Di dunia di mana sekte-sekte besar bersaing demi kekuasaan, lahirlah seorang pemuda bernama Lin Feng. Tidak memiliki latar belakang mulia, tubuhnya justru menyimpan rahasia unik yang membuatnya diburu sekaligus ditakuti.
Sejak hari pertama masuk sekte, Lin Feng harus menghadapi hinaan, pertarungan mematikan, hingga pengkhianatan dari mereka yang dekat dengannya. Namun di balik tekanan itulah, jiwanya ditempa—membawanya menapaki jalan darah yang penuh luka dan kebencian.
Ketika Pedang Abadi bangkit, takdir dunia pun terguncang.
Akankah Lin Feng bertahan dan menjadi legenda, atau justru hancur ditelan ambisinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aku Pemula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 - Menyembuhkan Luka dengan Rumput Liar
Cahaya matahari pagi menembus celah bambu, menyinari tanah yang lembab dan berlumuran noda darah kering dari pertempuran semalam. Udara terasa lebih segar, tapi hati para murid masih berat, diliputi bayangan ketakutan.
Yunhai berdiri tegak, menatap mereka satu per satu. “Berdiri,” suaranya tenang, tapi mengandung tekanan. “Hari ini kalian akan belajar sesuatu yang lebih penting daripada sekadar mengayunkan pedang.”
Mei Xue dengan susah payah bangkit. Wajahnya masih pucat, tapi matanya berusaha menahan tangis. Zhao Liang memegangi lengannya yang masih berdarah, sementara tiga murid lain terlihat goyah, bahkan ada yang hampir jatuh saat berdiri.
Lin Feng juga bangkit, tubuhnya lelah, tapi genggaman tangannya pada pedang terasa lebih kuat dari sebelumnya. Ia masih takut, tapi rasa takut itu kini menjadi pengingat, bukan penghalang.
“Jalan kultivasi bukan hanya tentang siapa yang paling kuat membunuh,” lanjut Yunhai. “Tetapi siapa yang mampu bertahan hidup. Jika kalian tidak bisa menyembuhkan luka, kalian tidak akan bertahan lama. Hari ini kalian akan belajar dari hutan—bukan dari aku.”
Murid-murid saling berpandangan, bingung.
Yunhai melangkah ke depan, menunduk, lalu mengambil segenggam rumput hijau yang tumbuh liar di dekat batu. “Ini bukan sekadar rumput biasa. Jika ditumbuk dan ditempelkan ke luka, ia bisa menghentikan pendarahan.”
Ia meremas rumput itu dengan tangan, menumbuknya hingga keluar cairan hijau kental. Lalu tanpa ragu, ia mengoleskan ke luka kecil di lengannya sendiri yang ia buat dengan sengaja menggunakan pedang. Dalam sekejap, darah berhenti mengalir.
“Alam selalu menyediakan jawaban,” katanya datar. “Hanya orang bodoh yang tidak mau belajar.”
Murid-murid terperanjat. Mereka menatap rumput itu dengan ragu, seakan tidak percaya sesuatu yang tampak remeh bisa menggantikan obat.
“Sekarang giliran kalian. Aku tidak akan membantu. Carilah tumbuhan yang bisa digunakan untuk menyembuhkan luka kalian masing-masing. Jika salah mengambil, kalian bisa mati keracunan. Jika benar, luka kalian akan sembuh lebih cepat.”
Wajah murid-murid memucat.
Mei Xue menelan ludah, lalu melangkah pelan ke semak-semak, tangannya gemetar. Zhao Liang menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri sebelum mencari tumbuhan di sisi lain. Tiga murid lain berjalan dengan langkah ragu, wajah mereka penuh ketakutan.
Lin Feng menatap hutan lebat di sekeliling. Suara burung dan serangga terdengar jelas, seakan menertawakan kelemahan mereka. Ia berjongkok, memperhatikan dedaunan yang basah oleh embun. “Rumput liar…” gumamnya, mencoba mengingat apa yang ia dengar dari Yunhai.
Tangannya meraih sebatang rumput dengan ujung berbulu halus. Ia meremasnya, tapi tidak ada cairan yang keluar. Hanya serat kering yang hancur. Ia menggeleng, melemparkannya.
Kemudian ia mencoba daun lain, berwarna hijau tua dengan urat keunguan. Saat diremas, cairan kental berbau menyengat muncul. Lin Feng buru-buru melemparnya, merasa pusing hanya mencium baunya. “Bukan ini…”
Beberapa saat kemudian, terdengar jeritan kecil. Salah satu murid berlari kembali ke sisi Yunhai, wajahnya memerah dan tangannya bengkak. “Guru! Aku… aku salah ambil! Daunnya panas sekali, kulitku terbakar!”
Yunhai hanya melirik sekilas. “Itu akibat ketidaktelitianmu. Jika ini pertempuran sungguhan, kau sudah mati.”
Murid itu terisak, mencoba menahan sakit. Namun Yunhai tetap tidak bergerak.
