" Meskipun gue sering gonta ganti cewek, tapi lo harus tahu, Cinta dan sayang gue cuma buat lo." Aldo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon leni septiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24
Bel istirahat sudah berbunyi membuat seluruh murid berhamburan keluar kelas, entah untuk pergi ke kantin, perpus atau ke tempat lain yang masih berada dilingkungan sekolah. Berhubung dengan ujian yang akan dilaksanakan seminggu lagi Nana dan Sisil lebih memilih menghabiskan waktunya diperpus untuk belajar.
Sebenarnya bukan hanya mereka berdua saja yang memilih keperpus, banyak juga murid-murid yang lain, yang juga menghabiskan waktu istirahatnya di perpus tapi tetap saja meskipun ujian akan dilaksanakan seminggu lagi masih banyak siswa yang lebih memilih menghabiskan waktu istirahatnya di kantin dibandingkan di perpustakaan, salah satunya Alvin, Dino, Ridho, Dava dan Rizki dengan alasan,“Dari tadi dikelas kita belajar, otak udah pusing, masa pas jam istirahat kita harus belajar lagi?Kkasian otak gue penuh sama materi dan hapalan sedangan perut gue kosong sama makanan, nanti yang ada malah berat sebelah.” Dan ucap Dino itu diangguki oleh yang lainnya. Jadilah Nana dan Sisil berdua saja yang pergi ke perpustakaan.
“Na, lo udah nerima Reno?” Tanya Sisil saat keduanya sedang menelusuri rak-rak buku.
“Belum.” Jawab Nana singkat.
“Kenapa?” Tanya Sisil lagi.
“Gak apa-apa, gue pengen fokus sama ujian dan ngajuin beasiswa ke universitas yang gue mau,” ucap Nana, tanpa menatap sang lawan bicara.
“Bukan gara-gara belum move on?” selidik Sisil. Nana diam tak menjawab lalu segera duduk di kursi dekat jendela setelah mendapatkan buku yang sedari tadi ia cari meninggalkan Sisil yang masih berdiri ditempatnya. Sisil menghembuskan napasnya lalu menyusul sahabatnya itu duduk di kursi sebelahnya.
Aldo yang tidak sengaja mendegar pembicaraan kedua perempuan tersebut kini bersembunyi di balik rak-rak tinggi tersebut menatap mantan kekasihnya itu yang kini tengah fokus membaca buku, sedangkan Sisil beberapa kali melirik perempuan disampingnya itu seolah ingin menanyakan sesuatu namun terlihat ragu-ragu.
Kini Aldo tahu siapa laki-laki bernama Reno yang tadi pagi besama Nana diparkiran. Aldo mengepalan tangannya menahan marah. Ia sadar bahwa dirinya tidak lagi memiliki hak untuk marah dan melarang Nana dengan laki-laki lain, namun hati kecilnya tidak rela jika gadisnya direbut oleh laki-laki lain. Narana adalah miliknya dan sampai kapanpun akan tetap menjadi miliknya.
Aldo bergegas keluar dari perpustakaan, niat awalnya yang akan belajar diperpustakaan ia urungkan dan lebih memilik untuk kembali kekelas. Ditengah perjalanannya ia berpaspasan dengan laki-laki bernama Reno-Reno itu. Aldo terdiam begitu pun juga dengan lakilaki bernama Reno tersebut, keduanya saling menatap beberapa menit lalu Aldo pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun, sedangkan Reno kini memutar tubuhnya menatap kepergian Aldo dengan bingung, lalu mengedikan bahunya setelah itu melanjutkan langkahnya menuju perpustakaan.
“Argh sial! Kenapa harus dia yang jadi saingan gue?” Gerutu Aldo pada dirinya sendiri.
“Gimana gue bisa dapetin Nana lagi kalau saingannya perfeck gitu.” gerutunya lagi frustasi.
“Kenapa lo, Al?” Tanya Luna menatap ngeri temannya itu.
“Menurut lo, gue bakalan menang apa nggak bersaing sama si Reno-Reno itu buat dapetin Nana?” Tanya Aldo, meminta penilaian. Luna yang mendapat pertanyaan itu terkekeh sebentar lalu menatap laki-laki dihadapannya itu dengan pandangan menilai jari telunjuknya ia ketuk-ketukan di dagunya lalu meneliti
setiap jengkal wajah Aldo dengan seksama.
