SINOPSIS
Agung Aksara Gumilar, akuntan manajer di Sanjaya Group, perusahaan bonafid milik Alwin Sanjaya, ayah dari Bramasta Sanjaya, CEO B Group yang juga suami dari Adisti, adiknya.
Dikenal di publik setelah menjadi korban yang tertembak tak sengaja pada saat peristiwa perebutan kekuasaan dunia hitam antara Tuan Thakur dan Rita Gunaldi di The Ritz.
Saat dirinya koma, kedua orangtua Adinda yang sudah meninggal menitipkan anaknya untuk selalu dijaga dan dilindungi olehnya. Perjanjian di alam antah berantah terkait gadis remaja belia yang mampu menjungkirbalikkan dunianya.
Adinda, remaja yang selalu tengah berada dalam kesulitan saat bertemu dengannya dan dirinya selalu menjadi penyelamatnya. Hingga Adinda menjulukinya Power Ranger Hijau.
Agung dan Gank Kuping Merah harus menghadapi kenakalan remaja yang di luar batas, kebangkitan musuh lamanya dan keculasan musuh dalam menjegal software akuntansi karyanya.
Mampukah Adinda bertahan?
Seberapa kuat Power Ranger Hijau?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ough See Usi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 – ETIKA DAN ATTITUDE ITU PENTING
SANJAYA GROUP BUILDING
08.00
Hans mendengus kesal saat memasuki lobby Sanjaya Group. Dia harus berangkat jauh lebih pagi demi menyelesaikan masalah etika dengan salah satu staf divisi Pak Kusumawardhani.
Seharusnya, Pak Dhani sendiri yang harus berbicara dengan stafnya. Tetapi karena masalahnya menyerempet ke Agung dan Adinda, Tuan Alwin Sanjaya dan Pak Kusumawardhani sendiri yang memintanya untuk turun langsung.
Semua keputusan terkait Kinanti ada di tangannya. Yang jadi masalah, bukannya dia gentar menghadapi seorang Kinanti. Dia hanya merasa muak bila berhadapan dengan perempuan modelan Kinanti.
Waktu family time-nya yang sangat berharga menjadi terganggu karena Kinanti. Perempuan yang merasa sok cantik dan sok menarik dan merasa mempunyai daya pikat yang luar biasa pada lawan jenis.
Dia seorang Hans Alvaro Fernandez. Bukan lelaki biasa yang mudah terpikat dengan tipuan wanita. Dia sudah menghadapi banyak wanita yang terang-terangan ataupun sembunyi-sembunyi menyukai dan mendekatinya. Tetapi dia bergeming.
Walau akibatnya gosip seputar dirinya beredar luas. Tapi bukan Hans Alvaro bila tidak bisa menghentikan gosip yang beredar mengenainya.
Tentang Kinanti, Tuan Alwin, Pak Dhani bahkan Ayah memberi pesan yang jelas. Pesan yang harus dirahasiakan dari siapa pun. Terutama kepada adik-adiknya.
Pesan yang sore kemarin disampaikan di kediaman Keluarga Gumilar, saat Adinda masih bersama Agung dan Raditya berkeliling Bandung, entah kemana. Para orangtua berkumpul bersama di sana.
Mereka berbicara di gazzebo kebun. Tanpa ada para ibu yang sedang berada di ruang tengah bersama Hana dan Baby Andra.
“Mereka berdua adik-adikmu, Hans. Jaga mereka agar mereka tetap bersama,” Tuan Alwin memulainya.
“Jangan sampai Kinanti mengganggu hubungan Agung dan Adinda,” Pak Dhani menatap Hans, “Banyak rumor tentangnya. Bagaimana banyak pria yang bertekuk lutut padanya. Bagaimana para pria yang menggilainya, entah itu pria beristri ataupun lajang. Untung saja, perusahaan kita mempunyai peraturan yang ketat tentang hal ini.”
“Saya percaya Agung bisa menjaga diri, tetapi kondisi iman seseorang itu naik turun,” Ayah tampak terpekur dengan wajah khawatir, “Saya khawatir, saat imannya sedang turun, setan menggodanya. Saya tidak mau hal itu terjadi.”
