NovelToon NovelToon
FOR NOW & FOREVER

FOR NOW & FOREVER

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Cintapertama / Perjodohan
Popularitas:67.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Yuniar Frida

Indra dan Tiwi, dua anak manusia itu bersatu karena perjodohan.

Keduanya sama-sama memiliki jawaban, kenapa mereka menerima perjodohan tersebut.

Awal pertemuan yang buruk dan tidak adanya rasa satu sama lain menjadi masalah besar dalam rumah tangga mereka.

Lantas, saat keduanya benar-benar jatuh cinta, masa lalu dari masing-masing pihak kembali muncul dan mampu meretakkan pondasi pernikahan mereka.

Lalu apakah yang akan Indra dan Tiwi lakukan agar pernikahan sekali dalam seumur hidup seperti yang mereka impikan itu bisa bertahan selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Yuniar Frida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kecut

Tiwi mengeluh dalam hati selama pertemuannya dengan Steffan. Ia seperti tidak menjadi dirinya sendiri. Setiap bekerja, Tiwi selalu menekankan keformalan, tapi kali ini semuanya tiba-tiba berubah.

Tiwi memperhatikan gelagat Steffan yang melirik jam yang melingkar di pergelangannya lalu kembali fokus pada iPadnya yang sedang menampilkan dokumen yang berisi beragam desain kedai yang tengah mereka bisniskan.

“Semuanya bagus, tapi saya mau kita pilih model yang ini.” Steffan membalikkan iPadnya, menunjukkan model kedai bertema classic.

“Menurut saya ini tidak terlalu glamour, it's simple, dan sesuai dengan tipe ideal masa sekarang.” Jelas Steffan.

Tiwi mengangguk menyetujui.

“Jadi, bagaimana setuju dengan pendapat saya? Kita pilih yang ini?” Tanya Steffan.

“Iya, saya setuju.”

Tiwi bersyukur dalam hati, akhirnya keputusan final diambil juga. Sebelumnya ia dan Steffan sempat berdebat memilih desain-desain kedai, dan pada desain kelima, keduanya klop, dan sama-sama setuju.

“Pertemuan berikutnya, kita akan survey langsung ke tempatnya.”

Tiwi kembali mengangguk. “Iya.”

“Okay, pertemuan kita akhiri sampai di sini, saya ada jadwal setengah jam lagi. Bawahan saya akan segera menghubungimu mengenai survey kita.” Steffan tersenyum, lalu membenahi barang-barangnya yang di atas meja.

Steffan menjulurkan tangannya ke depan ketika ia berdiri. Tiwi yang mengerti maksud gerakan tersebutpun ikut menjulurkan tangan. Mereka bersalaman, bentuk kerja sama mereka yang terjalin lancar.

“Saya senang bisa berdiskusi dengan kamu, sampai ketemu di pertemuan selanjutnya.”

Tiwi tersenyum. “Terimakasih!”

Tiwi membuang napasnya, kembali duduk saat Steffan sudah menghilang. Ia membereskan barang-barangnya, lalu berjalan ke arah kasir.

“Wi?”

Tiwi yang merasa dipanggil, pun menoleh ke belakang.

Tiwi tersenyum hangat mendapati wanita yang selalu terlihat cantik itu, wanita yang sudah melahirkan suaminya.

Mama mertuanya.

“Mommy?”

Vina berjalan mendekat, lalu langsung mendekapnya.

“Di sini ngapain, sayang?” Tanya Vina.

“Meeting, ini udah selesai sih, Mom,” jawab Tiwi.

Vina mengangguk. “Buru-buru nggak?”

Tiwi menggeleng. “Nggak kok, Mom. Oh iya, Mommy di sini makan siang?”

“Iya sayang, sekalian ketemu teman-teman.” Jawab Vina. “Ikut Mommy sebentar kesana, mau ya? Mommy mau kenalin kamu sama mereka.” Vina menunjuk ke arah meja yang tengah duduki beberapa orang. Ada tiga orang dengan pakaian mewahnya masing-masing. Tiwi bisa melihat tas-tas branded yang duduk manis di atas meja.

“Maukan?”

“Iya, mau.” Untuk menolak rasanya Tiwi tidak bisa, melihat raut mama mertuanya yang penuh harap dengannya. Sepertinya juga ia akan berdosa saat menolaknya, apalagi ia sudah bilang bahwa ia tidak buru-buru.

Tiwi berjalan di samping Vina.

“Duduk sini, sayang.” Vina bahkan menggeserkan kursi untuk Tiwi duduki.

Tiwi hanya tersenyum membalas kebaikan mama mertuanya.

“Dia siapa, sist?” Tanya wanita yang bermakeup paling menor di antara yang lain kepada Vina.

“Dia menantunya Vina, Lin, istrinya Indra, itu loh anak bungsunya Vina. Masa situ nggak tau sih?” Yang menjawab adalah wanita berkerudung yang duduk tepat di samping Tiwi.

