NovelToon NovelToon
Dendam Sang Pelakor

Dendam Sang Pelakor

Status: tamat
Genre:Pelakor / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / CEO / Cintapertama / Tamat
Popularitas:57k
Nilai: 5
Nama Author: Clara Dasella

Seorang gadis yang pernah terpuruk karena masa lalunya, kini datang kembali untuk membalaskan dendamnya.
Ia tidak akan menyerah sampai tujuannya itu belum tercapai.
Dengan tekatnya, ia akan berusaha merebut dan menghancurkan hubungan dari sosok yang pernah dengan begitu jahat menggoreskan luka dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clara Dasella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 24

1 Minggu berlalu setelah mendapat kabar tentang kondisi Reiner yang koma, Nara sama sekali benar-benar tidak datang dan kembali meski hanya sekedar melihat kondisi Reiner sebentar saja.

Entah sebesar apa kebencian itu sampai-sampai air mata dan permohonan dari kedua orangtua Reiner tidak sama sekali di indahkan olehnya.

Dan saat ini Nara terlihat tengah duduk di tepi tempat tidurnya seraya membaca beberapa buku komik miliknya. Sampai tiba-tiba aktifitasnya terganggu saat mendengar kebisingan dar arah ruang tamu.

Nara yang penasaran lantas keluar dari kamarnya dan melihat apa yang terjadi disana. Baru beberapa langkah ia berjalan menuju ruang tamu, tiba-tiba saja langkahnya terhenti saat melihat Kania yang tengah berdebat dengan seorang pria.

Nara pun kemudian bersembunyi di balik tembok untuk mendengar apa yang tengah mereka berdua bicarakan. Dengan tenang ia diam disana dan berusaha untuk bisa mendengar dengan jelas apa yang dibicarakan oleh Kania dan sosok pria asing itu.

"Kania, seharusnya kau bisa membujuk Nara untuk menemui tuan Reiner. Apa kau tau bagaimana keadaannya sekarang? Kondisinya semakin memburuk, Kania." Kata David yang tak lain adalah asisten pribadi Reiner yang sejak awal membututi  Kania ketika ia ke London.

"Aku sudah berusaha, David. Tapi kau kan juga tau bagaimana Nara? Dia sudah tidak ingin lagi menemui tuan Reiner karena--"

Ucapan Kania terhenti saat tiba-tiba David membungkam bibir Kania dengan ciumannya. Dan melihat hal itu sontak Nara langsung terkejut dan tidak menyangka.

Setelah beberapa menit ciuman itu berlangsung, kemudian dengan perlahan David melepas tautan bibirnya pada Kania dan mengusap bibir lembar dari wanitanya tersebut.

"Bagaimana pun juga tuan Reiner sudah pernah baik padamu. Dan lagi, kau juga sudah mencuri blackcard milik tuan Reiner untuk bisa datang ke negara ini bersama Nara." Kata David.

"Apa? Jadi Kania..." Ucap Nara lirih dari balik tembok.

"Kau juga harus ingat, jika kau dan Nara bisa sampai disini itu tidak jauh dari bantuan Ziva. Kau juga tau kan Ziva adalah orang-orang yang ada dibalik tuan Reiner?" Kata David lalu Kania hanya mengangguk dengan mimik wajah bersalahnya.

"Bukan tuan Reiner tidak tau jika kau dan Nara pergi, dia tau kalau kalian ada di negara ini. Tapi dengan kelicikanmu yang ingin melindungi Nara agar dia tidak bisa di temukan oleh tuan Reiner, kau menggunakan orang-orang penting didalamnya agar keberadaan Nara tidak bisa dilacak." Sambung David lagi.

Kania pun kemudian duduk dengan sedikit lemas di atas kursi sofa miliknya. Gadis itu hanya terdiam dan merasa semakin bersalah dengan apa yang sudah dilakukannya.

Ya, meskipun itu dilakukannya untuk melindungi Nara, tapi nyatanya Kania tidak pernah tau jika saat itu Reiner benar-benar merasa kehilangan Nara.

"Kania?" Ucap David sembari menggenggam satu tangan Kania.

