NovelToon NovelToon
Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO

Status: tamat
Genre:Duda / CEO / Tamat
Popularitas:475.7k
Nilai: 5
Nama Author: Deyulia

Menjadi pelayan kafe di kafe Pamannya demi membantu membayarkan hutang sang Paman kepada Rentenir menjadi pilihan satu-satunya bagi Zila Arzila (22).
Keinginannya untuk menikahi seorang pria tajir demi terbebas dari kemiskinan dan kejaran Rentenir karena hutang sang Paman, kini menjadi obsesinya. Namun tidak segampang yang dia pikirkan.
Lantas apa yang Zila alami selanjutnya, apakah dia berhasil menemukan lelaki kaya untuk dinikahinya dan didapatkan uangnya demi terbebas dari jeratan hutang sang Paman pada Rentenir? Ikuti kisahnya ya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 Kesedihan Zila

Mobil Naga melaju sedang menuju kota Bandung. Di tengah perjalanan Zila memberhentikan kemudi Naga. Sontak Naga terkejut. "Ada apa, Zi? Tiba-tiba kamu menghentikan mobil ini, kalau tadi aku tidak bisa rem mendadak maka mobil yang di depan kita bisa kena tabrak mobil kita," gerutu Naga panik.

"Begitu saja marah, aku mau ke apotek itu, mau beli sesuatu," ujarnya tanpa meminta maaf atas kecerobohannya menghentikan mobil Naga. Zila turun lalu berlari menuju apotek.

Naga sebenarnya bingung, apa yang akan dibeli Zila. Tidak butuh lama Zila muncul dengan menenteng sebuah permen karet yang sebagian sudah dikunyahnya.

"Apa sih yang dibeli kamu? Cuma permen?" Zila mengangguk lalu menyimpan kembali di plastik yang dimasuki permen tadi.

"Ada lagi yang mau kamu beli?" Zila menggeleng, lalu dengan cepat Naga melajukan kembali mobilnya menuju kediamannya.

Mobil kini sudah berada di kawasan Dago, tepatnya dikediaman Naga. Kedatangan Naga dan Zila disambut dingin bagi Zila, dan hangat untuk Naga. Zila santai saja, dia malah nyosor mengucap salam dan meraih tangan Ibu mertuanya yang suka senewen padanya. Tapi dia tidak peduli, yang penting ilmu adab yang diajarkan Kobar selalu dia pakai di manapun juga. Terlebih ini Ibu mertuanya yang notebene Ibu kandung Naga. Zila masih memliki misi tersembunyi di balik kebaikannya. Yakni ingin mendapatkan uang paling tinggi satu milyar buat melunasi hutang Pamannya pada rentenir.

"Assalamu'alaikum." Zila dan Naga bersamaan mengucap salam, Bu Hilsa membalas, tapi sepertinya bukan untuk Zila, melainkan untuk Naga. Setelah Zila meraih tangan mertuanya dia langsung menuju tangga bermaksud masuk kamar.

"Zila, tunggu!" Bu Hilsa menghentikan langkah Zila. Zila membalikkan badannya ke arah Bu Hilsa.

"Iya, Bu, ada apa?"

"Persiapkan makan malam bersama Bi Rani. Kamu habis keluyuran bukan, artinya sejak pagi di rumah ini belum ada kerjaan yang kamu hasilkan," tegas Bu Hilsa membuat Zila langsung tidak bersemangat.

"Tapi, Bu. Jangan berat-berat, saya kan sedang hamil. Ibu tidak mau, bukan kalau cucu Ibu yang saya kandung cacat?" tukas Zila berbohong.

"Apa? Jangan jadikan kehamilanmu menjadi malas beraktifitas di rumah ini. Lagipula aku belum yakin kalau kamu benar-benar hamil. Mana mungkin anakku mau sama perempuan tidak benar sama kamu. Naga itu pemilih dan tidak suka perempuan yang keluar masuk kafe remang-remang ataupun klub malam," tandasnya sengit membuat aliran darah Zila seketika naik ke ubun-ubun.

