Angin siang itu berhembus cukup kencang, memainkan helai rambut panjang milik Jelita yang sedang duduk santai di selasar universitas. Bagi Jelita, dunia hanya sebatas apa yang bisa dilihat oleh mata dan logika. Baginya, cerita hantu hanyalah dongeng pengantar tidur untuk orang-orang penakut.
"Hari ini kita nggak ada kelas! Gimana kalau kita ke gedung kosong sebelah," Ajak salah satu teman Jelita yang bernama Dinda. Matanya berkilat penuh rencana tersembunyi.
Jelita mengangkat alisnya sebelah, menatap Dinda dengan tatapan remeh.
"Buat apa kita kesana? Kamu mau ngajak mojok ya?" selidik Jelita sambil tersenyum tipis.
"Kamu kan nggak pernah takut dan nggak pernah percaya hal kaya gitu. Kita mau tantang kamu kesana untuk uji nyali," Kata Dinda tegas.
"Bener juga! Lumayan hiburan di saat lagi kelas kosong," sambung Ira yang tiba-tiba bergabung, memberikan dorongan ekstra agar Jelita terpojok.
Jelita Tertawa Kecil, Sebuah Tawa Yang Mengandung Kesombongan.
Oke, Siapa Takut? Ayok
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 SERANGAN
Setelah membisikkan peringatan yang mencekam itu, sosok Arjuna perlahan memudar menjadi kepulan kabut hitam yang dingin, meninggalkan aroma cendana yang kuat di kamar Jelita.
Suasana kamar yang tadi gelap gulita perlahan kembali diterangi cahaya sore, namun sisa-sisa aura kemarahan Arjuna masih terasa di udara.
Dinda langsung merosot duduk di lantai, napasnya tersengal-sengal. "A-aduh aura Mas Arjuna kalau lagi marah beneran bukan main. Aku berasa kayak lagi di dalam freezer raksasa," keluhnya sambil mengusap lengan yang merinding.
"Tapi Jel, kamu dengar kan? Dia bilang tamu tak diundang. Berarti malam ini bakal ada serangan?"
Ira berjalan mendekati jendela, menatap langit yang mulai berubah warna menjadi.
"Bukan cuma serangan biasa, Din. Ini perang harga diri di alam sana. Dan Jelita adalah pusatnya."
Ia menoleh ke arah Jelita yang masih berdiri mematung. "Jel, apa kamu siap? Kamu sadar kan kalau sekarang kamu bukan cuma manusia, tapi target politik alam gaib?"
Jelita meremas liontin birunya. Kehangatan dari permata itu seolah memberinya kekuatan tambahan. "Aku tidak punya pilihan lain, Ra. Aku sudah menerima mahkota itu, dan aku tidak akan membiarkan Arjuna menghadapi mereka sendirian hanya karena mereka membenciku."
Menjelang maghrib, suasana rumah Jelita terasa semakin asing. Bayangan pepohonan di halaman luar tampak lebih panjang dan bergerak-gerak seperti tangan yang ingin menggapai dinding rumah. Di luar gerbang rumah, sosok pria berjaket kulit yang tadi di kampus terlihat berdiri bersandar pada tiang lampu jalan.
Ia tidak bergerak sedikit pun, matanya yang tajam terus mengawasi setiap sudut jalanan yang mulai sepi. Dinda yang mengintip dari balik gorden hanya bisa menelan ludah melihat pacar hantunya sedang bertugas dengan sangat serius.
Jelita menyadari bahwa setiap pintu dan jendela rumahnya kini dikelilingi oleh garis cahaya tipis berwarna keunguan sebuah segel perlindungan yang dipasang Arjuna agar tidak ada makhluk lain yang bisa menyusup masuk.
Tepat saat adzan maghrib berkumandang, suara ketukan pelan terdengar di pintu depan. Namun, itu bukan ketukan manusia. Suaranya kering, seperti gesekan tulang di atas kayu keras.
Tok... Tok... Tok...
"Jangan dibuka!" seru Jelita saat melihat ibunya hendak berjalan menuju pintu.
Diana mengernyit bingung. "Kenapa, Jel? Siapa tahu itu tetangga atau kurir?"
"Jangan, Bu. Biar Jelita saja," ucap Jelita dengan nada tegas yang membuat ibunya terdiam.
Jelita mendekati pintu, namun ia tidak membukanya. Melalui celah bawah pintu, terdengar suara desis halus seperti ular diikuti kabut hitam yang berbau busuk mencoba merayap masuk.
Begitu menyentuh segel ungu Arjuna, terdengar bunyi letupan listrik yang tajam, saat kabut itu terbakar habis.
Sebuah suara serak, parau, dan bergetar terdengar dari balik pintu, bukan bahasa manusia, melainkan geraman yang penuh kebencian.
Tiba-tiba, dari luar terdengar suara keras disusul bunyi dentingan logam yang memekakkan telinga.
Gama sudah bergerak. Sang ksatria bayangan itu sedang menghalau tamu pertama yang mencoba mengganggu ketenangan rumah Jelita.
"Siapa yang bertamu Jelita?" Tanya Diana. Jelita mulai bersikap normal agar ibunya tidak curiga.