“Kalau menurut gue, lo itu ganteng---” ucap Luna menggantung
“Tapi Reno lebih ganteng,” lanjutnya lagi, membuat senyum di wajah Aldo sirna.
“Mata lo indah, tatapannya tajam, tapi tatapan Reno juga indah meskipun tatapannya gak setajam lo, hidung lo juga mancung, tapi gak semancung hidung Reno. Kulit lo putih bersih tapi cowok lebih keren dengan kulit eksotis seperti yang Reno miliki. Reno itu tipe laki-laki yang setia, sedangkan lo playboy --” ucapan Luna berhenti karna ulah Aldo yang dengan tiba-tiba membungkam mulutnya dengan telapak tangan besarnya itu.
“Udah berenti, gue gak mau dengar lagi! Sampai situ aja emosi gue udah naik, lo terlalu banyak ngasih pujian sama cowok itu dibanding muji gue.” Dengus Aldo kesal.
“Tapikan itu faktanya, Al,” ucap Luna polos.
Setelah menanyakan pendapat kepada Luna, Aldo bukannya merasa lega ia justru malah semakin merana. Sampai rumahpun wajah laki-laki itu masih saja ditekuk dan terlihat kesal, sampai Mesya yang sedang menonton televisi dibuat bingung oleh tingkah anaknya itu. Aldo menjatuhkan tubuhnya kasar ke sofa disamping sang Mama yang kini tengah memperhatikan anak semata wayangnya itu.
“Kenapa kamu, Al? Patah hati?” Tanya sang Mama. Aldo mendengus kesal namun setelahnya bersandar pada bahu sang Mama.
“Ma, bantuin Aldo balikan sama Nara dong,” ucap Aldo memohon. Mesya menggelengkan kepalanya tak setuju.
“Usaha sendiri dong, kamu yang mutusin, ya kamu sendiri lah yang perbaikin,” ucap Mesya cuek.
“Ayolah Ma, bantuin Anak Mama yang ganteng ini please,” mohon Aldo namun Mesya tetap menggelengkan kepalanya tak setuju.
“Sekarang udah ada yang berani ngerebut Nara dari Aldo, Ma bahkan udah nembak Nara juga. Saingan Aldo yang sekarang berat Ma, please bantuin Aldo dapetin Nara lagi. Emangnya Mama gak mau gitu Nara jadi mantunya Mama?” Aldo terus membujuk mamanya itu.
“Aldo sayangnya Mama, dengerin Mama ya. Itu masalah kamu, dan masalah ini juga timbul gara-gara kamu, jadi selesaikan sendiri. Bukannya Mama gak mau bantu, tapi mama gak mau ikut campur. Kamu sudah dewasa, sudah saatnya kamu belajar menyelesaikan masalah kamu sendiri. Tapi ingat, jangan selesaikan dengan cara licik dan kasar. Kalau Nana masih sayang dan cinta sama kamu, seganteng dan sebaik apapun laki-laki itu tak akan membuat Nana berpaling dari kamu, meskipun kalian sudah pisah ia akan kembali lagi sama kamu, tapi jika hati Nana bukan lagi untuk kamu hanya satu yang harus kamu lakukan, yaitu merelakan,” ucap sang mama panjang lebar.
Sepanjang malam Aldo memikirkan ucapan sang Mama tadi sore. Mencoba mencerna setiap kata yang Mamanya itu lontarkan. Mamanya bener jika Nana masih mencintainya dan jika dia yang tuhan takdirkan untuknya sebaik dan setampan apapun laki-laki yang mendekati Nana suatu saat ia pasti akan kembali padanya. Namun jika tidak, ia akan belajar merelakannya.
Tapi ia tidak mau hanya diam saja dan menunggu, Aldo berniat kembali mendekati
Nana dan meyakinkan gadis itu kembali. Aldo yakin bahwa kesempatan kedua itu ada. Tapi Kesempatan kedua itu tidak akan ada jika hanya dengan menunggu tanpa ada yang dilakukan, maka dari itu Aldo akan berusaha agar mendapatkan kesempatan kedua itu dari Nana, gadis yang sangat ia cintai.
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
suksses
semangat
mksh