NovelToon NovelToon
Kecubung Biru

Kecubung Biru

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Petualangan / Balas Dendam / Chicklit / Tamat
Popularitas:24.7k
Nilai: 5
Nama Author: C4703R

Kecubung Biru hanya bisa menatap getir. Akan Bumi Menoreh yang membara.
Diantara pertikaian ayah dan pamannya, Pulung Jiwo dan Ronggo Pekik.
Juga mesti membantu perjuangan Diponegoro dalam melawan Kumpeni.
Perang ini mesti mengabaikan segala kepentingannya, asmara yang membara dan kesehariannya yang sunyi, untuk dilewatkan bersama kepingan dendam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon C4703R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pasrah

Perjuangan kami tak terpimpin. Hanya melakukan sendiri-sendiri. Bahkan lebih banyak menghindar, jika berpapasan dengan musuh.

“Stt.... Kumpeni.“

“Mana....“

“Itu, tengah patroli.“ Banyak orang disana dengan obor dan cahaya-cahaya terang, untuk melihat setiap sudut yang dijaga. Mereka terus berkeliling sepanjang waktu. Hampir tak ada jeda, buat kami bergerak, apalagi melakukan kegiatan. Pasukan-pasukan itu silih berganti dalam melakukan ronda.

“Bagaimana ini....“

“Kita menelusup saja.“

“Gatal.“

“Atau lewat jalan lain ke sana.“

“Itu kayaknya bagus. “

Apalagi tiap patroli kelompok mereka ditambah. Banyak sekali. Tak sebanding dengan kelompok kita yang menyusut dan terpecah-belah.

“Ada lagi itu.“

“Wah kita terhalang ini.“

“Lawan saja.“

“Belum mampu lah. Kita hanya berapa orang. Mereka banyak. Lagipula senjata kita mana bisa menyamai mereka. “

“Kita membelok saja dulu.“

“Itu ada sumur, kita sembunyi. “

“Iya.“

Berbagai tempat kami pakai untuk menyembunyikan diri. Tempat-tempat aneh yang sekiranya tak mencurigakan. Disitu kami aman untuk sementara waktu. Sesaat setelah mereka pergi. Namun pada waktu lain kita mesti mencari tempat aneh lain yang tak mencurigakan supaya tak ketahuan lagi.

Kami merasa kalau melakukan perang terbuka masih belum kuat. Dan hanya menunggu terkumpulnya dengan yang lain.

Kami mencari kelompok inti yang mungkin masih bisa berbuat banyak dalam menghadapi pasukan musuh yang begitu kuat dengan senjata yang terus tersedia dan paling baru di masa ini.

“Benar kita mencari teman.“

“Mesti itu.“

“Tapi dimana mereka....“

“Ya kita cari. Palingan tak jauh.“

“Bagaimana tak jauh. Wilayah jelajahnya luas. Sampai ke monconegoro. Itukan daerah yang sangat luas.“ Benar sangat luas. Kalau hanya sekedar melintas pada jalan raya yang bagus itu mungkin tak demikian jauh. Apalagi memakai kereta kuda. Akan mudah menjangkaunya. Tapi yang dijelajahi adalah daerah gelap dan sunyi. Mesti melewati pegunungan, jurang dan ngarai sulit. Yang tak mudah diketahui. Sebab daerah-daerah demikian bagus untuk bersembunyi. Apalagi akan banyak penyakit. Serta kurangnya bahan makanan yang layak. Menambah sulitnya suasana dan menurunnya kesehatan dari para laskar.

Apalagi pasukan mereka sudah didatangkan dari Sumatera, serta pulau lain yang bisa dihentikan perlawanannya.

Kabar tak enak kembali terdengar. Bertubi-tubi kami merasakan tekanan hebat.

Banyak para pimpinan yang menyerah. Baik secara sukarela atau tengah berada dalam ancaman akibat terjepit dalam suatu pertempuran.

Kyai Mojo, para bangsawan dan lainnya tertangkap. Bahkan Den Bei yang ahli strategi telah tewas.

Itu yang membuat posisi kami semakin terjepit.