Sore itu, Hans mengangguk dan menyanggupi akan menyelesaikan masalah ini tanpa ada keributan di perusahaan.
Hans menjawab salam petugas front office di lobby utama. Menyerahkan kartu kepegawaiannya untuk di-tap di mesin absensi.
“Terima kasih banyak,” Hans mengangguk kecil pada petugas berhijab krem.
Tanpa senyum ataupun basa-basi yang tidak perlu. Begitulah Hans di kenal di publik. Dingin secara personal. Kehadirannya mampu membuat siapapun merasa terintimidasi.
Lobby masih lengang. Dia mengambil gawainya. Mengirimkan pesan chat pada Agung.
Hans_Assalamu’alaikum, Gung. Lu ngantor kan hari ini?_
Agung_Insyaa Allah, Bang. Ini sedang pakai sepatu. Sebentar lagi otewe. Ada apa?_
Hans_Kemarin kan Lu berinisiatif meliburkan diri_
Agung_Lah, Bang. Bercanda, Bang. Berchandyaaaa_
Hans_Dih_
Hans memasuki lift khusus untuk para petinggi. Berkirim chat atau mengobrol dengan adik-adiknya membuat moodnya jauh lebih baik.
“Assalamu’alaikum, Tuan Hans,” asistennya menyapa, pria muda berkacamata dengan wajah dingin sama dengan dirinya.
Hans menjawab salamnya. Meletakkan tas kerjanya di atas meja asistennya.
“Kamu sudah siapkan berkasnya?” Hans sudah memberitahu perihal Kinanti kepadanya agar surat-surat terkait Kinanti langsung diproses.
Asistennya mengangguk.
“Sedang di-print, Tuan.”
Hans melirik printer yang berbunyi pelan.
“Kalau dia datang, buat dia menunggu 7 menit di sini sebelum kamu antar masuk ke dalam.”
Asistennya mengangguk.
“Kamu ganti parfum?” Hans mengendus udara di sekitarnya.
Asistennya menyentuh tengkuknya dengan tersipu.
“It’s better than before,” Hans melenggang masuk ke dalam ruangannya.
Hans lebih memilih menyingkirkan tanaman liar yang tumbuh di jalan yang dilaluinya sebelum tanaman itu tumbuh besar dan menyusahkannya. Itulah yang akan dilakukannya hari ini.
Suara ketukan pintu kemudian seorang office boy masuk membawakan minuman paginya. Mata Hans tidak teralihkan dari layar tabletnya. Membaca jadwalnya hari ini.
Dia sedang menjawab surat email yang masuk saat asistennya mengetuk pintunya.
“Nona Kinanti dari Divisi Akunting, Tuan Hans.”
Hans mengangguk sambil meneruskan ketikannya. Membiarkannya menunggu lagi sekitar 5 menit.
Hans melepas kacamatanya. Menatap lurus pada Kinanti yang wajahnya tampak kesal dan gelisah karena menunggu. Asistennya duduk di kursi di dekat pintu.
“Kejadian di sekolah tempo hari, apa yang membuat Anda begitu arogan terhadap adik saya, Nona?” tanpa basa-basi, langsung pada inti.
“Bukan saja pada adik saya, tetapi juga pada Bu Dhani, Bapak dan Ibu Gumilar, Nona Layla dan Tuan Leon dan juga pada saya. Attitude dan etika Anda kemana?”
“Ma’af Tuan, saat itu saya tidak tahu ada Tuan Hans di sana,” Kinanti menunduk.
“Jadi kamu hanya akan memakai attitude kamu saat saya ada?” alis Hans naik sebelah, “Kamu anggap apa para guru dan wali murid lainnya di sana?”
“Saya tidak tahu apa yang sudah dialami oleh Nona Adinda saat itu, Tuan.”
“Tapi kamu bersikeras menuduhnya yang tidak-tidak.”
Hans menatap tajam pada Kinanti yang menunduk lebih dalam.
“Kamu suka pada Agung Aksara Gumilar? Manajer divisi akunting?”
