Nawalisya Nasyirah, berusia 28 tahun telah menikah dengan Fandyka Satya Mahardika yang telah berusia 21 tahun. Mereka menikah atas dasar perjodohan. Nawal menerima perjodohan itu atas dasar rasa sayang dan hormat kepada orang tuanya, Hingga akhirnya Nawal membuka hati dan belajar mencintai sang suami.
3 bulan awal pernikahan Fandy dan Nawal berjalan biasa saja, meski mereka tak saling dekat. Namun, setelah 3 bulan itu, Fandy memutuskan untuk menikahi kekasihnya, Mila.
Disitulah cinta Nawal di uji. Akan kah mereka tetap bertahan? Ditambah lagi dengan masalah usia Nawal yang lebih matang dari fandy?
Simak kisahnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istia akhtar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Banyak kemiripan
Fandyka
"Fandyka Satya Mahardhika"
"Kenan, Panggil aku Kenan".
"Kenan Nayaka Mahardhika"
Aku tercengang mendengar nama anak ini. Mahardhika? bukankah itu artinya, nama belakangnya sama dengan namaku. Ada perasaan bahagia saat aku mendapatkan fakta itu.
Menatap anak ini, entah mengapa aku seperti melihat Nawal dalam dirinya. Wajahnya? Wajahnya pun sangat mirip denganku. Hanya saja dia dalam versi anak-anak. Ahhh aku rasa, ini hanya kebetulan.
"Mas?", Suara Mila mengagetkanku.
"Ya?". Apa ini kebetulan?".
"Mungkin saja", jawabku sambil mendekati anak itu.
"Kenan, kenapa Kenan malam-malam begini sendirian di pantai? Bukankah ini dingin?".
"Aku hanya ingin curhat pada bintang diatas sana uncle. Mom bilang, bintang tidak akan membuka rahasia kita pada orang lain yang tak baik pada kita. Kalau kita curhat pada orang lain, pasti mereka akan menceritakan masalah kita pada yang lainnya".
"Oh ya? Mommy mu pasti wanita hebat".
"Yes. Mommy ku memang wanita hebat. Mommy segalanya untukku".
"Benarkah? Kalau mommy mu hebat, lalu? Seperti Daddy mu?", Tanya Mila dengan senyum lebarnya. Kenan mendadak murung.
"Jangan tanyakan Daddy ku aunty. Mom bilang aku punya Daddy, tapi Daddy ku sedang bekerja di luar negri yang jauuuuh sekali dan tak pernah pulang mengunjungiku. Kadang aku berfikir, Daddy kerja dan tak pernah pulang, sedang mommy juga kerja, kadang sampai pulang malam dengan wajah kusutnya. Apa mungkin Daddy tidak memberikan uangnya pada mommy? Itulah mengapa aku selalu curhat pada bintang. Aku hanya ingin tau sekaliiii saja, seperti apa wajah daddyku? Apa wajahku sama sepertinya? Mom bahkan tak memberiku ijin untuk melihat wajah Daddy melalui fotonya.". Kenan bercerita panjang lebar. Entah mengapa, aku merasa tertampar mendengar cerita anak ini. Ada sisi lain hatiku yang merasa tercabik saat mendengar suara pilunya.
"Kenan", Tenggorokanku tercekat. Aku merasa kan sakit yang luar biasa di dasar hatiku.
"Kenan sayang, katakan pada aunty, dimana mommy mu sayang?", Mila bertanya dengan wajah iba nya.
"Mom ada di dalam gedung yang ada pestanya itu", Jawabnya sambil menunjuk gedung tempat acara Rani.
"Baiklah, akan ku antar pada mommy mu",
"Baiklah, bisakah kau menggendongku uncle yang tampan?",
"Tentu saja". Aku segera meraih bocah cilik yang tampan di hadapanku ini.
Di tempat lain, di waktu yang sama digedung...
Nawalisya
"Apa? Kenan hilang? hilang kemana?", Aku sontak aku berteriak histeris saat mbak Mega kehilangan jejak saat mengejar kenan yang berlarian diantara banyak kerumunan para manusia.
Aku berlari dan berlari kencang mencari keberadaan Kenan, putraku. Tak ku hiraukan teriakan mbak Mega, kak Jihan, Tristan atau siapalah itu. Yang ada dalam benakku saat ini hanyalah, dimana keberadaan Kenan?
Penampilan yang tadinya sempurna. Dress selutut dengan high hills berwarna senada, yakni merah menyala. Rambut ku sanggul tinggi, memperlihatkan leher mulus ku. Make up natural menghiasi wajah ku.
Tapi kini, semua tak ku hiraukan. Aku berlari menyusuri jalanan yang padat akan kerumunan orang. Bahkan, high hills pun ku lempar entah kemana saat tengah berlari tadi.
Lama aku berlari tak tentu arah, hingga mataku menemukan sosok tinggi menjulang dengan menggendong Kenan disana. Aku berlari dan menghamburkan diriku untuk bisa mendekap Kenan.
