Rose tidak menyangka jika selama sepuluh tahun ia telah menikah dengan mahluk gaib dan memiliki anak dari pernikahan mereka.
Mungkinkah itu yang membuat Rose Akhirnya susah mendapatkan jodoh di dunia nyata???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Diam berarti Iya
Seketika detak jantungku seperti berdetak lima kali lebih kencang ketika ku tatap lagi wajah itu, benar-benar mirip. Mungkin karena aku jarang memperhatikan Sunny dan lebih suka mengacuhkannya membuat aku baru sadar apa Sunny adalah pengganti Barra yang dikirim Gusti Allah untukku. Tidak terasa kristal bening mulai turun membasahi pipiku.
"Shodaqallahul Adziim," terdengar suara Sunny mengakhiri bacaannya.
Aku langsung memalingkan wajahku yang sedari tadi tak berkedip menatapnya, ku usap lembut air mataku yang masih tersisa di sudut netraku.
"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga, gimana Pak Kyai, diterima apa tidak?" tanya Sunny
"Kalau aku sih Yes, Kyai Abdullah juga yes, tinggal satu lagi yes dari Ros akan membawaku lolos ke babak spektakuler kehidupan yaitu pernikahan," jawab Kyai Hasan
"Jadi gimana Ros, jawabannya yes or no?" tanya Kyai Abdullah
Aku cuma diam sambil kembali ku tatap wajah dihadapanku, tiba-tiba netra kami beradu membuat dadaku berdesir kencang. Hingga aku langsung menundukkan wajahku, aku malu karena Sunny memergoki aku mencuri pandang pandanya.
"Gimana Ros?" tanya Sunny lembut
"Eeh, iya," jawabku malu-malu
"Udah Sun, jangan dipaksa, Insya Allah semua akan indah pada waktunya, kamu gak usah kecewa, karena satu yang bisa saya pasti sama kamu bahwa Ros sudah menerima lamaran kamu, sebagai seorang wanita tentunya kita paham, mungkin dia malu untuk berkata Yes, karena mungkin takut dibilang terlalu agresif, menyebutkan jika diamnya wanita saat sedang dilamar seorang pria, maka itu berarti wanita itu setuju atau menerima lamarannya, betul tidak Tadz," tutur Kyai Hasan
"Leres, Pak Kyai," sahut Ustadz Yahya
"Berarti Ros setuju dong Pak Kyai?" Sunny memperjelas
"Betul Cah Bagus," jawab Kyai Hasan
"Alhamdulillah, kalau gitu. Jadi kapan aku dinikahkan sama Ros?" tanya Sunny tidak sabaran membuat semua yang ada diruangan itu menertawakan kekonyolannya.
"Astaghfirullah, sabar toh Nang, baru juga sembuh si Rosnya, kalau mau ya sebulan lagi, biar Lilik juga ada persiapan, lagian Nikah itu kan butuh biaya Sun, makannya kumpulin duit yang banyak dulu," jawab Ibu
"Kamu gak sabaran banget toh Sun, apa kamu mau Pak Dhe nikahin sekarang?" tanya Kyai Abdullah
"Maulah Pak Dhe, aku takut Ros berubah pikiran kalau nikahnya kelamaan, tahu sendiri kan Pak Dhe kalau Ros itu ABG labil," jawab Sunny membuatku kesal dan ingin menghajarnya, untuk banyak orang jadi aku masih bisa mengontrol emosiku.
Sementara ku lihat Sunny menjulurkan lidahnya ketika melihatku menatapnya sinis sambil mengepalkan tanganku.
"Dasar usil, awas aja kamu," gumamku dalam hati
"Oh iya, ada yang mau aku sampaikan sama Ros," ucap Ustadz Yahya membuatku langsung menoleh kearahnya
"Apa Ustadz,"
"Kamu jangan kaget ya, bila mulai sekarang sampai tiga bulan kedepan kamu akan bisa melihat mahluk-mahluk gaib, karena mata batin kamu sudah aku buka tadi, namun setelah tiga bulan bisa ketutup lagi kok, kecuali kamu adalah orang-orang terpilih hingga memiliki kemampuan melihat mahluk tidak kasat mata, awlallahu alam," tutur ustadz Yahya
"Gak usah takut Ros, tenang saja mereka gak akan gangguin kamu kok," jawab Kyai Hasan
"Inggih Pak Kyai,"
Tak lama kemudian Kyai Abdullah dan teman-temannya berpamitan pulang, aku langsung membantu ibu membereskan semua piring-piring kue, dan gelas bekas minuman kemasan yang berserakan.
