Pada awalnya, kehidupan Keana Larson sebagai gadis remaja terbilang biasa-biasa saja. Namun, semuanya berubah ketika ia mulai mengenal cowok baru di sekolahnya yang bernama Gabriel Axton White.
Keana sadar, mungkin saja berdekatan dengan Gabriel bisa membuat kehidupannya jauh dari kata normal. Cowok itu punya rahasia besar yang tak boleh diketahui siapapun. Mengetahuinya sama saja mati. Tetapi, sudah terlambat bagi Keana untuk menghindar. Gadis itu justru jatuh cinta padanya.
Iblis dan malaikat. Keana tak menyangka harus terjebak di antara keduanya. Rentetan-rentetan kejadian buruk seolah takkan berhenti sampai gadis itu benar-benar mati.
Lantas, tahukah Keana kalau apa yang terjadi dengannya bukanlah suatu kebetulan semata? Dan bisakah ia mengubah takdir buruk yang telah digariskan untuknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poetry Alexandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
-23- Azazel
Gabe mendesis marah ketika para makhluk menyeramkan itu mengelilingi kami semua. Azrael melangkah maju dan menerjang dua diantara mereka yang berdiri di dekatnya. Pedang panjangnya mengeluarkan percikan api saat bertubrukan dengan pedang salah satu dari mereka.
Raphael dan yang bersayap emas---aku belum mengetahui namanya---ikut menyerang ke dua makhluk yang lain. Gabe menyembunyikanku di belakang punggungnya. Tangannya meraih busur panah yang kupegang, lalu ia memanah salah satu dari mereka yang sedang meloncat ke arah kami berdua sambil mengayunkan pemukul besi. Panah tersebut menembus kepalanya dan membuatnya terbakar, lalu menjadi abu di udara.
"Lari, Gabriel!" teriak Azrael seraya menusuk perut salah satu makhluk yang sedang bertarung dengannya. Darah ungu kebiruan menyembur dari perut makhluk menyeramkan itu.
Terdengar suara geraman marah dari mulut makhluk yang paling besar. Ia melangkah maju mendekati Gabriel dan aku. Langkah kakinya yang berat menimbulkan bunyi berdebum saat menyentuh permukaan tanah yang diinjaknya. Gabe menarik tanganku dengan cepat dan mengajakku berlari masuk ke dalam hutan. Di belakang kami, makhluk itu mengejar dengan cepat. Pohon-pohon yang dilaluinya bertumbangan ke sana kemari. Suaranya menggelegar bergema sepanjang hutan.
Aku memekik kaget saat sebatang pohon ek yang berukuran lumayan besar patah di samping tempatku berlari. Kulihat Gabe sedang mengarahkan panahnya ke arah makhluk itu. Ia berlari di belakangku. Burung-burung hantu berhamburan keluar dari tempat persembunyian mereka. Aku tersungkur ke depan, kakiku tersandung patahan pohon yang ada di dekatku. Cepat-cepat aku berdiri dengan panik. Napasku tersengal. Lutut dan sikuku sobek tergores patahan ranting yang berserakan di bawahku.
Suara geraman kembali membahana. Aku mendongak dan melihat makhluk besar itu sedang berteriak marah pada Gabe yang berhasil memanahnya. Ia terjatuh ke tanah dengan keadaan terbakar. Aku bergidik. Gabe kembali menarik tanganku untuk berlari. Di depan kami, ada tiga sosok makhluk menyeramkan lain yang datang menghadang.
Mereka langsung berlari ke arah kami sambil menyeret pedang panjang dan pemukul besi yang mereka pegang masing-masing. Salah satu dari mereka melolong seperti suara serigala.
"Brengsek!" gerutu Gabe sambil menarik pinggangku.
Aku tersentak dan menahan napas. Seperti terhisap dalam arus gravitasi yang kuat. Gabe ternyata mengajakku berteleportasi. Aku terhuyung-huyung begitu mencoba berdiri tegak. Kami berada di luar batas hutan, tempat Gabe memarkir mobilnya tadi.
"Ayo, Keana! Kita harus segera pergi dari sini!" perintahnya, setengah berlari menuju mobilnya yang terparkir di pinggir jalan.
Aku mengikutinya dan langsung melesat masuk ke dalam mobil. Dengan tergesa-gesa, memasang sabuk pengaman. Gabe menyalakan mesin mobil dan segera menjalankannya dengan kecepatan penuh.
"Bagaimana dengan yang lain?" tanyaku sambil melihat ke belakang.
