Wanita bernama Kaluna dengan usia 26 tahun terus saja di desak dan di tanya kapan nikah? Umur sudah cukup untuk membina rumah tangga.
Namun Kaluna tidak ada pacar dan sudah lama putus bagaimana caranya akan menikah? Dirinya saja malas untuk keluar saat teman- temannya mengajaknya nongkrong, dirinya masih percaya dengan kata-kata "Jodoh gak akan kemana."
"Nasib ku, bagaimana aku akan mati dalam keadaan jomblo begini." Ucapnya saat mobilnya mulai masuk ke dalam jurang, pintu mobil juga susah untuk ia buka.
Namun bagaimana jadinya, jika dirinya tidak jadi mati atau pending dulu untuk bertemu dewa kematian, ia malah masuk ke dalam raga seorang wanita yang sudah memiliki suami, bahkan anak?
Baca selengkapnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Curiga
Keesokan harinya Tifara sudah berada di lokasi, karena saat ini ia akan tampil bersama model lain untuk memperagakan pakaian yang di rancang oleh designer terkenal. Tentu saja ia harus hadir dan tidak akan menyia-nyiakan ini, karena Felicia tidak tampil dan ini adalah kesempatan emas baginya untuk lebih unggul lagi dari kakak tirinya itu.
Setelah semuanya sudah siap, mereka satu-satu catwalk menuju panggung dan disana juga banyak para model yang menonton nya. Bukan hanya itu tapi juga pebisnis besar, yah siapa lagi kalau bukan Aryan salah satunya, ia ingin melihat istrinya yang tampil.
"Mama cantik sekali." Ucap Elzan yang ikut menonton bersama papa nya. Aryan rela hadir dan meninggalkan kerjaannya demi sang istri.
"Tentu saja, dia istri papa."
"Kenapa papa tidak cari istri lain saja." Aryan dengan cepat menoleh kearah anaknya, jika saja di samping nya itu orang lain, sudah pasti ia robek mulutnya, tapi ini duplikat dirinya sendiri.
Namun ia beralih saat istrinya berpose di hadapan nya dan tersenyum kearah mereka berdua. Betapa merasa beruntung nya Aryan mendapatkan wanita secantik Tifara, ia tidak pernah merasa menyesal telah menikah dengan istrinya itu. Sifat atau perilaku yang menyakitkan pun ia tetap mencintai istrinya.
Melihat itu, Felicia maupun Frederick tidak suka dengan mereka yang terlihat harmonis.
Selesai dengan acaranya, Aryan dan Elzan menyusul ke belakang stage menunggu Tifara berganti pakaian.
"Sudah selesai, sayang?"
"Iya mas."
"Ara," Panggil seseorang membuat mereka menoleh.
"Lili? Ya ampun lo ada disini? Lo beneran datang hari ini?" Tanya nya kaget karena Lili benar-benar datang dan itu juga bersama pacarnya.
"Tentu saja, ternyata gue punya teman seorang model terkenal, tadi di dekat gue duduk banyak yang membicarakan lo tau, mereka bilang lo cantik sukses dan banyak lagi."
"Eh ini kenalin pacar gue-
"Marcel? Tau sih gue." Marcel melirik Lili yang dirinya saja tidak mengenal wanita dihadapan nya, tidak mungkin langsung tau.
"Lupa, semua yang berhubungan dengan orang dekat Kaluna, lo pasti bakal tau."
"Iyalah, lo sering ninggalin Kaluna sendiri di dalam ruangan saat Marcel udah jemput. Sama kayak Sinta juga gitu kalau udah di jemput suaminya."
"Ini suami dan anak gue, kenalin mas ini pacarnya Lili." Aryan dan Marcel berjabat tangan, mereka tersenyum karena baru bertemu. Marcel benar-benar tidak pernah bertemu dan mengenal mereka walaupun mereka terkenal sekalipun, ia sibuk dengan pekerjaan nya.
"Kalian mampir aja dulu di rumah, lo kan belum langsung nemu tempat tinggal li, nanti gue antar cari dekat rumah gue."
Alarm ponsel Tifara tiba-tiba bergetar membuat nya langsung mengerti mengajak mereka cepat keluar dari tempat itu, untung saja saat ada di luar ia setel dengan getar saja.
"Mas bawa laptop? Ara butuh laptop sekarang." Tifara menatap suaminya yang menggendong Elzan.
"Mas gak bawa sayang."
"Pakai punya gue dulu." Lili menyerahkan laptop nya pada Tifara.
