Millie Peterson.
Seorang pelukis muda berbakat, baru saja membuka galeri di pusat kota New York. Kehidupannya selalu teratur dan berjalan sewajarnya. Namun, semuanya berubah setelah malam peresmian pembukaan galerinya.
Orion Alano.
Seorang pria kaku dan kejam, ditakuti oleh siapa saja yang mengenalnya. Tidak pernah mengenal yang namanya cinta, sampai suatu malam dia bertemu dengan seorang wanita yang membuatnya merasa tertantang. Pada akhirnya, rasa penasaran semakin mendekatkan wanita itu padanya.
Siapakah Millie? Dan, takdir macam apa yang mengaitkan keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dignity, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23
"Apakah dia akan mengawasi kita sepanjang hari?" Owen berbisik sementara kami menikmati kopi di belakang meja resepsionis galeri, merujuk pada Javer yang menguasai seisi lounge sambil membaca majalah.
"Sayangnya, ya." Aku mengerang, memutar mata.
Ketika Orion mengatakan Javer atau Tom akan selalu menjagaku di galeri, aku mengira mereka hanya duduk di dalam mobil. Alih-alih, mereka memegang kendali penuh di galeri dan terus menempel padaku.
Aku berharap begitu masalah dengan Ernesto selesai, Orion dan aku bisa menjalani hubungan yang normal, bukan terus-menerus diawasi dengan ketat layaknya keturunan raja begini. Aku tidak tahu banyak soal mafia, tetapi ini sangat melelahkan.
"Aku tidak keberatan," Owen menyeringai. "Dia tidak terlalu buruk untuk ukuran hiasan tambahan."
Kedua sudut mulut Javer melengkung menandakan dia mendengar percakapan kami, seakan dia membutuhkan dorongan kepercayaan diri.
"Coba katakan sekali lagi kenapa Orion berpikir kau butuh pengawal?" Owen menaikkan alis, berputar menghadapku.
"Javer bukan pengawal." sahutku. "Dia hanya ingin memastikan gerombolan pria yang menyerangku malam itu tidak datang lagi."
Ingin sekali rasanya aku memberitahu Owen cerita yang sebenarnya. Kencan dengan Orion, serangan kedua, tentang keterlibatan Orion dengan mafia, betapa hatiku penuh antusias saat dia muncul di depan pintu apartemenku, atau momen dimana kami menghabiskan sisa malam itu di atas ranjang. Lalu, bagaimana kemudian duniaku terasa runtuh saat aku ke rumahnya dan mendapati pria yang kukira seorang kolektor seni ternyata anggota kriminal kelas atas. Aku ingin Owen melihat sebagian emosi yang merundungku saat ini, dan memberi sedikit pendapat yang mungkin masuk akal. Aku tidak tahu lagi apa yang harus kupikirkan karena seorang pria tampan, tinggi, bertubuh tegap dan penuh tato kerap memenuhi pikiranku, dan aku membutuhkan seseorang membatuku mencerna semua ini. Seseorang yang sama sekali belum terlibat.
Namun, sangat jelas Orion tidak memberiku pilihan itu. Aku tidak boleh bicara pada Owen, atau pada siapapun, tentang semua masalah ini.
"Lantas, itukah yang membuatmu tinggal di rumahnya sementara dia tidak disana?" desis Owen.
Seharusnya aku sudah menduga ini. Beberapa minggu terakhir aku selalu menyibukkan diri di galeri dan kami tidak memiliki banyak waktu untuk mengobrol. Aku tahu dia sangat ingin tahu detail mengenai hubunganku dan Orion, tapi sejujurnya, aku sendiri tidak tahu. Aku menyukainya, itu benar. Kami tidur bersama, ya. Tapi, apakah kami benar-benar memiliki hubungan yang spesial? Demi Tuhan, aku tidak tahu! Dan, apakah itu yang kuinginkan?
