NovelToon NovelToon
Record of Esterios War

Record of Esterios War

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Perperangan / Harem / Raja Tentara/Dewa Perang / Barat / Tamat
Popularitas:18.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dajo Gunz

Seorang jendral besar dan ahli dalam berperang meninggal di bunuh oleh orang orang yang dendam padanya, seorang dewa membawanya ke dunia baru, dimana dunia itu baru saja lepas dari kegelapan.

Sebenarnya dia hanya ingin hidup tenang karena di kehidupan terdahulu sudah sangat lelah berperang, tapi ketika bertemu dengan seorang saint dari benua tengah yang mengatakan soal penglihatan nya pada dirinya, akhirnya dia memutuskan kembali terjun ke medan perang dan mengambil tahta demi orang orang terdekatnya, dia menjadi raja dan berjuang melawan kegelapan bersama sepuluh pahlawan yang di pilih dewa.

Bisakah dia mengambil tahtanya dari para lords yang menguasainya dan menghalau kegelapan dari utara ?

Genre : fantasy, drama, perang, 100% fiksi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dajo Gunz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 24

Malam harinya, di kamar sebuah penginapan di kota pelabuhan Al Nahar, “Gasp...huff...huff.” Helena mendadak terbangun, dia menoleh dan melihat Rex yang tidur di sebelahnya kanan nya dan Lulu yang berada di sebelah kirinya, dia langsung menggoyangkan tubuh Rex.

“Rex-sama....Rex-sama....” Ujarnya.

“Uhmm....ada apa Helena ?” Tanya Rex.

“Aku mendapat penglihatan.....kita harus menyebrang ke pulau sekarang....” Jawab Helena.

“Pulau ? pulau dimana ?” Tanya Rex yang masih berbaring.

“Ada pulau di sebrang pelabuhan....sarang bajak laut....mereka menangkap seorang anak....kita harus membebaskan anak itu.” Jawab Helena.

“Baiklah, kita berdua saja yang pergi....”

Rex bangun dan turun dari tempat tidurnya, dia langsung memakai bajunya dan menyandingkan Bram di punggungnya. Setelah Helena selesai berpakaian, mereka berjalan ke jendela, Rex membuka jendela dan membentangkan sayapnya, dia menggendong Helena dan terbang menuju pelabuhan,

“Hmm ? mau kemana mereka ?” Tanya Myla yang tidur di sebelah Lulu.

“Tidak tahu...katanya mau menyelamatkan anak di pulau bajak laut.....” Jawab Lulu.

“Oh...gitu......hah...apa ?” Tanya Myla sambil terduduk di tempat tidur.

“Sudahlah neesama...sebentar lagi mereka juga kembali, bobo lagi....” Jawab Lulu santai.

*****

Rex terus terbang melewati lautan, mereka melihat sebuah pulau berbentuk tengkorak dengan sebuah kapal tersembunyi di dalam gua berbentuk mulut tengkorak. Dari kejauhan terlihat cahaya obor memenuhi lubang lubang di tebing pulau.

“Disana ?” Tanya Rex.

“Iya....” Jawab Helena.

Rex langsung terbang masuk ke gua mulut tengkorak dan menyelinap di balik tebing, dia mengintip ke arah dalam, ada beberapa pria bertelanjang dada dan memakai bandana di kepalanya, para pria itu membawa senjata berupa pedang dan tombak.

“Hmm...lima lawan satu....mudah...” Gumam Bram.

“Hah....maju Bram ?” Tanya Rex.

“Tentu saja...” Jawab Bram.

“Helena, kamu tunggu di sini...” Ujar Rex.

“Iya Rex-sama, hati hati....” Balas Helena.

Dengan cepat Rex berlari keluar dan langsung memukul seorang pria yang tidak melihatnya di bagian tengkuk, “Trang...blugh.” Pedang dan tubuh pria itu jatuh menimbulkan suara, para pria yang lain langsung menoleh dan maju menyerang Rex. Dengan lincah, Rex menghindari serangan sambil memukulkan gagang pedang nya ke ulu hati, leher dan tengkuk semua orang itu. “Blugh.” Seluruh pria itu jatuh tidak sadarkan diri.