Melakukan perlawanan sudah kesulitan. Sudah tak bisa melanjutkan tanpa para ahli strategi yang sanggup mengerahkan orang banyak secara tertib dan teratur.

“Bagaimana ini?“

“Semua sudah tertangkap atau menyerah.“

“Kita tak kuat tanpa mereka.“

“Strategi kita tak bakalan didengar oleh rekan-rekan yang lain. Atau tak akan manjur.“

Menjadikan mereka seakan bergerak tanpa aturan. Sebab mereka merasa masih satu angkatan, yang kurang menghargainya. Dianggap rekan semata yang saling bercanda. Beda jika ada atasan yang mereka unggulkan, akan mati-matian dalam membelanya. Apalagi jika sang pemimpin demikian berwibawa. Tak akan sungkan dalam melakukan segala hal. Itu juga yang terjadi di tengah para anggota yang membutuhkan pemimpin kuat.

Kalau melakukan sendiri-sendiri hanya menunggu waktu untuk dikalahkan. Meskipun banyak orang-orang sakti. Termasuk Paman Ronggo Pekik dan Pulung Jiwo. Kemahirannya dalam bertarung tak diragukan lagi. Tapi melihat banyaknya orang terlatih dari para prajurit dan serdadu Kumpeni, kami jelas akan kesulitan.

Sementara pasukan musuh terus menerus berusaha membujuk agar pasukan di gunung bersedia menyerah.

Mereka bahkan mengiming-imingkan hadiah buat yang berhasil menyerahkan musuhnya.

Hal itu sedikit banyak membuahkan hasil.

Njeng Pengeran akhirnya terbujuk dan berhasil ditangkap di Residenan Magelang. 25 pengikutnya tak bisa berbuat banyak. Hanya bisa meneteskan air mata. Melihat junjungannya diperlakukan tak sewajarnya.

Kami disini juga terguncang, perjuangan ini seakan berakhir. Apa yang diharap tak terwujud.

Kami hanya bisa tertunduk lesu entah dimana beliau kini.

Para bangsawan-bangsawan ikut menyerah dan diasingkan bersama beliau. Mereka seakan tak ingin berpisah. Begitu juga Den Ayu Retno Ningsih yang senantiasa menemani dia kemanapun juga. Meskipun harus berada di gua yang sepi.

Akhirnya Paman Pulung Jiwo juga berniat turun gunung. Dia mau mengikuti Pangeran Diponegoro kemanapun dia dibawa. Disamping kawatir dengan keselamatan anaknya perempuan Si Kecubung Biru. Yang diharapkan bisa melanjutkan generasinya. Atau dia ikut Sentot yang diterjunkan ke Sumatera memadamkan pemberontakan rakyat.

Kami dan beberapa orang anggota kelompok akhirnya turun mendapati pasukan keraton. Sudah pasrah. Kalau akhirnya harus terpanciung seperti jjunjungan kami. Atau harus diasingkan ke luar pulau. Kami siap.

Bahkan jika harus menjjadi bekakak di alun-alun juga sudah kami tanggung resikonya.

Tapi tak demikian. Mereka ternyata ramah. Kami hanya disuruh meletakkan senjata lalu dibawa dialun-alun. Berjalan kaki dari hutan. Dengan ditonton oleh para warga.

Kami lalu dikumpulkan dalam kelompok yaang sama. Semuanya duduk di tanah menunggu keputusan Patih Danurejo.

Sang patih menempatkan kembali Paman Pulung Jiwo sebagai prajurit keraton. Dia masih mengingat kalau orang itu dahulu jjuga prajurit. Makanya dia kembali pada posisi itu.

Juga paman Ronggo Pekik, disana dia rupanya lebih dulu turun gunung dan mendapat hak yang sama dengan Paman Pulung Jiwo.

Sementara aku hanya menjadi prajurit muda. Yang belum pernah aku jalani. Kali ini menjadi pengalaman baru. Dan Kecubung Biru ikut Pulung Jiwo. Dia tinggal di rumah barak para prajurit dengan ayahnya.