Wanita berkerudung itu dengan cepat menutup bibirnya. “Ups, lupa. Kan pas nikahan mereka, kamu nggak ada, lagi ke Jerman waktu itu.”

Wanita bermakeup tebal yang Tiwi ketahui bernawa Linda itu hanya menggangguk, lalu kembali fokus pada makanannya.

“Loh anaknya sudah nikah? Padahal saya baru mau kenalin ke anak saya,” celetuk wanita lainnya dengan wajah memelasnya. Ia terlihat yang paling tua dari yang lain.

“Duh, mana mau si bungsu Adhitama sama anak kamu, diakan janda.” Wanita berkerudung itu kembali menyampaikan protesnya, sembari tertawa geli.

“Lah, nggak ada yang tau, dimana-mana janda lebih hot, servisnya sudah nggak bisa dipertanyakan lagi.”

Tiwi meringis mendengarkan pembahasan para ibu-ibu, tak berniat menimpali seperti seorang wanita lainnya yang hanya cekikan sembari menikmati makannya.

“Kalau servisnya sebagus itu, nggak mungkin dong anak kamu diselingkuhi, tidur sama wanita lain yang double hot.”

Tiwi dibuat melongo dengan kefrontralan wanita berkerudung di sampingnya.

Sita--ibu dari wanita janda yang kini menjadi perbincangan hanya tertawa. Tertawa yang dibuat-buat untuk menutupi rasa malunya.

Rahmi--wanita berkerudung itu tersenyum puas. Belakangan Tiwi tahu, ternyata Rahmi adalah tantenya, saudara sepupu dari Vina, mama mertuanya.

“Cantik ya Jeng menantunya,” wanita yang tadi diam, akhirnya angkat bicara.

Vina terkekeh lalu mengusap lengan Tiwi dengan lembut. “Iyalah, bibit unggul ini.”

“Dia anaknya Jeng Lia, Mira.” Rahmi lagi-lagi menjawab.

Mira yang tadi memuji rupa Tiwi dibuat melotot. “Astaga, kenapa nggak bilang dari tadi sih.” Ujarnya dengan raut wajah kesal, lalu kembali normal setelah bertatapan dengan Tiwi.

“Saya temannya Lia loh sayang, nanti kalau ketemu sama Lia titip salam ya sama dia, tanyain kenapa nggak undang Tante Mira,” ujar Mira.

Tiwi tersenyum. “Iya tante.”

“Nikahannya udah berapa lama sih, sayang?” Mira kembali bertanya, ia cukup antusias.

“Jalan tiga bulan, tante.” Jawab Tiwi.

“Udah ngisi?” Linda bertanya dengan wajah datarnya.

“Belum,” jawab Tiwi ikut datar.

“Sebelumnya udah periksa kesehatan kesehatan belum? Jangan-jangan...” Sita menggantungkan ucapannya.

“Udah kok tante, saya dan suami sama-sama sehat, sama-sama subur.” Jawab Tiwi.

Sita mencibir. “Terus nikah udah selama itu, belum hamil juga, emang nggak ada niatan kali buat cucu. Atau jangan-jangan nunda, ya?”

Tiwi menghela napasnya, sedetik melirik sang mama mertua yang tengah menatap iba dirinya. Mungkin Vina beranggapan ia telah salah mengajak menantunya untuk bergabung.

“Saya nggak nunda kok, tante, setiap ada waktu kita berusaha. Belum rezeki aja dikasih sama Yang Di atas. Tante cukup doakan aja yang terbaik untuk saya dan suami saya.” Jawab Tiwi setenang mungkin, meski berbohong ia tidak ingin diinjak-injak oleh orang di depannya.

Diam-diam Vina, Rahmi dan Mira tersenyum mendengar jawaban Tiwi.

“Anak kedua saya belum genap sebulan menikah, udah ngisi aja tuh, padahal usahanya nggak banyak-banyak. Apalagi suaminya seorang pilot jarang di rumah,” Sita kembali berujar, belum mau menyerah.

“Ya kan kita tau semua, anak kedua kamu married by accident, hamil duluan.” Cicit Rahmi dan Mira kembali cekikikan.

Dari sini Tiwi tahu, bahwa lingkaran pertemanan mereka tidak didasarkan ketulusan, melainkan tingkat kelas mereka. Mau bergabung hanya dengan orang yang selevel.

Sita tertawa. “Saya tau kok, kamu sama suami kamu dijodohkan kan? Nikah terpaksa ceritanya, saya sih cuma mau bilang, nggak ada yang baik kalau itu didasarkan paksaan.” Ujarnya lagi tanpa menghiraukan ucapan Rahmi.

Tiwi tertegun di tempatnya. Entah kenapa hal itu bisa diketahui oleh orang luar.

“Kenapa? Saya ngomong yang benarkan? Kalau saya perhatikan, kamu masih perawan, iya kan?”