Orion dan mafia merupakan satu kesatuan dan seandainya kami bersama, hidupku akan terikat dengan peraturan mereka. Ini yang sedang terjadi sekarang, Javer duduk santai di galeriku adalah bukti mutlak.
"Ya, aku menginap disana karena rumahnya lebih aman daripada apartemenku." ucapku.
"Jadi, dia pikir orang-orang itu akan datang lagi?" Kecemasan terdengar samar di nada Owen.
"Ah, kami tidak tahu pasti." Aku benci harus berbohong seperti ini pada sahabatku. Mereka sudah datang dan Orion hampir seratus persen yakin itu akan terulang lagi.
"Dan sekarang hubungan kalian sudah resmi, hah?"
Aku tersipu, menggelengkan kepala. "Entahlah, aku tidak yakin. Kami belum membicarakannya secara serius."
"Kuharap kalian belum bicara bukan karena kau terlalu senang telentang di bawahnya." Owen terkekeh, lalu membulatkan mata. "Tunggu, kalian sudah bercinta, kan? Jangan bilang kau tidur disana tanpa berbuat dosa? Seingatku kau tidak sesuci itu." Nada suaranya meninggkat, membuat pipiku semakin panas dan aku meringis. Tak diragukan lagi Javer pasti bahagia mendengar topik ini.
"Bisakah kau menurunkan suaramu?" desisku, melirik Javer yang tampak pura-pura tidak menguping.
"Jawab dulu."
"Kau konyol, kau tahu itu?" Aku meraih buku catatan dan laptop dari atas meja.
"Jangan menyalahkanku. Hidupmu jauh lebih menarik dibandingkan aku. Kumohon, paling tidak beri aku sedikit pencerahan." pinta Owen, meremas lenganku.
"Baiklah. Ya, aku bercinta dengannya. Puas?" gumamku agak kesal. Mungkin aku tidak bisa membocorkan tentang mafia padanya, tapi bukan berarti kehidupanku yang lain pun harus menjadi rahasia.
"Aku tidak akan puas sebelum mendengar ceritanya sedetail mungkin. Kau tidak boleh melihat pria seperti itu tanpa pakaian dan menyembunyikannya dari sahabatmu." Senyum usil di mulut Owen membuatku mual.
"Maaf, cukup segitu saja."
"Uhh, kenapa kau harus menjunjung tinggi moral?" Dia melemparkan kedua tangannya ke udara secara dramatis.
"Bisakah kita kembali bekerja? Kita masih harus mencari cara membujuk seniman yang waktu lalu lukisannya dicuri." Aku membuka buku galeri, melihat catatan keuangan beberapa bulan terakhir. Sepertinya tidak ada jalan keluar yang memungkinkan. Krena kejadiannya terjadi di galeri kami, mau tidak mau kami harus membayar biaya ganti rugi, tapi saat ini Owen dan aku sudah kesulitan untuk sekedar beroperasi. Kami tidak mampu membayar total sekitar enam puluh ribu dolar kepada para seniman itu. Ya, pihak asuransi memang membantu, tapi mereka tidak mungkin menutupi semuanya.
"Oh," Owen tersadar dan menatapku dengan antusias. "Aku hampir lupa memberitahumu. Masalah itu sudah selesai. Minggu lalu kita menerima sumbangan dana dari seseorang. Dia tidak mau menyebutkan namanya, tapi entah dari mana mendengar berita perampokan galeri kita dan meninggalkan uang di meja resepsionis saat aku tidak ada." Dia memeriksa laci sampai menemukan sebuah cek dan mengulurkannya padaku.
Alonia Enterprises. Sekarang, dimana aku pernah melihat itu sebelumnya? Aku memutar mata.
"Menarik." gumamku pada Owen yang sedang melirikku. Dia pasti mengira reaksiku lebih antusias mengenai donasi ini.
