NovelToon NovelToon
Menikahi Pria Yang Mencintai Adik Tirinya

Menikahi Pria Yang Mencintai Adik Tirinya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Perjodohan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Yellow Sunshine

Pada ulang tahun pernikahannya yang pertama, Hazel Frost menemukan suaminya, Mason Roux mencium wanita lain dengan kedua matanya. Dan yang lebih menghancurkan lagi, bahwa wanita itu adalah adik tiri suaminya, Jennifer.
Pernikahan yang seharusnya menjadi kebahagiaan pun perlahan berubah menjadi rahasia yang menyakitkan. Meski tahu hatinya tidak pernah benar-benar dimiliki, Hazel tetap bertahan. Ia mencoba membuat Mason melihatnya sebagai seorang istri, bukan sekadar wanita yang terpaksa harus dinikahi.
Namun semakin lama, Hazel mulai menyadari satu hal, bahwa tidak semua cinta bisa diperjuangkan sendirian. Lalu ketika ia akhirnya memilih berhenti dan pergi, Mason justru mulai menyadari perasaannya yang sebenarnya.
Tapi apakah semuanya sudah terlambat? Apakah Hazel masih bersedia kembali pada pria yang pernah menghancurkan hatinya? Atau justru Mason Roux yang akan menyesal seumur hidup karena kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 15

(Flashback H-15 sebelum pernikahan)

Ruang rawat itu dipenuhi aroma obat-obatan dan suara mesin monitor yang berbunyi pelan secara teratur. Cahaya putih dari lampu di langit-langit terasa terlalu terang untuk malam yang panjang seperti ini. Dan meskipun Sarah sudah sadar sejak beberapa menit yang lalu, tidak ada satu pun dari kami yang benar-benar merasa tenang.

Aku duduk di sudut ruangan bersama Ibu dan Ayah. Jake berdiri tidak jauh dariku dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana, sesekali menoleh ke arahku untuk memastikan aku baik-baik saja. Rowan berdiri di dekat jendela dengan wajah lelah yang berusaha ia sembunyikan. Sementara Jennifer duduk diam di sofa kecil dekat pintu, tampak tenang seperti biasa.

Dan Mason, ia berada di sisi tempat tidur Sarah sejak tadi. Tidak berpindah sekali pun, juga tidak banyak bicara. Tangannya menggenggam tangan ibunya erat, seolah takut kehilangan sesuatu jika ia melepaskannya walau hanya sebentar.

Aku memandangnya dalam diam. Dan untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, aku melihat Mason Roux terlihat benar-benar rapuh. Tidak ada dinding dingin itu malam ini. Tidak ada tatapan tajam yang selalu membuatku merasa harus berjuang lebih keras untuk tetap berdiri di dekatnya. Yang ada hanya seorang pria yang tampak begitu takut kehilangan seseorang yang sangat ia cintai.

“Ibu…” suaranya pelan, nyaris serak. “Aku minta maaf.”

Ruangan itu terasa semakin sunyi setelah kalimat itu keluar dari bibirnya.

Sarah menatap putranya beberapa detik. Wajahnya masih pucat, dan ada selang infus yang menempel di tangannya. Namun matanya tetap lembut saat memandang Mason.

“Aku tidak seharusnya mengatakan semua itu,” lanjut Mason lirih. “Aku juga tidak seharusnya membuatmu sampai seperti ini.”

Aku menunduk pelan. Dadaku terasa sesak tanpa alasan yang bisa kujelaskan dengan benar. Karena melihat Mason seperti ini, terasa menyakitkan dengan cara yang berbeda. Ia bisa selembut itu. Ia bisa memperlihatkan penyesalan sebesar itu. Hanya saja bukan kepadaku.

Sarah menghela napas perlahan. Tangannya bergerak pelan, membalas genggaman putranya. “Aku tidak sakit hanya karena kata-katamu, Mason.”

Ia berhenti sejenak, sebelum akhirnya melanjutkan perkataannya. “Aku sakit karena… aku merasa tidak mengenali anakku sendiri saat itu.”

Mason menunduk lebih dalam. Aku bahkan melihat rahangnya mengeras, seolah ia sedang menahan sesuatu di dalam dirinya.