"Ada seseorang yang mengantar putramu ke stand siaran. Tapi sayangnya, orangnya sudah pergi saat Jihan mengambil putramu. Aku tak menyangka bahwa wanita se mungil dirimu ternyata telah berputra", Suara bariton itu, menyadarkan ku dari tangisanku.
"Tristan?".
"Kau pikir siapa?," Aku menunduk malu kemudian mendongak tinggi menatap pria di hadapanku ini.
"Terima kasih telah menggendong putraku. Lalu? Apa ada yang salah jika aku nyatanya sudah memiliki putra?".
"Tidak, sama sekali tak ada yang salah. Hanya saja, ternyata kau sudah bersuami". aku menggigit bibir bawah ku. Kemudian ku pandang Kenan dengan lahapnya memakan kentang goreng kesukaannya.
"Aku sudah berpisah dengan suamiku. Hanya saja, dia belum menceraikan ku".
"Baiklah. Bolehkah jika besok sore Kau mentraktir ku makan? Hitung-hitung untuk berterima kasih karna aku sudah menggendong putramu yang hampir hilang". Tristan tersenyum kecil smbari menatapku.
"Ternyata kau tidak tulus menggendong putraku ya?".
"Bukan, Hanyaaa saja aku ingin berbicara lebih banyak denganmu. Bolehkah....?" Aku memutar bola mataku malas.
"Baiklah, besok sore mari kita bertemu di sana". Ucapku sambil mengarahkan telunjukku ke sebuah kedai terdekat. Tapi naas, Tristan menggeleng kan kepalanya.
"Tidak. Biar aku yang menjemputmu di rumah Jihan". Suara yang tadinya lembut, mendadak menjadi lebih dingin. Aku sedikit tak nyaman mendengarnya.
"Te... t terserah ku saja", jawabku sambil menunduk.
"No mom. Besok sore aku ada janji dengan uncle yang mengantarku tadi. Kau tau mom? Bukankah mom pernah bilang jika janji harus segera di tepati. Jadi, mari kita bertemu dengan uncle tampan yang menolongku tadi untuk mengucapkan terima kasih. Dia juga memberiku permen ini lo", Suara Kenan nyaring memekakkan telinga ku.
"Tidak apa-apa. Ayo tetap bertemu dengan uncle itu, aku akan ikut serta denganmu dan mommy mu". Aku semakin menggigit bibir bawahku dalam-dalam. Pria bernama Tristan ini, benar-benar keras kepala. "Ngomong-ngomong, siapa namamu jagoan kecil?".
"Kenan Nayaka Mahardhika. Uncle, call me kenan".
"Emm baiklah Kenan kecil, panggil uncle Tristan, oke?", mereka saling ber tos ria. Entah mengapa hatiku berdenyut nyilu menyaksikan kedekatan mereka. Kenan pasti sangat haus akan kasih sayang seorang ayah. Ayahnya yang lebih memilih wanita lain daripada bertahan untuk kami.
"Okey uncle, nice to meet you". mereka saling melambaikan tangan. Aku merasa geli sendiri.
Kami bergegas pulang ke rumah. Entah mengapa, rasa penasaran menggelayuti ku. Ingin tau tentang pria yang kenan ceritakan, bahwa pria itu telah menolongnya.
Sesampainya di rumah, aku segera memberondong Kenan dengan banyak pertanyaan. kak Jihan hanya geleng-geleng kepala melihatnya.
"Kenan sayaang, coba ceritakan pada mommy, siapa pria yang sudah menolong mengantar Kenan tadi?". Kenan hanya menggelengkan kepalanya.
"Apa uncle itu menyebutkan namanya?"
"Tentu saja mom. Bahkan dia seperti mirip denganku. Yah, katakanlah.... kami memiliki banyak kemiripan", jawabnya dengan masih mencecap manisnya permen.
"Kemiripan?" Aku membeo mengulangi kata terakhir Kenan.
"Ya benar, kau akan tau besok mom. Dia sangat tampan, sepertiku!". Jawab kenan. Entah mengapa, hatiku berkedut tak karuan mendengar kalimat terakhir Kenan ini.
"Apa tadi kalian berkenalan?", Kenan mengangguk, "lalu, siapa nama uncle tampan tadi?", Aku sengaja mengulang tanyaku.
"Apa kau memaksaku mom?".
"Tentu saja".
"Hmm baiklah, akan aku beri bocoran sedikit, karna aku tak tega menatap mom yang kebingungan".
"Baiklah sayang, ceritakan".
"Mereka sepasang suami istri".
"Benarkah?",
"Sepertinya begitu", Katanya dengan ragu. Aku gregetan deh dengan Kenan ini. Sifat dan sikapnya, benar-benar mirip dengan ayahnya.
"Bicaralah yang benar Kenan", ucapku dengan kesal.
"Hahahahah baiklah mom, aku akan serius".
"Hmm", jawabku malas.
"Dia sepasang suami istri. Sepertinya begitu. Mereka sangat menyukai ku mom kau tau? Uncle dan aunty itu benar-benar baik. Namanya aunty Mila dan uncle fandy".
pengen kesel, kok ada cewe mcm bgono, mslhnya ini cuma novel