NovelToon NovelToon
Terikat Janji Dalam Kegelapan

Terikat Janji Dalam Kegelapan

Status: tamat
Genre:Terpaksa Menikahi Suami Cacat / Penyelamat / Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Menyembunyikan Identitas / Kekasih misterius / Tamat
Popularitas:252.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Kaivan, anak konglomerat, pria dingin yang tak pernah mengenal cinta, mengalami kecelakaan yang membuatnya hanyut ke sungai dan kehilangan penglihatannya. Ia diselamatkan oleh Airin, bunga desa yang mandiri dan pemberani. Namun, kehidupan Airin tak lepas dari ancaman Wongso, juragan kaya yang terobsesi pada kecantikannya meski telah memiliki tiga istri. Demi melindungi dirinya dari kejaran Wongso, Airin nekat menikahi Kaivan tanpa tahu identitas aslinya.

Kehidupan pasangan itu tak berjalan mulus. Wongso, yang tak terima, berusaha mencelakai Kaivan dan membuangnya ke sungai, memisahkan mereka.

Waktu berlalu, Airin dan Kaivan bertemu kembali. Namun, penampilan Kaivan telah berubah drastis, hingga Airin tak yakin bahwa pria di hadapannya adalah suaminya. Kaivan ingin tahu kesetiaan Airin, memutuskan mengujinya berpura-pura belum mengenal Airin.

Akankah Airin tetap setia pada Kaivan meski banyak pria mendekatinya? Apakah Kaivan akan mengakui Airin sebagai istrinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. Takut Kehilangan

“Iya, Nek,” jawab Airin, senyum di wajahnya perlahan memudar. “Jam tangan itu pasti sangat berharga bagi Kak Ivan, tapi dia rela menjualnya demi berobat dan menafkahi aku.”

Nenek Asih menggeleng perlahan, mencoba mencerna semua yang baru saja didengarnya. “Suamimu itu memang luar biasa,” gumamnya akhirnya, nada suaranya campuran antara kekaguman dan keharuan.

Airin hanya bisa mengangguk, merasa semakin terharu dengan kebaikan hati Kaivan. “Aku akan memanfaatkan uang ini sebaik mungkin, Nek. Demi masa depan kita semua,” katanya dengan tekad yang kuat.

Nenek Asih terdiam sejenak setelah mendengar penjelasan Airin. Matanya menerawang, seolah memikirkan sesuatu yang mendalam. Akhirnya, ia berkata dengan nada perlahan, “Jam tangan yang dipakai Ivan saja bisa dihargai segitu? Nek merasa Ivan bukan orang sembarangan, Rin.”

Airin mengernyitkan alisnya, merasa sedikit bingung. “Maksud Nenek?” tanyanya hati-hati.

“Lihat saja sikapnya, Rin,” Nenek Asih melanjutkan, kini dengan suara yang lebih serius. “Dia tenang, berwibawa, gerak-geriknya seperti seseorang yang terlatih. Tubuhnya tegap, langkahnya tegas meskipun dia tidak bisa melihat. Kulitnya juga putih bersih, seperti orang yang hidup berkecukupan, bukan orang biasa.”

Airin terdiam, memikirkan ucapan neneknya. Ia harus mengakui bahwa Kaivan memang berbeda dari pria kebanyakan. Ada sesuatu dalam sikapnya yang penuh ketenangan namun tegas, membuat orang sulit mengabaikannya.

Airin menatap neneknya sambil mengangguk pelan. "Nenek benar. Terlebih, meski Kak Ivan tak bisa melihat, kemarin dia dengan tenang melumpuhkan anak buah Juragan Wongso sendirian. Semua itu dilakukan seolah tanpa usaha berlebihan, hanya dengan insting yang tajam dan gerakan yang begitu terukur," gumamnya, seolah berbicara pada dirinya sendiri.

Nenek Asih yang mendengarnya langsung terbelalak. "Apa? Dia bisa mengalahkan anak buah Wongso sendirian?" suaranya mengandung campuran keterkejutan dan ketidakpercayaan.

Airin kembali mengangguk dan akhirnya menceritakan kejadian di gerbang desa kemarin. Ia menjelaskan bagaimana Juragan Wongso menghadang mereka, memaksa Kaivan menceraikannya, dan mengancam tukang ojek yang membantu mereka.

Nenek Asih mendengarkan dengan saksama, tetapi raut wajahnya menunjukkan ketidakpercayaan. "Jadi... Ivan melawan anak buah Wongso sendirian? Dan dia melakukannya dengan mata tertutup?" tanyanya, masih sulit mencerna apa yang baru saja diceritakan Airin.

