Baru beberapa jam menginjakkan kaki di kota kelahirannya, Sienna sudah harus menerima perlakuan tidak mengenakkan dari orang yang dicintainya.
Malam itu jadi malam yang panjang dan tak terlupakan baginya, juga bagi Akshan yang merupakan kakak dari sahabat baiknya.
Gadis itu pun menghilang bagai ditelan bumi. Hingga suatu malam pula, Akshan menemukannya dalam keadaan sangat berbeda. Dan oh, siapa lelaki dan 2 anak itu?
Mohon dukungannya, ini karya pertamaku. Kritik dan saran yang membangun terbuka lebar di kolom komentar. Selamat membaca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adalynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gugup
Akhirnya setelah repot menggiring anak-anak balita di tengah malam, kini kami sudah dalam perjalanan menuju Indonesia. Di dalam pesawat milik teman Pierre itu, Zoey dan Zayn kembali tertidur dengan lelap. Syukurlah, mereka tidak rewel, menjadi anak yang baik dan penurut.
Melihat interior di dalam pesawat jet mewah itu, sangat menyejukan. Nuansa putih dengan aksen kayu membuatku merasa nyaman melihatnya, mungkin hal itu juga akan dirasakan oleh setiap penumpangnya.
Terdapat beberapa ruangan yang terlihat sangat eksklusif. Membuat jiwa arsitek ku meronta-ronta. Designnya sangat indah dan menggodaku untuk berkeliling menikmati keindahan dan juga kemewahannya.
Setelah puas melihat-lihat interior di dalam pesawat berkelas itu, tiba lah aku di sebuah ruangan yang terdapat mini bar di dalamnhya. Kemudian nampak lah seorang pria tampan bertubuh kekar yang sudah ku kenal walau hanya melihat punggungnya.
Pria itu sedang termenung, pandangannya kosong sampai tak menyadari kehadiranku di tempat itu. Ku lihat dia sedang memegang sebuah gelas... wine?
"Sayang, kau minum?" tanyaku dengan pelan sambil terus berjalan ke arahnya, memastikan kembali gelas berisi cairan merah itu benar wine atau bukan.
Pierre tak langsung menjawabku, sepertinya dia masih sibuk dalam pikirannya sendiri, ku tepuk pundaknya dan melihat wajahnya, ia tampak sedikit terkejut dan mengerutkan keningnya, nafasnya juga sedikit tercekat melihatku yang sudah berdiri di sampingnya.
"Ah, sorry.. kenapa sayang? ucapnya ringan.
"Kau minum itu lagi?" tanyaku lagi, alisku sudah bersatu karena ku kerutkan.
"Kau tahu kan bahwa itu haram di agama kita?" lanjutku sambil menatapnya tak percaya. Mungkin wajahku kala itu juga terlihat seperti sedang mengejek Pierre karena memergokinya melakukan kesalahan.
Pierre hanya diam awalnya, kemudian dia mengambil nafas dalam sebelum akhirnya mengangguk, menandakan bahwa ia mengakui telah melakukan hal yang aku tak suka.
Aku sedikit kecewa dengan kelakuannya saat ini, pasalnya selama kami menikah aku tidak pernah lagi melihatnya meminum minuman beralkohol. Walau aku tahu sih, kadang dia nakal dan minum saat aku tidak bersamanya, tapi saat ini aku jelas berada dekat dengannya, satu pesawat dengannya.
Dia pun segera meletakkan gelas berisi wine itu di mena dan langsung meraih tubuhku yang berdiri di sampingnya, ia memelukku dengan sangat erat. Modus para lelaki agar dapat dengan mudah mendapatkan maaf dari wanitanya.
"Hmm.. maafkan aku, aku sedikit... gugup.." ucapnya dengan nada lirih membuatku juga merasakan hal yang sama dengannya.
Ya, Pierre berhasil dengan modus yang dilakukannya! Ku balas pelukannya dan pikiran ku pun mulai melayang tak berarah. Jujur saja, aku juga merasakan kegugupan yang benar-benar membuatku merasa lemas. Akhirnya setelah aku pergi begitu lama, aku kembali ke Jakarta, tempat kelahiranku.
Tempat itu begitu banyak mengandung kenangan untukku, mulai dari yang indah hingga yang terburuk. Setelah bersusah payah aku menghilangkan traumaku, belum habis malah harus datang lagi ke tempat itu. Tuhan, tolong jagalah kewarasanku.
"Tenanglah.. apa yang harus membuatmu gugup?" tanyaku masih dengan posisi dalam pelukan hangatnya.
"Banyak.." jawabnya santai.
"Apa kau takut pada keluargaku yang akan menghakimi kita?" sebenarnya aku hanya asal menanyakannya saja.
