke arah jam dua sambil berlari secepat mungkin lalu meraih Stella ke dalam pelukannya, seakan tubuh Allferd adalah tameng untuk Stella.
"DAMIAN, KEJAR ******** ITU!"
Damian mengejar sang pelaku yang sudah melarikan diri secepat mungkin, suasana lokasi syuting menjadi ricuh seketika.
"Tenanglah, kau aman bersamaku." Bisik Allferd berusaha menenangkan Stella.
Tangan kiri Allferd merengkuh Stella sedangkan tangan kanan Allferd menodongkan pistol, mencari titik mencurigakan lainnya. Sepertinya orang-orang yang mengincar Stella sudah melarikan diri, apa lagi Stella kini berada di bawah kuasa Allferd yang artinya 'langkahi jasad Allferd terlebih dahulu sebelum membunuh Stella'.
"Allferd, apa yang sebenarnya terjadi?" Sang Sutradara melangkahkan kakinya mendekati Allferd dan Stella, merasa tidak paham dengan apa yang terjadi barusan.
Allferd menghelakan napasnya perlahan, masih terdiam karena sedang memikirkan jawabannya. Cepat atau lambat mereka semua harus tahu jika Stella sedang berada dalam bahaya.
"Stella sedang berada dalam bahaya, nyawanya bisa terancam kapanpun juga."
"Kenapa kau tidak melaporkan hal ini kepada polisi?" Sang Sutradara berusaha bersikap tenang.
Melaporkan kepada polisi adalah hal paling gila yang tak pernah Allferd rencanakan sedikitpun. Bila kasus ini di tangani oleh pihak berwajib tak hanya Rodriguez menjadi tersangka, melainkan Allferdpun akan ikut menjadi tersangka apa bila latar belakang Allferd di selidiki.
Allferd menggelengkan kepala, menolak ide gila itu. "Aku rasa itu bukanlah ide yang bagus, aku masih bisa menangani ini."
Sang sutradara mengangguk karena tak bisa memaksa Allferd, lagi pula waktu sudah memasuki dini hari. "Stella, kau bisa kembali beristirahat. Kau pasti masih terkejut dengan kejadian barusan,"
Stella tidak menjawab, masih terdiam di dalam rengkuhan Allferd.
"Allferd, antarkan Stella kembali ke hotel. Jam 9 nanti Stella harus sudah ada di sini untuk melanjutkan proses syuting," sang Sutradara menepuk bahu Allferd dua kali lalu kembali ke posisinya, mengambil adegan yang akan di perankan oleh pemain lainnya.
"Stella ayo," Allferd melepaskan pelukannya, mengajak Stella untuk pergi dari tempat ini namun Stella semakin mengeratkan pelukannya, tak ingin menjauh sedikitpun dari Allferd. Karena hanya berada di dalam rengkuhan Allferd, Stella merasa aman. Selama hidupnya, kehidupan Stella tak pernah terancam seberbahaya ini.
"Allferd, jangan tinggalkan aku."
besttt
semangat author 💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
"si*l*n banget tu orang" jgn di sensor semua "****** banget tu orang" jdnya kan pra readers kurfah srn aja,maaf klo mslnya nyakitin hati😭🙏