Owen menghilang sesaat di ruang belakang dan aku menggenggam cek di tanganku sembari memikirkan langkah berikutnya. Aku merasa sungkan menerima uang Orion. Galeri ini ada berkat jerih payah Owen dan aku, tanpa campur tangan orang lain, dan aku sangat bangga mengakuinya. Jika aku menerima bantuan Orion, sejarah galeri ini pun akan berubah. Tetapi yang menjadi sumber masalahnya adalah aku tidak punya pilihan. Tidak ada uang berarti galeri tutup, dan itu akan menjadi kegagalan yang lebih menyakitkan dibanding menerima bantuan. Aku merasa disuap, tapi mungkin karena aku terlalu banyak membaca buku genster. Bisa jadi Orion memang hanya ingin membantu, tanpa mengharap imbalan.
"Kau tahu ini?" Aku melempar cek itu ke dada Javer sementara dia bersandar di sofa. Gerakanku membuatnya terlonjak lalu buru-buru bersikap santai sebelum mengambil cek itu dan mengamatinya.
Dia menyeringai dan mengembalikan cek itu padaku. "Aku tidak tahu apa-apa. Tapi kalau boleh aku berpendapat, diluar sana masih banyak orang baik yang gemar beramal tanpa menyebutkan namanya."
"Aku tahu ini ulah Orion." kataku mendengus. Aku tahu dia tidak bersalah, tapi karena si brengsek itu sendiri sedang di luar negeri, maka Javer harus menanggung akibatnya. "Dan aku amat sangat bersyukur. Aku hanya penasaran berapa lama aku harus menjual diri sampai semuanya lunas."
"Oh, jangan berlebihan. Itu hadiah untukmu." katanya. "Di tambah aku mengangkut beberapa lukisan pada malam itu agar membuatnya tampak seperti kasus perampokan. Anggap saja Orion yang membayar hutang."
"Kupikir kau tidak tahu apa-apa?" Aku mengerutkan kening.
"Sejujurnya," Dia menegakkan bahu dan bersandar pada lengan sofa. "Aku tidak tahu Orion akan melakukannya. Kalau aku tahu, mana mungkin aku membiarkannya menggunakan cek yang sudah jelas-jelas namanya tercetak disitu."
"Okay." kataku. "Omong-omong, apa kau mendengar kabarnya? Seharusnya dia mengabariku begitu tiba disana."
"Belum. Tapi, aku bisa melihat posis mereka dari database. Mereka ada di rumah Alonzo sekarang." Javer menunjukkan layar ponselnya padaku, menampilkan sebuah peta dengan dua titik biru berkedip-kedip.
"Database?"
"Ya, setiap orang di grup kami memiliki kode tertentu yang terhubung dengan ponsel dan menunjukkan posisi mereka setiap waktu. Untuk berjaga-jaga seandainya mereka diculik atau semacamnya." Javer menjelaskan sementara aku duduk di sofa.
Dia mengotak-atik layar ponselnya dan membuka halaman baru. "Coba lihat, ini kau dan aku... dan ini Tom. Si bodoh itu sedang magang di toko donat."
"Tunggu, aku? Kenapa posisiku juga dilacak?" tanyaku waspada, merebut ponselnya dan memperhatikan titik biru yang berkedip itu.
"Demi Tuhan, Millie, kau serius menanyakan itu? Orion melakukan segala upaya yang dia bisa untuk menjagamu. Salah satunya dengan mengetahui posisimu setiap saat."
Aku menutup bibir rapat-rapat. Tentu saja dia menyadap ponselku. Dia bisa melihat ponselnya kapan saja dan mengetahui dimana aku berada. Sekarang aku baru menyadari kenapa dia sangat bersemangat mengganti ponsel lamaku dengan yang baru begitu mereka merusaknya.
"Sikapnya agak posesif, bukan begitu, Javer?"
Javer terbahak. "Mills, kupikir posesif hanya kata kecil untuk menggambarkan Orion yang sebenarnya."