Giovanno alias Gio sangat membenci Lisa yang merupakan istri muda ayahnya. Pria itu berpikir bahwa ibu tiri yang bahkan lebih muda dari usianya itu hanya mengincar harta kekayaan mendiang ayahnya. Nyatanya setelah Gio mengenal Lisa, dia malah jatuh cinta dengan ibu tirinya tersebut.
Bagaimana kisah Gio dan Lisa selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ita Yulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Piknik di pantai akhirnya selesai, dan mereka bertiga akhirnya pulang karena hari memang sudah hampir malam. Sesampainya di depan pintu unit Lisa, Sakha melihat ada sesuatu yang aneh, yaitu Gio yang juga ingin ikut masuk ke dalam unit sahabatnya.
"Kau mau apa? Kenapa kau juga ingin ikut masuk ke dalam unit Lisa? Bukankah unitmu ada di sana," tanya Sakha, sambil menunjuk pintu unit Gio yang berada tepat di belakang mereka berdiri saat ini.
Gio tidak terima saat mendengar Sakha yang seolah mengusirnya. Menurut Gio, dia lebih berhak keluar masuk unit Lisa ketimbang pria yang kini sudah dia anggap sebagai rivalnya tersebut. Ya, tidak salah. Saat ini Gio menganggap Sakha sebagai saingan. Entah saingan dalam hal apa? Yang jelas, Gio masih enggan untuk mengakui bahwa dirinya cemburu. Tapi tidak mungkin juga Gio berpikir bahwa Sakha adalah saingannya dalam memperebutkan masakan Lisa karena rasanya sangat konyol dan tidak masuk akal.
"Memangnya kenapa? Kalau kau bisa masuk, lalu kenapa aku tidak?" balas Gio sewot.!
"Hey Bung, masalahnya, unitmu ada di depan unit Lisa saja, dari pada kau masuk ke dalam unit orang lain, lebih baik kau masuk saja ke dalam unitmu sendiri," Gio kembali berkata.
Mendengar ucapan Sakha, Gio jadi semakin kesal saja dibuatnya. "Kalau begitu, kenapa kau juga tidak kembali ke rumahmu? Bukankah kau juga punya rumah? Kenapa kau malah kembali kemari dan tidak kembali ke rumahmu sendiri?"
"Hey, kita berdua ini berbeda. Aku, rumahku jauh dari sini, sedangkan kau unitmu hanya berhadapan dengan unit Lisa saja. Jadi alangkah baiknya jika kau kembali ke unitmu sendiri," balas Sakha.
Saking kesalnya, Gio langsung berkacak pinggang. "Apa bedanya kau denganku-"
"STOOOP!" pekik Lisa. Perdebatan tidak penting antar kedua pria itu benar-benar membuat kepalanya pusing. Tadinya Lisa berpikir bahwa perdebatan kekanak-kanakan seperti ini tidak akan terulang kembali karena Lisa sudah memberi keduanya peringatan, tapi ternyata Lisa salah menduga. "Sebaiknya kalian berdua kembali ke rumah kalian masing-masing."
BAM! Pintu unit Lisa langsung tertutup rapat bersamaan dengan selesainya ucapan wanita itu.
"Lisa!" panggil Gio dan Sakha bersamaan. Kedua pria itu lantas saling menatap dengan kesal. Mereka baru sadar kalau ternyata mereka baru saja melakukan kesalahan.
"Si al sekali. Gara-gara kau, Lisa jadi marah pada kita." Gio berkata sambil menuding-nuding Sakha. Menurutnya perdebatan konyol itu bisa kembali terjadi karena Sakha yang mengawalinya.
"Kenapa kau malah menyalahkanku? Bukankah kau yang gampang sekali emosi? Tadi 'kan aku hanya bertanya baik-baik padamu, kau mau apa? Kenapa kau ingin ikut masuk ke unit Lisa padahal unitmu sendiri sudah dekat, tapi kau justru malah marah dan mengajakku berdebat." Sakha tidak terima dirinya disalahkan sepenuhnya dalam hal ini.
"Sudahlah, aku malas meladeni orang sepertimu," ucap Gio, kemudian berbalik hendak masuk ke dalam unitnya sendiri.
"Kau pikir aku suka?" balas Sakha, yang pada akhirnya memutuskan untuk pergi dari sana.
*
*
Selama beberapa hari terakhir Lisa sengaja mengabaikan Gio dan Sakha, sebab wanita itu sangat kesal dan tidak suka dengan sifat kekanak-kanakan keduanya yang suka sekali adu mulut ketika bertemu. Dan ternyata, hal itu mampu membuat kedua pria itu menjadi galau.
Berbeda dengan Sakha, Gio sendiri memiliki banyak kesempatan untuk bertemu dengan Lisa, baik itu di kantor mau pun ketika mereka berdua secara sengaja mau pun secara tidak sengaja berpapasan di area gedung apartemen tempat tinggal mereka. Sama seperti pagi ini, Gio memang sengaja menunggu Lisa keluar dari unitnya lebih dulu, barulah setelah itu pria tersebut menyusul istrinya. Dan kini, mereka berdua sudah sama-sama berdiri di depan pintu lift hendak berangkat ke kantor.