"Mereka akan baik-baik saja," sahut Gabe dengan napas memburu. Matanya lurus ke depan. Kakinya semakin dalam menginjak pedal gas.
Aku terengah-engah. Kulihat di kaca spion, penampilanku benar-benar berantakan. Wajahku kotor oleh tanah basah---mungkin saat aku terjatuh tadi---rambutku yang sebelumnya diikat rapi, awut-awutan di segala sisi. Jaketku juga kotor penuh lumpur dan lumut yang menempel.
"Oh, tidak!" Gabe menggerutu kesal. Kakinya tiba-tiba menginjak rem di tengah laju kencang mobilnya, membuat tubuh kami tersentak ke depan.
Kepalaku nyaris membentur dasbor. Aku mendelik kaget padanya. "Ada apa?"
Raut wajah Gabe berubah kelam. Tangannya mencengkram stir dengan erat, matanya tak berkedip saat melihat ke depan. Aku mengikuti arah yang ditatapnya. Sesosok tinggi besar berwajah sangat menyeramkan. Bermata hitam kelam seperti batu koral tanpa memiliki warna putih di bola matanya, tanduknya besar dan panjang---mencuat di kedua sisi keningnya. Kulitnya berwarna merah dengan bulu-bulu halus di sekujur tubuhnya. Taringnya mencuat tajam saat ia menyeringai.
"Lucifer ..." desis Gabe.
Kurasakan aliran darah di wajahku surut seketika. Makhluk itu menyeringai ke arah kami. Ia berdiri sekitar sepuluh meter di depan.
"Halo, Gabriel. Kita berjumpa lagi," ia tersenyum. Suaranya sengau dan dalam.
Bulu-bulu kudukku merinding seketika. Aku bersumpah ia adalah makhluk paling menyeramkan yang pernah kulihat di muka bumi, bahkan auranya lebih menyeramkan dari makhluk-makhluk yang menyerang kami tadi.
Gabe mengatupkan rahangnya rapat-rapat, lalu menoleh ke arahku. "Keana, bawa mobil ini pulang. Selamatkan dirimu."
"Bagaimana denganmu?" Suaraku tercekat, sedih membayangkan Gabe harus menghadapi makhluk itu sendirian.
"Jangan khawatirkan aku. Aku akan mengatasinya. Pergilah! Yang lain akan menyusul ke sini. Situasi ini tidak aman untukmu!"
"Tidak. Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian. Aku tidak ingin kau terluka." Aku berkeras.
Gabe mengebuskan napas keras-keras, membuka sabuk pengamanku dengan tidak sabar. Tapi, kemudian ia melenguh sambil memegangi dadanya. Keringat dingin membasahi dahinya.
"Gabriel, untuk apa kita berseteru? Kau tahu, aku semakin kuat. Pasukanku telah bertambah banyak di penjuru bumi, bahkan manusia-manusia fana memujaku sekarang. Kalian tidak akan menang melawanku. Kenapa kita tidak gunakan kesempatan ini untuk memperbaiki hubungan kita di masa lalu?"
Gabe mendengus sambil memegangi dadanya. Ia menatap makhluk itu dengan sengit. "Berhentilah bicara omong kosong, Azazel! Oh, aku ingat... namamu bukan lagi Azazel, tapi Iblis terkutuk!"
Lucifer menggeram marah. Ia mengangkat tangannya ke atas. Sekonyong-konyong, mobil yang kami naiki bergerak maju terangkat mendekatinya. Seperti ada sebuah magnet besar yang menyedot kendaraan ini dengan daya tarik luar biasa.
Aku mendelik. Gabe membuka sabuk pengaman yang mengikat tubuhnya, lalu berteriak menyuruhku keluar. Aku segera mengikuti apa yang diperintahkannya. Dengan panik, membuka pintu mobil dan melompat ke jalanan aspal. Tubuhku jatuh berguling-guling, nyaris membentur trotoar di pinggir jalan.
Lucifer menurunkan tangannya, mobil tersebut terhempas ke bawah dan terpelanting ke arah Gabe yang masih terduduk di aspal. Aku melotot kaget. Gabe menghilang. Sedetik kemudian, ia berdiri di sisiku, membantuku untuk berdiri.
Lucifer tertawa. Suara tawanya menggelegar. Ia mengeluarkan sesuatu dari genggaman tangannya yang besar dan berbulu. Sebuah benda berbentuk persegi, berwarna hijau yang terus bergetar di telapak tangannya. Persis seperti yang Gabe perlihatkan padaku saat di hutan tadi.
Gabe mengumpat geram. Tangannya mencengkram dadanya.