Airin mengangguk. "Iya, Nek. Aku sendiri masih tidak percaya kalau aku tidak melihatnya dengan mata kepala sendiri. Kak Ivan benar-benar melumpuhkan mereka dengan mudah, seolah semua itu hanyalah hal kecil baginya. Gerakannya cepat, pasti, dan... berbeda dari yang lain."

Nenek Asih menghela napas panjang, wajahnya kini campuran antara kagum dan bingung. "Kalau begitu... dia memang bukan pria biasa. Ada sesuatu tentang Ivan yang... sulit dijelaskan," gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri.

Airin menunduk, memikirkan kata-kata neneknya. Ia tahu bahwa Kaivan adalah pria yang penuh misteri, tetapi kejadian kemarin semakin menguatkan perasaan bahwa suaminya memiliki sisi yang belum sepenuhnya ia pahami.

Nenek Asih menghela napas panjang, berusaha mencerna semua itu. "Ivan... dia benar-benar bukan orang biasa," ujarnya dengan nada penuh arti. Wajahnya memancarkan kekaguman sekaligus rasa penasaran yang mendalam.

Airin diam, hanya memandang neneknya. Ia pun tak bisa menyangkal, semakin lama ia mengenal Kaivan, semakin ia merasa bahwa pria itu menyimpan banyak misteri di balik sikapnya yang tenang.

“Kalau dia memang orang kaya, kenapa hidup seperti ini bersama kita? Bahkan sampai menjual jam tangannya untuk kita, Nek?” gumam Airin, lebih kepada dirinya sendiri daripada bertanya pada neneknya.

Nenek Asih menggeleng perlahan. “Itulah yang membuat Nenek bingung, Rin. Orang seperti dia tidak mungkin hidup seadanya tanpa alasan. Mungkin ada sesuatu yang dia sembunyikan,” katanya akhirnya.

Airin hanya terdiam, pikirannya mulai dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab. Siapa sebenarnya Kaivan? Apa yang ia sembunyikan? Tapi di balik semua itu, ia merasa bersyukur karena pria itu selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk mereka.

Namun, tiba-tiba, pikiran itu muncul di benak Airin, seperti angin yang tak terduga datangnya. "Jika Kak Ivan sebenarnya orang kaya, apa mungkin suatu saat dia akan meninggalkanku? Aku ini hanya orang kampung, berpendidikan rendah, apa aku cukup untuknya?"

Hati Airin mencelos, dan rasa takut perlahan menyusup, menguasai pikirannya. Bayangan kehilangan pria itu mulai menghantuinya, membuat dadanya terasa sesak. Ia menggigit bibirnya, mencoba menepis kecemasan yang mendadak melanda.

Namun, semakin ia mencoba untuk tidak memikirkan hal itu, semakin rasa gelisah itu menguat. Sejak hari pernikahan mereka, Kaivan memang selalu tampak tenang dan tak banyak bicara. Kehadirannya yang penuh misteri kini memicu pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Airin mengingat pria itu selalu terlihat datar, namun ada ketegasan dan kekuatan yang memancar darinya. Airin menghela napas panjang, berusaha mengenyahkan keraguan dari hatinya, tetapi tak dapat mengusir rasa takut akan kemungkinan kehilangan suaminya di masa depan.

***

Airin melangkah ringan memasuki kamarnya setelah selesai menyiapkan sarapan. Namun, langkahnya terhenti saat matanya menangkap sosok Kaivan yang sudah duduk di tepi ranjang. Postur tubuh pria itu tegap, meski matanya yang kosong hanya menatap lurus ke depan.

Pembicaraannya dengan Nenek Asih tadi pagi kembali terngiang, mengusik hatinya. Pertanyaan tentang siapa sebenarnya Kaivan dan ketakutan akan kemungkinan kehilangan pria itu membuat dadanya terasa sedikit sesak.

Namun, Airin berusaha menenangkan dirinya dan tetap bersikap seperti biasa. Ia berjanji dalam hati untuk memperlakukan Kaivan dengan lebih baik lagi, meskipun bayangan bahwa pria itu mungkin suatu hari akan meninggalkannya terus menghantui pikirannya.

Airin bertekad menjadi istri yang baik, namun di saat yang sama, ia juga berusaha menegaskan pada dirinya sendiri bahwa ia harus ikhlas jika takdir akhirnya memisahkan mereka. Ia tak menyadari bahwa hatinya semakin terikat pada Kaivan.

Namun, benarkah ia akan mampu benar-benar ikhlas dan melupakan pria itu jika suatu saat Kaivan meninggalkannya?