Tifara menembus sistem nya sendiri lewat laptop Lili.
"Selamat datang Kaluna, aku masih bisa menjaga sistem ini dengan baik, walaupun tidak bisa terus menerus."
Lili dan Marcel terkejut, jangankan Marcel yang baru tau, Lili yang sudah pernah melihat langsung saja masih tidak percaya.
"Bertahan Kara, kamu harus bisa melawan mereka, aku akan membuat suatu pertahanan agar kamu lebih aman."
"Marcel, lo bawa laptop kan? Pinjamkan pada Lili, bantu gue li." Marcel tidak bisa bertanya sekarang, ia harus menyerahkan dulu laptop nya pada Lili untuk membantu memperkuat sistem.
"Sepertinya sistem milik Sinta sudah di modifikasi, gue yakin tandingan kita bukan orang biasa li." Tifara mengetahui karena menurut nya orang yang akan menembus sistem miliknya sangat kuat untuk dikelabui.
"Apa jangan-jangan mereka menggabungkan sistem milik Sinta dengan sistem buatan mereka? Bisa saja seperti itu untuk memperkuat dan menerobos sistem Kaluna." Tifara merasa semakin bahaya dengan sistem nya, ia harus memperkuat KARA.
"Coba gue lihat, siapa tau gue bisa bantu." Marcel bisa membantu karena dia juga bekerja sebagai software engineer.
Lili memberikan laptop nya dan Marcel memperkuat pertahanan sistem pacarnya.
"Kaluna, kamu harus hati-hati karena orang yang memodifikasi sistem tidak jauh dari kita sekarang."
Tifara menatap Marcel dan Lili, ia curiga dengan mereka berdua walaupun sistem tidak menyebut di dekat nya.
"Eh sembarangan kamu, sistem lo bukan nuduh kita kan? Tidak jauh dari kita dia bilang, bukan di dekat lo." Lili tidak terima karena seakan dituduh dengan tatapan curiga Tifara.
"Sayang, tidak mungkin mereka yang ingin mengambil alih sistem teman kamu."
"Ara hanya curiga tidak menuduh mereka berdua, bagaimana juga dia bisa tau kalau sistem bisa di modifikasi. Sekarang Ara gak bisa berpikir baik mas." Tifara merasa belum membalas dendam Tifara asli, sekarang malah musuh nya mendekat membuat nya tjdak bisa berpikir jernih.
"Lo tenang ra, gue akan bantu lo." Bagaimana pun Tifara akan sedikit saja mempercayai orang, walaupun orang terdekat nya. Bisa jadi orang dekat itulah yang berniat buruk.
Tifara segera menghapus dan menghilangkan apa yang sudah ia pakai di laptop Lili.
"Kita langsung pulang saja, Elzan kayaknya ngantuk." Aryan langsung pindah posisi ke depan bersama Tifara dan Elzan dibelakang. Sedangkan Marcel dan Lili pindah ke mobil lain.
"Gue yakin ada yang membuat Ara gak bisa percaya sama aku lagi, bisa aja kan dia terus curiga sama aku nanti."
"Tapi gimana ceritanya sistem tadi bilang bahwa wanita itu adalah Kaluna." Marcel penasaran bagaimana bisa Kaluna dimiliki oleh Tifara.
"Tifara adalah orang yang di percaya untuk memegang sistem milik Kaluna, dan sistem itu tidak bisa merubah panggilannya pada orang yang membukanya." Marcel hanya mengangguk dan masih mengikuti mobil Aryan dan Tifara dari belakang.
"Mas di kantor pasti ada seorang IT yang bisa dipercaya kan?"
"Tentu ada, tapi mungkin tidak terlalu kuat. Karena mas menyuruh meretas siapa orang yang sudah menyebarkan video teman mama waktu itu, tapi tidak bisa katanya jika diteruskan akan membahayakan sistem kantor." Tentu saja tidak bisa menurut Tifara, karena jika sampai meretasnya kantor yang jadi ancaman.
Aryan sudah tau jika itu perbuatan istrinya, tapi dia pura-pura tidak tau.
"Ayo masuk dulu li, nanti kita cari untuk tempat tinggalnya bareng-bareng."
"Bi, ayah mana?"
"Bapak tadi di taman, saat nyonya datang baru saja saya tinggal."
"Tolong bikin minum untuk teman saya ya bi, saya ganti pakaian dulu."