Ku lihat Sunny tanpa disuruh langsung membereskan karpet dan tikar pandan yang dijadikan alas duduk para tamu.
"Sini biar aku aja yang nyapu," ucapku sembari mengambil sapu dari tangannya
"Gak usah Ros, biar aku saja. Lagian aku tahu kamu tuh masih lemes kan. Sudah mending kamu istirahat saja, biar aku semua yang membereskan," ucapnya tulus
Aku kemudian masuk kamar dan merebahkan tubuhku di ranjang. Ku lihat jarum jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam tapi aku belum bisa memejamkan mataku.
Aku keluar untuk mengambil air minum, dan kulihat Sunny sedang menata sofa yang tadi diletakkan di luar rumah saat acara Ruqyah.
Subhanallah, dia benar-benar lelaki yang baik, bahkan ia merapikan semuanya sendirian tanpa pamrih, dia tahu jika keluarga kami tidak punya anak laki-laki untuk membantu ibu mengangkat benda-benda berat, walaupun ada Ayah, Ia sudah tidak boleh mengangkat beban terlalu berat karena penyakit prostat yang di deritanya. Mungkin itu yang membuatnya selalu membantu keluarga kami jika ada acara dan ia selalu bersedia membantu jika kami membutuhkan pertolongannya.
"Sudah Nang, biarin aja kursinya gak usah dibawa masuk semua, lagi kamu pasti capek sudah beresin semua. Sekarang kamu istirahat besok kerja kan?" tanya Ibu
"Iya Lik, tapi gak papalah, mumpung aku lagi seneng," jawab Sunny sumringah
"Yowes sakarepmu lah, nanti kalau sudah selesai tutup pintunya ya, aku mau bocan dulu," jawab Ibu
"Monggo, selamat bobo macan Lik," sahut Sunny membuat ibuku keluar lagi dari kamarnya
"Lho kok balik lagi gak jadi toh bobo macannya?" tanya Sunny
"Bukan bobo macan Sun, tapi bobo cantik," jawab Ibuku
"Podo ae Lik, macan kuwi kan podo karo mamah cantik," tambah Sunny
"Oh ngono toh, yoweslah aku tak bobo macan dulu ya," sahut ibu yang langsung masuk ke kekamarnya
Ku tepuk pundak Sunny yang sedang menertawakan tingkah polos ibuku.
"Astaghfirullah!, tak kirain Gondoruwo, eeh ternyata malah Rondone Gondoruwo!" ucapnya sambil terkekeh
"Jangan ngeledek, awas kamu ya, tak tolak baru tahu rasa kamu," ancamku sembari menyungutkan wajahku
"Ojo toh Ros, ya aku minta maaf, kan cuma bercanda, jangan marah ya," ucapnya merajuk
"Bercanda boleh saja, tapi jangan keterlaluan, dan aku paling gak suka kalau ada orang yang suka mengungkit masa laluku," jawabku ketus
"Maaf Ros, beneran aku gak maksud meledek kamu, aku cuma bercanda aja, gak ada maksud lain, aku gak tahu kalau kamu akan marah kaya gini," ucapnya penuh penyesalan
Aku bisa melihat kejujuran dari matanya, dan aku sebenarnya tidak marah dengannya, hanya saja aku ingin memberikan pelajaran padanya karena ia sudah membuat malu diriku didepan orang-orang dengan mengatakan aku ABG labil, walaupun pada dasarnya itu benar.
Sekarang aku cuma ingin mengucapkan terima kasihku padanya karena bagaimanapun juga Sunny sudah banyak membantuku hari ini. Aku segera masuk ke dapur tanpa menghiraukan panggilan lelaki itu yang terus-menerus meminta maaf padaku.
"Kamu ngapain Ros?" tanyanya lembut
"Buatin minuman buat kamu, kamu haus kan?" tanyaku dengan senyum mengembang
"Kamu tahu aja aku Ros, bener-bener calon istri idaman," jawabnya sumringah
Aku membawa minuman itu kedepan dan meletakkannya di meja.
"Alhamdulillah, nikmat banget kalau yang bikinin itu calon istri, walaupun rasanya asin tapi tidak masalah lah," ucap Sunny membuat aku penasaran
"Masa sih asin?"
"Coba aja sendiri Ros, rasanya enak kok, asin-asin nyoy, kaya tahu bulat," ucapnya sambil tertawa
Karena penasaran aku segera mengambil gelas itu dan menyeruput teh manis yang aku buat.
**Byuur!!!
Seketika langsung aku muntahkan air yang aku minum hingga mengenai wajah Sunny.
rindu kok sama genderuwo