Seorang penulis Novel terkenal asal prancis bernama Rempis Pieter Mark, terpaksa harus mendekam di salah satu rumah sakit gangguan jiwa yang terletak di sudut kota Le Mans. Rumah sakit jiwa yang jaraknya cukup jauh dan sangat terpencil itu bernama The Crazy Hospital. Insiden tahun 2004 silam, mengharuskan Niki sebagai seorang istri lebih memilih untuk mengirimkan sang suami ke rumah sakit gila di banding harus kehilangannya. Sebelumnya Rempis telah di tuntut hukuman mati, namun karena perjuangan Niki yang luar biasa, Rempis dikirim ke RSJ dengan masa tahanan yang tak tau sampai kapan. Bagi Rempis sendiri, memilih mati atau RSJ itu sama saja, tak berbeda. Meski mendekam, ambisi gila Rempis dalam menciptakan sebuah karya demi melawan ketidak adilan bagi hidupnya tak pernah pupus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R_picisan03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PB#24
Pukul 13:35, ruangan Reus.
"Maaf jika pertanyaan ini sedikit lancang mengenai prilaku beliau. Sebelumnya, apakah memang benar jika vonis hukuman beliau itu sesuai dengan kondisi keadaannya yang sekarang?" lanjut Reus akan rasa penasarannya.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Dari yang selama ini aku lihat, sepertinya beliau tidak bermasalah dengan kejiwaannya."
Niki berpaling pandangan, sedikit menunduk "Aku juga sama sepertimu mengenai pandangan terhadap suamiku."
"Jika memang tidak ada masalah dengan kejiwaannya, lantas...kenapa beliau bisa berada di tempat ini? Bukankah itu terlihat sedikit canggung?"
"Mengenai apa yang kamu maksudkan itu, memang benar terlihat aneh jika karir suamiku harus berakhir di tempat seperti ini. Tapi bagiku, itu lebih baik bila di banding kehilangannya."
Reus mengangguk rendah sedikit memahami situasi tersebut, masih menatap Niki, "Sebagai salah satu orang yang sangat menghormati beliau, tidak ada keadilan yang ku lihat dalam putusan sidang lalu."
"Begitulah hukum di negeri ini. Sebenar apapun kenyataannya, takkan berlaku bagi mereka para pemegang kekuasaan yang selama ini terus merasa di rugikan."
"Apa tidak ada cara lain untuk menyelamatkan beliau?"
Dengan penuh ketenangan, Niki terus menjawab setiap pertanyaan Reus yang kian tinggi rasa penasarannya.
Berlalu ke sisi Adams dan Miler di ruang tamu yayasan. Keduanya terbangun karena cuaca gerah siang hari.
"Aku pikir kau akan tetap berjaga dari malam tadi," ujar Miler mengusap kedua bola mata.
"Berbeda denganmu, aku baru saja tertidur satu jam yang lalu," singkat Adams.
"Kira-kira, berapa ya uang yang bakal mereka ambil dariku? Kalau sampai tabunganku terkuras habis, bakalan jadi miskin!" batin Miler mengingat Deria.
Perlahan Adams bangkit berdiri, meregangkan beberapa bagian tubuhnya, "Kenapa melamun? Lapar?" lanjutnya menatap Miler.
"Gak kok, gak lapar juga. Oh iya, ngomong-ngomong, kegiatan apa yang akan kita lakukan selanjutnya?"
"Mengenai itu, aku juga belum tau. Lagian sampai sekarang, belum ada perintah baru apapun dari pusat. Selagi menunggu perintah baru, ya mungkin yang bisa kita lakukan hanya bertugas seperti biasanya, menjaga keamanan. Mulai dari memeriksa setiap pengunjung yang datang ataupun kiriman barang seperti kemarin."
"Begitu ya. Tapi kalau di pikir-pikir lagi, kenapa justru aku merasakan sedikit keanehan ya?"
"Maksudmu?"
"Sekarang begini, kalau bangunan ini tadinya sarang teroris atau bekas tempat pembunuhan atau mungkin kantor penyimpanan uang negara, mungkin apa yang kita lakukan sedikit nyambung mengenai tugas menjaga keamanan. Tapi coba kamu pikir, yang kita jaga ini hanya seorang Rempis. Mau kita ada di sini atau tidak, mungkin hasilnya akan tetap sama saja," gumam Miler mengambil rokok di meja.
"Bener sih apa yang kamu ucap barusan itu."