“Huh enteng....” Ujar Bram.

“Ya...bahkan jurus pun tidak keluar...” Balas Rex.

Melihat semua sudah tumbang, Helena berlari menghampiri Rex, kemudian keduanya masuk lebih kedalam, mereka menelusuri lorong gua mengikuti obor yang di tempel di dinding. Akhirnya mereka mendengar suara keramaian dan teriakan para wanita di dalam sebuah ruangan, keduanya mengintip ke dalam, ternyata para bajak laut itu sedang berpesta sambil minum minum, mereka juga melihat beberapa dari bajak laut itu sedang memperkosa beberapa wanita berambut hitam.

“Kurang ajar...yang mereka perkosa itu penduduk koloni.” Ujar Rex.

“Mereka...dari benua tengah....mungkin pecahan dari house Levent kalau di lihat dari pakaiannya....” Ujar Helena.

“Ada sekitar 20 orang di dalam.....tapi sebagian dari mereka mabuk, sepertinya kita bisa menang kalau masuk...” Ujar Bram.

“Kalau begitu tunggu apa lagi.....Helena, tolong bersembunyi, jangan sampai kamu tertangkap mereka..” Ujar Rex sambil memegang kepala Helena.

“Baik, aku ke ruang sebelah, anak yang kulihat di penglihatan ada di sebelah....hati hati ya Rex-sama...” Balas Helena.

Rex langsung menerjang masuk dan mengamuk di dalam ruangan. Tidak ada yang menduga kedatangannya dan akhirnya dengan mudah mereka di kalahkan, Rex membebaskan para wanita yang di perkosa dan menutupi tubuh mereka dengan kain. Dia berkata pada para wanita itu untuk lari naik ke atas kapal, setelah itu dia langsung pergi menyusul Helena yang ke ruang tahanan. “Kyaaaaa.” Terdengar teriakan dari dalam, Rex langsung menerobos masuk ke dalam, dia melihat Helena di tangkap seorang pria besar setengah telanjang dengan tubuh berbulu yang berwajah mengerikan dengan gigi berwarna emas.

“Rex-sama.....” Ujar Helena.

“Hei...lepaskan dia...” Teriak Rex sambil mengacungkan pedangnya.

“Hah...komoditi sebagus ini tidak mungkin ku lepaskan...hehehe...siapa kamu, kenapa kamu menyusup kesini...tidak tahu ya di sini adalah markas kami...” Balas pria itu.

“Aku bilang lepaskan dia.....” Teriak Rex sekali lagi.

“Hahahaha....lepaskan ? aku akan menghabisi mu dan bermain main dengan dia...iya kan ?” Pria itu meremas dada Helena.

“Ack...lepas...jangan sentuh aku...” Teriak Helena.

“Hahaha...hebat...memang lain kualitasnya..” Pria itu meneruskan meremas remas dada Helena.

Tiba tiba pria itu terpental melayang kebelakang dengan kepala sudah terpelintir menghadap ke belakang, Rex langsung memeluk Helena yang gemetar.

“Rex-sama....Rex-sama......” Ujar Helena.

“Kamu sudah tidak apa apa.....aku disini....” Ujar Rex.

“I..iya...maaf Rex-sama....” Balas Helena.

Mereka melihat sekeliling, seluruh ruangan itu di penuhi kerangkeng kosong, Rex dan Helena masuk lebih kedalam lagi, mereka melihat sebuah meja dengan banyak surat di atasnya yang berantakan. Rex membaca surat suratnya, dia langsung meremas suratnya,

“Mereka bukan bajak laut, mereka pedagang budak yang menculik orang orang dari benua selatan dan benua tengah untuk di jadikan barang dagangan mereka....kurang ajar.” Ujar Rex geram.