"Benda itu---" suaraku terputus saat melihat Gabe mengeluarkan benda itu dari balik jaketnya.
"Dia telah mendapatkan satu. Masih tersisa satu lagi yang belum ditemukan. Jika mereka mendapatkan ketiga potongan kunci ini, lalu membawanya ke tempat Messias, maksudku All seeing eye berada. Bisa dipastikan apa yang terjadi selanjutnya," ia menjelaskan padaku.
Aku menahan napas, merasa ngeri. "Kehancuran dunia... New World Order."
Gabe mengernyit menatapku, menyerahkan busur dan anak panah yang ada di punggungnya padaku. "Larilah, sekarang! Aku tidak ingin dia melukaimu."
Sementara di depan sana, Lucifer maju melangkah mendekati kami. Tangannya kembali terangkat ke atas. Dua pohon besar yang tumbuh di sisi jalan tercabut dari dalam tanah.
"Apa kau lebih suka kekerasan, Gabriel? Kurasa diskusi secara baik-baik lebih menyenangkan tanpa perlu saling melukai seperti yang kita lakukan akhir-akhir ini. Kenapa kalian tidak suka jalan damai?" ia menyeringai. Tangannya yang masih terangkat di udara, tiba-tiba ia hentakan ke depan---membuat dua pohon di sisi kiri kanannya melesat terbang ke arah Gabe dan aku.
Aku menjerit kencang sambil berusaha lari, tapi kakiku tersandung oleh langkahku sendiri. Aku terjatuh. Saat kubuka mata. Kulihat Gabe sedang menahan kedua pohon besar itu menggunakan sayapnya dan menghempaskannya ke arah berlawanan.
Lucifer kembali mengangkat tangannya ke atas. Kurasakan bumi yang kupijak bergetar, beberapa pohon dan tiang listrik yang menancap di tanah terangkat, lalu melesat bagai peluru raksasa ke arah Gabe yang sedang melayang rendah di udara. Gabe dengan sigap menangkis benda-benda yang menyerangnya itu dan balas memukul Lucifer dengan kakinya. Makhluk itu tersentak ke belakang. Hidungnya mengepulkan asap. Tanduknya yang panjang mengeluarkan bola api. Ia langsung menyemburkannya pada Gabe yang saat itu dalam keadaan lengah.
Gabe jatuh ke aspal dan membuat bumi sedikit bergetar. Ujung sayapnya hitam terbakar. Aku memekik kaget. Lucifer turun dari tempatnya dan berjalan pelan menuju Gabe. Seringai jahat muncul di wajahnya. Tiba-tiba sosoknya yang tinggi besar dan menyeramkan berubah wujud menjadi manusia. Aku mendelik, sedangkan Lucifer tersenyum menatap gabe.
Ia membuka kepalan tangan kirinya yang mengeluarkan api dan mengarahkan pada Gabe. Rambut hitamnya yang panjang sebahu melayang-layang tertiup angin, menutup sebagian wajah manusianya yang nampak pucat.
Gabe bangkit berdiri. Kedua sayapnya kembali mengembang. Lucifer mengeluarkan tawa mengejek.
"Serahkan benda itu padaku, Gabriel. Atau kau memilih untuk mati sia-sia seperti yang kulakukan pada sahabat The Watcher-mu yang bodoh itu?" katanya dengan nada congkak.
"Kau tidak akan bisa semudah itu membunuhku, Brengsek!" teriak Gabe marah.
Lucifer mendengus. "Dan kau pun tidak akan semudah itu mengalahkanku. Kau tahu aku lebih kuat dari kalian, para pecundang!"
Gabe balas tertawa pendek. "Kita lihat saja nanti!"
Lucifer melempar bola api ditangannya pada Gabe. Gabe menghilang dan bola api itu mengenai batang pohon yang berada tak jauh dari tempatku berdiri. Aku terperanjat kaget. Dalam situasi terdesak, kuambil sebuah anak panah yang tersampir di belakang punggungku, lalu membidiknya ke arah iblis itu. Aku tidak bisa diam saja melihatnya menyerang Gabe. Panah itu berhasil menancap di bahunya.
Lucifer tersentak. Ia menoleh ke arahku. Matanya yang hitam legam berkilat marah, membuatku bergidik. Iblis itu kembali mencabut sebatang pohon dan menerbangkannya ke arahku dengan kecepatan dahsyat. Aku terbelalak kaget dan berusaha menghindar sebelum batang pohon itu menimpa tubuhku.
KRRAAAKKK!!!
Pohon itu terbelah dua dan terjatuh ke samping sebelum sempat mengenai tubuhku. Aku mendongak. Kulihat Azrael berdiri di depanku sedang mengibaskan pedangnya, menyelamatkanku.
