NovelToon NovelToon
Tiga Pria, Ayah Anakku

Tiga Pria, Ayah Anakku

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / One Night Stand / Trauma masa lalu / Lari Saat Hamil / Konflik etika / Tamat
Popularitas:12.7M
Nilai: 4.9
Nama Author: Monica Dewi

Pernikahan bahagia yang diimpikan Anna berubah menjadi tragedi, kala seorang pria merenggut kesuciannya di malam pertama pernikahannya.

Anna yang terpuruk akibat kejadian itu pun mencoba bangkit kembali dan melanjutkan hidupnya.

Namun, takdir berkata lain, ia harus kembali mengingat peristiwa kelam malam itu saat dirinya dinyatakan hamil.

Akankah pria itu bertanggung jawab padanya?
Atau ada malaikat lain yang akan datang menolongnya?
Dan bagaimana dengan suami dan pernikahannya?


Ikuti kisah Anna selengkapnya dalam menjalani kehidupannya dalam Tiga Pria, Ayah Anakku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Monica Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 Panggil Ayah

"Ibu, kita mau kemana?" tanya Michael pada ibunya, tetapi Alex yang menjawabnya.

"Kau sudah besar jadi kami akan mendaftarkanmu untuk bersekolah."

"Lalu, mengapa Ayah tidak ikut? Ayah berjanji akan mengantarku ke sekolah."

Michael teringat tentang Jonathan yang dulu berjanji akan mengantarnya jika ia bersekolah. Anna pun hanya terdiam, ia bingung bagaimana harus menjelaskan situasi ini kepada putra kecilnya.

"Mickey, apa kau sayang padaku?" Alex tiba-tiba bertanya pada Michael.

"Aku sayang Om Alex. Om Alex sering memberiku banyak hadiah mainan," jawab Michael riang.

"Aku juga sayang padamu, Mickey. Jika kita sudah saling menyayangi, lalu bagaimana kalau aku saja yang menjadi Ayahmu? Aku akan memberimu lebih banyak mainan lagi nanti. Kau juga bisa terus tinggal di rumahku dan makan banyak kue cokelat. Bagaimana menurutmu? Kau suka mainan di kamarmu dan masakan di rumahku, 'kan? Kau bisa terus memiliki semua itu jika kau menjadikan aku sebagai Ayahmu," rayu Alex.

"Benarkah?"

"Tentu. Semua yang menjadi milikku akan kuberikan padamu."

"Cih! Dasar tak tahu malu. Menyuap anak kecil dengan materi. Dia tak mungkin ma--"

"Iya, aku mau, Om!" tukas Michael cepat memotong kata-kata Anna. Ia begitu gembira mendengar tawaran Alex yang sangat menggiurkan.

"Bagus. Kalau begitu mulai sekarang jangan panggil aku Om lagi. Kau harus memanggilku Ayah."

"Baik, Ayah."

Alex tersenyum. Kata-kata itu terdengar sangat indah di telinganya. Ia pun menepikan sejenak mobilnya di sisi jalan dan menoleh ke arah putranya.

"Katakan lagi, Mickey. Panggil lagi," pinta Alex penuh haru.

"Ayah! Ayah!" Michael memanggil Alex berkali-kali dengan riang. Senyum cerah pun terus terukir di paras tampan Alex.

"Anak baik. Kalau begitu mulai sekarang aku adalah Ayahmu, jadi kau tidak boleh memanggil orang lain dengan sebutan Ayah selain aku. Kau mengerti, Mickey?"

"Baik, Ayah."

"Anakku memang pintar."

Alex tertawa gembira seraya meraih Michael ke dalam pelukannya. Sementara, Anna hanya terdiam menyaksikan interaksi antara ayah dan anak itu.

"Mengapa kau cemberut seperti itu? Kau tidak senang dia memanggilku Ayah? Dia memang anakku, Anna. Atau kau lebih suka Jonathan yang dipanggil ayah olehnya?"

"Nathan memang ayahnya. Dialah yang menemaniku sejak aku hamil."

"Anna, aku tahu ini salahku. Aku minta maaf dan aku akan menebus semuanya. Tetapi, Mickey berhak tahu kalau aku adalah ayah kandungnya dan bukan Jonathan."

Anna hanya terdiam. Kata-kata Alex memang benar, dialah ayah kandung Michael, tetapi Jonathan ....

'Mickey masih kecil dia tidak mengerti. Tetapi, bagaimana dengan Nathan? Apa yang harus aku lakukan?'

.

.

.

Akhirnya mereka sampai di sekolah Michael. Sekolah bertaraf internasional itu berfasilitas lengkap dan modern. Mulai dari TK hingga Universitas terdapat di sini.

Sebelum mendaftar mereka diajak untuk berkeliling gedung sekolah untuk lebih mengetahui keadaan dan fasilitas sekolah.