"Sayang, mas bawa Elzan ke kamarnya ya." Tifara tersenyum dan mengangguk.
"Li, gue ke kamar bentar ya. Kalian duduk dulu aja, kalau mau sesuatu minta sama bibi." Lili mengangguk melihat temannya itu memiliki keluarga yang harmonis.
Hanya beberapa menit Tifara sudah keluar dengan celana santai diatas lutut dan kaos.
Aryan sudah di luar bersama Lili dan Marcel.
"Mas, Ara mau ke taman lihat ayah dulu bentar."
"Iya."
Tifara menyusul ayahnya ke taman di samping rumah, bibi masih sibuk untuk menyiapkan cemilan sebagai suguhan.
"AYAH..." Tifara teriak dari arah taman membuat Aryan langsung berlari keluar, ia tidak mau terjadi apapun dengan istrinya.
"Ayah, gak mungkin." Tifara dengan cepat akan masuk, tapi bertemu Aryan diluar.
"Ada apa sayang?"
"Ara harus cari tau sesuatu." Tifara langsung masuk berlari ke kamarnya, ia mengambil laptop dan membawanya lagi keluar.
"Ada apa ra?" Tanya Lili tapi tidak di jawab oleh Tifara.
"Sampai ada orang yang berani menyakiti ayah awas aja."
Tifara fokus untuk melihat dengan jelas CCTV di dekat rumah dan di taman, tidak begitu jelas karena pakai jaket, tapi Tifara tau itu siapasiapa walaupun dibantu oleh seseorang.
"Belum kapok juga mama, mau di penjara dia rupanya." Tifara menutup laptopnya dan beranjak pergi, namun Aryan menahan nya.
"Lepas mas, aku harus selamatkan ayah." Marcel dan Lili masih tidak mengerti situasi nya, tapi sedikit paham.
"Ini bahaya, kamu jangan sendiri. Mama pasti punya komplotan sekarang."
Tifara tertawa mendengar ucapan Aryan.
"Komplotan? Dapat duit dari mana?"
"Tubuhnya, mama masih punya tubuh untuk ia jadikan imbalan." Lili menutup mulutnya mendengar Aryan berkata seperti itu, sangat kurang ajar pada mertuanya, namun Tifara sepertinya biasa saja.
"Biar gue bantu cari ayah lo, gue lebih paham beladiri." Tifara merasa diremehkan tersenyum smirk. Ia berjalan dan mengabaikan mereka yang mengikuti nya. Tifara yang menyetir, tapi dengan cara yang sedikit brutal. Karena ia melajukannya dengan kecepatan tinggi.
Mereka bertiga merasa pusing, apalagi Lili yang sudah menahan ingin muntah.
Tak lama sudah sampai, Tifara tau jika ayahnya masih dibawa ke rumah nya yang lama.
Ketiga orang itu turun dengan cepat dan merasa pusing berpegangan pada mobil.
"Kalian kenapa sih? Kayak gak pernah naik mobil aja." Sebenarnya biasa aja, tapi masalah nya mereka belum siap dan juga seperti balapan.
Tifara masuk lebih dulu untuk menemui mama tirinya.
Ada bodyguard yang berjaga, membuat Tifara tersenyum.
"Dibayar berapa kalian? Mau aja diajak kerja sama mama."
"Tidak ada urusan nya sama kamu, kami hanya mengikuti apa yang diperintahkan tuan."
"Wah, seperti nya mamaku punya selingkuhan orang yang lumayan berpengaruh."
"Banyak omong." Bodyguard itu ingin menangkap Tifara, namun dengan sigap Tifara menyerang mereka dengan menendang secara bergantian.
"Uh jatuh, sakit ya?" Tanya dengan wajah polosnya.
Lili dan Marcel terkejut melihat Tifara bisa melawan bodyguard yang tubuhnya lebih besar.
"Biar mas yang atasi mereka, kamu dan teman kamu cari ayah." Aryan dan Marcel mengahadapi orang yang berjaga diluar, Tifara dan Lili masuk untuk mencari ayahnya.
"Mama, dimana ayah? Cepat keluar!" Tifara teriak di dalam rumahnya.
Mama tirinya keluar bersama seorang pria, ia belum jelas karena pria matang itu memakai topi.
"Kamu tidak akan bisa membawa nya, sebelum kamu menandatangani surat pindah kepemimpinan di kantor."
Tifara melirik Lili dan tertawa, walaupun tidak mengerti Lili juga ikutan.
"Lo ngerti?"