Naga yang masih di sana menghampiri dan meraih tangan Zila untuk segera beranjak ke atas dan masuk kamar. Ucapan Ibu mertua yang tidak menganggapnya menantu, terasa sangat menusuk. Sementara dirinya kini telah terenggut kesuciannya oleh anaknya sendir.

Zila menahan tubuhnya sehingga Naga tidak bisa menarik Zila. Zila ingin meluruskan hinaan Ibunya, bahwa meskipun dia bekerja sebagai pelayan kafe yang kata orang remang-remang, tapi Zila tidak menjual diri seperti yang Ibu mertuanya katakan.

"Ibu jangan sembarangan mengatai aku sebagai perempuan tidak benar. Meskipun aku bekerja sebagai pelayan kafe, tapi aku jauh dari free seksss. Kalau Ibu tidak percaya, boleh tanyakan pada anak Ibu tersayang. Siapakah yang pertama kali merenggut kesucian aku? Tanya sama dia, siapa? Bahkan aku saat digaulinya kesakitan melebihi sakit dihujam paku. Coba Ibu tanyakan sama anak Ibu, apakah aku masih suci atau tidak?" lawan Zila sangat frontal sebab dengan beraninya Zila mengungkap masalah privasi antara dia dan Naga.

Naga yang melihat dan mendengar penuturan Zila, geleng-geleng kepala sangat malu. Tapi, apa yang dikatakan Zila benar adanya. Dia tidak mau dianggap lagi perempuan tidak benar, makanya Zila berbicara apa adanya.

Bu Hilsa menatap Zila tidak percaya. Dengan beraninya dia mengungkap masalah privasi di depan dirinya. Namun saat melihat Zila bicara sefrontal itu, kilatan amarah dan kecewa nampak keluar dari sorot matanya. Bu Hilsa merasa Zila sedang bicara kebenaran. Namun dia enggan mengakui.

"Naga, ikuti Mama!" titah Bu Hilsa seraya berlalu dari ruang tengah. Sementara Zila masih berdiri terpaku mendengar ucapan Bu Hilsa tadi yang penuh penghinaan. Dia tidak ingin lagi dirinya dihina, biarlah Naga yang mengungkapkan kebenaran bahwa sesungguhnya dirinya tidak seperti yang diungkapkan Bu Hilsa.

Zila berlari menaiki tangga, ia ingin segera menenggelamkan dirinya dan menangis sekuat-kuatnya di dalam kamar.

Bu Hilsa menuju kamarnya dan membuka pintu lebar-lebar supaya Naga masuk.

"Naga, katakan sama Mama apakah kamu sudah menggaulinya? Bukankah kamu tidak suka perempuan yang tidak benar, bahkan selama ini kamu menjaga pergaulan dengan perempuan-perempuan seperti itu, tapi kini kamu seakan memilih perempuan seperti itu," tegas Bu Hilsa masih menuding Zila perempuan tidak benar seperti apa yang dia lihat di foto yang dikirimkan anak buahnya tempo hari.

"Baiklah Naga akan jelaskan yang sejelas-jelasnya pada Mama. Naga sudah menggaulinya dengan sebaik-baiknya, dan Zila rupanya tidak seburuk yang kita duga. Kita salah menilai Zila dan foto-foto itu tidak cukup membuktikan bahwa dia perempuan tidak benar seperti dugaan Mama dan kita semua. Sebab, Naga merasakan pada sentuhan pertama, Zila masih suci dan sama sekali belum ternoda. Yang Naga katakan adalah jujur, Ma. Jadi, jangan katakan Zila lagi perempuan tidak benar, sebab Nagalah orang pertama yang merenggut kesuciannya," jelas Naga sejelas-jelasnya.

Bu Hilsa ternganga tidak percaya. Apa yang dikatakan Naga membuat dia ingin menyangkal. Namun ucapan Naga barusan seolah sebuah kejujuran yang tidak bisa disangkal.