“Kau selalu begitu lembut,” lanjut Sarah pelan. “Kau menghormati perempuan. Kau menyayangi keluarga ini.”

Matanya tampak sedikit berkaca-kaca.

“Tapi tadi… kau seperti orang lain.”

Tidak ada nada marah dalam suaranya. Dan mungkin justru itu yang membuat semuanya terasa lebih berat. Karena kekecewaan seorang ibu sering kali jauh lebih menyakitkan daripada kemarahan.

“Aku tidak bermaksud menyakitimu,” ucap Mason akhirnya.

Suara rendahnya terdengar lelah. “Aku hanya… tidak tahu bagaimana menghentikan semuanya.”

Kalimat itu membuat ruangan kembali tenggelam dalam keheningan. Aku mengangkat kepala perlahan dan menatapnya. Untuk pertama kalinya, aku merasa benar-benar melihat sesuatu di balik sikap dinginnya selama ini. Kelelahan, tekanan, dan mungkin ketakutan.

Sarah memandang putranya cukup lama sebelum akhirnya tersenyum kecil. Senyum yang lemah, tapi tetap penuh kasih sayang. “Ibu hanya tidak ingin melihatmu kehilangan dirimu sendiri.”

Mason memejamkan mata sebentar. Lalu beberapa detik kemudian, ia membuka matanya kembali dan berkata pelan, namun cukup jelas untuk didengar semua orang di ruangan itu. “Aku akan melakukan pernikahan ini.”

Aku sontak membeku. Jantungku seperti berhenti berdetak selama satu detik. Dan semua orang tampak terdiam. Bahkan Rowan yang sejak tadi berdiri tenang di dekat jendela akhirnya menoleh penuh keterkejutan.

Namun Mason belum selesai. “Bukan hanya itu,” lanjutnya. “Aku ingin mempercepatnya.”

Tatapanku langsung jatuh padanya. “Dua minggu dari sekarang.”

Kalimat itu terasa seperti sesuatu yang jatuh tepat di tengah ruangan dan memecahkan seluruh keheningan yang ada. Aku tidak tahu siapa yang pertama kali menarik napas terkejut. Mungkin Ibu, atau mungkin aku sendiri.

Sarah menatap putranya dengan mata membesar. “Mason…”

“Aku serius.” Suaranya tetap tenang, tapi kali ini tidak terdengar ragu. “Pertunangan bisa dilakukan minggu ini.”

Aku menatapnya tanpa mampu mengatakan apa pun. Sementara di sekelilingku, semua orang tampak masih mencoba mencerna keputusan itu.

Rowan akhirnya menghela napas panjang, lalu mengangguk kecil. Wajahnya menunjukkan kelegaan yang bahkan tidak ia coba sembunyikan. Ibu dan Ayah saling berpandangan seolah tidak menyangka semuanya akan berjalan secepat ini.

Sementara Jake langsung menoleh ke arahku. Tatapannya seakan bertanya apakah aku baik-baik saja. Dan anehnya, aku sendiri tidak tahu jawabannya. Karena ini seharusnya menjadi sesuatu yang kuinginkan sejak awal. Bukankah begitu?

Aku sudah berjuang begitu keras untuk tetap bertahan di dekat Mason. Aku sudah mencoba berkali-kali untuk membuatnya membuka hatinya sedikit saja untukku. Namun sekarang, saat keputusan itu akhirnya datang, aku justru merasa sesak.

Aku kembali menatap Mason. Ia masih duduk di sisi tempat tidur Sarah. Tidak menatapku, tidak tersenyu, dan tidak menunjukkan apa pun. Dan saat itulah aku menyadari sesuatu yang perlahan menghancurkan bagian paling rapuh dalam diriku. Bahwa ia hanya memilih pernikahan ini, bukan berarti ia memilihku.

Sarah menggenggam tangan putranya semakin erat. Air matanya jatuh perlahan, meskipun bibirnya tersenyum bahagia. “Terima kasih…” bisiknya lirih. “Ibu bahagia mendengarnya, Nak.”

Mason hanya mengangguk pelan. Tidak ada senyum bahagia di wajahnya, juga tidak ada kehangatan. Melainkan hanya ketenangan yang terasa terlalu berat.

