Kiara Tizania tidak menyangka takdirnya akan seburuk ini, hanya karena dia pergi ke rumah temannya untuk meminjam buku yang tidak bisa dia beli karena harganya yang mahal.
Gadis yang akan lulus SMA itu harus terus berjuang agar bisa lulus sekolah di tengah kejadian buruk yang sudah menimpanya.
Arthur Maxian Lucas-- Pria dingin pemilik manik hijau yang adalah kakak dari teman Kiara, dia tidak sengaja sudah merebut hal berharga dari diri Kiara saat Kiara datang ke rumahnya.
Arthur yang kala itu terpengaruh minuman keras dan menyangka Kiara adalah kekasih yang mengkhianatinya dengan tega mengambil kesucian Kiara yang hanya ingin menolongnya waktu itu.
Bagaimana kisah mereka selanjutnya setelah kejadian buruk itu terjadi? Akankah Arthur akan bertanggung jawab pada Kiara atau malah membungkam mulut Kiara dengan kekuasaan yang dia miliki.
IG : rinitri_87
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semua Hal Menjadi Rumit
Wajah Mega kesal karena Elang mengatakan jika kakaknya Mega yang bernama Arthur itu penyebab hubungan Kiara dan Elang tidak baik.
"Elang, semua ini bukan salah Arthur." Walaupun di dalam hatinya Kiara tidak menyangkal jika semua yang terjadi dengan tingkah Kiara itu memang karena Arthur.
"Itu memang karena salah kakaknya yang main gendong pacar orang seenaknya."
"Kakakku itu hanya menolong Kiara. Apa kamu tau arti kata me-no-long," ucap Mega menekankan setiap katanya.
"Kalau menolong sekali saja tidak apa-apa, tapi kenapa saat di toko roti dia juga menggendong kekasihku? Untuk apa kakakmu di sana juga?"
"Apa? Memangnya Arthur ada di toko roti kamu, Ara?" Mega melihat pada sahabatnya itu.
Kiara mengangguk dan dia menceritakan Arthur yang datang ke rumahnya untuk mengantar buku dan Kiara tidak lama mendapat panggilan telepon dari mba Tami ada rentenir yang sedang meminta ibunya membayar sampai berbuat kasar.
"Apa?" Elang yang malah terkejut.
"Makannya, jangan berpikiran buruk dulu pada kakakku. Arthur itu pria yang baik. Ini! Aku tidak jadi mengambil kue ini." Mega pergi dari sana dengan kesal.
"Mega!" panggil Kiara agak berteriak, tapi Mega tidak mau mendengarkan panggilan Kiara. "Lang, dia jadi marah sama kita. Kamu juga! Kenapa malah seolah membenci dan menyalahkan kakaknya? Mega itu sangat menyayangi kakaknya."
Elang malah tampak biasa saja menanggapi. "Biarkan saja, nanti juga dia akan kembali baik."
Kiara jadi merasa bersalah pada Mega. Kiara tau jika Mega tidak suka jika keluarganya yang sangat baik malah di salahkan, dan ngambeknya Mega bisa berlangsung lama.
"Kamu sebaiknya minta maaf sama Mega karena aku tidak mau dia sampai lama ngambek sama aku dan kamu."
"Nanti dia juga akan kembali baik, Ara, kamu jangan khawatir." Tangan Elang mengusap perlahan tangan Kiara.
"Lang, sebentar lagi akan ada ujian nasional. Lang, apa bisa kita dalam beberapa minggu ini tidak bertemu dan tidak saling berkomunikasi lewat telepon?"
"Kenapa? Apa jika aku mengajak kamu keluar atau menghubungimu akan mengganggumu? Sayang, aku yakin jika kamu akan bisa mengerjakan ujiannya dan aku pasti merindukan kamu kalau tidak menghubungimu."
"Lang, hanya beberapa Minggu saja sampai ujian nasional kita lewati. Aku juga mau berkonsentrasi belajar."
Kiara juga masih berusaha menyembuhkan trauma yang sedang dia alami. Dia saja beberapa hari ini sama sekali tidak konsentrasi untuk memikirkan sekolahnya.
"Bukannya kamu pernah bilang jika aku ini penyemangat kamu dalam belajar, kenapa sekarang kamu seolah menghindariku?" Kedua alis Elang mengkerut.
"Lang, kali ini beda, aku benar-benar butuh waktu yang banyak untuk aku sendirian."
"Ara, sebenarnya kamu ada apa? Jangan menyembunyikan sesuatu dariku. Kita ini sudah pacaran bisa dibilang lama, dan selama ini kita tidak ada rahasia yang disembunyikan."
Andai bisa Kiara ceritanya, tapi hal itu tidak mungkin diceritakan pada siapa pun. Kalau bisa Kiara buang dan kubur sangat dalam kejadian itu.