Gedung olahraga dan kesenian, gedung kesehatan, lapangan bermain, ruang lab dan kelas juga asrama siswa semua terlihat sangat memuaskan. Ada juga fasilitas bus sekolah bagi siswa yang tidak diantar jemput oleh orang tuanya.

Keamanannya pun terjaga ketat, para orang tua siswa harus mengenakan tanda pengenal dari sekolah berupa gelang yang terdapat identitas masing-masing wali siswa.

"Ini adalah contoh tanda pengenal kami, jika ingin mengantar atau menjemput siswa maka kalian harus men-scan gelang ini dan akan tertera identitas orang yang bersama siswa saat itu seperti nama, foto dan juga jam penjemputan," terang seorang admin wanita paruh baya itu.

"Baiklah, kurasa ini sangat bagus. Bagaimana, Mickey, apa kau suka?" Alex bertanya pada Michael.

"Iya, aku suka! Aku suka!" seru Michael sangat gembira karena akan bersekolah dan mendapatkan teman-teman baru. Alex tersenyum melihat tingkah putranya itu. Sementara Anna tampak sedang memikirkan sesuatu.

"Ehm, Nona, apakah ada yang kurang?" tanya wanita itu karena melihat Anna yang hanya terdiam saja.

"Itu ... berapa biaya untuk bersekolah di sini?" Anna bertanya padanya dan wanita itu pun menyebutkan angka yang cukup fantastis untuk biaya sekolah TK per tahunnya.

"Hah?! Semahal itukah?"

Anna terkejut mendengarnya. Bagaimana dia akan membayarnya? Anna lalu menarik-narik tangan Alex agar pria itu sedikit membungkuk dan Anna pun berbisik di telinganya.

"Kak, di sini mahal sekali. Apa kita tidak cari sekolah yang lain saja? Lagi pula Mickey masih TK kurasa tidak perlu seperti ini."

"Tenanglah, Anna, aku yang akan membayarnya. Dia adalah putraku. Aku berkewajiban memberikan yang terbaik untuknya." Alex merasa bersalah karena tidak menemani putranya itu sejak lahir.

"Tetapi, Kak ...."

"Sudahlah, Anna, aku sudah memutuskan Mickey akan bersekolah di sini. Dia adalah penerus keluarga Williams, maka dia berhak mendapatkan yang terbaik dalam segala hal."

Anna masih tetap ragu. Justru dia tidak mau jika Alex yang akan membayarnya karena dengan begini akan semakin sulit baginya untuk membawa Michael pergi dari sisi Alex.

Melihat Anna yang terlihat seperti banyak pikiran, wanita itu pun paham.

"Nona, anda tenang saja, kami juga menyediakan fasilitas beasiswa bagi siswa yang berprestasi jadi kami akan menggratiskan biaya pendidikan dan asrama, jika Michael bisa meraih ranking pertama di kelasnya."

"Wah! Benarkah? Bagus sekali. Baiklah kalau begitu, aku setuju Mickey bersekolah di sini."

Anna senang mendengar ada beasiswa di sekolah ini, dia yakin Michael akan mendapatkannya karena memang putranya adalah anak yang cerdas.

"Baiklah jika anda sudah setuju, silahkan panggil wali Michael untuk ikut saya ke kantor dan mengurus administrasinya."

"Hah?! Wali?" Anna bingung.

"Ya, tolong beritahukan kepada orang tua Michael untuk menemui saya di kantor."

Wanita itu tersenyum ramah, sedangkan Alex dan Anna hanya saling pandang dan melihat gaya berpakaian mereka masing-masing.

Alex mengenakan T-shirt dan celana jeans sedangkan Anna memakai jaket Alex yang kebesaran. Tampilan mereka seperti seorang siswa yang mengantar adiknya mendaftar sekolah.

"Kami akan ikut anda mengurus administrasinya," ucap Alex.

"Tetapi, di mana wali kalian?"

"Kami walinya. Kami adalah orang tua Mickey," jawab Alex sambil merangkul Anna.

"Ah! Maaf, Tuan, saya tidak tahu. Saya pikir kalian adalah kakaknya Michael. Baiklah mari ikut saya." Wanita itu tersenyum canggung dan segera melangkah menuju ke ruang administrasi.

Sementara Anna hanya menggaruk-garuk kepala yang memang tidak gatal.

"Sepertinya kita salah kostum, Kak."

"Memangnya ada peraturan harus memakai baju formal jika mendaftarkan anak bersekolah?" ketus Alex dan Anna pun hanya menghela napasnya.

"Tidak ada. Sudahlah ayo cepat kita selesaikan ini."

.

.

.

Setelah menyelesaikan masalah pendaftaran sekolah putranya, Alex membawa Anna dan Michael ke sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kota C untuk membeli perlengkapan sekolah bocah kecil itu.