Aku menunduk pelan, mencoba menenangkan jantungku sendiri yang berdetak tidak karuan. Dan di tengah semua itu, aku tanpa sadar menoleh ke arah Jennifer.

Ia masih duduk di tempatnya. Tampak tenang dan diam. Senyumnya masih ada seperti biasa. Namun entah mengapa, ada sesuatu yang terasa aneh. Sesuatu yang tidak bisa benar-benar kujelaskan.

Matanya tidak terlihat bahagia. Dan untuk sesaat, perasaan tidak nyaman itu kembali muncul di dalam diriku. Begitu cepat, samar, tapi cukup untuk membuatku sulit mengabaikannya.

“Ada sesuatu yang tidak berubah darinya…” batinku pelan. “…dan aku tidak tahu apa itu.”

Suara mesin monitor kembali memenuhi ruangan dalam hening yang panjang. Tidak ada yang berbicara setelah itu. Seolah keputusan besar yang baru saja Mason ambil masih terlalu berat untuk disentuh dengan kata-kata.

Aku menatap jemariku sendiri yang saling menggenggam di atas pangkuan. Hangat, tapi tampak gemetar. Dan perlahan-lahan, aku mulai memahami sesuatu yang sebelumnya tidak pernah benar-benar ingin kuakui.

Bahwa ini bukan keputusan yang lahir karena cinta. Bukan karena Mason akhirnya melihatku. Bukan karena semua usahaku berhasil membuatnya membuka hati. Ia mengambil keputusan ini karena rasa bersalah. Karena Sarah. Karena ia tidak ingin melihat ibunya terluka lagi. Dan anehnya, meski aku memahami semua itu, hatiku tetap tidak mampu berhenti berharap.

Aku kembali mengangkat kepala dan memandang pria itu sekali lagi. Wajahnya terlihat lelah diterpa cahaya putih rumah sakit. Bahunya tetap tegak, tapi sorot matanya tampak kosong dengan cara yang sulit dijelaskan.

Dan entah mengapa, aku justru merasa ingin melindunginya. Bahkan setelah semua kata-kata yang pernah ia lontarkan padaku. Bahkan setelah ia membuatku menangis. Bahkan setelah ia mengatakan bahwa aku hanya seseorang yang memaksakan diri masuk ke hidupnya. Aku masih tetap ingin tinggal.

'Ini yang kuinginkan…' , pikirku pelan, seraya menelan napas. '…bukankah begitu?'

Namun kali ini, aku tidak lagi merasa seperti gadis yang sedang mengejar mimpi indah. Karena sekarang aku tahu kenyataannya, bahwa Mason tidak memilihku. Ia hanya memilih untuk bertahan di tempat yang sama denganku.

Dan meski itu menyakitkan, aku tetap tidak ingin mundur. Karena mungkin, suatu hari nanti, ia akan melihatku bukan sebagai kewajiban. Bukan sebagai keputusan yang terpaksa harus diambil. Tapi sebagai seseorang yang benar-benar ingin ia pilih.

Aku memandangnya lama sebelum akhirnya menunduk kembali. Dan di dalam ruang rawat yang sunyi itu, di tengah suara mesin monitor dan napas pelan orang-orang yang menahan lelah, aku membuat janji kecil pada diriku sendiri.

'Aku akan membuatmu tidak menyesali keputusan ini, Mason. Apa pun yang terjadi nanti.' , batinku.

1
Dew666
😍😍
Hatnah Batulicin
aku kalau bca novel yg menyebutkan dirinya "aku" maaf tidak lanjut lgi 🙏🙏🙏
partini
aku menebak Endingnya bersatu lagi secara tergila gila Banggt sama suaminya,,aku baru baca Ampe Ina inu suaminya sama mantannya ending bersatu lagi 🤣
Yellow Sunshine: Tebakan yang menarik. Stay tuned ya! Kita lihat, apakah kisah Mason-Hazel akan happy atau sad ending 🤗
total 1 replies
partini
Thor ini flashback ke -01 kah
Yellow Sunshine: Cerita flashback dimulai dari Chapter 3 ya 🤗
total 1 replies
partini
hemmm wanita di mana" itu cinta buta di sakiti darah" pun ga terasa masih bertahan demi cinta weleh
Yellow Sunshine: Sakit sih 💔💔💔
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!