“Rex-sama, coba lihat.....ini tanda tangan Edmund Clark dan Meredith Levent....mereka dalang di balik praktik bajak laut yang menculik penduduk dari dua benua dan menjual nya sebagai budak....” Ujar Helena sambil memperlihatkan sebuah kertas yang di beri cap dan di tandatangani.

“Ok...sasaran pertama kita adalah dua house itu...jangan main main dengan ku....” Ujar Rex.

“Oi yang mulia...kenapa jadi marah sekali...” Ujar Bram.

“Kamu sudah lihat jiwaku kan...di dunia ku sebelumnya tidak ada perbudakan, kalaupun ada itu ulah mafia dan pasti akan di tangani oleh negara....jadi kamu mengerti kan kenapa aku geram.” Balas Rex.

“Hmmm benar juga...maaf.....” Balas Bram.

“Cring...kicring...cring.” Terdengar suara rantai menggema di dalam ruangan, Rex dan Helena langsung melihat sekeliling, mereka melihat sebuah pintu kayu dengan jeruji di baliknya. Ternyata asal bunyi itu dari dalam ruangan di balik pintu, Rex dan Helena mendekati pintu itu, “Sring.” Rex menyabetkan pedangnya dan membelah pintu itu secara diagonal. Pintu itu hancur, di dalam mereka melihat seorang anak perempuan kecil yang tubuhnya di ikat dengan jaket pengikat dan di pasangi rantai, mulut dan mata gadis kecil itu di tutup oleh kain. Helena langsung membukakan kain penutup mata dan mulut gadis kecil yang terlihat seperti berusia 12 tahun.

Ketika penutup mata dan mulutnya terlepas, Rex dan Helena kaget, karena mereka melihat mata gadis kecil itu seperti mata naga yang berwarna kuning walau rambutnya hitam seperti suku iblis dan cantik. Gadis kecil itu terlihat geram dan marah tapi dia tidak berbicara, Rex mengayunkan pedangnya dan membelah jaketnya, gadis itu kaget dia melihat kedua tangannya dan mencoba mengepalkannya, kemudian gadis itu melihat ke arah Rex,

“Kamu tidak apa apa....” Ujar Rex sambil menaruh Bram di punggungnya.

“Graaaah....”

Gadis kecil itu tiba tiba melompat dan menomplok Rex dari depan, kemudian dia menggigit bahu Rex.

“Rex-sama....” Teriak Helena.

“Aaaaw....hei..apa apaan....” Ujar Rex sambil menarik gadis kecil itu dan mengangkatnya.

“Lepaskan aku....lepaskan aku....Drac...tolong...tolong aku Drac.” Teriak gadis kecil itu.

“Drac ? siapa yang kamu maksud ?” Tanya Rex heran.

“Bruaaaaak.” Tiba tiba dinding ruangan itu hancur, seekor naga besar berwarna merah masuk ke dalam. Rex melepaskan gadis kecil itu dan menarik Helena ke belakangnya sambil mencabut Bram.

“Groaaaaaaaaar......” Naga itu meraung karena melihat Rex.

“Naga ? bukankah katanya naga sudah punah ?” Tanya Rex.

“Ini yang aku lihat tadi...awas Rex-sama...dia menyemburkan nafasnya.”

Naga itu memundurkan kepalanya ke belakang, Rex langsung memeluk Helena dan melompat, dia membentangkan sayapnya dan membuat perisai dari sayap nya. “Braaaaah...” Naga itu menyemburkan nafasnya dan tertahan oleh sayap Rex.

“Drac...berhenti....berhenti....” Teriak gadis kecil itu.

Anehnya naga itu langsung berhenti menembakkan nafasnya dan melihat ke arah gadis kecil itu yang berlari menghampirinya, kemudian naga itu menundukkan kepalanya dan gadis kecil itu memeluk kepalanya. Rex membuka sayapnya dan melepaskan Helena, kemudian dia berjalan menuju naga itu. Melihat Rex mendekati naga itu, gadis kecil itu langsung menghalangi Rex dan merentangkan tangannya.

“Jangan sakiti Drac....dia hanya menolongku....” Teriak gadis kecil itu dengan suara gemetar.