"Naga peringatkan untuk Mama, Hilda juga Papa, jangan sampai mengatakan lagi Zila perempuan tidak benar, sebab meskipun dia pelayan kafe, tapi dia mampu menjaga dirinya dengan benar. Jika siapapun yang mengatakan lagi Zila perempuan tidak benar, maka Nagalah orang pertama yang akan mendukung supaya Zila menuntut atas dasar perbuatan tidak menyenangkan, yakni pencemaran nama baik," tandas Naga seraya berlalu meninggalkan Mamanya yang terhenyak dan merasa dipermalukan atas pengakuan Naga barusan.

"Naga, tunggu! Kamu pasti membelanya karena kamu telah jatuh cinta sama perempuan tidak benar itu. Mama tidak terima!" teriaknya ingin mengejar Naga. Namun Naga sudah menjauh.

Sementara itu Zila yang kini sedang berada di dalam kamarnya, menangis sedih. Kecewa dan sedih dengan ucapan Bu Hilsa yang lagi-lagi mengatakan bahwa dia adalah perempuan tidak benar.

Apalah daya dia hanya seorang pelayan kafe yang selalu mendapat stigma negatif dari masyarakat. Tiba-tiba saat Zila menangis meratapi rasa kecewanya atas ucapan Ibu mertuanya, pintu kamar terbuka. Zila tersentak, suara langkah kaki terdengar mendekat. Zila yakin itu Naga. Zila tidak mau melihat Naga karena dia terlanjur sakit hati oleh Ibu mertuanya.

1
Anonim
Randi randa

Berasa terlahir anak kembar semua yg ada di cerita ini

Sampai sini sebenernya cerita nya bagus,cuman yg di sesali pemilihan nama aja klo menurut saya
Lina Zascia Amandia: Heheheheh... iya Kak maaf, gak tau knp setiap sy bikin cerita nama pemeran kadang dijadikan kembar atau malah huruf depannya mirip. Mungkin ciri khas Novel sy seperti itu, alasannya saya suka bingung cari nama kalo beda2 dr awalan misalnya. Entahlah Kak, sy agak susah merubah kebiasaan itu dlm setiap cerita saya. Ok deh ini masukan bagus dr Kakak untuk sy. Mksh byk ya. Tapi jangan merajuk dong. Baca kembali dong Kak.... pembacanya sepi nih...
total 1 replies
Anonim
Ada lagi kan zila zuli
Anonim
Dr awal agk pusing sama pemilihan nama yg hampir sama semua
Mungkin bisa lebiih bervariasii namanya
Sampai art nya juga nama sama
Zila sila
Rani rana
Kadang orng baca novel hiburan tp klo di kasih nama sama bikin pusing
Lina Zascia Amandia: Ok Kak mksh sarannya.... ini bisa jadi acuan sy untuk ke depannya..... lanjut doong Kak bacanya...
total 1 replies
Sena judifa
untung zila lg hamil kalo ngga hbs mereka berkelahi
Sena judifa
hilda lg
Noviyanti
si hilda protektif banget sih, nagi negur diara doang juga sok ngaku2 mau nikah.
Noviyanti
huh awas aja kalo ingkar ya hilda, tak sumpahin hamil loh
Noviyanti
huh dinasehatin yang bener susah, mending di putusin aja tuh si hilda. nanti kalau udah jadi bini juga susah lagi dinasehatinnya
Sena judifa
coba tukar tuh sihilda yg ada diposisi zila, sanggup nggak
Sena judifa
zila memang hamil tuh
Sena judifa
siapa bilang zila hamil bohongan dasar mak lampir
Sena judifa
zila hamil beneran y
Sena judifa
sedihnya😓😓
Noviyanti
si hilda ini susah dibilanginnya. bongkar aja zila biar dia kapok sekalian
Lina Zascia Amandia: Hehehhehe...
total 1 replies
Noviyanti
idih ngebet banget sih si hilda ini.
Noviyanti
baguslah masalah telah kelar
Noviyanti
bunga mendarat
Noviyanti
bukan maen nih kuliahnya 👏👏
Noviyanti
rafa kah yg datang atau naga
Noviyanti
hehe zila mahaguru cinta.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!