Hal yang paling ingin aku tanyakan adalah apa ia tidak takut bila aku akan kembali mengalami trauma yang selama ini kami usahakan tak pernah muncul dan menganggu kehidupan kami?
Atau bahaimana jika malah sebaliknya, seperti aku kembali jatuh cinta pada orang yang terla membuatku trauma? Atau bahkan, bagaimana jika ternyata aku lebih memilih tinggal di Jakarta dan tak mau kembali lagi ke rumah kami di Jerman?
Tapi keberanianku menanyakan hal itu tidak lah ada, aku takut pertanyaanku akan menambah beban pikiran Pierre dan malah membuatnya tak mengijinkan aku untuk bertemu keluarga besarku.
"Mungkin.." jawab Pierre dengan wajah ketidak-pastian.
"Uhm.. bagaimana jika mereka menolakku karena tak memberitahukan mereka perihal pernikahan kita?" lanjut Pierre.
"Tidak Pierre.. tenang saja, keluargaku tak akan menggigitmu, mereka pasti mengerti keadaan kita, keadaanku lebih tepatnya.. mereka juga pasti akan sangat senang menyambutmu.." aku meregangkan pelukan kami dan berkata demikian sambil melihat raut wajahnya.
Pierre tampak begitu banyak pikiran, terlihat dengan jelas gueatan di wajahnya dan kerutan-kerutan yang dibuatnya. Dia terus mengerutkan dahinya, pupil matanya bergerak ke kiri dan kanan dengan waktu yang cepat, seolah bingung harus berkata apa.
"Kenapa?" tanyaku lagi, masih tak mengerti kenapa dia masih belum tenang juga mendengar ucapanku.
Dia hanya berdeham dan mengambil nafas dalam. Sepertinya hal yang akan dikatakannya ini lah yang menjadi bagian inti dari pemikirannya sejak tadi. Aku siap mendengarkannya.
"Uhm.. sebenarnya bukan karena itu sayang.. aku yakin keluargamu sangat baik dan akan menyambut kita, terlebih si kembar.."
"Lantas? Kenapa kamu seperti orang yang banyak beban sejak tadi?" aku menaikkan sebelah alisku, mencoba menerka apa yang sebenarnya ingin ia ucapkan.
"Apa aku tadi keterlaluan?" Pierre menatapku, terlihat semburat ragu dan khawatir muncul dari wajah tampannya.
"Maksudmu?" aku bingung dengan apa yang ditanyakannya. "Tadi? Kapan? Kejadian apa?"
"Tadiii.. uhm.. lupakan.." Pierre mengalihkan pandangannya ke lain arah, ia seolah tak ingin menatap mataku.
"Hei, apa sih? Apa yang sebenarnya mengganggu pikiranmu sayang?"
Aku benar-benar begitu penasaran, lelaki ini walau sudah menginjak kepala tiga, masih tetap saja tidak mampu mengatakan apa yang sebenarnya ia inginkan. Rasanya sulit sekali memahami isi kepalanya.
Pierre bangkit dari duduknya, kemudian ia kembali memeluk tubuhku dengan sedikit berbungkuk. Tercium bau maskulin yang selalu dapat membuatku tenggelam dalam kenyamanan.
"Tidak apa sayang, tidak perlu dibahas. Aku hanya sedikit lelah, gugup dan banyak pikiran saja.. maafkan aku, aku tidak akan minum lagi.." ucap Pierre sambil melirik gelas yang masih berisi wine.
Pria berbadan kekar itu melepaskan pelukan kami dan mundur satu langkah, tangannya memegang bahuku, mungkin ia ingin melihat ekspresi wajahku yang memang saat ini sedang memikirkan tingkahnya yang sedikit aneh.
"Si, apakah kamu siap?" tanyanya membuatku sedikit berjingkat.
Ku alihkan mataku pada dinding dan jendela pesawat yang sudah mulai memunculkan sinar mentari. Aku tahu maksud pertanyaan darinya, aku juga bingung harus menjawab apa. Air mata pun tak mampu lagi ku bendung, Pierre memeluk dan mengelus puncak kepalaku.
"Sii? Kamu harus kuat! Kamu pasti bisa! Ingat, aku akan selalu ada untukmu. Anak-anak juga tidak akan pernah meninggalkanmu. Jadikan kami sebagai andalanmu, okay?" ucap Pierre sambil memelukku.
Aku tidak menjawab apapun, masih meneruskan tangisanku. Syukurlah aku memiliki Pierre sebagai suamiku. Pria ini begitu baik dan sabar dalam menghadapi segala tingkahku. Walau dia juga trauma mendalam akibat kejadian masa lalu yang menimpa ia dan keluarganya.