"Ibu, aku mau popcorn," pinta Michael.

"Tidak boleh, kau belum makan malam!" Anna melarangnya.

"Ibu, aku mau burger," rengeknya lagi.

"Tidak boleh makan fast food!"

"Aku mau soda."

"Minuman itu bisa merusak gigimu!" Anna terus menolak permintaan Michael. Namun, ketika mereka melewati sebuah toko ....

"Ah!" teriak Anna dan Michael serempak.

"Ada apa?!" Alex terkejut dan menoleh ke arah mereka.

"Aku mau ice cream!" teriak Anna dan Michael bersamaan. Kemudian mereka pun segera berlari menuju ke stand ice cream. Alex hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah ibu dan anak itu.

"Dasar anak kecil!"

Alex kemudian segera menghampiri Anna dan Michael yang terlihat sangat antusias menanti penjual ice cream itu melayani pesanan ice cream mereka. Anna membeli ice cream strawberry, sementara Michael membeli yang rasa cokelat, ditambah dengan berbagai topping kesukaan mereka.

"Kau mau, Kak?"

Anna menawarkan ice cream-nya kepada Alex, tetapi saat Alex menundukkan wajahnya dan bersiap memakan ice cream itu, Anna pun menggerakkan tangannya dan sengaja menempelkan kudapan manis itu ke wajah Alex.

Michael yang melihat bibir dan hidung ayahnya itu kini penuh dengan lelehan ice cream beserta toppingnya pun langsung tertawa terpingkal-pingkal. Begitu juga dengan Anna, ia memegangi perutnya karena terlalu puas tertawa.

"Rasakan itu! Siapa suruh kau mengerjaiku tadi," ujar Anna yang membalas dendam karena Alex mematikan AC mobilnya tadi.

"Mickey, lihat apa itu?!" teriak Alex seraya menunjuk ke suatu tempat untuk mengalihkan perhatian Michael. Begitu bocah kecil itu menolah, Alex pun segera meraih tengkuk leher Anna dan mencium bibirnya.

Anna sangat terkejut karena Alex berani menciumnya di tempat umum. Ia bahkan sengaja menggosok-gosokkan wajahnya yang penuh ice cream ke wajah Anna. Dengan kesal, Anna pun segera mendorong tubuh Alex dan mengakhiri adegan romantis mereka.

"Tidak ada apa pun, Ayah," ujar Michael yang kembali menoleh kepada Alex. Namun, saat ia melihat wajah Anna juga penuh dengan ice cream, maka tawanya pun kembali pecah.

"Ayah, Ibu, wajah kalian lucu sekali," ujarnya seraya menunjuk ke arah kedua orang tuanya.

"Ehm, manis." Alex memainkan lidahnya, menjilati sisa ice cream di bibirnya dan juga rasa yang tertinggal dari ciuman Anna.

"Dasar gila!" umpat Anna yang merasa sangat kesal dan malu. Ia pun segera berlari ke arah toilet, meninggalkan ayah dan anak itu yang terus menertawakannya.

.

.

.

Malam semakin larut. Setelah puas berbelanja dan bermain, maka Alex pun memutuskan untuk membawa keluarga kecilnya itu kembali ke rumah mereka.

"Kalian tunggu di sini sebentar," ujar Alex. Ia lalu berjalan sendiri menuju ke tempat parkir dengan membawa barang-barang belanjaan mereka, sementara Anna dan Michael menunggu di pintu keluar.

"Anna?" panggil seseorang kepada Anna.

Anna pun menoleh dan terkejut melihat beberapa orang pria yang telah berdiri di dekatnya. Anna mengenali salah satunya, dia adalah kakak sepupunya, Jack Davis.

"Jack? Mau apa kamu?"

"Hey, sudah lama kita tidak berjumpa. Kau sudah dewasa sekarang dan terlihat semakin cantik, Anna."

"Perhatikan sikapmu, Jack!" Anna menepis tangan Jack saat pria itu mencoba menyentuh wajahnya.

"Ya, ampun. Kau masih saja galak seperti dulu, Sayang."

Jack mengelus tangannya yang ditepis oleh Anna tadi, seraya memindai tubuh wanita itu dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Matanya pun terhenti di bagian dada dan bok*ng sexy wanita itu yang terlihat begitu menggoda. Jack yang memang sudah menyukai Anna sejak dulu pun menjadi semakin ingin memilikinya.

"Jack, siapa gadis cantik ini? Mengapa kau tak pernah mengenalkannya pada kami sebelumnya?" tanya salah seorang teman Jack yang juga menaruh minat pada Anna.

"Dia adalah adik sepupuku, Anna Davis."

"Oh, jadi ini mantan istri Tuan Muda Andrew yang kau ceritakan itu? Wow! Dia sangat cantik," ujar teman Jack yang lainnya. Mereka pun mulai mengelilingi Anna dan Michael yang terlihat ketakutan.