“Saya ti...”
“Yang terjadi di ruang guru sekolah, seterang matahari di siang hari, Nona. Kamu berusaha mengambil hati Agung juga Ibu Gumilar.”
“Banyak yang mengeluhkan sikap tanpa attitude kamu kepada saya. Pihak guru, pihak murid, wali murid lainnya, Ibu Dhani, Nona Layla dan Tuan Leon Iskandardinata bahkan Bapak dan Ibu Gumilar. Bahkan diri saya sendiri. Malu saya melihat tingkah kamu di sana.”
Kinanti semakin menunduk. Jemarinya saling meremat.
“Saya sudah bilang kan beberapa waktu yang lalu mengenai rambut? Bagi karyawati yang tidak berhijab dan berambut lebih dari sebahu, dilarang menggeraikan rambutnya. Rambut harus diikat rapi. Kenapa kamu sekarang menggeraikan rambut kamu?”
“Tadi... Rambut saya masih basah, Tuan.”
“Bukan alasan. Saya sudah memperingatkan kamu tentang rambut sebelumnya. Hari ini kamu berani melanggar. Artinya kamu tidak mematuhi aturan perusahaan. Menganggap aturan perusahaan itu hanya main-main saja,” Hans membanting berkas yang ada di hadapannya.
Dirinya terganggu melihat pergerakan tangan Kinanti yang terlalu sering menyelipkan rambut di belakang telinganya. Juga menyibak poni panjang yang menutupi wajahnya.
“Ma'af Tuan Hans... Sssa.. Saya ti...”
“Sebenarnya kamu hendak memikat siapa, Nona? Semua pria di gedung ini? Kamu merasa menjadi queen of bee?” Hans mengusap wajahnya.
“Bahkan Direktur yang membawahi divisi kalian juga para pemimpin yang ada di jajaran divisi akunting pun mengeluhkan attitude dan kinerja kamu di kantor.”
Kinanti mendongak, menatap tidak percaya pada Hans.
“Selama ini mereka diam bukan berarti menutup mata akan tingkah laku dan kinerja kamu. Tapi mereka mengamati kamu.”
“Satya,” Hans memandang asistennya yang duduk di belakang, “Sudah kamu perisapkan berkas-berkas Nona Kinanti?”
“Sudah Tuan, Hans,” pria muda berkaca mata dengan raut wajah dingin seperti tuannya membawa map biru ke meja Hans.
Kinanti panik melihat penyerahan berkas dirinya. Tiba-tiba tubuhnya merosot ke bawah. Bersimpuh di atas karpet lantai berwarna beige.
“Tuan Hans, tolong jangan pecat saya! Ma’af...ma’afkan kesalahan saya. Saya berjanji tidak akan mengulangi kesalahan saya lagi,” air mata berloncatan keluar dari matanya.
.
*bersambung*
🌺
Nah loh!
Kalau sudah begini, menyesalkan Kinanti? Memang gak ada kapoknya sepertinya sih. Makanya Daddy, Papi dan Ayah langsung gercep memutuskan.
Sebelum ada pelakor, tumpas bibit-bibit pelakor. Jangan beri ruang dan kesempatan bagi bibit pelakor untuk tumbuh.
Hans: "Othor kok gemes sama pelakor sih"
Othor: "No pelakor di cerita gw, Hans. Gue dukung Lu. Gaskeun. Buruan!"
🌺
Jangan lupa like dan minta update.
Ditunggu sawerannya. Bunga setaman boleh, kopi alhamdulilah... 😘🤭
Yang belum ♥️➕ ataupun ⭐ 5 ya, buruan.... 😁
🌺
🌷 Utamakan baca Qur'an 🌷
🌺♥️🖤💚🤍🌺
thor kenapa gak dibikin novel pasti best seller.. sumpah lengakp banget nih novel..
thor kenapa gak dibikin novel pasti best seller.. sumpah lengakp banget nih novel..
Trus hasil operasi plastik om Michael di Korea nya, ada novelnya yg lain??
Saya tunggu novel2 berikutnya.
Semangat🫰🫰🫰