"Aku tidak apa-apa dan tidak ada apa-apa."
"Kenapa aku merasa kamu menghindariku?
"Itu hanya perasaanmu saja, Lang. Aku hanya ingin bisa konsentrasi belajar saja."
"Kamu tidak jatuh cinta dengan kakaknya Mega, kan?"
"Apa? Kamu ini bicara apa?"
"Siapa tau karena beberapa kali dekat dengannya, kamu malah memiliki perasaan sama dia."
Elang ini memang kadang susah ditebak sifatnya dan perasaannya.
Andai kamu tau, Lang. Arthur adalah manusia pertama yang sangat dibenci oleh Kiara di dunia ini dan berharap dia tidak bertemu dengannya, tapi semua itu tidak mungkin.
"Aku tidak semua itu jatuh cinta dan mencintai seseorang. Apa kamu lupa bagaimana aku bisa jatuh cinta sama kamu?" Kiara menggelengkan kepalanya tidak percaya.
"Ara, aku--."
"Lang, sudah terdengar bel masuk, sebaiknya kamu kembali ke kelas saja." Kiara membuang mukanya tidak melihat pada Elang.
Elang menatap Kiara dalam beberapa detik sebelum dia beranjak dari tempatnya. Kiara melihat punggung kekasihnya itu sampai menghilang dari dinding kelasnya.
Dia kemudian menundukkan kepalanya bersembunyi di bawah meja untuk menangis.
Pelajaran di mulai dan Kiara mengikuti dengan berusaha memperhatikan apa yang dijelaskan oleh gurunya, walaupun kali ini dia agak susah berkonsentrasi.
"Siapa yang bisa mengerjakan soal matematika di papan tulis kali ini? Ada nilai tambahan langsung jika ada yang bisa," ucap wanita paruh baya dengan rambut digelung rapinya. Wanita itu menatap para muridnya yang terlihat masih memikirkan jawaban untuk soal yang baru dia tulis.
"Saya, Bu." Salah satu teman Kiara yang bisa dibilang murid yang pandai itupun maju ke depan kelas dan mencoba mengerjakan soal yang ada di papan tulis.
"Sayangnya masih salah, Reva. Apa ada yang mau mencoba lagi?" Sekarang pandangan mata guru manis itu jatuh pada Kiara. "Kiara, apa kamu mau mencoba mengerjakannya?"
Kiara malah tidak sadar jika gurunya sedang bicara dengannya. "Kiara," panggil guru itu sekali lagi.
Mega yang melihatnya sampai ikut cemas karena Kiara tidak peduli pada panggilan gurunya.
"Ara, Bu Tia sedang bicara sama kamu," panggil Mega pada sahabatnya, tapi Kiara masih tidak sadar juga. Dia tetap saja melamun. Sampai akhirnya Mega melempar pelan pensilnya pada Kiara.
Kiara yang terkejut seketika melihat pada Mega. "Ada apa?" tanya Kiara bingung.
Mega menepuk jidatnya dan tidak lama terdengar suara riuh anak-anak menertawakan Kiara.
Kiara sontak saja lebih kaget dan melihat pada teman-temannya.
"Jangan banyak mikirin si kapten. Dia masih padamu, kok," celetuk si pemilik rambut jambul yang melegenda.
"Apa sih?" Kiara tampak malu saat pandanganya melihat pada gurunya dan wanita paruh baya itu tersenyum kecil pada Kiara.
"Kamu sedang melamun apa, Kiara? Dari saya bicara sama kamu."
"Maaf, Bu Tia, saya--." Kiara tampak bingung.
"Ya sudah tidak apa-apa. Sekarang kamu lihat soal di depan dan konsentrasi. Ingat, ya, kalian ini akan menghadapi ujian nasional yang akan menentukan nilai kalian bisa lulus apa tidak. Kalau kalian tidak belajar dengan sungguh-sungguh, apa mau tetap di sini? Saya saja sudah bosan loh lihat kalian di sini, inginnya melihat wajah baru," celetuk guru manis itu diiringi tawa kecilnya.
Kiara benar-benar merasa malu. Dia tidak biasanya seperti ini. Namun, semua masalah yang dia sedang hadapi benar-benar membuatnya tidak bisa berpikiran dengan sangat baik sekarang. Dia juga lebih banyak melamun di rumah saat sendirian.
"Haduh! Kamu itu kenapa sih, Ra? Kenapa malah melamun pada saat jam mata pelajaran?"
"Tidak apa-apa, Mega. Oh ya! Kamu sudah tidak marah denganku, kan, soal yang tadi?"
"Aku marahnya sama pacar kamu yang menyebalkan itu. Kenapa dia malah menganggap kakakku biang masalah antara kamu sama dia?"
nanti kalau dapat omongan g baik mewek dan sakit hati padahal Kiara sendiri yang cari masalah sendiri kr g pernah mau berterus terang..