"Tuan Reiner sangat mencintai Nara sejak dulu sampai sekarang. Bahkan tidak ada satu pun wanita yang bisa dengan leluasa menyentuhnya kecuali Nara, bahkan tidak juga Melly." Kata David.

Kania kemudian menatap David lalu ia memeluknya dengan erat. Gadis itu kemudian menangis sesenggukan dipelukan sosok dari asiten pribadi Reiner itu.

"Aku tidak bermaksud untuk bermaksud untuk memisahkannya, tapi saat itu kondisi Nara benar-benar dalam keadaan yang--" Ucapan Kania terhenti saat David melepas pelukan gadis itu dan mengusap butiran bening itu dari pipinya.

"Aku tau, Kania. Dan mulai saat ini mari untuk saling memaafkan dan bujuklah Nara untuk menemui tuan Reiner, karena jika tidak maka--"

"Aku akan pergi sekarang."

Sontak Kania dan David pun langsung menoleh kesumber suara. Kania dan Reiner pun langsung berdiri saat melihat Nara yang entah sejak kapan berdiri disana.

"Na-Nara, aku dan dia--"

Nara melangkah mendekat kearah Kania dan memegang kedua tangan dari sahabatnya itu. "Aku sudah mendengar semuanya, Kania. Aku akan kembali untuk menemuinya sekarang."

Kania menatap kearah David dan kemudian David menganggukan kepala mengisyaratkan agar Kania membiarkan agar Nara untuk pergi.

Dan tanpa pikir panjang Kania pun langsung membiarkan Nara untuk pergi. Pada hari itu juga semua tiket keberangkatan Nara sudah diurus langsung oleh David tanpa hambatan, dan pada hari itu juga lah akhirnya Nara pergi meninggalkan Kania dan mempercayakan sahabatnya itu untuk dijaga oleh David.

"Berjanjilah padaku, Nara. Setelah kau sampai cepat hubungi aku." Pinta Kania yang sejujurnya takut membiarkan Nara untuk pergi. Ya, Kania masih takut jika keluarga Reiner akan menyakiti Nara lagi dan belas kasihnya selama ini hanya sandiwara agar Nara bisa menemui putra mereka.

"Jangan khawatirkan apapun, aku pasti sampai disana dengan selamat." Kata Nara lalu Kania mengangguk senyum.

Tak lama Nara pun masuk kedalam pesawat dan bersiap untuk berangkat. Didalam pesawat gadis itu menghidupkan sejenak ponselnya untuk melihat fotonya dan Reiner yang diam-diam ternyata masih disimpannya.

"Tuan Reiner, aku datang." Ucapnya tanpa sadar air mata menetes begitu saja di balik kedua pipinya.

Sementara itu dirumah sakit, kedua orangtua Reiner masih berada disana menunggu keajaiban yang mungkin bisa segera menyadarkan putra mereka.

Sonya, ibu dari Reiner itu terlihat duduk disamping putranya dengan kedua mata sembab yang mungkin karena setiap hari ia menangisi keadaan putra semata wayangnya tersebut.

"Ayolah, Nak. Bangunlah, ibu sangat merindukanmu." Ucapnya.

"Ibu berjanji padamu, jika kelak kau bangun ibu akan memberikan apapun yang kau inginkan. Kau boleh meminta segalanya tapi jangan meminta Nara dari ibu. Karena ibu sudah berusaha membujuknya tapi kenyataannya dia sudah sangat membenci ibu dan ayahmu."

Tidak kuasa lagi untuk bicara banyak, akhirnya tangis ibu Reiner pun kembali pecah. Ia menangis dan terus menangis, sampai tiba-tiba tangan Reiner yang ia genggam melemah dan membuatnya panik.

"Suamiku, kenapa tangan Reiner me--" Ibu Reiner melihat dengan jelas wajah putranya yang masih belum sadar dengan sedikit menggoyangkan tangannya.

"Sonya, apa yang kau lakukan?!" Tanya ayah Reiner yang juga ikut dalam kepanikan.

"Reiner, bangunlah! Kau baik-baik saja kan, Nak!" Teriak ibu Reiner.