“Kak Ivan,” panggil Airin lembut sambil mendekat. Kaivan menoleh sedikit ke arah sumber suara, menunjukkan bahwa ia mendengarkan.

Airin menatapnya dengan penuh perhatian, mencoba membaca apa yang ada di balik ekspresi tenangnya. “Lukamu sudah mulai kering,” katanya pelan, mengingat luka-luka yang didapat Kaivan setelah terseret arus sungai beberapa waktu lalu. “Tapi, sebaiknya Kakak mandi agar lebih segar. Aku akan membantumu mandi.”

Kaivan terdiam sejenak sebelum akhirnya menoleh lebih jelas ke arah Airin. “Aku bisa melakukannya sendiri,” jawabnya dengan nada datar namun tegas.

Airin tersenyum kecil, berusaha meyakinkannya. “Kak, lukamu masih belum sepenuhnya sembuh. Kalau Kakak mandi sendiri dan salah gerakan, bisa jadi malah memperparah luka-lukanya. Biar aku saja yang membantu.”

Kaivan menarik napas panjang, seolah mempertimbangkan. “Kau yakin? Bukankah ini akan merepotkanmu?” tanyanya pelan.

Airin menggeleng meskipun Kaivan tak bisa melihat. “Tidak, aku tidak merasa direpotkan. Aku hanya ingin Kakak cepat sembuh,” ucapnya dengan tulus.

Mendengar ketulusan di suara Airin, Kaivan akhirnya mengangguk kecil. “Baiklah, kalau itu maumu. Tapi aku tidak ingin terlalu merepotkanmu.”

Airin tersenyum lega. “Tidak apa-apa. Sekarang, mari kita ke kamar mandi.” Ia membantu Kaivan bangkit dari ranjang dengan hati-hati, memastikan langkahnya aman saat berjalan menuju kamar mandi. Di dalam hatinya, Airin merasa semakin terhubung dengan Kaivan, meskipun pria itu masih menyimpan banyak misteri yang belum ia pahami.

