Malam itu telah terjadi kecelakaan hebat yang menyebabkan Kakak ku meninggal.
Dengan pupil mata yang mulai membesar, aku menghampiri kakakku yang tergeletak di jalan.
Aku melihatnya, melihat darah keluar menyembur dari mulut kakak.
Aku berteriak dengan sangat keras,
"KAKKKK, Tolong.... Tolong.... SIAPAPUN TOLONG KAKAK KU"
Sembari memukul kepalaku dengan tangan yang berlumur darah Mobil Ambulance tiba sangat cepat.
Dengan kaki gemetar aku masuk kedalam mobil. Tetapi, saat berada didalam mobil menuju rumah sakit kakakku menghembuskan nafas terakhirnya.
Aku berharap hari itu aku tidak ada ditempat. Aku berharap ini semua tidak pernah terjadi!!
AKU MEMBENCI DIRIKU SENDIRI!
Aku pun bertunangan dengan anak laki-laki dari seorang bapak yang telah menabrak kakak ku.
Tetapi anak laki-laki itu membenciku.
Aku tak tahu kehidupan ku kedepannya seperti apa!
Apakah semuanya akan baik-baik saja atau aku akan menderita seumur hidupku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Bee Bee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 - Kami Semakin Dekat
Aku berhasil membujuk Letty untuk pergi kecafe sepulang sekolah ini.
*Pukul 11.35 Wib*
Tahap akhir dari bersih-bersih kelas adalah merapikan meja dan kursi. Anak Laki-laki yang bertugas untuk membawa masuk kembali meja dan kursi kedalam kelas, karena saat hendak membersihkan tadi semua meja dan kursi dikeluarkan terlebih dahulu.
"Akhirnya selesai" Ucap salah seorang siswa
Kami semua terduduk lelah dilantai depan kelas. Bara meminta Tamya membelikan minuman untuk satu kelas dengan uang kas. Tamya mengangguk cepat dan lansung berlari kekantin bersama Alea.
Tamya mengambil beragam jenis minuman didalam kulkas, Alea yang memasukkannya kedalam plastik setelah dihitung jumlahnya oleh ibuk kantin.
"Jadi semuanya berapa buk?" Tanya Tamya
"Semuanya jadi 544.000 neng"
Tamya mengulurkan uang dengan penuh semangat.
"Senang banget lu" ledek Alea
"Gimana gak senang, lu gak dengar tadi Bara minta tolong ke gua dengan lemah lembut gitu" Girang Tamya
Alea tertawa.
"Ayok cepatan, Bara lagi nungguin gua" senang Tamya yang berlari membawa 4 kantong plastik berisi minuman dan cemilan.
Karena meja dan kursi sudah tertata rapi kami masuk dan duduk didalam kelas. Menutup pintu dan jendela kemudian menghidupkan AC.
Tamya membuka pintu, meletakkan 9 kantong plastik berisi minuman dan cemilan diatas meja guru.
"Silahkan pilih sendiri mau yang mana" Senyum Tamya
Mulut Bintang ternganga melihat banyaknya jenis minuman dan cemilan yang dibeli Tamya.
"Banyak banget"
Tamya mengambil satu minuman yang berisi 100% jus jeruk asli. Bintang merebutnya dari tangan Tamya.
"Sini balikin"
Tamya merebut kembali jus itu,
"Bukannya tadi lu nyuruh pilih mau yang mana, gua mau yang itu" Ucap Bintang
"Lu pilih lagi sendiri didalam plastik, yang ini gua beli khusus buat Bara" Ketus Tamya
Bintang merasa kesal, dan mencari minuman yang persis dengan jus itu didalam plastik. tapi, jusnya tidak ada.
"Kok gak yang kayak gitu Tamya" teriak Bintang
"Emang gak ada. Gua cuma beli satu buat Bara doang" Ucap Tamya
Muka Bintang terlihat lesu, kembali duduk dan hanya megambil asal satu minuman.
Bara sedang tidak ada didalam kelas, ia berada dikantor bersama Nano. Pak Fajar memanggil dua orang laki-laki untuk membantunya membawa barang.
Kami menikmati minuman dan cemilan yang dibeli oleh Tamya. Aku mengambil satu minuman varian kopi, satu roti dan satu keripik kentang.
Anak-anak tak lupa untuk mengabadikan moment ini, mereka mengambil foto untuk diabadikannya di instastory.
Karena suasana kelas sangat ribut aku mengenakan airbuds untuk mendengarkan musik.
Tak lama setelah itu pak Fajar masuk kelas bersama Bara dan Nano. Mereka membawa tiga box besar.
"Banyak banget pak. Isinya apaan?" tanya Bintang
Pak Fajar kaget melihat banyaknya minuman dan cemilan diatas mejanya.
"Punya siapa ini?" tanya pak Fajar.
Anak-anak mengatakan itu cemilan yang dibeli Tamya. Bara terkejut,
"Kenapa banyak banget?" tanya Bara
"Tamya belinya terlalu semangat Bar" ledek Alea
"Ini belinya pakai uang kas?" Tanya pak Fajar
Alea mengangguk,
"Enggak pakk, enggak. Itu lebihnya tadi aku beli pakai uang pribadi. Uang kas terpakai cuma 50.000 aja kok" tutur Tamya
"Kamu ngeluarin uang berapa buat beli sebanyak ini?" Tanya balik pak Fajar
"Gak banyak kok pak, cuma empat ratusan sekian" jawab Tamya
Pak Fajar kaget mendengar jawaban Tamya. Menghela nafas dan duduk dikursinya.