Tiwi mengernyit, ia menatap intens sosok Sita di depannya. Lantas beralih menatap mama mertuanya yang juga seakan meminta jawaban.

Tiwi menetralkan debaran jantungnya, lalu tersenyum miring, sedetik kemudian memancarkan aura malu-malu.

“Maaf ya tante, saya masih punya malu untuk bahas begituan. Yang tante tanyakan sudah termasuk privasi saya.” Ujar Tiwi lalu mencondongkan badannnya untuk lebih dekat. “Setau saya, malam pertama saya dengan suami, dimana pas suami saya nusuk saya, ada darah tuh keluar.” Lirih Tiwi yang masih bisa di dengar jelas oleh keempat orang tua itu.

Reflek Rahmi dan Mira tertawa kencang.

“Menantumu loh ini, beda dari yang lain pokoknya,” ujar Mira masih di tengah-tengah tawanya.

Vina hanya tersenyum, ia merasa bangga dengan menantunya yang kelewat kuat. Padahal ia sudah berdoa agar mental Tiwi tidak down setelah mendengar ucapan Sita. Bahkan ia sudah menghubungi Indra untuk datang ke restoran tempat mereka sekarang.

Tiwi tertawa dalam hati melihat wajah merah padam Sita yang geram dengan dirinya, lalu melihat Linda yang sedikit memasang wajah sinis padanya. Tapi untungnya Linda tidak berkata-kata. Oh, bukan tidak tapi belum.

“Mommy?”

Seluruh pasang mata yang duduk di meja berisikan lima orang itu menoleh pada orang yang baru saja memanggil Vina.

Tiwi mengangkat satu alisnya melihat sang suami yang berjalan mendekat ke arah meja mereka.

“Loh, ngapain di sini?” Tanya Indra dengan alis bertaut. Ia baru menyadari kehadiran Tiwi setelah mencium punggung tangan mamanya.

“Ada meeting sih tadi, terus nggak sengaja ketemu Mommy.” Jawab Tiwi sekenanya.

Indra melangkah ke belakang Tiwi, memegang kedua pundak sang istri yang tengah duduk di depannya.

Ia membungkuk, mengalungkan tanganya di leher sang istri. Dan tanpa tahu malu dan tidak memperdulikan situasi...

Cup

Satu kecupan mendarat di puncak kepala Tiwi.

“Udah makan siang?” Bisik Indra.

Tiwi mengangguk. “Udah tadi, kamu sendiri?”

“Belum sayang, temenin ya?” Ajak Indra, masih berbisik. Tapi jelas terdengar oleh Rahmi, yang sekarang menahan diri agar tidak tertawa dengan keharmonisan pengantin baru di sampingnya.

Lagi, sesuatu berdesir dalam tubuh Tiwi kala panggilan sayang kembali terdengar. Lalu tanpa sadar, ia mengangguk.

“Mom, Indra telponin supir ya? Nggak bisa ngantar pulang ini, mau makan siang sama Tiwi dulu.” Tutur Indra.

Vina hampir tertawa. Tujuannya memanggil Indra memang sebenarnya bukan untuk mengantarnya pulang, tapi karena Tiwi. Tapi tanpa membohongi Indra pun kalau mengatas namakan sang istri, pasti tanpa beralasan Indra akan segera ke tempat tersebut.

“Don't worry, Mommy bisa telpon sendiri kok, sana makan siang sama Tiwi. Lantai dua tuh bagus,” ujar Vina.

Indra menuntun Tiwi berdiri, lalu melemparkan senyum pada teman-teman mamanya. “Kami duluan.”

•••

tbc

1
nanaarmd🌻
kok gak ada ya?
Nanay Dachliawati
ko saya cari ninayaa ga ada
Nanay Dachliawati
ko blm up
Anik Rohman
kapan up lagi kak
Zhulayykha Anniza
lnjuut...
Rere~
seneng deh kakak otor kalok up cerita ni
Fitriyah Azsahrah
buat dong kisah tiffany dan ferrel...atau tiffany ama stefen...😁
ninayaa: Soon..
total 1 replies
Rere~
aku suka somay, Yura
so may i marry u?
kalimat yg bikin aku cekikikan😂
next kak
semangats
semoga bisa up tiap hari hehehe
Rere~
semoga besok bisa up lagi
Rere~
next kak semamgats
Rere~
Maklumin aja lah bang Aldo, Indra kan baru jatuh cinta tuh jadi ya gitu hahaha😂
Rere~
next kak
Zhulayykha Anniza
lanjuuutt.....
Zhulayykha Anniza
lanjuut...
Rere~
next thor
Rere~
akhirnya up juga😚
Anik Rohman
kapan up lagi kak..
Rere~
next thor semangats, awal baca part ini dag dig dug, pas diakhir seneng deh baca keuwuan mereka😂
Rere~
next kak
Mini Sarbini
akhirnya...lanjutkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!