"Hey, Adik Kecil, bagaimana jika kau menemani kami bermain sebentar? Aku janji akan memperlakukanmu dengan lembut dan membuatmu ketagihan."

"Ya, benar. Aku pastikan jika kau akan sangat menikmatinya, Anna." Jack menarik tangan Anna dan ingin membawanya pergi dari tempat itu.

"Lepaskan aku, Jack! Pergi kalian! Jangan ganggu aku."

"Jangan sok suci, Anna. Bukankah kau sudah sering melakukannya dengan para pria itu? Tidak masalah, bukan, jika kau melayani kami malam ini? Kami akan membayarmu."

Sebuah tamparan keras pun mendarat di wajah Jack. Anna sangat kesal dengan perkataan pria itu yang sangat melecehkannya.

"Kau brengsek, Jack! Menjauhlah dariku."

"Sial! Berani sekali kau memukulku," geram Jack yang langsung balas memukul Anna dengan sekuat tenaganya hingga membuat wanita kecil itu terjatuh ke lantai dengan keras.

"Argh!"

Anna berteriak kesakitan di lantai. Kepalanya terasa pusing dan darah segar pun segera mengalir keluar dari hidung dan sudut bibirnya.

"Ibu!"

Michael yang sejak tadi terdiam ketakutan pun segera menghampiri Anna dan memarahi Jack.

"Kau pria jahat! Pergi! Jangan ganggu Ibuku!" hardik Michael. Ia segera berlari ke arah Jack dan menggigit tangan pria itu hingga terluka.

"Argh! Dasar bocah tengik!"

Jack yang kesakitan pun langsung memukul kepala Michael dan menghempaskan bocah kecil itu ke lantai, tepat di samping ibunya.

"Mickey!" teriak Anna khawatir. Ia pun segera memeluk tubuh Michael dan menatap Jack dengan tajam. "Kau brengsek, Jack. Jangan sakiti putraku."

.

.

.

1
Wulan Ulan
sedih bgt deh lihat keadaan ana..
jadi ikutan nangis deh
Ristya Putri
Aku ulang baca cerita ini udah 3 kali, dan selalu suka. Gk tega nantinya mereka bakal kepisah 😢 😢
メートル あなた
Luar biasa
メートル あなた
sudah beberapa kali aku membaca novel ini dan tidak ada bosannya aku mengulang membacanya lagi😢
Irfan Narti
lanjuut
Irfan Narti
kasian Anna
Mariaangelina Yuliana
jangan sampai ada yang seperti Alex di dunia nyata🤣 masa pake liptin aja gak boleh apa lagi gak ada yang menor juga riasan nya 😀 capek juga kalau dapat yang serba posesif kayak gitu, mana punya ide d sruh pakek helm segala ia Tuhan jangan sampai 🤦🏻‍♀️
pena_knia04
baca untuk yang kesekian kalinya ceritanya bagus, alurnya jelas, tokoh-tokohnya walupun animasi tapi ganteng ganteng
chaaa
🤣🤣🤣🤣🤣
Eka Chusnul Msi
mewek bacanya 😭😭
Khaanza
. ...
Gina Savitri
Buat seorang istri setia mending mati kelaparan dari pada berpaling dari suami nya kali nicholas 😏
Gina Savitri
Wilona sekali pernah selingkuh dari andrew ya akan berulang lagi, untung aja alex bukan laki2 yg gampang tergoda kaya andrew 😏
Gina Savitri
Huh andrew sama keponakan aja jahat berniat mau sama ibunya 😏
Andrew bukan cinta sama anna tapi terobsesi aja nikmati tubuhnya 😣
Gina Savitri
Emang cuma alex yg cinta anna dengan tulus dan memperjuangkan nya sedangkan andrew dan jonathan mencintai anna karna terbiasa bersama2 tanpa memperjuangkan anna 😉
Gina Savitri
Alex walaupun arogan bisa jadi ayah yg baik, klo andrew kayanya nggak mungkin sama keponakan aja nggak perhatian apalagi anak sendiri 😏
Gina Savitri
Mamam tuh andrew suami penghianat bukan anna yg berkhianat 😏
Gina Savitri
Anna merasa di perjuangkan klo sama alex sedangkan sama nathan merasa nyaman karna di perhatikan dan sama andrew merasa terbiasa bersama aja 😁
Gina Savitri
Alex laki2 yg tepat buat anna soalnya selalu perhatian, sayang dan cinta anna dan anaknya dan anna juga mencintai alex
andrew kelihatan egois cuma butuh anna sebagai istri bukan ibu dari seorang anak yg dlm kenyataan sama keponakan aja andrew jahat gimana sama anak orang lain dan anaknya nanti
Tuấn Mark
cewknya juga kenapa keluar kamar
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!