Setan itu banyak bentuknya. Tak kasat mata. Mengalir dalam setiap aliran darah manusia-manusia yang penuh dengan amarah, benci dan dendam. Dan inilah yang dialami oleh Marni. Pernikahan yang membuat kehidupannya hancur dan terjun ke dalam lubang penderitaan. Bukan hanya karena kemiskinan yang tak berkesudahan namun perlakuan suami yang tidak beradab. Akankah Marni tetap bertahan ataukah lari mencari kebahagiaan yang lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reina aka dian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Penampakan
"Ibu tenang saja. Tarik nafas dan keluarkan perlahan, ini akan sangat cepat jika Ibu membiarkan petugas kami bekerja," ucap salah seorang perawat.
Mata Bu Konasih melihat ke seluruh penjuru ruangan, dia memegang tengkuknya, merasakan cemas yang sulit dikendalikan.
Sedangkan di tempat yang lain,ada seseorang yang datang menghampiri Jagat.
"Semuanya sudah beres, Pak!" ucap orang itu dengan sopan menunduk.
Marni yang melihat itu tambah minder duduk di samping Jagat.
"Semua bukti jangan sampai terlewat, denqan pastikan mereka tidak lari dari perjanjian ini," kata Jagat.
Marni menebak, kalau percakapan itu tentang dirinya dan juga Joko yang sebentar lagi akan berpisah. Meskipun mereka tidak benar-benar bersatu. Dari awal sampai akhir, pernikahan itu tidak menghadirkan kebersamaan diantara dirinya dan juga Joko.
Dan setelah beberapa saat menunggu, tibalah Bu Konasih yang berjalan ke arah Marni dengan wajah yang pias dan raut wajah yang datar.
Baru kali ini Marni melihat tatapan ibu mertuanya sekosong itu.
"Marni, tandatangan disini," ucap jagat pada Marni yang masih memp-erhatikan sosok Bu Konasih.
"Heh?" Marni melongo, dahinya mengerut.
"Tanda tangan," Jagat mengulangi.
"Jangan bilang kamu tidak bisa tanda tangan?"
"Bisa," Marni dengan ragu.
Marni kemudian mengambil pena dan kertas yang begitu banyak tulisan dan disitu ada namanya dan nama suaminya.
"Kita sudah dapat bukti jika Joko sudah melakukan kekerasan padamu. Itu bisa menjadi bukti yang kuat untuk perceraian ini," kata Jagat.
Marni hanya mengangguk. Bahkan untuk mengingat perlakuan Joko saja, dia tidak mampu. Memorinya menolak ingatan itu. Hatinya sudah terlalu sakit.
Marni menggoreskan sebuah garis yang membentuk sebuah garis lurus dengan huruf 'm' kecil di akhir goresannya.
"Sudah?"
"Marni mengangguk,"
"Sangat sederhana, seperti dirimu..." ucap Jagat setelah menerima kertas dan pena dari tangan Marni.
Bahkan Marni baru pertama kalinya melihat pena sebagus dan sehalus itu hasil tulisannya. Berbeda dengan pena yang biasa dia lihat dan dipakai untuk menulis hutang warung.
Dan beberapa saat Marni menyadari kalau ada yang janggal.
"Loh? Ibu mana?' lirihnya sembari matanya melihat ke segala arah.
"Bukannya tadi Ibu sudah selesai?"
"Kamu mencari siapa?" tanya Jagat yang menyuruh orang kepercayaannya itu pergi.
"Tadi ibu mertuaku sudah datang. tapi entahlah, Kenapa dia sekarang tidak ada disini," Marni yang masih tengok kanan kiri.
"Kita lihat saja di ruang laboratorium," ajak Jagat.
Seingatnya dia juga melihat sekelebat bayangan seorang wanita paruh baya, namun dia tidak begitu memperhatikan. Namun perasaannya mengatakan hal itu tidak wajar. Bisa saja yang dilihat Marni bukan Bu Konasih.
"Pak Bu? Maaf? Kita butuh darah itu secepatnya!"
"Baik," Jagat menjawab singkat sambil tangannya menggenggam tangan Marni.
"Pasti ada yang tidak beres!" ucap Jagat namun masih bisa ditangkap telinga Marni.
"Apapun yang terjadi, jangan pernah membiarkan pikiranmu kosong. " Jagat yang menengok ke arah Marni.
Marni menjawab singkat, "Ya!"
Brak!
Jagat membuka pintu ruang laboratorium dengan sangat kencang namun...