"Nah kan, aku bilang juga apa. Tebakanku itu memang tidak pernah meleset."
Adams kembali terduduk, "Benar atau tidak, ya kita bisa apa lagi? Sudah jadi kewajiban kita untuk menjalankan perintah atasan bukan?"
"Iya sih."
Tak berselang lama, mobil box terhenti di depan gerbang yayasan.
"Yap, saatnya kita bertugas," lanjut Adams berdiri kemudian berjalan menuju halaman.
"Tunggu, apa tidak sebaiknya kita mencari makanan dulu? Lapar," balas Miler mengikuti Adams.
"Nanti-nanti saja, lagian bosan makan melulu, sesekali nyoba kerja dalam kondisi lapar."
"Wah parah lu."
Selagi Adams dan Miler mengecek mobil box tersebut, di sudut lain Wury yang berjalan tergesa-gesa menuju ruang kamarnya.
Dengan nafas tak beraturan, berjalan memasuki kamar langsung menutup pintu dan bersandar di pintu tersebut, "Kenapa jadi seperti ini? Kenapa aku tidak bisa kendalikan diriku sendiri dan kenapa justru aku terbuai akan ucapan maupun sentuhannya itu?" lanjut Wury perlahan duduk di kasur sembari kedua tangan menutup sisi wajah.
Arthur yang sebelumnya melihat Wury memasuki kamar dengan tergesa-gesa saat ingin menuju ruangan Reus, mencoba memeriksa terlebih dahulu keadaan tersebut.
Tok....Tok....Tok!
"Wury?" ujar Arthur kembali mengetok pintu.
Mendengar suara ketukan pintu, Wury bersiap bersikap tenang membuka pintu tersebut, "Ada apa?"
"Barusan aku lihat kamu seperti sedang terburu-buru, kamu tidak sedang dalam masalah bukan?"
"Terburu-buru? Gak kok, aku gak kenapa-kenapa. Mungkin tadi hanya karena aku meninggalkan sesuatu dalam kamar," jelas Wury tersenyum.
Arthur menoleh kearah dalam kamar Wury, memastikan semuanya baik-baik saja, "Tapi beneran memang tidak ada apa-apa? Kalau kamu lagi ada masalah, kamu boleh berbagi cerita denganku."
"Iya beneran. Lagian kenapa kamu bisa berfikir seperti itu? Apa jangan-jangan, kamu suka denganku ya sampai mengkhawatirkanku seperti itu?" balas Wury sedikit meledek.
"Kamu ini, orang lagi serius juga. Bisa saja kan ada hal yang kurang menyenangkan terjadi padamu."
"Ada sih..."
"Tuh kan, berarti benar yang aku bilang tadi, kamu lagi ada masalah."
"Iya, aku lagi ada masalah sama dua orang penjajah di ruang tamu sana! Kehadiran mereka itu membuat pandanganku menjadi buram."
"Kalau itu yang kamu maksud, ya sama dengan yang lainnya, semua penghuni yayasan ini juga terganggu dengan kehadiran mereka. Selain itu?"
"Hari ini kamu kenapa sih? Tidak biasanya kamu mengkhawatirkan diriku seperti ini," lanjut Wury menopang kedua tangan.
"Iya deh iya maaf, mungkin hanya sedikit perasaan negatif saja tadi karena melihatmu seperti itu. Yaudah kalau begitu aku mau lanjut menemui Reus."
"Iya," singkat Wury menutup pintu, berjalan kembali menuju kasur.
Arthur kembali berjalan menuju ruangan Reus. Sedangkan Wury, mengingat kembali di setiap sentuhan lembut jemari Rempis. Kondisi hatinya saat ini terus beradu akan penolakan atau menuruti sebuah kenikmatan.
"Enggak...enggak mungkin, aku gak bakal lakuin itu! Sedikitpun aku takkan terlena akan ucapan maupun sentuhannya!" pekik Wury kembali berdiri bersiap melanjutkan aktivitas.
Kembali kesisi Niki dan Reus.
"Hanya ini satu-satunya cara yang bisa kulakukan demi kebaikannya. Terlebih, aku belum sanggup membayangkan jika harus kehilangannya," lanjut Niki penuh ketegasan.
"Maaf jika terlalu dalam aku mencampuri kehidupan anda dengan beliau."
"Tidak masalah. Aku juga berterimakasih padamu karena telah mendengar semua curhatanku."