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Arida Susida
suka bangettt😘😘😘
꧁꒰✨N̊ån̊å K̊i̊år̊å✨ ꒱꧂: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
echa purin
👍🏻
Memyr 67
𝗂𝗍𝗎𝗅𝖺𝗁 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗎 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗂𝗄𝗎𝗍𝗂 𝖺𝗉𝖺𝗉𝗎𝗇 𝗄𝖾𝗂𝗇𝗀𝗂𝗇𝖺𝗇 𝖺𝗇𝖺𝗄. 𝗐𝖺𝗅𝖺𝗎𝗉𝗎𝗇 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀𝗍𝗍𝗎𝖺 𝗆𝖾𝗇𝖼𝖺𝗋𝗂 𝗇𝖺𝖿𝗄𝖺𝗁 𝖻𝗎𝖺𝗍 𝖺𝗇𝖺𝗄𝗇𝗒𝖺 , 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝖻𝖾𝗀𝗈 𝖽𝗂𝗂𝗄𝗎𝗍𝗂 𝗆𝖺𝗎𝗇𝗒𝖺 𝗍𝖾𝗋𝗎𝗌, 𝖺𝗄𝗁𝗂𝗋𝗇𝗒𝖺 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗁𝖺𝗇𝖼𝗎𝗋𝗄𝖺𝗇 𝗌𝖾𝗆𝗎𝖺 𝗒𝗀 𝖽𝗂𝖻𝖺𝗇𝗀𝗎𝗇 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗆𝖾𝗆𝖾𝗋𝖺𝗌 𝗄𝖾𝗋𝗂𝗇𝗀𝖺𝗍 𝖽𝖺𝗇 𝖻𝖾𝗋𝖽𝖺𝗋𝖺𝗁 𝖽𝖺𝗋𝖺𝗁.
Memyr 67
𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂𝗇𝗒𝖺 𝗌𝖾𝗋𝗎 𝗂𝗇𝗂. 𝗍𝗈𝗄𝗈𝗁 𝖼𝖾𝗐𝖾𝗄𝗇𝗒𝖺 𝗌𝗈𝗆𝗉𝗅𝖺𝗄
Memyr 67
𝖺𝗂𝗋𝗂𝗇 𝗍𝖾𝗋𝗅𝖺𝗅𝗎 𝗉𝗈𝗅𝗈𝗌. 𝗆𝖺𝗇𝖺 𝖺𝖽𝖺 𝗄𝖾𝗁𝗂𝖽𝗎𝗉𝖺𝗇 𝗍𝖾𝗇𝖺𝗇𝗀 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂 𝗌𝖾𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗄𝖺𝗂𝗏𝖺𝗇 𝖺𝖾𝗋𝗈𝗇?
Memyr 67
𝗏𝖺𝗇𝗒𝖺 𝗉𝖾𝗋𝗅𝗎 𝖽𝗂𝖼𝗎𝗋𝗂𝗀𝖺𝗂. 𝖻𝖾𝗋𝗉𝖾𝗇𝖽𝗂𝖽𝗂𝗄𝖺𝗇 𝗍𝗂𝗇𝗀𝗀𝗂 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝖻𝗅𝗈𝗈𝗇. 𝗃𝖺𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗃𝖺𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗂𝗃𝖺𝗓𝖺𝗁𝗇𝗒𝖺 𝗁𝖺𝗌𝗂𝗅 𝗆𝖾𝗇𝗒𝗎𝖺𝗉 𝖽𝖺𝗇 𝗇𝖺𝗂𝗄 𝗄𝖾 𝗋𝖺𝗇𝗃𝖺𝗇𝗀 𝗉𝖺𝗋𝖺 𝖽𝗈𝗌𝖾𝗇𝗇𝗒𝖺.
Memyr 67
𝖿𝗂𝗋𝖺𝗌𝖺𝗍 𝖽𝗂𝗌𝗁𝖺 𝗆𝖺𝗌𝗂𝗁 𝗍𝖺𝗃𝖺𝗆
Memyr 67
𝗁𝖺𝗅𝖺𝖼𝗁 𝗀𝖺𝗇𝗍𝗂 𝗌𝗍𝗋𝖺𝗍𝖾𝗀𝗂, 𝗍𝗎𝗃𝗎𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺 𝗌𝖺𝗆𝖺
Memyr 67
𝗄𝖾𝗋𝖺𝗌 𝗄𝖾𝗉𝖺𝗅𝖺, 𝗇𝖺𝗆𝖺 𝗍𝖾𝗇𝗀𝖺𝗁 𝗄𝗅𝖺𝗇 𝖺𝖾𝗋𝗈𝗇. 𝗃𝖺𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗍𝖾𝗋𝗅𝖺𝗅𝗎 𝗇𝖺𝖿𝗌𝗎 𝗂𝗇𝗀𝗂𝗇 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖺𝗍𝗎𝗁𝗄𝖺𝗇 𝖺𝗂𝗋𝗂𝗇 𝗄𝖺𝗄𝖾𝗄. 𝗇𝖺𝗇𝗍𝗂 𝗆𝖺𝗅𝗎 𝗅𝖺𝗀𝗂, 𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝖽𝗎𝗅𝗎 𝗐𝖺𝗄𝗍𝗎 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝖽𝗂𝗌𝗁𝖺.
Memyr 67