Mei Xue juga kembali dengan segenggam rumput, mencoba menumbuknya seperti yang ditunjukkan Yunhai. Ia mengoleskan ke luka di lengannya. Cairan hijau itu terasa dingin, membuat wajahnya lega meski air mata masih menetes. “Bekerja…” bisiknya.
Zhao Liang sedikit lebih lama, tapi akhirnya menemukan tanaman dengan batang berair. Saat dioleskan ke lukanya, darah berhenti menetes. Ia menghela napas lega, lalu menatap Yunhai, berharap mendapat sedikit pengakuan. Namun gurunya tetap dingin.
Lin Feng masih mencari. Hatinya gelisah. Ia mencoba beberapa tanaman, tapi belum ada yang cocok. Keringat membasahi pelipisnya. Ia tahu Yunhai memperhatikannya.
“Aku tidak boleh gagal,” batinnya.
Akhirnya ia menemukan sebatang rumput dengan daun memanjang dan ujung runcing. Saat diremas, keluar cairan hijau pucat dengan bau segar seperti mentimun. Ia mengoleskannya ke luka kecil di lengannya. Rasa dingin segera meresap, bukan hanya menghentikan darah, tapi juga mengurangi rasa sakit.
Lin Feng menatap cairan itu, terkejut. Tubuhnya terasa lebih ringan, seolah energi dalam darahnya bergerak lebih cepat. Luka kecil di lengannya bahkan mulai menutup lebih cepat dari seharusnya.
“Ini…” matanya membesar.
Dari kejauhan, Yunhai melihatnya. Alis gurunya terangkat tipis. Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya menyimpan catatan dalam hati.
Sementara itu, tiga murid lain masih kesulitan. Satu salah memilih tanaman dan pingsan karena keracunan ringan. Satunya lagi tidak berani mencoba apa pun, hanya duduk menangis dengan luka terbuka. Yang terakhir berhasil menghentikan pendarahan, tapi dengan tangan gemetar seolah kehilangan semangat hidup.
“Lihat perbedaan kalian,” suara Yunhai menggema. “Ada yang belajar, ada yang mencoba, ada yang menyerah. Itulah yang membedakan jalan hidup kalian nantinya.”
Ia berjalan melewati para murid, tatapannya tajam. “Mei Xue—hatimu masih lembut, tapi itu bukan kelemahan. Jika kau bisa menjaga hatimu tetap murni, kau akan menemukan kekuatan di dalamnya.”
Mei Xue menunduk, menggigit bibir.
“Zhao Liang—kau keras kepala, tapi masih menyisakan rasa takut. Gunakan itu sebagai cambuk. Jangan biarkan rasa takut membuatmu lumpuh.”
Zhao Liang mengangguk, meski matanya masih goyah.
Kemudian tatapannya jatuh pada Lin Feng. “Dan kau, Lin Feng… aku melihat sesuatu dalam dirimu. Ketakutanmu besar, tapi tekadmu tidak kalah besar. Jangan biarkan salah satunya menelanmu.”
Lin Feng menatap gurunya, dadanya bergetar. Kata-kata itu menusuk langsung ke dalam hatinya.
Lalu Yunhai melirik tiga murid lain yang gagal. “Kalian… mungkin tidak akan bertahan lama. Jalan ini bukan untuk semua orang.”
Ketiganya menunduk, wajah mereka penuh putus asa.
***
Hari itu, mereka menghabiskan waktu mencari tanaman lain, mencoba belajar mengenali mana yang beracun dan mana yang berguna. Yunhai tidak memberi petunjuk lebih, hanya mengamati.
Saat matahari mulai condong ke barat, tubuh murid-murid penuh dengan luka kecil, goresan, dan bahkan ruam akibat salah memilih daun. Tapi sebagian luka berhasil disembuhkan oleh ramuan sederhana.
Lin Feng duduk diam, menatap lengannya yang sudah hampir sembuh total. Ia terkejut. Bukan hanya sembuh, tubuhnya juga terasa hangat, seakan tenaga dalamnya bergerak lebih bebas.
“Kenapa… rumput itu begitu manjur untukku?” gumamnya pelan.
Yunhai berdiri tidak jauh darinya. Tatapan matanya menyipit, seakan mengerti sesuatu.
“Tubuh anak ini… berbeda.”
***
Malam kembali turun. Murid-murid duduk di sekitar api unggun, kali ini dengan wajah sedikit lebih baik dibanding semalam. Meski masih lelah dan takut, mereka merasa ada harapan kecil—bahwa mereka bisa bertahan dengan belajar dari alam.
Tapi di dalam hati Yunhai, satu benih pertanyaan tumbuh:
“Apa rahasia yang disembunyikan tubuh Lin Feng?”
bantu doa ya semoga novel yang ini bisa selesai sesuai dengan jalan ceritanya /Pray/
entar tp gak pernah di gubris
arahmu jgn nonton novel tolong krn ceritanya selalu putus tengah jalan gak tsmat fan quality control naskah gak afa