"Bukan siapa-siapa Bu! Mungkin orang yang salah alamat, sebaiknya Ibu istirahat saja." Desak Jelita dengan menuntun ibunya menuju ke dalam kamar.
"Kamu ini kenapa sih? Tiba-tiba jadi aneh."
Jelita hanya menampilkan cengiran bodohnya.
"Tidak apa-apa Ibu! Sudah Ibu istirahat saja, Jelita mau ke depan dulu ada Ira dan Dinda masih ada di sini."
Diana memicingkan mata, menatap Jelita dengan penuh selidik. Namun, karena melihat wajah putrinya yang tampak biasa saja meski sebenarnya jantung Jelita berdegup kencang.
Diana akhirnya luluh juga. "Ya sudah, Ibu masuk kamar. Tapi kalau ada tamu lagi, tanya yang jelas siapa orangnya. Zaman sekarang banyak orang aneh," pesan Diana sebelum benar-benar menutup pintu kamarnya dengan bunyi Klik yang mantap.
Jelita menghela napas lega. Begitu punggung ibunya menghilang, ekspresi normal Jelita langsung luruh. Ia segera berlari kembali ke ruang tamu di mana Ira dan Dinda sudah pucat pasi.
"Jel... di luar suaranya makin ngeri!" bisik Dinda sambil menunjuk ke arah pintu depan. Di luar, terdengar suara lengkingan panjang yang memilukan bercampur dengan derap kaki yang sangat cepat di atas aspal dan tanah.
Jelita mengintip dari balik gorden. Di halaman depan, pemandangan yang tersaji benar-benar di luar nalar. Kabut hitam pekat mulai mengepung. Di tengah kabut itu, terdengar bunyi pedang perak Gama yang membelah udara dengan kecepatan luar biasa.
Gama tidak lagi berwujud mahasiswa berjaket kulit. Sosoknya kini tampak lebih besar, mengenakan baju zirah hitam legam. Setiap kali pedangnya mengenai lawan, terdengar suara jeritan melengking yang pecah seperti kaca yang dihantam benda keras.
Ia sedang menghadapi tiga sosok bayangan tinggi kurus dengan kuku-kuku tajam yang sesekali mengeluarkan bunyi gesekan saat mencoba mencakar dinding rumah.
"Gama... dia sendirian," gumam Jelita khawatir.
"Jel, lihat! Garis ungu di pintu rumahmu mulai meredup!" teriak Ira panik.
Terdengar suara derit kayu yang mulai retak saat segel Arjuna dipaksa menahan beban dari makhluk-makhluk luar tersebut.
"Wah! Mas pacar hantuku terlihat sangat keren." Bisik Dinda sangat takjub melihat Gama.
Ira langsung menyikut lengan Dinda dengan keras. "Dinda! Sempat-sempatnya kamu fangirling!"
Di luar Gama mengayunkan pedang batunya, menciptakan gelombang kejut yang menghasilkan bunyi ledakan udara yang berat, membuyarkan kabut busuk.
Namun, musuh terus berdatangan. Suara geraman mulai terdengar dari segala arah, mengepung rumah mereka.
"Arjuna, aku butuh kamu," bisik Jelita. Ia menggenggam mawar hitam kristalnya.
Tiba-tiba, suasana menjadi hening sesaat. Lalu, suara dentuman berat, mengguncang rumah. Suhu turun drastis. Sebuah bayangan raksasa muncul dari langit-langit, menembus lantai dengan bunyi gemericik cairan hitam yang meluap. Aroma cendana seketika membungkam bau busuk luar.
"SIAPA YANG BERANI MENGUSIK KETENANGANKU?!" Suara Arjuna menggelegar, membuat kaca jendela bergetar hebat hingga hampir pecah.
Ia muncul dengan wujud penuhnya, memegang keris pusaka yang berdesis mengeluarkan api ungu.
Arjuna melirik Gama sekilas. Dengan satu gerakan tangan, ia melepaskan gelombang energi. Terdengar suara yang kuat, membuat pedang Gama menyala lebih terang.
Gama menggeram rendah, lalu kembali menebas bayangan-bayangan itu hingga mereka hancur menjadi abu.
Arjuna kemudian berbalik menatap Jelita. "Kau aman, Jelita. Maafkan aku karena membiarkan sampah-sampah ini mendekat."
"Arjuna, Ibu ada di dalam kamar! Tolong jangan biarkan mereka masuk," pinta Jelita panik.
"Jangan khawatir. Rumah ini sekarang berada di bawah perlindunganku sepenuhnya."
Arjuna menatap pintu yang terus dihantam dari luar oleh sesuatu yang jauh lebih besar.
"Mereka tidak akan berhenti. Kita tidak bisa tetap di sini."
Arjuna mengulurkan tangannya. Ia menghentakkan kakinya ke lantai, menciptakan dentuman cahaya ungu yang membentuk lingkaran pelindung di sekitar mereka.
Plus Ira & si berisik Dinda. Kombinasi maaaauuut... 🤣🤣🤣
Tiba2 ke inget lagu ini... Kesian jg si Arjuna. Tapi ya itulah hdp. 2 alam tidak mungkin bersatu...
Semangat ya Thor. Tuyulku ngikut nih. 🤣