"Hi, good morning," sapa Gio, tapi Lisa sama sekali tak menggubrisnya. Seolah-olah disana dia tidak melihat keberadaan suaminya tersebut.
Tidak berselang lama kemudian, pintu lift akhirnya terbuka, Lisa lantas masuk ke dalam sana disusul oleh Gio. Selama beberapa saat mereka berada di dalam lift, pandangan Lisa hanya lurus ke depan, wanita itu sama sekali tidak mempedulikan Gio yang sesekali mengajaknya berbicara.
Sesampainya di ruang basement, Lisa kemudian masuk ke dalam mobilnya. Tidak disangka setelah dia masuk, Gio malah ikutan masuk dan duduk di sebelahnya, membuat Lisa mendengus melihat kelakuan pria itu yang masuk ke dalam mobilnya tanpa ijin.
"Bukannya kau juga punya mobil sendiri." Lisa berkata dengan air muka datar, nyaris tanpa ekspresi.
"Mm ... mobilku sedang rusak, butuh diservice," jawab Gio yang sudah jelas-jelas berbohong.
Mendengar alasan Gio, Lisa langsung berdecih dalam hati. Sudah dipastikan bahwa dia sama sekali tidak percaya dengan alasan konyol Gio.
"Kau pikir bisa membodohiku? Mobilmu baru kau beli 1 bulan yang lalu, bagaimana mungkin mobil semahal itu bisa cepat rusak."
Gio terdiam sejenak, dia tahu Lisa wanita yang cerdas dan tidak mudah untuk ditipu, apalagi dibohongi.
"Baiklah, aku minta maaf. Aku akui aku memang berbohong padamu soal itu. Sebenarnya ... aku hanya sedang mencari cara untuk berbaikan denganmu. Ya, salah satunya dengan menumpang di mobilmu saat akan berangkat ke kantor seperti sekarang ini."
Lisa menghela napas panjang, kemudian menyalakan mesin mobilnya dan melajukannya meninggalkan area tempat tinggalnya.
Ketika dalam perjalanan, Gio sesekali melirik Lisa yang nampak fokus menatap lurus ke depan ke arah jalan raya. Sebenarnya Gio agak bingung, entah apa yang harus dia katakan agar Lisa mau merespon ucapannya. Jika itu mengenai keseharian mereka, sudah pasti Lisa tidak akan mau menjawab jika ditanya olehnya. Lalu ... bagaimana jika Gio bertanya mengenai urusan pekerjaan? Apakah mungkin Lisa mau bicara? Gio tidak akan tahu jawabannya jika tidak segera mencobanya.
"Ekhem." Gio berdehem terlebih dahulu sebelum memulai topik pembicaraan. "Lisa, sekretarismu bilang, pukul 9 nanti kau akan pergi ke kota B untuk meninjau proyek baru. Aku pikir ... mungkin ada baiknya jika aku ikut denganmu. Hanya tinggal terus di kantor dan tidak turun ke lapangan sepertinya masih belum cukup untuk menambah wawasanku," ucap Gio beralasan.
"Terserah kau saja," jawab Lisa.
Sungguh jawaban yang sangat singkat, hanya tiga kata dalam satu kalimat, tapi itu sudah berhasil membuat Gio merasa sangat senang hingga pada akhirnya senyum-senyum sendiri.
Untuk urusan pekerjaan, Lisa mana mungkin mendiamkan Gio. Dia ini tipe orang yang sangat profesional dalam bekerja. Dia tahu membedakan mana urusan pekerjaan dan urusan pribadi, yang mana tidak boleh dicampur adukkan karena hanya akan membawa dampak negatif. Ditambah lagi, cepat atau lambat Lisa memang harus lepas tangan pada perusahaan dan menyerahkannya kembali pada pewaris yang sesungguhnya, yaitu Gio.
*istri bersahabat dengan lelaki lain
*istri begitu perhatian pada pria lain bahkan didepan suaminya
*istri lebih mementingkan perasaan pria lain daripada perasaan suami
*istri menjaga perasaan pria lain daripada suami
*istri kawatir pada pria lain sampai susul ke rumahnya
*istri merasa bersalah pada pria lain tapi tidak pernah merasa bersalah pada suaminya
*istri berkali meminta maaf pada pria lain tapi tidak pernah meminta maaf pada suaminya
*istri merayu pria lain karena merajuk didepan suaminya
*istri gampang kontak fisik dengan pria lain didepan suami
*istri lebih peduli pada pria lain daripada suaminya
begitu banyak hal menjijikan yang dilakukan lisa tapi dengan munafik author membenarkan semua kelakuan menjijikan lisa
cap novel ini novel munafik dan menjijikan
tapi heran di novel sang istri menghawatirkan dan pergi mencari pria lain kalian anggap hal biasa dan malah kalian benarkan
sifat munafik kayak ini lah yang selalu aku protes saat kalian berkarya novel