"Dokter!" Dengan paniknya akhirnya ayah Reiner berteriak sekuat mungkin untuk memanggil dokter. Dan dengan cepat beberapa dokter pun datang keruangan Reiner untuk memeriksa kondisi dari pasiennya tersebut.

"Tolong kalian keluar dulu." Kata dokter itu namun dibantah oleh kedua orangtua Reiner lantaran mereka ingin memastikan jika putra mereka baik-baik saja.

"Kami tidak akan keluar!" Sentak ayah Reiner dengan keras.

"Tapi tuan, saat ini pasien harus--"

Brak!

"Rein!" Terdengar suara teriakan dengan begitu keras bersamaan dengan pintu yang juga terbuka dengan kuatnya.

"Nara..." Ucap kedua orangtua Reiner.

Sontak kedatangan Nara langsung membuat kedua orangtua Reiner langsung merasa lega. Ibu Reiner dengan cepat menarik tangan Nara dan didekatkan pada putranya.

"Lihatlah dia, Nara. Tubuhnya melemah dan--" Tidak bisa lagi berkata apapun, lagi-lagi ibu Reiner kembali menangis yang langsung dipeluk oleh ayah Reiner.

"Nona, kami mohon keluarlah. Pasien sedang dalam keadaan kritis dan akan kama tangani." Kata dokter tersebut.

Melihat kondisi Reiner  yang sangat memprihatinkan, akhirnya Nara dengan patuh keluar meninggalkan ruangan Reiner. Dan kedua orangtua Reiner yang sejak awal begitu keras kepala tidak bisa dibujuk oleh dokter akhirnya bersedia keluar bersama Nara.

Mereka menunggu diluar dengan rasa cemas dan penuh harap. Dan Nara sendiri, ia hanya bisa diam menahan air matanya dan menunggu para dokter keluar dengan membawa berita baik.

1
Neny Putri utami
happy ending..
Wiek Soen
ikut tegang baca di bagian tengahnya
Wiek Soen
akhirnya Kania menikah dg David
Wiek Soen
antara cinta dan benci beda tipis Nara
Wiek Soen
lanjut thor
Wiek Soen
🤣🤣🤣🤣🤣 Melly dipakai mainan Nara
Wiek Soen
ternyata Melly blm pernah di sodok sama rain kasihan...basi tuh tempe dianggurin🤣🤣🤣🤣
Wiek Soen
ternyata di bantu zivs
aira aira
,seneng bngt pnya temen kyk ziva dan kania
aira aira
,seneng bngt pnya temen kyk ziva dan kania
Yokebeth Ida R.
Plot nya pendek, jadi ga bertele2, ada beberapa part yang bikin readers bingung, misal, seorang ART tiba2 ke London, terkesan di skip dan readers paham sendiri aja geto, terus Reiner yang uda koma berminggu2 jadi sadar ya masa langsung pake jas lengkap, kan musti diceritain prosesnyalah biar natural. Geto aja seh, sory to say kurang greget, untung hepi end 👍
Winsulistyowati
Tamat Thor say..Sehat n Sukses dlm Brkarya Y Thor..🖐️👍💪😍
Winsulistyowati: Ok...💪👍🖐️😍
total 2 replies
Desilia Chisfia Lina
ah akhirnya happy ending senangnya 🥰🥰
Winsulistyowati
Asiik ♥️🥰
Lanjut Thor say..💪💪🖐️
Desilia Chisfia Lina
cie cie 😙
Winsulistyowati
Lanjut Thor..yg Byk Upnya ya..aku tunggu
Winsulistyowati
Apakah msih Ada Bab Selanjutnya Thor..Blum Tamat y Thor..????Smangat Up y Thor say...👍💪🖐️😍
Clara Dasella: Iya kak, thank u
total 3 replies
Winsulistyowati
Waduhh..Trus Thor..
Desilia Chisfia Lina
oh ternyata David menikah dengan karina kirain 🤣🤣 udah sekalian aja pemberkatan nikahnya
Desilia Chisfia Lina
maksutnya
Clara Dasella: Nanti ketemu maksudnya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!