"Ya kagak lah, lo pikir gue cenayang."
Cih
"Jangan harap mama bisa mengambil nya, perusahaan itu milik ayah dan ibu, mama hanya orang baru yang masuk ke hidup ayah dan menghancurkan nya, sekarang minta untuk dipindah tangan. Omong kosong. Aku sudah memberikan 10jt untuk mama waktu itu, sudah habis? Untuk pakai mama atau kak Feli? Jangan terlalu memanjakan anak makanya."
Orang di sebelah nya mendongak dan Tifara sangat terkejut.
"Om Fredo?"
"Kamu masih mengenalku rupanya, padahal Frederick waktu itu hanya membawamu sekali untuk menemui ku." Selingkuhan mama tirinya adalah Fredo, papa dari Frederick. Sedangkan Frederick bersama Felicia, anak dan orang tua sama-sama berselingkuh.
"Saya tidak ada hubungannya dengan om, maka lepaskan ayah saya, om tidak kekurangan uang kan? Sampai harus susah payah meminta saya untuk memindahkan pemilik nama perusahaan."
"Oh ya ampun, ini mama yang ditipu om, atau om yang nipu mama tiri saya."
"Apa maksud kamu?" Tanya mereka berdua.
"Kalau mama mungkin dengan om bisa membuat hidup mama enak dan mendapatkan perusahaan ayah, sedangkan om, bisa saja nanti setelah dapat, om akan ambil alih lagi perusahaan yang sudah akan mama ambil dan meninggalkan mama."
Kedua orang itu saling melirik. "Kamu berpikir begitu?"
"Mungkin kamu yang begitu, aku tidak mungkin seperti itu."
Melihat dia orang itu berdebat, Tifara masuk dengan pelan bersama Lili, mereka dengan cepat membantu ayahnya untuk segera keluar, tapi belum keluar mereka berdua telah sadar bahwa mereka hanya di provokasi.
"Beraninya kamu membohongi kita."
"Saya tidak bohong, jika mungkin masing-masing di antara kalian ada yang berpikir seperti itu."
Mama tirinya mendekat membuat Tifara tidak merasa takut sama sekali seperti dulu Tifara asli, jiwa nya adalah Kaluna wanita dengan sabuk hitam beladiri kuat yang di ajarkan papa nya.
Akan menjambak rambut Tifara membuat tangan yang akan sampai itu sudah lebih dulu Tifara kretek.
"oh my god, enak gak ma? Ara jago kan pijat yang viral sekarang."
"Anak sialan." Meringis dengan tangan yang sakit.
"Tapi mama yang lebih orang tua sialan, untung saja Ara tidak lahir dari perut mama. Jika tidak maka Ara memilih untuk mati saja, kasian kak Feli."
Fredo tidak tinggal diam, mungkin saja dia sudah dibodohi oleh tipu daya yang mama tirinya berikan hingga membuat nya membela.
Tifara dengan cepat menangkis, tangan tua itu tidak terlalu kuat, mungkin dia hanya mampu membayar, makanya jadi malas untuk berlatih.
"Jangan menyentuh saya seujung kuku pun, jika sampai berani maka akan saya patahkan tangan om sekarang juga."
Fredo tidak percaya jika Tifara bisa melakukan nya, ia masih tetap mendekati lagi.
Saat Tifara akan benar-benar menerjang pria tua itu, Aryan sudah lebih dulu.
"Berani kau menyentuh istriku, maka tanah akan menimbunmu setelah itu." Arti dari perkataan Aryan tentu saja masuk ke pemakaman. Aryan tentu sangat marah ada orang lain ingin menyentuh miliknya, apalagi itu istri yang sangat ia cintai.
Ngeri semua suami istri ini menurut Lili, Marcel hanya menyaksikan mereka berdebat.
Setelah itu mereka keluar dengan mendorong kursi roda ayah Tifara. Pasangan tua itu sama-sama merasakan sakit akibat plintiran dan tendangan kuat.
Ayah Tifara merasa sedih karena selama ini memang ia dikhianati oleh istrinya.
"Ara mengerti perasaan ayah." Tifara memeluk ayahnya, Lili yang di sampingnya juga bersandar sedikit ke bahu ayah Tifara.
Mereka pulang dengan Aryan yang menyetir, tidak mau mual dan pusing lagi jika dokter tau mungkin mereka sedang sakit karena keluhannya begitu atau tidak diagnosa dokter sedang hamil haha.
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...
Baca juga cerita bebu yang lain.
See you...