"Bara ambil plastiknya letakkan disana" ucap pak Fajar sembari menunjuk meja milik Alea.
Pak Fajar menyuruh Nano membuka box yang ia bawa. Box itu berisi perlengkapan alat tulis yang dibungkus rapi seperti parsel.
"Sebelum bapak membagikan ini, terlebih dahulu bapak ingin mengatur tempat duduk kalian" ucap pak Fajar
Mendengar perkataan pak Fajar ada beberapa siswa yang protes, karena mereka lebih suka dengan tempat duduk yang bebas dipilih sendiri.
Kali ini pak Fajar tak menerima saran dari mereka,
"Sekarang kalian sudah kelas 3, banyak hal yang harus kalian persiapkan sebelum ujian nasional. Supaya kalian semua fokus pada pelajaran bapak akan memisahkan kalian yang suka ngobrol saat pelajaran dimulai"
Dengan wajah lesu dan kesal mereka menuruti perkataan pak Fajar. Kami disuruh berdiri terlebih dahulu didepan kelas. Satu persatu siswa dipanggil untuk mengambil satu alat tulis dan duduk sesuai dengan urutan yang dikatakan pak Fajar
Giliranku tiba, kali ini sangat tidak sesuai dengan keinginanku. Aku duduk di bariasan kedua kolam ketiga. Aku yang sudah terbiasa duduk dikursi belakang dekat jendela, rasanya akan aneh jika duduk disini.
Disamping kiriku Nano, sepertinya semua bekalku mulai saat ini akan dibagi dua. Bara duduk tepat dibelakangku, sementara itu Tamya dan Bintang duduk berdekatan dikursi belakang dekat jendela. Alea duduk dikursi depan meja guru.
Setelah urutan kursi diatur pak Fajar kami dipersilahkan untuk pulang dan kembali besok kesekolah.
******
*Coffe Cafe*
Aku menunggu Letty didepan pagar sekolah.
"Kakk Anna" Letty melambaikan tangan kearahku
Aku tersenyum, melambaikan tangan balik kearah Letty. Letty merangkul tanganku dan mengajakku untuk masuk kedalam mobil Bara.
"Kita gak perlu naik mobil, cafenya dekat banget kok" ucapku
"Kak, cuaca panas banget" Ucap Letty
Letty menarik lenganku untuk masuk kedalam mobil. Saat pintu mobil dibuka aku kaget, didalam mobil sudah ada Nano dan Bintang.
"Masuk Lulu" ucap Bintang
Letty membukakan pintu depan mobil.
"Kakak duduk di depan" tutur Letty
"Aku dibelakang aja" Ucapku
"Kakak mau duduk disamping Nano Nano yang berisik itu?" tanya Letty
Aku melirik Nano, kemudian masuk kedalam mobil. Nano kesal kepadaku
"Lulu" Teriak kesal Nano
Setelah kami masuk kedalam mobil, kamipun berangkat menuju cafe. Tapi, tiba-tiba Bara belok kekanan yang seharusnya arah cafe belok kekiri.
"Barr, kita gak salah jalan? harusnyakan belok kiri" ucapku
Letty maju kedepan menatapku,
"Kak kita ke mall aja, kata kakak tadi gak ada urusan setelah pulang sekolahkan. Jadi kita ke mall aja, sekalian bantuin aku buat milih-milih perlengkapan sekolah" ajak Letty
"Terus Tamya gimana? Bukannya tadi udah janji" ucap bingungku.
"Udahlah gak usah diurusin kak"
Letty kembali duduk. Aku menatap Bara,
"Nahh"
Bara memberikan handphonenya kepadaku.
"Buat apaan?" tanyaku
"Kamu telpon Tamya"
"Bar, yang ada Tamya bakalan marah ke aku kalau nelpon pakai handphone kamu" panik Aku
"Aku yang ngomong Lulu, kamu cari nomor Tamya" Suruh Bara
"Oh gitu"
Dengan muka polos aku mencari nama Tamya di handphone Bara. Nano, Bintang dan Letty tertawa melihat ekspresiku.
Mereka tertawa sangat keras. Aku tahu kalau mereka mentertawakan aku, tapi aku tak menghiraukannya.
"Lulu, lu takut banget sama Tamya" tawa Bintang
"Iya, Kakak kenapa sepanik ini sih? lihat ekspresi muka kakak" ledek Letty
"Kalian gak tahu Tamya bisa ngelakuin apapun kalau berhubungan dengan Bara" tutur pelanku
Bara menyentuh rambutku. Nano memukul tangan Bara.
"Kalau mau romantisan jangan didepan gua" ketus Nano
Bintang mengalihkan pandangannya dan membuka kaca mobil.
*Inti percakapan Bara dan Tamya lewat telepon*
Bara mengatakan kepada Tamya untuk tidak perlu membahas apapun lagi soal tadi. Letty tidak bisa datang karena ada urusan yang lebih penting. Kalau mau meminta maaf katakan lain waktu, Letty masih marah dengan kejadian tadi.
Setelah Bara selesai menelpon Tamya, kami pergi menuju mall.
...****************...
masih setia nunggu lanjutan nya 🤭
kecewa sih kalo bara udah nikah /Speechless/
judulnya :
~ Destiny With You /Proud/
~You are My Soulmate? /Slight/