𝖻𝗋𝖺𝗆𝖺𝗇𝗍𝗒𝗈 𝗆𝖺𝗄𝗂𝗇 𝗍𝗎𝖺 𝗆𝖺𝗄𝗂𝗇 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖺𝖽𝗂. 𝗆𝖾𝗇𝗀𝖺𝗍𝖺𝗂 𝖺𝗂𝗋𝗂𝗇 𝖼𝗎𝗆𝖺 "𝗆𝖾𝗅𝗂𝗁𝖺𝗍" 𝗉𝖾𝗅𝗎𝖺𝗇𝗀 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖺𝖽𝗂 𝗄𝖺𝗒𝖺, 𝗆𝖾𝗇𝗎𝗍𝗎𝗉 𝗆𝖺𝗍𝖺 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗂 𝗐𝖺𝗇𝗂𝗍𝖺 𝗉𝗂𝗅𝗂𝗁𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺 𝗌𝖺𝗆𝖺. 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝗆𝖾𝗇𝖼𝖺𝗋𝗂 𝗉𝖾𝗅𝗎𝖺𝗇𝗀 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝖻𝖾𝗋𝗍𝖺𝗆𝖻𝖺𝗁 𝗄𝖺𝗒𝖺.
Memyr 67
𝖺𝗉𝖺𝗅𝖺𝗀𝗂 𝗒𝗀 𝖺𝗄𝖺𝗇 𝖽𝗂𝗅𝖺𝗄𝗎𝗄𝖺𝗇 k𝖺𝗄𝖾𝗄 𝖻𝗋𝖺𝗆𝖺𝗇𝗍𝗒𝗈 𝖽𝖺𝗇 𝗏𝖺𝗇𝗒𝖺. 𝗌𝗎𝖽𝖺𝗁 𝗍𝗎𝖺 𝗃𝗎𝗀𝖺, 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝗄𝖺𝗉𝗈𝗄 𝗄𝖺𝗉𝗈𝗄 𝗄𝖺𝗄𝖾𝗄 𝖻𝗋𝖺𝗆
Memyr 67
𝗆𝖾𝗅𝗂𝖺𝗁, 𝖻𝖾𝗋𝗌𝗂𝖺𝗉 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝗁𝖺𝗇𝖼𝗎𝗋
Memyr 67
𝖺𝗄𝗁𝗂𝗋𝗇𝗒𝖺 𝗄𝖺𝗂𝗏𝖺𝗇 𝗎𝗇𝖻𝗈𝗑𝗂𝗇𝗀.
Memyr 67
𝗄𝗅𝖺𝗄𝗎𝖺𝗇 𝗄𝖺𝗂𝗏𝖺𝗇 𝗒𝖺? 𝖻𝗎𝖺𝗍 𝗋𝗂𝖼𝗁𝗂𝖾 𝖻𝗂𝗇𝗀𝗎𝗇𝗀 𝗍𝖾𝗋𝗎𝗌.
Memyr 67
𝗄𝗈𝗄 𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝖺𝗅𝗏𝖺 𝗄𝖾𝗃𝖺𝖽𝗂𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺? 𝗁𝖺𝗇𝗒𝗎𝗍 𝗌𝖺𝗆𝗉𝖺𝗂 𝗄𝖾 𝗍𝖾𝗉𝗂 𝗉𝖺𝗇𝗍𝖺𝗂?
Memyr 67
𝗎𝗎𝗎𝗁 𝗍𝖾𝗀𝖺𝗇𝗀
Memyr 67
𝗌𝖾𝖻𝖾𝗇𝗍𝖺𝗋, 𝖺𝗊 𝗅𝗎𝗉𝖺. 𝖿𝖾𝗋𝖽𝗒 𝗂𝗇𝗂 𝗒𝗀 𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂𝗇𝗒𝖺 2? 𝗒𝗀 𝗌𝖺𝗍𝗎𝗇𝗒𝖺 𝖽𝗎𝗅𝗎 𝗆𝖺𝗌𝗂𝗁 𝗌𝗆𝖺?
Memyr 67
𝗉𝗎𝖺𝗌𝗒 𝗋𝖺𝗌𝖺𝗇𝗒𝖺 𝖺𝗄𝗎 𝗆𝖾𝗇𝗀𝖾𝗍𝖺𝗁𝗎𝗂 𝗄𝖺𝗂𝗏𝖺𝗇 𝗆𝖾𝗇𝖺𝗁𝖺𝗇 𝗁𝖺𝗌𝗋𝖺𝗍𝗇𝗒𝖺. 𝗁𝖺𝗁𝖺. 𝖾𝗀𝗈𝗂𝗌 𝗌𝗂𝗁, 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝗆𝖺𝗎 𝗃𝗎𝗃𝗎𝗋 𝗌𝗎𝖽𝖺𝗁 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝗆𝖾𝗅𝗂𝗁𝖺𝗍 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗇𝗈𝗋𝗆𝖺𝗅.
Memyr 67
𝗈𝗍𝗁𝗈𝗋 𝗍𝖾𝗋𝗅𝖺𝗅𝗎 𝗁𝖾𝖻𝖺𝗍 𝗆𝖾𝗆𝖻𝗎𝖺𝗍 𝖼𝖾𝗋𝗂𝗍𝖺𝗇𝗒𝖺. 𝗌𝖺𝗆𝗉𝖺𝗂 𝗐𝖺𝗄𝗍𝗎 𝖺𝗄𝗎 𝖼𝗈𝖻𝖺 𝗅𝗈𝗆𝗉𝖺𝗍 𝖾𝗉𝗂𝗌𝗈𝖽𝖾, 𝖺𝗄𝗎 𝗆𝖺𝗅𝖺𝗁 𝖻𝗂𝗇𝗀𝗎𝗇𝗀. 𝗆𝖾𝗆𝖺𝗇𝗀 𝗁𝖺𝗋𝗎𝗌 𝖽𝗂𝖻𝖺𝖼𝖺 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗂𝗄𝗎𝗍𝗂 𝗎𝗋𝗎𝗍𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺, 𝗍𝖺𝗄 𝗇𝗂𝗌𝖺 𝗅𝗈𝗆𝗉𝖺𝗍 𝗅𝗈𝗆𝗉𝖺𝗍.
Diana Dwiari
sepasang mata yang mengamati....Hem....kira2 siapa ya...anak buahnya Ferdi atau orang kampung
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!