Aku terduduk ke aspal dengan tubuh gemetar. "Te---terima kasih," ucapku. Napasku tersengal.
Azrael cuma mengangguk. Raphael dan malaikat bersayap emas pun ikut muncul dari sisi berlawanan. Gabe muncul kembali dan berdiri di dekat kami, menatapku sejenak dengan kedua alis bertautan.
Lucifer berteriak marah. Anak buahnya yang lain tiba-tiba muncul dari dalam hutan yang gelap berjumlah tiga orang. Mereka langsung menerjang ke arah kami.
Suara tawa Lucifer membahana. Gabe menggeram, lalu menerjang Lucifer hingga membuat makhluk itu tersungkur jatuh ke tanah. Sementara Azrael dan dua malaikat lain melawan anak buah Lucifer yang datang. Lucifer dengan cepat bangkit berdiri lantas menghilang. Ia muncul sedetik kemudian di hadapan Gabe sambil menyeringai.
"Gabriel!" teriakku panik.
Lucifer menarik kuat leher Gabe dan membawanya melayang di udara. Tangannya yang lain mencengkram dada Gabe, sepertinya berusaha mengambil kunci yang ada padanya. Gabe meronta. Raphael yang melihatnya, langsung melemparkan pedangnya dan tepat menusuk pergelangan tangan Lucifer sehingga cengkramannya pada leher Gabe terlepas.
"MALAIKAT BRENGSEK!!!" Lucifer berteriak marah. Gabe terbatuk-batuk dan jatuh ke aspal.
Aku hendak berlari menghampirinya, tapi Lucifer terlihat semakin bengis. Ia menyemburkan bola api dari kedua tangannya ke arah tiga malaikat itu. Apinya mengenai bibir hutan dan membuat beberapa pohon terbakar, kemudian merembet ke pepohonan lain. Ketiga malaikat itu terbang sejauh mungkin menghindari serangan api yang disemburkan Lucifer.
Lucifer balik menatapku. Semburan apinya ia arahkan padaku, tapi Gabe dengan cepat menghalanginya. Bola api itu meleset mengenai pepohonan dan membuat api yang membakar hutan bertambah besar.
Lucifer mengambil pedang Azrael yang jatuh di tanah. Lalu, dalam gerakan kilat menusuk perut Gabe.
Aku membelalak kaget. "Gabriel!"
Gabe terjatuh ke tanah. Lucifer tersenyum puas dan mencengkram lehernya, lalu membawanya melayang di udara. Sedetik kemudian, mereka lenyap dari pandangan dalam sekejap.
"Tidak!" pekikku.
Azrael dan yang lain menghampiriku. Sama terkejutnya dengan kelenyapan Gabe dan Lucifer juga anak buahnya yang menyeramkan secara tiba-tiba.
"Aku akan mengejar mereka," kata yang bersayap emas.
"Aku ikut, Mikhael." Raphael menyahut. Kedua malaikat itu ikut menghilang.
"Kita harus selamatkan dia! Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya? Lucifer menusuknya dengan pedang!" kataku sambil menatap Azrael dengan tak sabar. Hampir menangis, membayangkan Lucifer melukai Gabe di suatu tempat yang entah dimana.
Azrael menggeleng. "Ini pertarungan kami. Kembalilah. Kau harus pulang ke tempatmu."
"Aku tidak akan membiarkan iblis itu melukai, Gabe. Aku tidak ingin kembali!"
"Berhentilah, keras kepala! Pulanglah! Kami yang akan menyelamatkannya," bentak Azrael tidak sabar.
Aku terisak, lalu mengamati hutan yang mulai terbakar hebat. Asap hitamnya membumbung ke angkasa. Sayup-sayup kudengar suara sirene di kejauhan. Sepertinya suara mobil pemadam kebakaran yang sedang menuju ke sini.
"Sebentar lagi, banyak manusia yang akan menuju kemari." Azrael kembali bergumam. Kedua matanya yang biru gelap menyapu ke sekeliling hutan yang terbakar. Kemudian, ia menatapku beberapa saat.
Aku menyeka wajahku dengan gugup. Mataku masih berkaca-kaca, membayangkan keadaan Gabe sekarang.
"Maaf. Sepertinya ini cara terbaik yang harus kulakukan." Azrael berjalan mendekat. Tangannya terulur mengusap wajahku.
Ada hawa sejuk yang kurasakan. Lalu, gelap. Dan aku tidak sadar apa-apa lagi.
🍁🍁🍁