Melihat wajah gadis kecil yang memaksakan dirinya walau terlihat sangat ketakutan dan berusaha keras menahan tangisnya, Rex jongkok di depannya, dia memegang kepala gadis kecil itu sambil tersenyum.

“Tenang saja, aku kesini bukan untuk menyakiti Drac....” Ujar Rex ramah.

“Benar kah ? tidak mau menyakit Drac ? Tanya gadis kecil itu.

“Tentu saja benar, namamu siapa ?” Tanya Rex.

“Tel Auria....dan ini Drac....” Jawab Auria sambil memeluk kepala Drac.

Helena menghampiri Auria dan mengelus kepalanya, kemudian dia jongkok di depan Auria,

“Auria-chan, kenalkan, namaku Helena, oniisan di sana namanya Rex, kita datang kesini mau menolong dan menjemput mu....” Ujar Helena.

“Eh...kenapa ?” Tanya Auria.

“Karena kamu muncul di penglihatanku....kamu di bawa kesini oleh para bajak laut itukan ?” Tanya Helena.

“Penglihatan ? tapi aku mau ke benua tengah....aku mau mencari mama...mamaku di bawa kesana....itu sebabnya aku membiarkan diriku di tangkap....” Ujar Auria.

“Mama mu di bawa ke benua tengah ?” Tanya Helena.

“Iya...sama penjahat penjahat disini...waktu itu....aku sedang main bersama Drac dan para wyvern....kalau saja aku ada di rumah hik...hik...hik...mama......” Jawab Auria sambil menangis.

Helena langsung memeluk Auria. Rex mengelus kepalanya, keduanya membiarkan Auria menangis tersedu sedu. Rex melihat Drac yang terlihat cemas dan menjulurkan kepalanya di tanah. Setelah Auria tenang,

“Auria-chan, bagaimana kalau kamu ikut bersama ku dan Helena, kita juga mau ke benua tengah dan sekarang kita sedang membuat kapal untuk kesana...” Ajak Rex sambil menjulurkan tangan.

“Drac juga ?” Tanya Auria.

“Tentu saja...Drac juga.....” Jawab Rex.

Auria menoleh melihat Drac, “Gruuuuu....” Drac berbunyi dan mengangguk, Auria kembali menoleh melihat Rex dan menyambut tangan Rex. Langsung saja Rex menariknya dan menggendongnya. Dia mengeluar kan sayap nya dan menaruh Auria di punggung Drac, setelah menggendong Helena, mereka terbang melalui dinding yang berlubang dan menuju kota pelabuhan. Sesampainya di sana, Rex meminta beberapa orang pasukan suku iblis yang terkesima karena melihat Drac, untuk membawa kapal menuju pulau dan menyelamatkan para budak yang ada di sana.

Penduduk kota yang masih terjaga dan belum tidur terpana melihat Drac yang sangat besar itu mendarat di pelabuhan.

“Um...Auria-chan, bisa tidak membuat Drac tidak mencolok...” Ujar Rex.

“Bisa....Drac...jadi kecil ya.....” Teriak Auria.

“Gruuu....” Tubuh Drac mengeluarkan sinar berwarna merah, tubuhnya menjadi kecil seperti seekor kucing dan hinggap di kepala Auria. “Gyuuuu....” Drac yang sudah menjadi kecil meraung.

“Lu..lucu.......” Ujar Helena yang melihat Drac bertengger di kepala Auria.

“Pegang saja neechan...tidak apa apa....iya kan Drac.” Ujar Auria.

“Gyuuuu....” Drac menyodorkan kepalanya kepada Helena.

Langsung saja Helena memegangnya bahkan sampai menggendong Drac yang terlihat senang. Mereka berjalan kembali menuju penginapan tempat mereka menginap.

1
RyanStarlight
wihhh menarikk menarik kerenn
Sutono jijien 1976 Sugeng
menarik cerita nya👍👍👍
Dinar Saputra
harga
Dinar Saputra
tapi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!