Beberapa hari kami di istana, bekerja sebagai prajurit seperti kebanyakan. Menikmati nikmatnya makanan kota. Tak kekurangan dalam segala hal. Makanan tercukupi. Pakaian juga bagus. Tidak compang-camping seperti sewaktu di hutan. Dan tak ada was-was lagi.

Tinggal juga ditempat yang nyaman. Tidak kehujanan. Tidak kepanasan.

Pekerjaan kami sejauh ini tak diberi tugas keluar. Padahal sebagai prajurit tentu hal ini sedikit aneh. Sebagai orang yang tugasnya berperang, namun kami sama sekali tak melakukan itu. Padahal di gunung masih banyak perlawanan para anak buah Diponegoro yang belum mau turun gunung. Mereka merasa perjuangan belum selesai. Dan menghendaki bakalan terus melakukan perlawanan hingga titik darah penghabisan. Meskipun sudah tak ada pimpinan. Jiwa mereka yang memimpin.

Mungkin mereka kawatir kalau kami disuruh perang melawan bekas rekan kami, nanti bakalan membelot seperti panglima Sentot yang justru membela Pasukan Sumatera di Bonjol.

Beberapa kali Paman Pulung Jiwo hendak bersitegang dengan paman Ronggo Pekik. Mereka sering bertemu. Mereka juga masih mengingat dendam. Meskipun sama –sama dalam kondisi yang enak. Dan memiliki jabatan yang sama. Sebagai prajurit keraton.. Namun kejadian sebelumnya tak menyurutkan mereka untuk menghentikan aksi.

1
Andrias CPC
trims 🙏
Dhina ♑
Pangeran Diponegoro,,
sejauh mana mengerti detilnya Thor 🤗🤗🙏🙏 ada yang ingin saya ketahui
Andrias CPC: wah nggak begitu paham aku. 😁
itu hanya gambaran seting kisah untuk membawa tokoh utama pada situasi zaman itu.
total 1 replies
Dhina ♑
ulang, Kecubung Biru
Mase Solo
disini ada kata/sebutan "AKU" mksdnya gimna ya,,apa ini crta dlm cerita/kisah pribadi/cerita sejarah,,,maaf
Author SUPERSTAR: Hi, baca Aku (Bukan) Wanita Murahan yuk
total 3 replies
Sis Fauzi
semangat pulung jiwo
Sis Fauzi
mantap Thor ❤️ lanjuut
Sis Fauzi
love love love author ❤️
Sis Fauzi
suka banget kisahnya p dipenegoro ❤️
Sis Fauzi
Selasa pagi hadir Thor ❤️ salam persahabatan dariku 🙏 saling dukung y 💪 feedback DIBALIK EMOTICON CINTA dan RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA 👍
Andrias CPC: thanks 👍
total 1 replies
Rian Cappuchino
Kak mampir yuk ke novelku.Judulnya "Ray stardust."

Kutunggu kedatangan kalian

Terima kasih
Andrias CPC: iya😁😁
total 1 replies
anggita
lembayung.sutra.,~ habis?
Andrias CPC: habis kalau ini.
total 1 replies
anggita
kecubung biru💪👍
Andrias CPC: 😁😁
yuk yang lain 😁
total 1 replies
anggita
tmbah like 👍dari novel silat 13 Pembunuh.,🗡💀
anggita
sya mpir, baca, trus like ae lah👍
anggita
tmbah like lgi 👍
anggita
Respct buat Author~crita berlatar sjarah melawan pnjajhan di bumi nusantara sdh jrang ada yg nulis.,💪 smangat trus.
Andrias CPC: trims 🙏
aku mampir balik 😁😁
total 1 replies
💫lie azika
perjuangan yg melelahkan namun harus di lawan
Andrias CPC: iya
yuk lanjut sampai akhir 😁😁
total 1 replies
💫lie azika
para pejuang hebat , bagus kak cerita nya.
Andrias CPC: trims ya 🙏
total 1 replies
Dhina ♑
Aceh ya thor??
Dhina ♑: oh,, lupa ku...rasa tak asing, tapi bingung 😂😂
total 2 replies
My Calangheyo
boomlike n rate bg drias 😍
Andrias CPC: thanks 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!