"Maaf, apa yang anda lakukan?" tanya seseorang.
"Dimana Bu Konasih?"
"Sedang diambil darahnya. Golongan darahnya sama dengan pasien. Dan sekarang Bu Konasih sedang berbaring disana,"
Jagat dan Marni saling pandang sebelum akhirnya menghampiri Bu Konasih yang terbaring namun ada yang aneh.
"Kenapa dia?" tanya Jagat.
"Emergency!" teriak seseorang saat melihat mata Bu Konasih melotot dengan badan yang kejang-kejang.
Jagat menarik Marni ke arahnya, dia membiarkan semua orang menjalankan tugasnya.
"Astaga! Ada apa lagi ini?!" Jagat yang melihat semua orang sibuk memberikan pertolongan.
"Ada apa dengannya?"
"Tidak tahu. Mungkin ada hal yang tidak bisa dikendalikan," sahut jagat yang entah Marni bisa mennagkap maksudnya atau tidak. yang jelas, Joko sedang mengalami keadaan gawat sedangkan Bu Konasih tidak bisa diharapkan.
"Kirimkan orang kemari!" Jagat menelepon seseorang.
"Sebaiknya kita keluar," Jagat yang memberikan ruang yang aman pada Marni.
"Bagaimana Ibu?" tanya marni.
"Orang akan mengurusnya, yang sekarang harus dipikirkan Joko. Astaga! kenapa mereka begitu menyusahkan!" Jagat yang memutar otak.
"Tunggu! Saya butuh bantuanmu!" ucap pada seseorang wanita yang berjas putih yang keluar dari ruang laboratorium dengan raut wajah yang ketakutan, sepertinya dia ingin mengikuti Bu Konasih yang di dorong dengan brankar ke arah sebuah ruang tindakan.
"Tapi, Pak..."
"Aku butuh darah. ada seseorang yang menunggu. Saya harus menyelesaikan ini, kamu bantu saya. Atau kamu ingin citra rumah sakit ini hancur gara-gara kelalaian dalam menangani pasien?," ucap Jagat.
"B-baik, pak..."
Wanita itu masuk kembali diikuti oleh Jagat dan juga Marni.
"Duduk disini, pak..." wanita tadi tampak gugup dan takut.
"Tidak perlu takut, lakukan saja dengan baik," Jagat dengan tatapan tajam.
Lengan Jagat diikat oleh benda seperti sabuk, sebelum akhirnya wanita berjas putih itu mengambil jarum suntik dan mengambil darah untuk di cek.
Wanita itu menerima telepon dan hanya berkata , "Baik, Pak... Sedang diperiksa,"
Sementara Marni memandang Jagat dengan tatapan tidak percaya.
"Kenapa?"
"Suamimu membutuhkan darah itu, bukan?"
"Kenapa kamu melakukan ini?"
"Silakan berbaring di sebelah sana, pak..." ucap wanita berjas putih.
Marni mengikuti kemana Jagat bergerak sambil terus melihat ke arah sekitar. Entahlah, dia merasa kalau ruangan itu membuatnya cemas dan tidak nyaman.
"Pikiranmu jangan kosong begitu, tidak usah mengkhawatirkan hal yang tidak pantas dikhawatirkan," Jagat terus saja bicara, sementara dirinya sedang dilakukan tindakan pengambilan darah. Cairan merah mulai mengisi ruang pada selang dan akhirnya naik ke atas mengisi sebuah kantong.
"Kenapa kamu melakukan ini?"
"Aku ingin melepaskanmu dari cengkaram suamimu," Jagat dengan entengnya.
"Biarkan saja dia mati. Bukannya itu menjadi cara yang mudah untukku lepas dari mas Joko?"
"Mudah untukmu namun terlalu indah untuknya.Dia sudah menyakitimu, Mar. Itu tidak adil. Melepaskan tawanan dengan rasa ketidakberdayaan akan lebih menyiksa daripada hilang dalam keadaan tidak sadarkan diri seperti itu. Lagi pula aku ini seorang pria. Aku tidak akan menarik kata-kata yang sudah aku ucapkan. Aku bilang aku akan membantu Joko asalkan dia mau melepaskanmu, dan aku akan penuhi itu..."
Marni menggeleng.
"Hatimu terlalu baik untuk menyumpahi seseorang. Aku sangat paham itu..." Jagat tersenyum sebelum akhirnya ada beberapa orang yang datang ke dalam ruangan itu....
"Siapa kalian?" tanya Marni waspada.