"Kapanpun anda membutuhkan seseorang untuk menjadi tempat bercerita, aku siap mendengerkan semuanya," balas Reus memberikan kunci kamar Rempis.
"Yasudah kalau begitu, aku akan pergi ke ruangan suamiku, mungkin dirinya sedikit kesepian karena menungguku cukup lama."
Reus mempersilahkan Niki pergi, sedikit membungkukkan tubuh menunjukkan rasa hormatnya. Baru saja menutup pintu, Reus terpaksa membuka kembali kala Arthur memanggilnya.
"Kenapa lagi?" singkat Reus.
"Kok kenapa lagi?"
"Yaudah, ada apa?"
"Ada sedikit yang harus kita bicarakan."
"Dari tadi yang kau ucapkan itu, sudah lebih banyak dari kata sedikit."
"Setidaknya, persilahkan aku masuk kedalam terlebih dahulu. Masak iya harus berdiri di depan pintu? Sesekali apa salahnya memperlakukanku seperti para tamu lainnya?"
Reus menggeser sedikit tubuhnya, membiarkan Arthur memasuki ruangannya.
"Lagian kenapa sih, dari tadi kelihatannya aura wajahmu itu suram melulu!" pekik Arthur bersantai di sofa.
"Gak tau kenapa, akhir-akhir ini pikiran dan badanku terasa kurang nyaman," singkat Reus memasukan amplop pemberian Niki ke dalam lemari.
"Itu tanda kamu sedang jatuh cinta."
"Cinta lagi cinta lagi, kenapa sih semua orang selalu mengatakan cinta dengan begitu mudahnya?"
"Ya habis, pakai segala pikiran gak nyaman, badan juga. Kamu tau sendiri kan, usia kita itu bukan lagi usia dimana anak-anak sedang menikmati sebuah permainan."
Reus berbalik arah, kembali berjalan menuju sofa, "Terserah kamu saja."
"Itu tadi, donasi baru ya?" balas Arthur melirik amplop dalam lemari meja Reus.
"Iya, kali ini jumlahnya lebih besar."
"Dari siapa?"
"Siapa lagi kalau bukan Niki dan Rempis?"
"Oh begitu. Baguslah."
"Terus yang kamu mau bicarakan tadi apa? Buruan, aku ingin segera istirahat," pekik Reus.
Arthur mengambil lembar cek dalam saku, "Aku mau menyerahkan ini," lanjutnya menyerahkan lembar tersebut pada Reus.
"Apa ini?" balas Reus mengambil lembar cek tersebut.
"Itu warisan dari peninggalan raja pertama di negara ini."
"Jangan bercanda. Ini cek tunai!" Tegas Reus.
"Nah itu tau, kenapa masih pake nanya lagi?"
"Maksudnya, ini kamu dapat darimana? Jangan bilang kalau kamu habis merampok?"
"Astaga! Sungguh teganya dirimu menuduhkan tuduhan sekejam itu padaku wahai simpatisan hitler!"
"Kalau tidak ada kejelasan, lebih baik ambil kembali ini," jelas Reus meletak kembali cek di meja.
"Itu tuh donasi dari salah seorang kenalan Deria dan dia bilang, identitasnya tak ingin di ketahui."
"Deria? Sejak kapan dia bergaul di luar yayasan ini?"
"Yah mana saya tau, kan aku bukan ayahnya. Intinya dia bilang, orang yang memberikan donasi itu hanya ingin membantu yayasan ini, itu saja," pungkas Arthur melihat seisi ruangan.
Reus mengambil kembali cek di meja, "Baru kali ini aku lihat ada seseorang yang memberikan bantuan tanpa ingin diketahui identitasnya."
"Air dalam ruangan ini...lagi bermasalah ya?" pekik Arthur masih melirik ruang sekitar.
"Kenapa memangnya?"
"Soalnya dari tadi aku perhatiin, tidak ada sedikitpun minuman terletak di meja."
Reus perlahan membaringkan tubuh di sofa, "Ambil sendiri, jangan manja. Kamu bukan wanita yang haus akan perhatian seorang lelaki."
"Pantas saja kamu tidak berada di gedung pemerintahan karena sikapmu yang suka pilih kasih itu. Andai saja kalau itu Wury, Deria atau Helena, pasti lembut sekali caramu melayani mereka. Jika itu aku? Parah!" gerutu Arthur bangkit menuju rak minuman.
Cieee Vio mulai akting genit🤭
itulah takdir.😕